16. Rencana Gagal

...***...

...“Sedalam apapun kamu menyembunyikan kebohongan, pasti akan ketahuan kalo kita tidak pintar menyembunyikannya.”...

...***...

Ruangan yang indah akan hiasan pernikahan sangat ramai akan kedatangan seseorang yang berteriak menghentikan ijab qobul, tidak ada yang berani membuka suara. Siapa tahu perempuan itu adalah tamu dari pengantinnya.

Suara helaan napas dari pengantin pria, kerusuhan apa lagi yang akan menghentikan ijab qobulnya itu, sudah cukup kerusuhan yang diperbuat temannya tadi, entah siapa lagi ini. Keluarga pengantin wanita menatap seseorang yang merusak suasana dengan tatapan tajam, bahkan ada yang melontarkan serapah Pada Alena. Gadis itu diam tidak berkutik, bingung harus berbicara apa lagi.

Kenapa banyak sekali orang yang menganggu pernikahan gue anjir?

"Lanjutkan." ucapnya, sekilas menatap calon istrinya yang tersenyum manis. Dia Elena Claudia, gadis yang akan menjadi istrinya sebentar lagi. Penghulu mengangguk, menyuruh wali pengantin wanita mengaitkan kembali tangannya pada sang pengantin pria.

"Bismillahirohmanirohim, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri kandung saya yang bernama Elena Claudia binti Frans Wijaya dengan mas kawin seperangkat alat sholat, perhiasan 200gr dan uang tunai sebesar 1 miliar, dibayar tu-nai!" ucap wali pengantin wanita.

"Saya—"

"STOP! KENZO APA KAU LAKUKAN, HAH?" teriak Alena menampilkan wajah sesedih mungkin, dia melangkah ke arah lelaki itu tanpa memperdulikan sekitar. Mata coklatnya menatap lekat mata hitam lelaki itu, pandangannya terkunci. Dia harus mendalami peran sebagai wanita yang tersakiti!

"Setelah apa yang kau lakukan padaku dulu, lalu kau akan menikah dengan wanita lain, Kenzo?" lirih Alena, dia tertawa dalam hati. Akhirnya peran gue mantap sekali, menangislah Alena!

"Gue hamil, Kenzo. GUE HAMIL!" teriak Alena ketika mengulang kata hamil, sontak membuat sang tamu undangan menutup mulut, kaget.

Perkataan Alena membuat pengantin wanita menatap lelaki yang akan menjadi suaminya ini, meminta penjelasan. Mata mereka kembali pokus pada Alena yang kembali membuka suara.

"Gue hamil, anak lo, Kenzo." lirih Alena menunduk menangis, padahal aslinya tersenyum.

"Kita gak kenal, jadi kamu bisa pergi!" tenang namun tegas, lelaki bernama Kenzo itu menatap Alena penuh kebencian, dia benci perusuh dalam pernikahannya.

Alena mengeleng cepat, menghampiri lelaki itu. "Mana janji mu, hah? Dulu kau berjanji akan meninggalkan gadis yang bernama Elena itu," ucapnya menganti menjadi 'aki-kamu', matanya menatap pengantin wanita yang kini terus menangis dipelukan sang ayah, mungkin. "Lalu setelah itu, kau akan menikahiku dan berbahagia bersamaku sampai tua. Bukankah kau berjanji seperti itu, Kenzo?" sambung Alena, kini menatap lelaki tak dikenalnya.

Bagaimana Alena bisa tahu mana pengantin wanita itu? Kalian ingat pas Alena kebingungan memilih kanan dan kiri, nah itu di sana.

"Omong kosong! Kita—"

Suara tamparan membuat semua orang diam, bukan Alena yang menampar Kenzo, tetapi calon istrinya. Dia terlihat sangat kecewa pada Kenzo, tapi anehnya ada senyuman kecil disudut bibir wanita itu. Alena menutup mulut ketika tamparan itu kembali dilayangkan pada Kenzo, kali ini adalah tamparan dari wali pengantin wanita.

