Ayo buruan keluar, katanya mau main." ucap Alena, ketika dia sudah siap dengan penampilan kece nya. Dia memenuhi keinginan Bima yang harus ikut keluar agar dikasih izin.
"Gak jadi keluar, temen gue lagi galau." jawaban Bima membuat Alena naik pitam. Ini nih yang Alena benci, ketika sudah siap semuanya dimulai dari mandi, make up eh malah tidak jadi pergi. Untuk kaum pria plis jangan seperti Bima, hal itu sangat menyakitkan hati seorang wanita. Walaupun sepele tapi akibatnya fatal.
"Sumpah demi apa si anying, gue udah rapih loh!" teriak Alena membuat Bima menatapnya.
"Anjing lah!" Alena melempar tas selempangnya, padahal penampilannya sekarang sudah kece berbeda dari sebelumnya yang so tomboi.
Bima melotot kala Alena meraung tidak jelas, separah itukah kalo cewek dibulshit. Lelaki itu menghela napas, mau tak mau harus keluar toh Alena sudah susah payah izin ke papanya.
"Ya udah ayo, jangan ngamuk." Bima bangkit menarik tangan Alena lembut, gadis itu memanyukan bibir kesal.
Kakinya ia hentakkan karena sangat kesal. "Kenapa sih? Ini beneran keluar loh, Alena. Walaupun temen abang gak dateng," ujar Bima menenangkan Alena. "Cepetan Abang besoknya harus kerja," lanjut Bima masih menuntun Alena.
"Bukannya abang kuliah?" tanya Alena melepaskan tautannya, karena mereka sudah diluar.
Bukannya menjawab, Bima malah menyodorkan helm pada Alena. "Nih pake," helm itu diterima paksa oleh Alena.
Alena memakaikan helm, tapi dia kesal karena tali helm tidak bisa terpautkan. "Abang ih, gak bisa!" rengek Alena membuat Bima gemas, karena mukanya sangat lucu.
Bima memanyunkan bibir, matanya terpejam sebentar. "Iii lucu banget adek gue," ucapnya sembari mengaitkan tali helm. "Udah, yok buruan naik." Alena mendengus sebal, padahal Bima juga belum naik.
"Bang kenapa temen lo gak bisa main?" tanya Alena sembari berteriak.
"Lagi ada masalah, tapi gue bersyukur atas masalah yang menimpanya." jawab Bima, sembari menyalakan mesin dan berjalan bergabung dengan kendaraan yang lewat di depan rumah.
Alena mengerutkan kening. "Bang, kok agak aneh ya sama jawaban lo?"
"Aneh gimana?" kata Bima sedikit berteriak.
"Bersyukur atas masalah yang menimpanya!"
Bima terkekeh. "Bodo amat, salah dia sih keras kepala kagak mau percaya sama gue."
***
Suasana malam sangat ramai oleh pengunjung, lelaki itu melihat kanan kiri mencari tempat untuk parkir motor. Setelah mencari tempat yang aman, Bima memparkirkan lalu mengunci leher. Tangan kanan Alena menerima kertas kecil yang diberikan tukang parkir, ah mungkin tiket parkir pikirnya.
Tujuan Bima adalah pasar malam, tadinya sih mau ke cafe tapi ditengah jalan tidak sengaja melihat lampu yang menjulang ke langit, alias Alena yang melihatnya juga langsung inisiatif ke pasar malam. Toh Bima juga bingung kalo ke cafe mau ngapain, jadi mau tidak mau ke pasar malam.
"Bang, gue mau naik perahu kertas yang itu," baru juga masuk beberapa meter dari parkiran, mata Alena bergerak cepat melihat permainan apa yang akan dicoba. Tangannya menujuk permainan yang dia inginkan.
Bima menoyor kepala bagian belakang. "Itu bukan perahu kertas, tapi kura-kura," ucapnya dia juga salah.
"Itu kan kalo di daerah kita, Bang. Kalo di Jakarta emang sama?"
