...***...
..."Dulu berharap, semoga ada lelaki yang benar-benar mencintaiku, giliran dikabulkan ketar-ketir sendiri. Dasar aku."...
...-Hanna Oktaviani...
...***...
...SPAM LANJUT DONG BIAR AKU SEMANGAT UP NYAA...
Hari ini adalah hari pertama Alena ujian, tak hanya itu hari ini juga hari di mana Hanna dan Reyhan menikah. Ah sial kenapa harus sekarang, Alena tidak bisa mengikuti acara pernikahan sahabatnya itu.
Alena hanya bisa melihat sahabatnya itu di rias, dengan riasan pengantin. Acara pernikahannya sangat sederhana tapi bagus, Alena meminta Reyhan untuk tidak mewah karena pernikahan hanya akadnya saja yang diambil, begitulah pemikirannya.
Alena mengerucutkan bibir, dia terus memaksa Mamanya untuk mengirimkan surat agar ujian di undur pada hari besok, karena Alena ada acara. Tapi sayang, Hanna tidak mengizinkan Alena bolos saat ujian.
Alena menahan tangis, dia tidak mau ketinggalan akad nikah sahabatnya itu. Hanna izin untuk membujuk Alena, untungnya tukang rias itu mengizinkannya.
"Alena," panggil Hanna, Alena langsung memeluk kaki Hanna.
"Hanna, Alena gak mau ketinggalan akad nikahnya ih!" adu Alena, kini dia menangis.
Hanna menghela napas. "Kemarin gue udah ngomong sama Reyhan kalo acara akad nya itu setengah sepuluh, jadi sekarang lu berangkat sekolah gih," bujuknya.
Alena menatap Hanna. "Beneran?" tanya Alena. "Tar kalo gue balik sekolah, baru akad nikah dimulai?" tanya Alena memastikan kalo ucapan Hanna tidak berbohong.
Hanna menganguk. "Iya beneran, sana berangkat sekolah," katanya.
Alena langsung berdiri dan berlari keluar, mungkin dia buru-buru karena waktu sudah menunjukkan pukul 06.45 sebentar lagi ujian akan di mulai. Hanna tersenyum melihat Alena kembali ceria, meskipun ini tipuan untuk Alena. Hanna harap Alena bakalan memaafkan dirinya.
Alena berangkat dengan scoppy pink kesayangannya, dia bernyanyi ria karena Hanna menunda akad nikah demi dirinya. Andai saja kalo Alena tau yang sebenarnya, mungkin dia akan sangat kecewa.
...***...
Jam menunjukkan pukul 08.01 pengantin pria sudah tiba di halaman rumah Hanna, Hanna harus melupakan kejadian tadi. Karena pada dasarnya pengantin tidak boleh ada pemikiran sedih, takutnya ada hal yang tidak diinginkan.
Reyhan terlihat sangat tampan ketika memakai baju pengantin, setelah acara penyambutan pengantin pria. Reyhan langsung duduk di kursi akad nikah, penghulu menanyai Reyhan sudah siap apa belum. Dengan tegas Reyhan menjawab pertanyaan penghulu itu.
Acara akad nikah sudah berjalan langsung, kini pengantin wanita melangkah menuju pengantin pria. Reyhan sangat terpana dengan kecantikan Hanna, setelah tanda tangan surat nikah, kemudian pengantin saling mencium satu sama lain.
Hanna mencium tangan Reyhan, lalu berbisik. "Rey, nanti kalo Alena pulang akad nikahnya ulang lagi ya," bisiknya, membuat Reyhan mengerutkan kening.
"Kenapa?" tanya Reyhan.
"Tadi aku udah ngomong kalo akad nikah, dimulai kalo dia pulang sekolah," jelasnya. Reyhan menganguk paham, dia menciumi kening Hanna dengan tulus.
Alena tersenyum masam melihat akad nikah sudah digelarkan, dia bingung antara sedih dan bahagia. Alena sadar kalo sekolah bukan penghalang untuk menunda akad nikah, tapi Alena senang bisa menunjukan akad nikahnya langsung. Untung saja dia pulang di waktu yang tepat, padahal kemarin bilang kelas XII akan pulang jam 10.30.
