"Oy Alena!" teriak Tiara teman Alena yang menegurnya tadi.
Alena menatap sekilas wajah Tiara, dia sedang malas berdebat. Apalagi dengan keadaan perut kosong itu sangatlah memalaskan. Sekolah Alena sudah bubar, Alena benar-benar ingin makan sekarang, sudah lapar sangat seharian tidak makan.
Dia menghela napas, ketika memastikan uang sakunya benar-benar tidak ada uang. Alena membuka ransel, siapa tau ada uang sisa kemarin yang tersimpan tapi nihil tidak ada satu lembar pun uang didalamnya. Dia meringis menahan tangis, jarak sekolah ke rumah lumayan jauh.
Alena sedang malas menghubungi keluarganya, apalagi mengingat kejadian tadi pagi. Hanna tidak bisa menjemputnya karena ada kegiatan dadakan, gadis itu menghentikan langkah kemudian dia mendongokakkan kepala sembari memejamkan mata, berharap Reyhan lelaki tadi pagi yang mengantarnya ada di sekitar jalan raya.
Baru saja Alena membukakan mata, ternyata yang dia harapkan sudah di depan mata. Reyhan sedang menepi di jalan, sepertinya sedang galau. Terlihat saja dari wajahnya yang cemberut itu, apalagi sembari menopang dagu, tak salah lagi kalo dia sedang galau.
Alena langsung berlari tanpa babibu ke arah di mana lelaki itu berada, Reyhan yang melihat seseorang berlari ke arahnya hanya mengerutkan kening, ternyata masih dengan orang yang sama. Reyhan tau apa tujuan gadis itu, segera dia bersiap untuk menghidupkan mesin. Tapi sayang Alena dengan sigap duduk di jok motornya.
"Kak anterin gue lagi, nanti gue bayar kalo udah di rumah," ucapnya dengan tanpa dosa.
Reyhan menatap Alena dengan wajah sebal. "Gue bukan ojeg, turun lu!" makinya menyuruh Alena turun, tapi Alena malah semakin menempel dengannya.
"Gue tau kak, lu pasti nungguin gue pulang kan?" tanya Alena kepedean.
Reyhan mengangkat satu bibir. "Dih geer banget lu bocil, gue ke sini lagi neduh bukan nungguin lu, turun gak!" cibirnya dengan tidak santai, apalagi muka kesal Reyhan yang membuat Alena menahan tawa.
"Kak, lu lucu kalo marah," puji Alena yang terdengar tulus.
Reyhan yang mendengar itu, seketika diam sejenak. Dia mendehem. "Mau balikkan?" tanya Reyhan.
"Emang kapan kita jadian?" tanya balik Alena.
"Yeh tai lo! Dikasih jantung malah disayur!" geram Reyhan, padahal niatnya sudah baik tapi Alena malah memainkannya.
Alena terkekeh. "Ya balik dong, Kak." padahal Alena tau apa yang Reyhan maksud hanya saja dia ingin melihatnya marah sekali lagi. Sungguh manusia yang tidak tau malu!
"Rumah lu di mana?" tanya Reyhan sabar.
"Jalan aja nanti gue tunjukin," jawabnya sembari membenarkan posisi duduk.
Mereka berdua mulai menjauh dari tempat tadi berteduh, hari masih siang belum ke sore-sorean. Alena berniat tidak ingin pulang terlebih dahulu, sepertinya dia ingin ke taman nasional. Liat saja sekarang, Alena menunjukan jalan ke arah taman nasional.
Reyhan yang menyadari jalan ini seperti ke tempat bermainnya, karena penasaran Reyhan memberanikan diri untuk bertanya. "Rumah lu sekitaran taman?" tanya Reyhan.
Alena mengeleng. "Bukan, rumah gue deket dari taman," jawabnya santai sembari melihat anak-anak di taman.
Reyhan mengerem dadakan, membuat Alena terbentur pada punggungnya. "Jangan bilang lu mau bermain dulu, terus pulangnya minta dianterin!" tebak Reyhan menatap Alena yang sedang mengusap keningnya.
Alena mengeleng lagi. "Gak, gue gak ada pikiran ke sana," ucapnya sembari turun dari motor. "Gue mau ngadem dulu di sini, gue sebal sama orang rumah. Padahal hari ini gue ulang tahun, tapi mereka sikapnya gitu sama gue," jelasnya.
Reyhan menatap jijik ke arah Alena, padahal hatinya sangat kasihan. Hanya saja dia gengsi menunjukannya. "Gue gak peduli," ketus Reyhan.
"Lagian gue gak mau dipeduliin sama lo." sahutnya santai, meninggalkan Reyhan tanpa melihat ke belakang.
Reyhan menatap punggung Alena yang semakin jauh, terasa sakit hatinya ketika mendengar curhatan bocil SMK, meskipun mereka berdua tidak pernah akur dalam jangka waktu yang lama tapi Reyhan mendapat ketulusan pertemanan dari wajah Alena. Sepertinya dia pemilih dalam mencari teman, benar saja Alena akrab dengan orang yang menurutnya asik untuk diajak bicara.
Reyhan menepikan sepeda motornya, menatap Alena yang duduk di taman sendiri. Dia sempat berpikir, apakah dia tidak lapar? Reyhan mengangkat bahu acuh, lagian kenapa memikirkan orang lain toh dirinya juga kelaparan.