Bima mengangkat bahu acuh. "Gak tahu lah, kok nanya sama gue. Emang gue ngurusin tuh pameran?" sinisnya, Alena menatap Bima sebal padahal cuma nanya, kenapa harus dijawab sinis?
"Ah gak jadi naik, Bang." matanya masih menatap sebal. "Gue mau naik kincir angin aja," lanjut Alena, gadis itu berjalan duluan.
Bima menghela napas, ngambek nih cewek. "Kenapa gak jadi, Len?" tanyanya mengejar Alena, meraih tangan adiknya itu untuk digenggam, berabe nanti kalo hilang.
"Keinget Hanna, Bang. Dulu kalo ada pasar malem, kita berdua suka naik perahu kertas di paling ujung, walaupun sekali, terus Hanna yang terpaksa diujung sering mengumpat, karena dia pengen di kursi kedua. Pas dimulai, tiga ayunan dia menangis minta berhenti karena gak kuat, katanya bokong dia terbang." kekeh Alena diakhir, dia bernostaglia.
"gue ngakak kalo setiap terjun ke bawah, padahal aslinya gue juga takut. Gue harus berusaha menjadi hebat di depan Hanna, tapi sayang kehebatan gue pudar kala melihat wajah pias Hanna, kasian juga. Ya udah gue gak pernah lagi naik begituan, berhubung sekarang gue sama lo mau nyoba, eh keinget Hanna jadi gak mau naik deh." lanjutnya sambil mengengam tangan Bima, menahan untuk tidak menangis karena sekarang dia tidak bisa bermain dengan bebas bersama Hanna.
Bima memeluk Alena dari samping, dia tahu pasti adiknya itu kesepian. Baru kali ini, lelaki itu melihat Alena bersedih. Dulu sebelum Hanna menikah, Alena selalu menunjukan wajah bahagia, kadang dalam suasana sedihpun Alena selalu dijadikan bahagia, karena bagi Alena, Hanna adalah teman terbaik yang menemani ketika keluarganya tidak ada di rumah. Bahkan Alena pernah bilang pada Bima, kalo gadis itu sengaja tidak memiliki teman di sekolahnya, karena tidak ingin kasih sayang pertemanannya dibagi.
"Jangan nangis, kalo lo mau main sama Hanna harus izin dulu, pasti suaminya juga bakalan ngizinin kok," sahutnya, menggosok lengan Alena membuat gadis itu menatapnya.
"Kalo gak diizinin gimana, Bang?" tanyanya lesu.
Bima mengeleng. "Pasti diizinin, emangnya udah bilang?" kini giliran Alena yang mengeleng. "Tuh kan, dicoba juga belum, kenapa udah ngomong gak diizinin." sambung lelaki itu.
"Iya nanti, gue ngomong sama Reyhan." ucapnya sembari menunduk.
"Udah-udah jangan sedih, kan sekarang kita lagi di pasar malam mending bersenang-senang. Gimana kalo kita mampir dulu ke tukang martabak, biar kita ada tenaga buat berperang dengan permainan," hibur Bima, membuat hati Alena menghangat kemudian gadis itu tersenyum mengangguk, menarik tangan Bima agar mendekat ke gerobak martabak.
Bima tersenyum, kala melihat adiknya senyum lagi. Kini membahagiakan Alena akan menjadi tugasnya, itung-itung dia membayar waktu dimasa dulu karena tidak sempat membahagiakan adiknya. Bukan, bukan Bima tidak mau, hanya saja Alena yang tidak ada waktu buat Bima. Gadis itu selalu saja tentang Hanna, waktu di rumah hanya sebentar itu juga untuk berdebat.
"Mau rasa apa, Dek?" tanya Bima ketika sudah sampai di tukang martabak manis, Alena sangat semangat sekali, apalagi dia sekarang sedang membaca menu martabak apa saja yang lelaki itu jual.