Alena duduk di kursi tamu, menatap kedua pengantin yang sedang sibuk menyalami tamu undangan. Alena melihat Afgan yang menatap dirinya, kemudian dia tersenyum masam. Ketika Afgan menatap Reyhan dan berbicara sesuatu, Alena langsung lari mencari kesempatan agar Hanna tidak melihatnya.
Alena menjauh dari keramaian, dia tidak mau merusak pernikahan Hanna. Dia pulang ke rumah, tidak ada siapa-siapa di rumahnya. Alena melangkahkan kaki ke meja makan, dia membuka kulkas mencari susu kotak yang tanpa rasa.
"Gue gak sedih! Gue harus seneng!" Alena menyemagati dirinya sendiri. "Gue harus ganti baju dan berpakaian layaknya tamu undangan," gumam Alena dia langsung berlari ke kamar untuk berganti pakaian, tak lupa mandi terlebih dahulu.
...***...
"Mas jam berapa sekarang?" tanya Hanna gugup, dia belum terbiasa.
Reyhan melihat jam yang ada di tangan kirinya itu. "Jam sepuluh," jawabnya sembari menyalami tamu yang datang.
"Kok Alena belum pulang ya?" tanya Hanna ketika tamu sudah pergi.
Reyhan mengangkat kedua bahunya acuh, dia mulai lagi menyalami tamu undangan. Hati Hanna mulai khawatir dengan Alena, takutnya dia pulang terus melihat dirinya yang sedang menyalami tamu.
Reyhan melihat wajah khawatir Hanna, dia mendekatkan diri untuk memeluk Hanna. "Jangan dipikirin, mungkin dia lagi di jalan," katanya menenangkan Hanna. Hanna menganguk sembari menyalami tamu, bahkan menjawab ucapan selamat dari tamu.
"Hai, Happy Wedding ya," celetuk seseorang yang suaranya sangat dikenali Hanna, dia langsung menatap orang itu dan benar saja dia adalah Alena.
Alena tersenyum tulus, dengan polesan sederhana membuatnya sangat cantik. Reyhan saja sampai tidak bisa mengenali Alena yang sekarang ini.
"Na, gue bisa jelasin," lirih Hanna.
Alena melotot, dia langsung merangkul Hanna. "Eh jangan nangis dong! Gue udah denger akad nikahnya kok, jadi santai aja," sahut Alena, membuat Hanna langsung memeluknya.
"Maapin gue, Na. Gue udah bohongin lu soal tadi pagi," Hanna menangis dipelukan Alena. Alena menepuk punggung Hanna, untung Alena lebih tinggi. Jadi dia tidak perlu memakai sepatu yang hak tinggi.
"Santai aja, gue juga minta maap karena gak ngertiin lu. Gue do'ain semoga rumah tangga lu Sakinah, Mawadah dan Warohmah, Aamiin," harapan Alena yang dianguki Hanna.
Acara peluk pelukan hangat sudah selesai, Reyhan saja sampai pegal menunggu mereka berdua selesai berpelukan. Untungnya belum ada tamu yang datang ke arah mereka, kalo ada bukan hanya Reyhan yang pegal para tamu juga pasti pegal.
"Kak Afgan!" teriak Alena memanggil Afgan, Afgan yang merasa dipanggil hanya menatapnya. "Sini," tangan Alena menyuruhnya untuk kemari.
Afgan dengan santai berjalan ke arah mereka bertiga, jujur Afgan juga kaget dengan penampilan Alena yang sangat berbeda. Cantik batinnya.
"Apa?" tanya Afgan ketika sudah sampai dihadapan Alena.
"Fotoin pake kamera itu," Alena menunjuk kamera yang ada di leher Afgan, dia terkekeh ketika melihat ekspresi kesal di wajah Afgan.
Afgan memundurkan langkah, mencari pose foto yang bagus untuk mereka. Reyhan yang dipaksa oleh Alena, hanya menghela napas sabar. Kalo Hanna sih, sudah pasti dia mau karena dia ingin memiliki album pernikahannya dengan Alena.
Satu cekrek, dua cekrek sudah Afgan lakukan, tapi sayang Alena belum puas. Apalagi dia mengusir Reyhan untuk menjauh dari Hanna, niatnya ingin berfoto dengan Hanna saja.
Hanna terkekeh, melihat wajah kesal Reyhan. Tapi beberapa detik kemudian, dia tersenyum manis ketika melihat Hanna terkekeh.
