9. Adakah harapan untuk Reyhan?

...***...

...“Jangan terlalu berharap dinikahi oleh orang yang kita kagumi, bukannya tidak boleh. Hanya saja takut dikabulkan.”...

...-Hanna Olivia...

...***...

Reyhan terus menerus tersenyum, mengingat perkataan Afgan tadi sebelum dia pulang. Akhirnya apa yang Reyhan tunggu kini sudah tiba, dulu Reyhan berharap dan berhalu bahwa dia akan menjadi masa depan Hanna. Lalu sekarang semesta mengabulkan keinginannya, Reyhan sudah memantapkan diri untuk menjadi masa depannya.

Reyhan kembali mengingat perkataan Afgan. "Rey, sini buruan" panggil Afgan. Reyhan yang sibuk dengan ponsel menatap sekilas wajah Afgan.

"Reyy, gue ada kabar gembira buat lu!" tegas Afgan, dia sebal dengan sikap Reyhan yang seperti itu.

"Ngomong aja," ucap Reyhan santai, dia masih sibuk dengan ponselnya.

"Gue gak akan ngomong sebelum lu ke sini," kekeh Afgan.

"Ya udah," cueknya, membuat Afgan naik pitam.

"Lu akan nyesel kalo gak ke sini, ini tentang Hanna!" murka Afgan, dia kembali sibuk pada ponselnya.

Reyhan yang sedari tadi sibuk, kini menatap Afgan dan berlari ke arahnya. Dia harap Afgan belum benar-benar marah padanya. Reyhan duduk di sebelah Afgan, dia mulai mengodanya.

"Jangan marah dulu, kenapa? Ada apa?" bujuk Reyhan mencolek dagu Afgan. Intan Reyhan tidak belok, dia masih normal. Hanya saja jurus itulah yang mempan untuk meredam marah Afgan, kalo tidak begitu Afgan akan tetap marah.

"Menjauh dariku," Afgan tiba-tiba bernyanyi tapi salah lirik. Reyhan mengerutkan alis sungguh ada yang salah di sini. Tanpa kata Reyhan sedikit menjauh dari Afgan.

"Buruan, apa tadi?" tanya Reyhan tidak sabar.

Afgan menatapnya sebal. "Hanna udah putus sama pacarnya," lima kata itu membuat Reyhan melotot dan tidak percaya. Reyhan berdiri dan menatap Afgan mencari kebohongan namun nihil tidak ada.

Reyhan jingkrak-jingkrak seperti cacing kepanasan. "Beneran?" tanya Reyhan menyakinkan.

Afgan menganguk kemudian berkata. "Iyaa," ketusnya.

"Gue harus cepat-cepat nikahin Hanna!" tegas Reyhan.

"Ya, harus dong!" Afgan menyemangati Reyhan.

Reyhan tersenyum kembali, mengingat hal itu. Dia kembali jingkrak-jingkrak seperti cacing kepanasan, mungkin dia salting. Reyhan bangun dan sadar akan dirinya yang seperti orang gila.

"Gue harus lebih cepat mendapatkan Hanna, takutnya ditikung teman. Apalagi zaman sekarang teman makan teman," dia memikirkan kembali ucapannya. "Eh teman makan pacarnya temen, eh gimana sih?" Reyhan geram dengan dirinya sendiri, dia heran kenapa dia tidak bisa berpikir jernih. Dipikirannya hanya ada niatan untuk menjadi masa depan Hanna saja!

Reyhan mengacuhkan perkataannya, dia berdiri berniat akan mandi sore. Berharap hari segera pagi karena dia akan bertemu Hanna di kampus. Reyhan terkekeh, langsung saja menyambar handuk dan masuk ke kamar mandi.

Berbeda lagi dengan Hanna yang sedari tadi memikirkan perkataan Reyhan, Reyhan menghibur dirinya untuk selalu tersenyum. Reyhan bilang bahwa senyumannya adalah anugerah dari tuhan yang diturunkan untuknya. Sungguh Reyhan luar biasa dalam mengombal seseorang!

"Ck, dasar buaya." gumam Hanna sembari terkekeh.

Hanna sudah terbiasa tanpa mantannya itu, dia mulai membiasakan diri untuk tidak terlihat sedih. Memikirkan kerja keras Alena untuk menghiburnya sangat sedikit sulit, apalagi Hanna orangnya sulit tertawa ataupun tersenyum, kalo bukan hal yang menurutnya lucu.

"Hanna di luar ada Alena!" teriak Bunda.

"Aish ngapain lagi sih tuh bocah, gak tau lagi seneng apa? Ngomongnya mau balik, tapi baru aja balik dah ke sini lagi," kesal Hanna, dia berbicara sendiri. Meskipun kesal, pasti Hanna akan menemui Alena.