"Martabak manis spesial keju susu sama matrabak manis spesial coklat kacang." jawab Alena tangannya masih membaca satu persatu menu martabak.
Bima mengangguk. "Kedengaran kan, Bang dia ngomong apa?" tanya Bima yang dianguki pedagang martabak itu.
Bima menuntun Alena untuk duduk, menyuruhnya menunggu dulu, karena lelaki itu ingin membeli sesuatu. Alena mengangguk pasti kakaknya itu kembali dengan tangan yang penuh kresek makanan, jadi biarkan saja pergi lalu dia duduk manis menunggu martabak.
Duduk memandang seseorang yang sedang bertempur dengan peralatan, Alena sesekali bergumam kagum melihat pedagang martabak dengan lihai memasukan adonan martabak, lalu dengan cepat memotong martabak yang sudah jadi.
Tangannya merongoh mengambil ponsel di tas selempang, niatnya mau mem video eh sudah selesai. Tinggal menunggu adonan martabak pesanannya matang, gadis itu menghela napas pasti akan lama menunggu, mending buka aplikasi hijau saja.
***
Seseorang dipaksa untuk mengikuti langkah gadis di depannya ini, masih ingat sepupuh Afgan yang minggu kemarin bertemu dengan Alena? Nah itu dia, gadis itu memaksa Afgan untuk mengikuti langkah kemanapun dia pergi, tapi Afgan tidak mau jadi ya dipaksa saja.
"Lo kenapa sih? Tinggal ikutin gue susah amat, kan gue udah bayar lo tadi buat jalan," ujar Rena, sepenuh Afgan.
Mata Afgan memicing, mendelik sungguh menyebalkan wanita di depannya ini. "Bayar apaan lo? Mana ada bayar gue buat nemenin lo cuma lima ribu, itu pun receh kalo lo ingat!"
Rena terkekeh, uang receh itu hasil memulung dari saweran nikahan orang. Entah angin dari mana, pas Rena pulang dari toko kelontongan tiba-tiba ada suara teriakan agar melemparkan koin kehadapannya, Rena yang jiwanya memang sedikit aneh langsung bergabung memulung dengan ibu-ibu, padahal uang dirumahnya bisa dibilang banyak!
"Hasil keringat gue itu," jawab Rena, dia tidak ingin mengatakan yang sebenarnya, bisa malu nanti.
"Ckk, kalo mau ngasih mikir nominal kek, uang lo banyak juga masa iya ngasih gue lima ribu itupun receh." cibir Afgan matanya melihat sekitar pasar malam, lalu tatapannya berhenti kala melihat seseorang yang dikenalinya sedang duduk sendirian di tukang martabak.
Afgan melihat Rena yang sepertinya gadis itu ingin membeli sesuatu."Lo mau beli apaan? Kalo lo mau beli, beli aja." lelaki itu sengaja mengatakan seperti itu, agar dia bisa menghampiri Alena seorang diri.
"Gue mau beli itu," tunjuk Rena ke gerobak yang dia inginkan, Afgan mengangguk.
"Lo pergi sendiri, gue mau beli martabak dulu ya." setelah mengatakan itu, Afgan langsung melangkah setengah berlari ke arah pedagang kaki lima.
Berbeda dengan Alena gadis itu mengayunkan kakinya yang mengantung, tangan kanan sibuk mengskroll tiktok sesekali terkekeh melihat video lucu, menghela napas tiba-tiba teringat Hanna lagi.
Kenapa Hanna harus menikah dengan cepat ya? batin Alena. Pikirannya terus mengingat masa-masa indah bersama Hanna, dimulai dari masalah karena Alena menganggu orang pacaran.
"Heh pacaran tuh yang normal aja lah, jangan romantissan di umum, lo mau muka lo pada dipajang sama gue di ujung monas, hah?" sentak Alena, dia mulai kesal
"Alena," tegur Afgan, membuat Alena menghela napas gusar.
"Gue iri, Kak."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 23 Episodes
Comments