"Saya kecewa sama kamu Kenzo, saya akan adukan kamu kepada ayahmu! Ayo sayang, jangan mau kamu menikah dengan pria brengsek seperti Kenzo!" ucapnya sembari menarik Elena, tadinya Elena memberontak namun setelah dipeluk, wanita itu langsung diam. Membuat Alena bingung, semudah itu kah mereka meninggalkan pernikahan? Ah namanya juga orang kaya kan?

Astaga, aku kira dia setia tapi nyatanya selingkuh

Calon istri udah cantik, masih selingkuh

Kalo saya malu, apalagi keluarga adalah keluarga terpandang

Tapi selingkuhannya itu tak kalah cantik

Terlihat masih muda gak sih?

Komentar demi komentar terdengar di telinga Kenzo, tangannya mengepal kuat menatap Alena nyalang. Dia tidak kenal dengan gadis didepannya ini, apa dia suruhan temannya? Menatap perut rata Alena, membuatnya mengerutkan alis. Bagaimana kalo dia berbohong padanya. Tamu undangan mulai pergi satu persatu, mereka pikir pernikahan ini tidak akan dilanjutkan. Toh pengantin wanita sudah tidak ada.

Kenzo semakin murka ketika tamunya pergi satu persatu, kini hanya ada beberapa orang saja. Tak lain dan tak jauh adalah orang suruhannya, penghulu sudah pamit undur diri sejak pengantin wanita keluar, karena masih ada urusan yang harus dilakukan oleh penghulu itu, menikahkan yang lain tentunya.

"Puas kamu, hah?" bentak Kenzo, membuat Alena kegelapan.

Situasi canggung membuat Alena lupa rencana selanjutnya, dia mulai menguasai peran sebagai wanita tersakiti. Mengusap perut ratanya, bukan karena mengode bahwa dia hamil tapi dia lapar. Pantas saja Alena tidak bisa berpikir karena lapar.

Kenzo mendekati Alena, mengangkat tangan kanan gadis itu. Membuatnya kesakitan, cekalan Kenzo tidak main-main. Kasar sekali!

Alena merintis kesakitan, tenaga kulinya kalah dengan lelaki itu. "Le-pasin," cicit Alena, menarik paksa tangannya, tapi sayang tidak bisa.

"Kenzo! Lepasin, aku cuma mau minta pertanggungjawaban dari kamu bukan siksaan kayak gini!" teriak Alena sudah tidak tahan karena cekalan Kenzo sakit sekali.

"Kalo begitu menikahlah denganku, aku akan bertanggung jawab!"

Alena mematung, bukan jawaban ini yang gadis itu harapkan. Bagai petir di siang bolong, dia seperti tidak memiliki tujuan hidup lagi. Apa katanya? Menikah?

Alena menggeleng, dia pikir lelaki itu akan menyeretnya keluar dan memaki-maki karena tidak tahu malu. Lebih baik seperti itu, dari pada harus menikah. Alena sibuk dengan pikirannya sendiri, mencari alasan apa yang pantas untuk membatalkan pernikahan ini. Dia tidak mau menikah mendadak!

"Ma-ap, kalo anda tidak bisa menikahi saya karena tidak mencintai dengan tulus, tidak apa-apa. Saya undurkan diri." ucap Alena, membalikkan badan ingin segera kabur dari acara pernikahan ini.

"Jangan coba berpikir untuk kabur, gadis kecil." ucap lelaki yang batal nikah itu. "Pelayan cepat rias dia secantik mungkin!" tegasnya yang diangguki para pelayan.

Alena panik ketika para pelayan mulai berjalan ke arahnya, ia menahan syok karena kebodohan diri sendiri. Mungkin ini adalah karma, karena Alena sudah lancang membatalkan pernikahan orang lain. Dia kesal dengan dirinya sendiri, kenapa harus membalas dendam? Padahal biarkan saja mantannya itu menikah, toh Hanna juga sudah bahagia.

Alena yang sering membuat keributan dengan mengganggu atau merusak hubungan orang lain, kini ia akan menikah dengan mendadak? Astaga apa kata dunia! Ini patut diabadikan, biar tidak ada lagi penganggu.

