4. Rumah Hanna (2)

Hanna langsung membalikan badan dan melanjutkan langkah, yang di susul oleh Alena dibelakang mengekornya. Setelah sampai di depan rumahnya, Hanna membuka pagar dan tanpa tau diri Alena masuk duluan.

Terlihat Bunda yang sedang berdiri di terlas rumah, sepertinya ia menunggu kepulangan anaknya, apalagi tadi mendengar teriakan Alena. "Bundaa!" teriak Alena ketika memasuki pagar rumah Hanna.

Bunda Hanna hanya bisa menyambutnya dengan senyuman manis, ketika Alena memeluknya. Hangat sekali.

"Anak Bunda kemana aja nih?" tanya Bunda Hanna, ia rindu dengan ocehan Alena yang mengema di rumah nya. Sejak Alena sibuk dengan ulangan untuk kenaikan kelas ia jarang main kerumah Hanna, pantas saja Bunda rindu padanya.

"Alena sibuk ulangan, Bunda." jawab Alena, meskipun Bunda sudah tau dari Hanna.

"Iyakah?" tanya lembut Bunda, ia mengusap rambut Alena.

"Anaknya Bunda, yang mana sih?" tanya Hanna yang merasa cemburu.

Alena melepaskan pelukan. "Bun Hanna mah suka ngiri ya, nyebelin banget–"

"Lo yang nyebelin banget. Tau gak, Bun? Tadi Alena nyolong kelereng milik orang lain." ucapan Alena terpotong oleh Hanna. "Untung gak dikejar sama tuh bocil, kalo dikejar habislah." lanjut Hanna.

Bunda binggung dengan ucapan Hanna. Kelereng? Nyolong?

"Bundaa," panggil Alena manja, mengalihkan topik pembicaraan.

Bunda menatap Alena lembut, tapi tidak dengan Hanna yang mengeleos masuk ke dalam, dia muak dengan drama Alena. "Alena gak ditawarin masuk gitu?" tanya Alena dengan imut, mengerjap polos. Bunda mengeleng-gelengkan kepala, heran dengan perilaku Alena yang kapan saja dan di mana saja mengundang tawa.

"Ayo masuk anaknya, Bunda." Alena dirangkul hangat oleh Bunda.

Wajar saja Alena sangat akrab dengan keluarga Hanna, karena persahabatan mereka sudah tiga tahun lebih. Di mana Alena yang duduk di bangku SMP dan Hanna di bangku SMK. Kehadiran Alena di keluarga Hanna sangat baik, karena Alena anak yang baik dan sopan. Walaupun Alena tidak mau menyebut Hanna dengan sebutan Kakak tapi Bunda menerimanya.

Alena bukanya tidak tau tatakrama. Hanya saja Alena lebih suka menyebut Hanna dibanding Kakak. Walaupun begitu Alena adalah anak yang baik dan sopan, ia tidak memakai bahasa lo-gue ketika berbicara dengan Hanna ralat ketika ada Bunda. Rumah Hanna sederhana dari luar tapi dari dalam sangat besar, sama seperti rumah Alena walaupun lebih besar milik Alena.

Bagi Alena rumah Hanna adalah kenyamanan kedua baginya, wajar saja karena Alena dulu sering main ke sini bahkan pernah menginap di kamar Hanna.

"Bundaa, Hanna kemana ya?" tanya Alena masih dirangkulan Bunda.

Bunda melepaskan rangkulannya. "Coba lihat ke kamar," jawabnya, mendorong Alena pelan.

"Ya udah Alena tinggal ya, bye Bunda." pamit Alena sembari mencium cepat pipi Bunda, setelah itu ia ngacir menaiki tangga.

Bunda mengeleng-ngelengkan kepala sembari tersenyum, lalu ia berkata. "Semoga persahabatan kalian sampai tua," harapannya kepada mereka berdua.

...***...

"My baby Hanny, Ay combekk!" teriak Alena ketika sudah di depan pintu kamar.

Pintu terbuka lebar Alena masuk tanpa izin. Setelah masuk ia menghirup aroma khas kamar Hanna, masih dengan aroma coklat yang sama. "Hanna lo gak ganti aromannya?" tanya Alena yang didapati gelengan dari Hanna.

"Jangan bilang lo nyuruh gue ganti aromanya?" tebak Hanna.

Alena menganguk. "Yes baby, ganti pake aroma melati kek." sarannya.

Hanna mengeleng cepat. "Gue gak mau! Berasa kayak ditemani setan nyaho!" tolak Hanna.

Alena tertawa. "Lo mah gitu ih jadi sahabat teh!" sahut Alena.

"Bau melati itu kek korban pesugihan tau gak!" sambar Hanna membuat Alena tertawa keras.

"Jadi, lo kira gue ini mau nyantet lo?" tanya Alena disela tawanya itu.