"Iyaa Bun, suruh nunggu di bawah aja," teriaknya seraya membawa ponsel, baru saja satu langkah pintu kamar terbuka.

"Dah telat," ejek Alena menyelonong masuk ke kamar Hanna. Hanna yang tadinya berdiri kini duduk kembali di tempat tidur.

"Hann," panggil Alena, tapi Hanna hanya mendehem.

"Hanna ih! Kalo dipanggil itu, jawab," pekik Alena terlihat sebal.

Hanna terkekeh. "Apaan sih?" tanya Hanna tidak santai.

"Masa gue bentar lagi ujian sekolah, terus lulus," jelasnya membuat Hanna tertawa.

Alena mengerucutkan bibir. "Padahal baru aja kemarin gue naik ke kelas dua belas, eh sekarang udah mulai ujian lagi. Males mikir gue," terangnya.

Hanna memegang pundak Alena, sepertinya bocil yang terhalang umur ini harus dikasih tau. "Nih ya, sekarang kan udah kelas dua belas kan?" tanya Hanna yang dianguki Alena. "Ya udah pasti waktunya sebentar, gak ada lagi bercanda dalam belajar. Harusnya lu seneng bisa bebas dari belajar," jelas Hanna. "Eh, lu gak mau kuliah?" tanya Hanna.

Alena mengeleng. "Gak ah, gue mau nikah muda aja," ucapnya terkekeh.

Hanna mengeplak mulut Alena. "Huss, gue dulu baru lo," cetusnya terdengar sebal.

Alena cengengesan tidak jelas, padahal dia hanya berpura-pura saja. Apa-apaan coba, kalo mendahului orang yang lebih tua darinya, kan gak enak liatnya juga. Alena merebahkan badan di paha Hanna, untung saja Hanna sigap langsung memberi celah.

"Han, lo mau gak nikah sama si Reyhan?" tanya Alena, Hanna terdengar kaget tapi setengah malu. "Pasti lu mau ya?" tebak Alena.

Hanna hanya tersenyum simpul, siapa sih yang menolak ketampanan Reyhan, sudah tampan, perhatian pula. Hanna nyaman ketika dekat dengannya, karena Reyhan tidak berani membuat hal aneh seperti lelaki lain. Bahkan mencekal tangannya saja dia ragu, Reyhan pernah bilang padanya. 'Lebih baik menikah terlebih dahulu, agar puas mencekal tangannya' ah sial Hanna tersenyum ketika mengingatnya pas kemarin di taman, perkataan Reyhan sangat terdengar tulus olehnya.

Alena menyipitkan mata, menatap Hanna dari bawah. Hanna yang tersenyum membuat Alena penasaran, apa yang membuat dia tersenyum. Gadis itu  mencolek dagu Hanna, membuat Hanna menatapnya.

"Kenapa?" tanyanya.

Alena mengeleng. "Gak papa," Alena terkekeh. "Oh iya, kemarin kamu dapet buket bunga pernikahan Kak Vivi ya?" tanya Alena, yang dianguki Hanna.

Vivi adalah tetangga Alena yang tak jauh dari rumah Alena, satu minggu yang lalu Hanna mendapatkan buket bunga pengantin. Orang bilang kalo yang mendapatkan bunga pengantin akan segera menyusul, tapi Hanna belum punya pasangan bagaimana akan menyusul Vivi?

Alena bangun dari tidurnya. "Itu artinya lu akan menikah dalam waktu dekat?" tebak Alena.

Hanna mengangkat bahu acuh. "Gue nikah sama siapa anjir, bapak lo?" jawaban Hanna sedikit menyebalkan bagi Alena. Alena mendecih kemudian berlari mencari Hellen-Bunda Hanna.

"Bundaa!" teriak Alena memanggil Hellen.

"Bocil SMK jangan bilang lo mau ngadu sama Bunda!" teriak Hanna dari dalam, Alena hanya menatap pintu yang masih terbuka itu. Langsung saja dia melanjutkan langkahnya mencari Hellen.

"Bundaa!" teriak Alena lagi.

"Astagfirulloh, anak gadis gak boleh teriak begitu, harus sopan," tegur Hellen.

Alena hanya terkekeh. "Bunda, ada kabar penting!" serunya membuat Hellen segera menghampiri Alena.

"Ada apa?" tanya Hellen.

"Gini, Bun. Kalo kita menang buket pernikahan, itu gimana?" tanya Alena penasaran.

"Katanya sih orang itu dalam jangka waktu yang pendek bakalan nikah, emang siapa sayang?" Hellen penasaran siapa orang yang Alena maksud.

