15. Alena beraksi

Gadis cantik melihat ponsel yang menujukan pukul delapan lebih tujuh menit, sudah lama dia menunggu taxi lewat tapi tak kunjung lewat. Padahal Alena sudah menggila agar cepat sampai ke sisi jalan raya, eh mengingat tentang Afgan, Alena jadi teringat sesuatu. Bagaimana dia bisa ada di sekitar rumahnya, padahal lelaki itu bukan orang sini. Apa dia pindah?

"Ada gajah, ada nyamuk. Cepatlah, nanti gue ngamuk." gumam Alena, ketika melihat taxi berjalan lumayan lambat, tanganya dia lambaikan untuk menghentikan taxi. Setelah berhenti, gadis itu langsung naik dan mengakatan alamat yang akan dituju.

Alena menyender pada kaca, menatap pemandangan yang tidak asing dari penglihatannya. Dulu dia sering keluar bersama Bima, tapi sekarang jarang. Semenjak abangnya itu kerja, jadi Alena hanya bermain dengan Hanna disekitaran lingkungan kompleks, paling jauh taman bermain.

"Pak, boleh bertanya?" Alena membuka suara, dia malas ketika keheningan melanda.

Pak sopir itu mengangguk. "Tentu saja boleh, mau bertanya apa, non?" untung pak sopir ramah, jadi Alena tidak segan untuk bertanya.

"Kalo misalkan aku rusakin pernikahan bapak, dengan cara tiba-tiba ngaku kalo aku selingkuhan nya bapak, bapak marah gak?" tanya Alena, astaga apakah dia akan membatalkan rencana buruknya itu?

Bapak sopir itu terlihat berpikir. "Engga, non." jawabnya sembari mengeleng.

Alena mengerutkan alis, ko bisa?

"Kenapa?" tanya Alena penasaran, mana ada orang yang dirusakin pernikahannya tidak marah.

"Karena bapak sudah menikah."

Alena mencibir kesal, tidak ada balasan dari gadis itu. Sungguh bapak sopir yang bisa membuat Alena bungkam, tapi salut juga si. Jawaban itu sungguh diluar dugaan, Alena pikir tidak marah karena yang merusak pernikahannya lebih cantik dibandingkan pengantinnya. Ternyata salah, padahal bukan itu jawaban yang Alena inginkan.

"Kan misalkan, anjir," cibir Alena pelan, semoga sopir itu tidak mendengar.

Sopir itu menghentikan mobil, membuat Alena panik. Apakah dia mendengar ucapan Alena? Alena mengeleng, tidak mungkin karena gue ngomongnya pelan banget.

"Sudah sampai tujuan, non." celetuk pak sopir membuat Alena menghela napas lega. Diberikannya uang selembar berwarna biru, lalu pamit keluar tak lupa mengucapkan terima kasih.

Alena mengangkat tangan, ancang-ancang ingin memukul sang lawan, ketika mobil taxi sudah jauh beberapa meter. Dia masih kesal dengan jawaban pak sopir tadi, padahal tidak ada yang salah. Dirinya merapikan pakaian yang terlihat berantakan, tak disangka perjalanan begitu mulus. Semoga rencananya juga berjalan dengan baik, tidak ada gangguan yang menganggu.

Kakinya ia langkahkan mencari tempat pernikahan mantan Hanna, Alena pikir tempatnya itu tak jauh dari jalan raya. Ternyata agak jauh sedikit, hal itu membuat Alena mencibir, ketika melihat jam sembilan akan segera datang.

"Permisi," ucap Alena sopan. "Boleh tanya, Bu?" lanjut Alena, dia bertanya pada ibu-ibu lawan arah yang seperti sudah dari kondangan. Terlihat dari pakaian mungkin.

Ibu-ibu itu menghentikan langkah, menatap Alena dari atas sampai bawah. Membuat Alena mati kutu, dia mengaruk tenguk yang tidak gatal."Tanya apa, neng?" salah satu dari mereka akhirnya mencairkan suasana.

"Yang nikahan sebelah mana ya, Bu? Saya sudah cari kemana-mana tapi gak ketemu." bohong Alena, padahal dia baru tiba beberapa menit lalu.

"Lurus aja sebentar lagi nyampe, awas ketuker, neng. Nanti malu," jawab ibu-ibu itu. Mereka pamit pada Alena yang masih bingung akan jawaban ibu tadi.

"Ketuker?" gumam Alena sendiri, mengangkat bahu acuh kemudian melanjutkan langkah, karena sebentar lagi sampai.

Alena sekarang mengerti, mengapa ibu-ibu tadi mengakatan awas ketuker. Ternyata di depan matanya ini yang menikah ada dua, apalagi dengan nama yang hampir sama. Kembaran ta?

Alena terdiam sejenak, mungkin harus bertanya lagi.

"Permisi, Bu."

Ibu-ibu rempong menatap Alena, sepertinya gadis itu menganggu ghibahannya. Tak ada respon, Alena pun membuka suara. "Pernikahan yang katanya orang itu dari luar negeri sebelah mana ya, Bu?" tanya Alena gugup, ketika salah satu dari mereka menatap Alena datar.

"Ah kurang tahu, tapi yang sebelah kiri dari orang berada. Mungkin bisa dibilang baru pulang dari luar negeri."