"Manis kan senyuman istri gue?" nada bicara Reyhan terdengar sombong, Afgan hanya menganguk mengiyakan karena memang benar senyuman Hanna sangatlah manis, tapi tak kalah manis dengan senyuman Alena.
"Udah belum?" teriak Alena, Afgan mengeleng. Kemudian dia mengambil foto seperti layaknya fotografer yang profesional.
Afgan menunjukan hasilnya kepada Alena, Alena menganguk lalu mengacungkan jempol. "Bakat yang bagus," ucapnya santai, sembari melihat-lihat lagi fotonya.
Afgan menahan napas, sabar. Reyhan menatap mereka bertiga, dia tidak percaya dengan yang terjadi sekarang. Padahal awalnya mereka terlihat sangat tidak akrab, apalagi Reyhan dan Alena. Mereka yang berantem di taman nasional, Hanna dan Afgan yang memisahkannya. Tapi liat sekarang, kini dirinya akrab dengan Alena.
Reyhan menatap Hanna, yang kini menatapnya balik. Dia masih tidak percaya, kalo dia menikahi pujaan hatinya di waktu yang cepat. Biarpun begitu, keinginan menjadi masa depan Hanna sudah terbukti. Reyhan merangkul Hanna, sekarang dia bebas melakukan apa saja terhadap Hanna karena dia milik Reyhan seutuhnya.
"Na, ujian berapa hari?" tanya Hanna, Alena yang pokus ke kamera kini menatap Hanna.
"Tiga hari, kenapa emang?" sahut Alena.
"Nanya aja sih, jadi kelulusannya kapan?" tanya Hanna lagi.
Alena terlihat sedang berpikir. "Hmm, mungkin bukan Juni," tebak Alena karena dia juga tidak tau, tapi Alena pernah mendengar kalo perpisahan akan diadakan bulan Juni.
Hanna menganguk. "Kalo gitu gue-"
"Lu pikirin aja kehidupan baru lu, soal gue jangan dulu. Sekarang ada yang lebih penting dibandingkan gue, nanti kalo lu gak sibuk ya datang kalo sibuk gak usah maksain," Alena memotong ucapan Hanna.
Hanna tersenyum tumben banget dia berkata bijak. Baru kali ini, Alena pikirannya sangat dewasa ataukah karena dia sering mendengar cermahan Hanna, jadi dia berpikir untuk menjadi dewasa. Apapun itu alasan yang jelas Alena sudah dewasa.
"Ini lu kan?" tanya Reyhan, sangat terdengar menyebalkan. "Tumben banget anjir, pikiran lu dewasa." lanjut Reyhan, dia menepuk tangan.
Alena tidak ada niatan untuk menjawab, baginya itu tidak penting. "Syukurlah kalo udah dewasa, semoga aja gak ganggu keramahan rumah tangga gue," sambung Reyhan terkekeh.
Alena yang merasa tersindir, karena sering menganggu Reyhan hanya menatapnya sebal. Lagi-lagi dia tidak menjawab. Hanna mengemplak tangan Reyhan, sungguh keterlaluan menurutnya.
Reyhan melirik Alena sekilas, dia tau kalo dirinya itu sedang berpikir keras untuk menjawab ucapannya. Tapi sayang dugaannya salah, Alena sama sekali tidak ada niatan untuk berdebat dengannya.
Alena melangkahkan kaki, menjauh dari mereka. Tadinya Hanna ingin menahan, tapi ditahan oleh Reyhan. Dia mengeleng pelan, Hanna hanya menghela napas. Pertengkaran seperti apa lagi ini?
...***...
...TBC...
Oke, sekarang tokoh pendukung sudah mati. Kisah mereka sampai di sini saja yaa, kalo ada yang kangen sama mereka, nanti aku bikin.
Sengaja aku percepat waktu, karena takutnya kebanyakan part belum lagi tentang tokoh utama ygy?
Jangan lupa like bintang and comentarnya ya, oh iya kalo ada kesalahan dalam penulisan komen aja, biar nyadar -_-
Oh iya satu lagi, jangan lupa share cerita ini, biar orang tau kalo cerita ini tak seru. Cerita yang butuh komentar biarr nyadar kalo ceritanya ini sangat asik untuk di baca!
Inget komentar, share dan like nya!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 23 Episodes
Comments