"Kak Hanna!"

Setelah Alena mengatakan nama putrinya itu, Hellen langsung menyeret Alena untuk melihat Hanna dan di sini lah sekarang. Alena dan Hellen sedang mengintrogasi Hanna, Hanna yang merasa seperti diwawancarai hanya menjawabnya pasrah. Padahal dia juga tidak tau, cowok mana yang akan serius padanya dalam waktu yang singkat ini.

"Katakan siapa lelaki itu, sayang!" entah keberapa kalinya Hellen bertanya pada anaknya itu. Hellen justru sangat senang karena anaknya itu akan menikah, apalagi dia memiliki keinginan Hanna menikah muda.

Hanna mengeleng. "Hanna juga gak tau, Bun," jawab Hanna membuat Alena mendesah.

"Apa-apaan coba? Dari tadi gak tau mulu, lu jangan nyembunyiin orang dong!" desak Alena.

Hellen menganguk setuju dengan perkataan Alena. "Iyaa sayang, cepat katakan," Hanna menghela napas, bukannya kaget putrinya akan menikah dalam waktu yang singkat eh ini malah nanya siapa cowok itu, padahal Hanna juga tidak tau pikirnya.

"Hanna gak tau ih, plis deh! Hanna gak deket sama siapa-siapa kecuali Alena, Afgan dan Reyhan," jawab Hanna, dia sudah muak dengan pertanyaan mereka.

Alena dan Hellen saling bertatapan.

"Apakah Reyhan yang akan menjadi suami lo?"

"Reyhan yang kemarin ke rumah?"

Ucap mereka berbarengan. Hanna hanya mengangkat kedua bahunya acuh, dia pun tidak tau.

Alena langsung mencari ponsel, niatnya dia ingin menghubungi Reyhan. Hanna yang tau tujuan Alena sekarang, dia mencoba menghalangi pergerakannya karena mana mungkin cowok itu akan menikahinya. Tapi sayang Alena dengan badan rampingnya itu lolos dari pelukan Hanna, bahkan Hellen pun tertawa melihatnya.

***

Suara notifikasi sangat menganggu tidur sorenya, Reyhan membuka mata sedikit dan membaca pesan dari Alena. Mata Reyhan pokus pada nama Hanna, langsung saja dia membuka lebar matanya. Dih dasar bucin!

Reyhan mendudukan diri, membuka pola ponselnya dan membaca pesan dari Alena.

...3 pesan baru belum dibaca...

...AlenaCantik...

...|Reyhan! Lo serius gak sama Hanna? ...

...|Lo ada niatan buat nikahin Hanna gak? ...

...|Buruan jawab, ini penting! ...

Reyhan mengerutkan kening, ketika membaca pesan dari Alena. Ada apa dengannya? Hingga memberikan kabar seperti itu. Reyhan mendiamkan pesan beberapa detik, kemudian ada pesan masuk, ternyata itu dari Alena.

|Buruan bales, nanti nyesel!

^^^Anda^^^

^^^Iya gw ada niat, buat nikahin Hanna! |^^^

^^^Knpa emng?|^^^

Reyhan membalas pesan sesuai dengan apa yang dia pikirkan sekarang, nyawa Reyhan belum kembali semua. Al hasil dia tidak berhati-hati dalam membalas.

AlenaCantik

|Kapan?

Reyhan menyipitkan mata, dia bingung dengan Alena yang bertanya seperti itu. Reyhan berniat ingin membalas bulan depan, tapi dia menghapusnya lagi. Takutnya dia ditolak kan malu, jadi dia membalasnya tahun depan.

^^^Anda^^^

^^^Tahun depan, kalo orangnya mau!|^^^

AlenaCantik

|Lo harus gercep, Kak. Soalnya Hanna mau dijodohin tapi gak mau.

Reyhan melotot ketika membaca pesan dari Alena, Reyhan melemparkan ponsel kemudian meremas rambutnya. Mungkin dia frustrasi, baru saja dia senang karena Hanna sudah putus dengan pacarnya, lalu sekarang dia dijodohkan? Reyhan mengambil ponsel dan membalas pesan Alena.

^^^Anda^^^

^^^Lu, jngn bohong!|^^^

^^^Bilangin besok gue mau ke rumahnya|^^^

Reyhan langsung membantingkan ponsel setelah membalasnya, dia menarik napas panjang. Reyhan benar-benar tidak ikhlas kalo Hanna menikah selain dengan dirinya, Reyhan menutup matanya dengan kedua tangan lalu dia berteriak.

...TBC...

Soal buket bunga, mungkin masih kebilang mitos yaa. 🤣😭

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!