Alena menghela napas lega, akhirnya ada juga muka ramah.

"Tapi, Ce. Sebelah kanan juga orang berada, cuma menikahnya sederhana. Aku juga denger kalo pengantinnya itu baru pulang dari luar negeri."

Alena tersenyum canggung. Dia pamit undur diri tak lupa mengucapkan terima kasih, setelah beberapa langkah jauh dari ibu-ibu rempong langsung mencibir.

"Gue maunya jawaban, bukan tebakan." matanya menatap papan nama pengantin pria bergantian. "Kanan apa kiri?" monolog Alena.

Gadis itu menghela napas panjang, pilihannya harus tepat karena kalo salah akan berakibat fatal. Dia memikirkan perkataan sang ibu, di mana Karin berkata jam sembilan ijab qobul diucapkan. Tangan kanan menekan tombol hidup ponsel, menujukan pukul sembilan lebih. Pasti salah satu dari mereka sudah ada yang mengucapkan ijab qobul, Alena berpikir keras karena ini tidak akan mudah untuk ditebak dengan gegabah.

"Perjalanan dari luar negeri pasti membutuhkan istirahat yang cukup, kalo ijab qobul jam sembilan pasti capek." monolog Alena menatap tempat pernikahan satu persatu. "Tapi bisa jadi karena terlalu bersemangat akan menikah, rasa capek hilang." sambungnya membuat Alena stres.

"Jadi yang mana anjir, kanan apa kiri?" lirih Alena hilang semangat, dia menutup mata.

Matanya terbuka kala terdengar persiapan ijab qobul dari speaker, suara itu berasal dari sebelah kiri. Alena kalang kabut, dia mengingat nama mantan Hanna yang disebutkan beberapa bulan yang lalu. Tapi Alena hanya ingat nama panjangnya 'Dra', mendecak itu lah yang Alena lakukan. Nama pengantin hampir sama ujungnya 'Dra'.

"Mahendra atau Narendra?" tanya Alena pada dirinya sendiri.

Matanya tertutup lagi, ayolah Alena lo pasti bisa nebak dengan tepat.

Kiri.

Entah bisikan dan dorongan dari mana, Alena memilih sebelah kiri. Kedua tangannya mengepal kuat, menujukan semangat. Kaki mungil Alena melangkah ke sebelah kiri, semakin lama semakin yakin kalo pernikahan dihadapannya ini adalah mantan Hanna.

Bismillahirohmanirohim, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri kandung saya yang bernama Elena Claudia binti Frans Wijaya dengan mas kawin seperangkat alat sholat, perhiasan 200gr dan uang tunai sebesar 1 miliar dibayar tunai!

Alena melotot sepertinya dia akan telat jika terus menerus lambat, apalagi mempelai pria akan membalas ucapan dari penghulu.

"Saya terima nikahnya dan kawinnya, Elena Claudia binti Frans Wijaya dengan maskawin tersebut dibayar—"

"STOP!" teriak Alena dengan napas tidak beraturan. Kedua tangan menopang di lutut, padahal dia lari tidak jauh, tapi kenapa sangat melelahkan.

Alena berdiri, menetralkan napas. Semua orang yang berada ditempat menatap Alena heran, membuat sang empu meneguk ludah kasar. Tubuhnya tidak merespon, dia bingung apalagi yang harus dilakukan.

"Lanjutkan." ucap pengantin pria.

Penghulu mengangguk, melanjutkan ijab qobul yang sempat tertunda karena kedatangan gadis asing itu. Alena melotot, dia tidak tahu harus melakukan apa. Semua rencana yang ia rencanakan hilang diotak, entah kenapa harus ngeblank. Kini dia harus membuat rencana baru, yang lebih buruk.

"Bismillahirohmanirohim, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri kandung saya yang bernama Elena Claudia binti Frans Wijaya—"

Suara bariton itu terus berlanjut menganggu pikiran Alena, dia tidak akan buntu dijalan. Dia ragu dengan rencana yang sekarang, apakah harus benar-benar merusak? Rencana ini yang sangat berat dibandingkan rencana sebelumnya, matanya tertutup menarik napas panjang dalam-dalam.

Dibayar tunai.

"STOP! KENZO APA KAU LAKUKAN, HAH?" teriak Alena menampilkan wajah sesedih mungkin, dia melangkah ke arah lelaki itu tanpa memperdulikan sekitar. Mata coklatnya menatap lekat mata hitam lelaki itu, pandangannya terkunci. Dia harus mendalami peran sebagai wanita yang tersakiti!

"Setelah apa yang kau lakukan padaku dulu, lalu kau akan menikah dengan wanita lain, Kenzo?" lirih Alena, dia tertawa dalam hati. Akhirnya peran gue mantap sekali, menangislah Alena!

"Gue hamil, Kenzo. GUE HAMIL!" teriak Alena ketika mengulang kata hamil, sontak membuat sang tamu undangan menutup mulut, kaget.

...***...

...Wahhh daebak sih si Alena....

...Di sini membuktikan kalo cewek selalu merasa tersakiti, padahal dia yang menyakiti. Eh astagfirullah gak gitu, ini khusus Alena bukan kalian. Jangan ambil hati ya, ambil golok aja....

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!