"Ada apa ini kok rame bener?" Yuda ayah Hanna.

Alena berlari kearah Yuda. "Ayahhh!" sapa Alena memeluk Ayah. "Ayah dari mana?" tanya Alena antusias, memang seperti keluarga. Untung Hanna sudah terbiasa, melihat kedekatan Alena dan keluarganya. Tidak ada rasa cemburu ataupun marah, kalo pun begitu itu hanya pura-pura.

"Kerja dong!" jawab Yuda tak kalah antusias.

Alena melepas pelukan. "Ayah, ayah tau gak?" tanya Alena yang didapati gelengan dari Yuda.

"Kata Hanna, Alena mau nyatet, terus Hanna jadi korban pesugihan." jelas Alena. "Masa iya Alena tega sama Hanna, kalo mau ngebunuh jangan begitu, dosa. Mending tusuk aja pake pisau, ya kan Ayah" lanjut Alena.

Yuda terkekeh. "Sama-sama dosa tau," jawabnya lembut, mencolek hidung Alena.

Alena tertawa. "Tuh dengerin Hanna, Ayah bilang kalo mau ngebunuh jangan yang ribet, dosa!" seru Alena tidak tau malu.

"Terserah lo aja, Alena Diandra!" balas Hanna menyebut nama lengkap Alena.

Alena menatap Yuda. "Ayah, Hanna beban gak sih?" Alena cekikikan.

Yuda mengeleng-gelengkan kepala, kemudian berkata. "Kalian berdua beban," jawab Yuda mengeleos pergi.

Yuda-Ayah Hanna adalah kanan tangan Papanya Alena, tidak hanya Alena yang menjalin pertemanan ayah mereka juga sama. Bedanya Alena bersahabatan remaja, Papanya bersahabatan bisnis. Sama juga dengan Hellen-Bunda Hanna yang bersahabatan dengan Mama Alena, mereka selalu pergi arisan bareng, shopping bareng.

Keluarga Alena memang tidak pernah memandang siapa dan bagaimana teman mereka, pantas saja mereka disegani oleh tetangganya.

"Apa lu?" sanggah Hanna.

"Astagfirulloh Hanna mulutnya," kata Alena menghampiri Hanna.

Hanna merentangkan tangan kanan ke depan. "Lo jangan mendekat, gue ogah deket lo," ucapnya pedas.

"Oh my baby Hanny, sakit banget." Alena memegang dada kanan yang merasa nyeri.

Hanna yang melihat itu panik. "Na, Lo gak papa?" tanya Hanna cemas.

"Engga papa cuma mau dipeluk My Baby Hanny Digo." ucap Alena membuat Hanna menoyor keningnya.

Alena terjungkal. "Efek nonton GGS lo jadi gila." maki Hanna.

"Han lo kalo ngomong suka gak disaring dulu, sakit tau." jawab Alena.

"Emang lo suka disaring gitu?" tanya Hanna, membuat Alena menundukkan kepala.

"Padahal cuma pengen dipeluk," lirih Alena.

"Astaga bocil SMK ribet amat sih." ucap Hanna langsung memeluknya erat.

"Aduh berpelukan, mau dong Bunda dipeluk." ucap Bunda tiba-tiba sudah dipingkir pintu kamar.

Mereka langsung melepas pelukan. "Kenapa Bunda?" tanya Hanna.

"Bunda udah masak, ayo makan siang nanti keburu sore." ajak Bunda yang dianguki mereka.

Bunda adalah sosok ibu yang sangat baik, Bunda sudah dianggap ibu ke dua oleh Alena. Bunda sudah memasak makanan kerusakan mereka berdua yaitu semur ayam kari, Bunda sengaja memasaknya karena meraka sangat lahap memakan makanan yang di sajikan apalagi semur ayam kari.

"Jadi ini makan siang atau sore, Bun?" tanya Hanna.

"Mungkin kata Bunda gini. Kita makan siang dulu, nah beberapa menit kemudian kita makan sore ya kan, Bun?" jelas Alena menyungingkan senyum, wajahnya sangat tidak tahu malu.

"Gak gitu juga konsepnya, Kuda!" sambar Hanna.

Alena menatap sebal Hanna. "Hanna kenapa sih panggil Kuda terus, emang mirip ya Bunda?" tanya Alena yang didapati gelengan oleh Bunda.

Hal itu membuat Hanna mengerucutkan bibir, jangan ditanya Alena sudah tertawa pulas. "Bukan mirip tapi sama!" celetuk Bunda membuat Hanna tertawa dan kini Alena mengerucutkan bibir.

"Ih sebeul. Gak Bunda, gak Hanna, sama-sama bikin sayang banget!" teriak Alena.

"Ayah engga nih?"

"Sayang ayah juga!"

...***...

...TBC ...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!