Alena mencari alasan agar bisa keluar dari ruangan ini, Alena pikir sepertinya jalan keluar dari sini adalah pura-pura pingsan, siapa tahu lelaki itu akan melepaskannya karena tidak tega. Dia pun langsung berpura-pura pingsan di depan mereka.

Bruk!

"Biarkan saja dia pingsan, cepat rias dia jangan sampai gue malu untuk yang kedua kalinya!"

'Sial, kenapa jadi gini sih? Ternyata dia kalo marah pake 'lo-gue' . Arghhh, Hanna sepintar itu kah mantan lo?' teriak batin Alena tanpa bergerak sedikitpun.

Ternyata rencana pingsan yang Alena buat bukanlah memberikan jalan untuk keluar, melainkan memperumit keadaannya sekarang. Setelah dipikir-pikir mungkin lelaki itu bukanlah mantan Hanna, meskipun Alena pernah melihat mantan Hanna satu kali tapi ia masih setengah ingat setengah lupa. Lalu siapa dia?

'Bagaimana kalo dia bukan mantan Hanna? Dan ternyata mantan Hanna adalah yang menikah sebelah kanan. Ayolah Alena lo harus bisa keluar dari tempat ini, masa lo nikah muda. Kenapa juga yang nikah namanya harus mirip sih, bikin repot orang aja!'

'Gue yakin dia adalah mantan Hanna! Kalo benar mantannya, terus pernikahan ini? Arghhh, gue belum siap menikah! Mama, Papa tolong!' sambung Alena dalam hati.

Alena digotong oleh dua orang pelayan, lebih tepatnya sih mungkin penata rias pengantin ya. Di sinilah Alena berapa, di ruangan penuh dengan peralatan make up. Gadis itu masih nyaman dengan akting pingsannya, sehingga membuat penata rias kewalahan. Apalagi Alena sengaja kepalanya ia goyangkan, bahkan dia tidak santai membuat kepalanya menunduk.

Seorang lelaki menghampiri mereka bertiga, menyuruhnya untuk keluar lewat kode mata. Setelah kedua orang itu keluar, Kenzo mendekati Alena yang masih nyaman dengan mata tertutup.

"Buka mata lo, gue tau lo pura-pura pingsan." suara dingin itu membuat Alena gelisah. Apalagi saat mendengar kata 'lo-gue' yang dilayangkan lelaki itu.

Alena kaget ketika kursi rias tiba-tiba diputar entah menghadap kemana, ternyata ke depan lelaki itu. Kenzo mencondongkan wajahnya mendekati wajah Alena, terasa deru napas hangat dari hidung Kenzo. Membuat Alena semakin menetralkan napasnya seperti orang tidur, karena napas orang pingsan dia tidak tahu.

Mata gadis itu terbuka sedikit, saking sedikitnya hanya terlihat setengah wajah Kenzo yang sangat dekat. Ingin sekali Alena mendorong tubuh lelaki itu, tapi dia urungkan ketika mendengar ucapannya.

"Disuruh siapa lo? Temen gue? Ck, mau saja lo disuruh sama dia. Setelah dia gagal menghentikan pernikahan gue, lalu menyuruh lo gitu?" celetuknya membuat Alena bertanya-tanya dalam pikirannya.

Disuruh teman? Apa maksud lelaki itu, sungguh tidak mengerti. Apa ada orang selain Alena yang ingin merusak pernikahannya, jika ia siapa dia? Kenapa temannya itu ingin merusak pernikahan Kenzo? Alena masih dengan posisi yang sama, mata terpejam tapi pikiran kemana-mana.

"Bangun atau gue cium lo."

...***...

...™...

Hayoyoo Alena, bangunlah saja. Dari pada dilecehkan mending sudahi akting abal-abalmu itu.

...ADA YANG MAU DISAMPAIKAN KE ...

...HANNA...

...REYHAN ...

...AFGAN...

...ATAU SEPUPUH AFGAN...

JANGAN LUPA LIKE , KOMENTAR AND SHARE, KARENA ITU SANGAT PENTING BAGI AKU

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!