3. Rumah Hanna

...***...

...Terapkan kewaspadaan sebelum kehilangan, karena tidak ada yang bisa dikatakan ketika sudah kehilangan....

...***...

...♥ 🙆‍♀️...

Alena tidak hanya receh tapi ia juga sangat nakal. Padahal mereka sudah dua kali ketimpa masalah. Di mana ia memukul orang yang tidak dikenal. Bagaimana kalo cowok itu dendam padanya lalu pada suatu saat ingin membalas dendam, ah tidak bisa dibiarkan. Hanna kini tidak lagi sabar, ia ingin segera pulang agar Alena tidak melakukan kesalahan lagi. Ia membayangkan bagaimana kalo Alena membuat masalah lagi, Hanna mengeleng cepat hal itu dilihat oleh Alena.

"Na, lo sakit?" Alena khawatir.

Hanna mengeleng lagi, kemudian berkata. "Na, lo jangan buat lagi masalah ya. Gue capek." pintanya yang dianguki Alena.

"Tapi lo gak papa kan?" tanya Alena lagi.

Hanna mengelengkan kepala, akhirnya Alena kena tipu juga. Hanna terlalu lelah dan juga ia tidak ingin mendapat imbasnya. Walaupun demikian Alena tidak akan pernah membuat Hanna mendapatkan imbas atas kelakukan dirinya.

Dulu saja ketika pulang bermain, Alena melihat anjing tetangga yang di rantai dan Alena berniat ingin melepaskan rantai itu, kesialan datang pada Alena, dia pikir anjing itu baik ternyata sebaliknya. Hanna yang sebal akan perbuatan Alena hanya berlari kencang, tapi siapa sangka sahabatnya mengalihkan perhatian anjing tetangga untuk tidak mengejar Hanna yang ingin memanjat pohon. Ketika Hanna sudah naik pohon dan Alena yang asik berlari dikejar anjing, ia hanya tertawa. Untung saja pemilik anjing itu datang tepat waktu dan membawanya pulang. Sempat melirik Alena dengan tatapan tajam, tapi sayang Alena tetap Alena tidak pernah takut.

"Ya udah ayo, katanya mau pulang." ajak Alena kini ia berdiri, lalu menyodorkan tangan.

Hanna berniat untuk menerimanya tapi Alena malah menepuk telapak tangan. "Bukan tangan lo, tapi itu sampah." ucapan Alena membuat Hanna menatapnya sebal.

"Jangan main lah, panas nih!"

Alena tertawa langsung saja ia membantu Hanna bangun, kini taman bermain tidak seramai tadi pagi di mana banyak anak-anak yang bermain. Sekarang hanya ada sebagian saja, mungkin sudah pada pulang karena hari sudah siang bahkan sudah mau sore. Alena menyapa ibu-ibu yang ada di taman itu, sesekali ia melemparkan senyum.

Kini mereka berjalan santai, tadinya Alena ingin berlari tapi Hanna tidak ingin dengan alasan capek, panas. Tidak jauh dari taman bermain terlihat dua orang bocah kecil sedang bermain kelereng. Langsung saja Alena berlari menghampiri dua bocah itu, tanpa memperdulikan Hanna yang meneriaki agar menunggumya.

"Oy main apaan?" sapa Alena sok akrab ketika sudah sampai dihadapan kedua bocah.

"Main kelereng, Kak." jawab bocil itu.

"Kenapa kak, mau main?" tanya teman bocah itu, Alena menganguk, hal itu membuat bocah itu tersenyum.

"Ada kelerengnya?" tanya lagi teman bocah itu. Kini Alena mengeleng, ia tidak membawa kelereng. Padahal ingin bermain dengan mereka.

"Ya udah jangan main liatin aja," ucapnya sembari melanjutkan mainnya.

Alena menghela napas, kemudian ia berjongkok memainkan tangannya ditanah. Hanna yang melihat itu hanya terkekeh geli, ia tau kalo Alena tidak ada kelereng untuk bermain.

"Kenapa lo?" tanya Hanna pura-pura tidak tahu.

Alena menatap Hanna. "Na, lo duluan ya, jalannya agak cepet." celetuk Alena.

Hanna menatapnya sebal, sudah tau ia lelah malah menyuruhnya jalan cepat. Hanna berpikir keras sembari berjalan meninggalkan Alena sendirian di sana. Hanna masih bergulat dengan pikirannya, beberapa detik kemudian ia tersadar. Pasti Alena mau buat masalah lagi. Tidak, ini tidak bisa dibiarkan terjadi. Hanna yang tadinya hanya berjalan santai, kini melangkah setengah berlari ia ingin segera jauh dari tempat Alena berada.

Alena yang melihat Hanna berjalan setengah berlari hanya tersenyum manis, kemudian melihat dua orang bocah itu yang sedang bermain kelereng. Alena memikirkan hal apa yang akan membalas perbuatan teman bocah itu, ia menatap sekeliling dan matanya kini pokus pada kelereng yang sekeler astor.

Alena tersenyum miring menampilkan selamat andalannya, ia tahu hal apa yang akan diberikan pada bocah itu. Alena berdiri menghampiri wadah keler itu, tapi bocah itu malah menatap Alena. Takut kelerengnya di curi, langsung saja Alena berteriak mengalihkan tatapan bocil keramat itu.

"Oy bocah, main yang pokus, nanti lo kalah!" teriak Alena mengalihkan pandangan bocah itu.

Bocah itu malah menatap Alena terus, membuat Alena salting. Takut bocah itu tau rencana buruk yang Alena. Bocah itu kembali pokus ketika temannya memanggil, setelah bermain dan giliran temannya ia kembali menatap Alena yang masih dengan posisi tadi. Tatapannya seperti mengartikan 'Awas aja kalo ambil kereleng'.