Reyhan melangkah ke tukang siomay, sepertinya menu makan sore yang enak. Siomay Kang Ujang adalah langganan Reyhan, jadi tak malu kalo dia menganjuk terlebih dahulu karena dia sering mengunjunginya. Reyhan menyantap makanannya sembari melihat Alena yang sedari tadi duduk melamun, setelah selesai makan dia akan menghampiri bocil SMK itu.
Alena menghela napas beberapa kali, entah apa yang dia pikirkan. Dia menatap sekilling tidak ada orang yang dikenal, andai saja ada mungkin dia akan meminjam uang untuk membeli celiman yang menjangal perutnya itu.
Alena mengusap perut yang ramping, tak ada sarapan pagi ataupun siang ke dalam perutnya. Gadis itu tersenyum kecil, ketika ada orang yang menyondorkan sepiring siomay.
Wajahnya mendongkak, lalu mengubah ekspresinya menjadi datar, ketika melihat siapa orang itu. Reyhan yang melihat perubahan ekspresi secara tiba-tiba, langsung duduk disampingnya.
"Makan, habis ini kita jalan-jalan biar lo gak sedih terus," ucapnya sembari mengambil ponsel dari saku celananya.
Alena menganguk patuh, dia mengambil siomay dan menyanta. "Makasih." ucapnya sembari melanjutkan makan.
Reyhan menganguk, tanpa Alena sadari Reyhan tersenyum. "Lo kelaparan, ya?" tanya Reyhan, ketika melihat Alena makan seperti orang yang kelaparan. Padahal dia makannya selalu begitu!
Alena menganguk, menelan siomay. "Gue dari pagi belum makan, Kak," jawabnya sembari menatap Reyhan lalu melanjutkan makan. "Gue lupa gak minta uang jajan, terus gue gak saparan gegara Mama sama Papa nyebelin, apalagi abang gue," lanjutnya.
'Kasian banget anjir ni bocil, udah kerempeng gak di kasih makan lagi. Gue serasa ngasih makan orang miskin yang gak makan tiga hari, apalagi cara makan tuh bocil bener-bener di luar dugaan gue. Gue pikir dia bakalan so alim, tapi dia menunjukkan dirinya sendiri ketika makan.' batin Reyhan, dia menatap Alena dengan tatapan sedih.
Alena yang selesai makan, mencari air di sekitarnya siapa tau cowok itu memberinya air untuk minum. "Kak, air minumnya mana?" tanya Alena, dia melihat Reyhan yang sedang melamun sembari menatapnya.
"Kak, air minumnya mana?" tanya Alena sekali lagi, kini nadanya lumayan tinggi hingga membuat Reyhan tersadar dari lamunannya.
"Yehh... gak tau malu juga lo, udah minta makan minta minum pula," sesal Reyhan dia melangkah ke warung Kang Ujang untuk meminta minum, tak lupa piring di tangan kirinya.
Alena tersenyum melihat kepergian Reyhan, kemudian dia melirik ponselnya yang ditinggalkan. Alena tersenyum miring, sepertinya ini kesempatan. Reyhan kembali dengan secangkir teh hangat, dia menatap ponselnya yang masih ditempat yang sama. Reyhan berpikir ternyata Alena orang yang sopan, tidak menggunakan barang oranglain tanpa seizinnya.
"Nih," Reyhan menyondorkan teh hangat dan Alena menerimanya lalu meneguknya hingga tandas. Reyhan mengeleng pelan, tak habis pikir dengan orang yang di depannya ini. Sungguh tidak tahu maluu!
"Makasih, Kak." Reyhan sangat tersentuh dengan ucapan tulus Alena, padahal dia hanya memberinya siomay yang lima ribuan.
Reyhan menganguk, kemudian menatap langit yang seperti akan turun hujan. Padahal tadi cuacanya lumayan cerah, tapi sekarang sudah gelap. "Heh bocil, jalan-jalannya gak jadi ya, takut hujan," Reyhan resah takut bocil itu sedih lagi.
Alena menganguk. "Oke, lagian gue juga mau pulang," candanya, padahal dia ingin jalan-jalan terlebih dahulu. Dia melihat langit, benar hujan akan turun.
"Dianterin kagak?" teriak Reyhan, melihat Alena yang sudah menjauh darinya. Reyhan tidak sadar kalo dia sudah melangkah, padahal tadi sedang menatap langit bersamaan.
Alena mengeleng, dia membalikkan badan. "Gak perlu, takutnya beban!" teriaknya.
"Eh, nama lo siapa bocil?" teriak Reyhan lagi.
"ALENA DIANDRA , ANAKNYA BUNDA HELLEN." jawab Alena. Dia menutup mulut, teringat sesuatu. "Eh gue kan anaknya Mama Karin," gumam Alena, gadis itu mengangkat bahu acuh, kemudian membalikan badan takutnya dia terjatuh karena berjalan mundur.
"Alena Diandra?" gumam Reyhan, menatap Alena yang sedang berbicara sendiri.
...***...
...Hay hayy, gimana nih seru gakk? ...
...Jangan lupa sukai, komen and share biar teman kalian juga ikutan baca cerita akuu wkwk...
...Reyhan bakalan jatuh hati gak tuh sama bocil SMK? Atau memperjuangkan cintanya pada Hanna? ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 23 Episodes
Comments