Alena menatap sebal wajah bocah itu, padahal ia sudah berwaspada untuk tidak ketahuan apa rencananya, tapi bocah itu terus menatapnya hal itu membuat Alena menghela napas panjang.

"Oy buruan giliran lo!" panggil teman bocah itu yang membelakangi Alena.

Kini mereka berdua sibuk dan pokus pada permainannya, bocah itu tidak lagi menatap Alena. Ia pikir mungkin Alena adalah orang baik. Tanpa pikir panjang Alena membungkuk dan mengambil semua kelereng itu.

Alena tersenyum senang ketika sekeler kelereng sudah ada dipelukannya ditambah kedua bocah itu masih sibuk bermain kelereng, dengan panik Alena berlari dan berteriak. "Kakak pulang duluan ya, takut hujan!"

Kedua bocah itu menatap langit, tidak ada tanda akan hujan. Langit yang cerah dan panas, sungguh lelucon kakak yang satu ini.

"Mana ada hujan! Panas gini!" tembal teman bocah itu.

Kedua bocah itu menatap kepergian Alena, kemudian bocah itu berkata. "Bentar mau ganti dulu kelerengnya yang ini jelek, gak enak mainnya." ucapnya langsung berlari ke arah di mana kelerengnya berada.

Sesampainya di sana, kelereng milik bocah itu tidak ada. Bocah itu mencari kelereng miliknya, padahal baru saja ia membeli kereleng tadi pagi.

Sadar akan sesuatu kemudian bocah itu berteriak. "MAMA KAKAK ITU NYURI KELERENG!"

Teriakan bocah itu terdengar oleh Alena, untung saja ia sudah jauh dari tempat itu kalo tidak bisa dikejar. Hanna yang melihat Alena membawa sekeler kelereng melongo tidak percaya, ia panik bagaimana kalo kedua orang tuanya mencari Alena dan melaporkan ke polisi karena mencuri.

Hanna menghalangi langkah Alena. "Why?" tanyanya santai.

"Bagaimana kalo bocah itu lapor sama bapaknya, terus lo di pukul?" kini Hanna yang bertanya.

Alena mempercepat langkah. "Gak bakalan bisa, kan mereka gak ada bukti kalo gue yang bawa ini kelereng." jawaban Alena membuat Hanna gatal ingin mencabuknya.

Hanna tidak habis pikir dengan Alena, bisa-bisanya ia bertindak sebelum berpikir. Bagaimana kalo bapak bocil itu benar-benar mencari Alena? Hanna pastikan tidak akan ikut campur.

Hanna menyuruh Alena untuk berjalan di depan, ia terlalu muak dan lelah dengan semua ini. Tidak bisakah sehari saja tanpa harus membuat masalah? Gadis itu mengeleng-gelengkan kepala, memijit pelipisnya yang pening akibat kelakuan Alena.

Kini mereka sudah hampir sampai dirumah Alena, yang dari luar terlihat sederhana tapi dari dalam sangatlah menarik rasa iri. Tak jauh dari jarak mereka berjalan, ada tetangga yang sedang menyapu halaman dan bertanya pada mereka.

"Dari mana neng?" tanyanya.

"Dari tadi, bu," jawab Alena, membuat Hanna mengeplaknya. Orang yang menanya hanya terkekeh, sudah terbiasa dengan kelakuan Alena.

"Habis dari Taman bermain," jawab Hanna sopan.

Ibu-ibu itu adalah tetangga Alena sekaligus tetangga beberapa meter Hanna. "Bawa apaan neng?" lagi-lagi ibu itu bertanya.

"Si ibu kepo deh, ini kelereng hasil curian." balas Alena tanpa dosa. Hanna yang melihat itu hanya tersenyum masam menahan malu.

"Duluan, Bu. Mari," pamit Hanna langsung menarik paksa Alena. Sungguh sudah putus urat malu Alena, atau bahkan Alena tidak mempunyai urat malu sehingga ia berperilaku seperti tadi.

Alena menatap heran, padahal jawabannya tidak salah, hanya sedikit memalukan. Dia mengangkat bahu acuh, melanjutkan langkahnya yang sebentar lagi sampai. Terlihat rumah Alena beberapa langkah lagi, Hanna langsung mendorong Alena ke dekat pagar rumahnya.

Alena menghela napas, menatap kepergian Hanna mungkin sampai di sini ia bermainnya. Hanna berjalan tanpa melihat kebelakang, ia sudah tidak peduli lagi dengannya. Hanna lelah.

Alena membuka sedikit pagar dan menololkan kepalanya ke dalam rumah, terlihat Mama yang sedang duduk diayunan.

Mama menatapnya, tapi Alena hanya tersenyum lalu menunda sekeler kelereng itu.

Kemudian ia berkata. "MAMA ALENA MAIN DULU KE RUMAH HANNA YA," teriak Alena.

Hanna yang mendengar itu langsung membalikan badan dan menyimpan tangannya di pinggang. Hal itu membuat Alena berhenti mendadak karena melihat ekspresi wajah Hanna yang sedang menahan marah. Sangat tidak bersahabat.

Alena paham apa yang dipikirkan sahabatnya, Hanna tidak ingin bermain dengan Alena. Mungkin sudah lelah, gadis itu terkekeh lalu mendekat pada Hanna.

"Hanna, kalo ada tamu yang mau main itu harus disambut dengan baik, jangan digituin gak sopan." pesan Alena tidak digubris sama sekali.

Hanna langsung membalikan badan dan melanjutkan langkah, yang di susul oleh Alena dibelakang mengekornya. Setelah sampai di depan rumahnya, Hanna membuka pagar dan tanpa tau diri Alena masuk duluan.

...***...

...TBC ...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!