...***...
...“Meskipun hukum alam menolak kita untuk menua bersama. Jangan menyerah! Teruslah dekati semesta, karena pada dasarnya semesta yang akan mengizinkan kita untuk bersama.”...
...***...
"Reyhan," gumam Alena pelan, dia masih menatap cowok itu. "Nama yang jelek, udah jelek nyebelin lagi." lanjutnya langsung melangkah masuk.
Banyak tatapan iri ke arah Alena, padahal dia bukan pacarnya Reyhan tapi kenapa cewek-cewek pada baper akan adegan perkenalan tadi. Sungguh membuat Alena mengelengkan kepala karena tidak mengerti lagi dengan cewek zaman sekarang. Baperan kali.
Alena mengacuhkan tatapan mereka yang penuh tanya tentang siapa cowok itu, dia tidak punya teman di sekolah jadi dia harus mandiri ke kelas bahkan ke kantin sekalipun. Gadis itu menyimpan ranselnya ketika sudah sampai di kelas, mengusap perutnya yang keroncongan karena belum diberi asupan makanan pagi.
Alena mengerucutkan bibir, mungkin hari ini dia akan berpuasa. Bel masuk berbunyi, ah sial dia juga lupa membawa topi padahal hari ini adalah hari senin, bagaimana dia bisa lupa dengan alat tameng agar tidak dihukum.
Semua murid berlarian ke lapangan karena guru mulai menghitung sampai lima, apabila yang telat masuk lapangan akan dijemur sampai jam istirahat pertama. Hal itu membuat siapa saja harus bersiap-siap untuk berlari, sekalipun sedang membenarkan dasi.
Tidak dengan Alena, dia malah berjalan santai. Mungkin Alena sudah tahu kalo dia bakalan dihukum hari ini, jadi dia sengaja tidak berlari. Menurutnya itu sangatlah membuang tenaga, benar saja baru saja dia sampai di garis lapang guru yang berdiri di bar memanggil namanya untuk berdiri di depan dan mengikuti upacara disampingnya.
...***...
Alena menghela napas lega, ternyata waktu berjalan dengan cepat. Syukurlah dia tidak pingsan, kalo saja pak guru tadi tidak menyuruhnya untuk berteduh mungkin Alena akan pingsan. Gadis itu tersenyum miring, dia hanya berpura-pura sakit saja, supaya tidak dihukum dan dijemur sampai istirahat.
Lain tempat, dengan cowok yang tadi menolong Alena, dia duduk di bangku kuliah yang kosong bersama temannya itu. Dia Reyhan cowok yang kemarin bertengkar dengan Alena di taman nasional.
"Gue ketemu lagi sama dia, Gan." katanya dengan muka melas. Selepas mengantarkan Alena, Reyhan kehabisan bensin untung saja tidak jauh dari Pom mini dan juga dia tidak telat. Padahal tidak ada kuliah pagi, hanya saja dia ingin mencari angin sebelum berangkat kuliah.
"Terus?" tanya Afgan, teman lawan bicaranya.
"Dia nanyain nama gue, ya udah gue kasih tau," jawabnya. "Dia makin cantik, apalagi kalo pake seragam SMK." jujurnya sembari menatap kosong ke arah depan.
Afgan menatap Reyhan dengan tatapan sulit dimengerti. "What? Jangan bilang lo demen sama tuh bocil?" tanyanya tidak santai.
Reyhan yang tadinya melamun, langsung mengeleng keras. "Mana mungkin gue suka sama bocil SMK!" sentak Reyhan.
"Gak papa kali, nanti judulnya 'Cintaku bertepuk di taman nasional', bagus kan?" saran Afgan yang tidak digubris sama sekali.
Reyhan menyimpan ranselnya, lalu menjauh dari Afgan. "Gue kira dia itu udah gak sekolah njir, atau udah kuliahan ternyata masih anak SMK. Terus yang cewek satunya lagi masih sekolah kah?" tanya Reyhan menatap temannya itu.
Afgan mengeleng. "Bukan deh, soalnya gue pernah liat dia di kampus kita," ujarnya melihat sekeliling.
Reyhan menghampiri Afgan. "Yang bener, kelas apa?" tanyanya.
"Kayaknya sih kelas Akuntansi deh, si Monica kelas Akuntansi kan?" tanya Afgan balik. Reyhan menganguk mantap, bismillah mengapai jodoh!
Reyhan pergi meninggalkan dia sendiri, tanpa mengubris teriakan Afgan untuk menunggu. Afgan yang melihat temannya sedang bucin hanya mengelengkan kepala, kena tolakan kawus sih!
"Lo ngapain duduk di sini?" tanya teman sekelas Alena.
Alena mendongkakkan kepala ke atas menatap lawan bicaranya. "Gue lagi nungguin upacara bubar lah," jawabnya tidak santai, pantesan saja dia tidak punya teman akrab di sekolah.
"Upacara udah kelar, bukannya masuk malah caper di sini," ucapnya.
Alena menatap teman sekelasnya yang masuk ke kelas dengan tatapan sebal. "Matamu caper!" makinya langsung masuk ke dalam kelas, tak lupa dengan tatapan tajam ke arah temannya yang tadi.
Reyhan berlari mengejar seseorang, mungkin dia adalah petunjuk di mana jodohnya itu. "Mon," panggil Reyhan tapi tidak terdengar olehnya. "Monikaaa!" cukup sekali Reyhan berteriak, Monika langsung berhenti dan membalikkan badan.
Monika menunggu kalimat selanjutnya dari mulut Reyhan, dia mengerutkan alis, silau karena sinar matahari. "Apa? Buruan gue sibuk nih," katanya menghalangi penglihatan dengan tangannya.
"Lo punya teman dekat gak?" tanya Reyhan langsung pada intinya. Reyhan dan Monika adalah teman SMK wajar saja kalo dia tidak malu berkata demikian.
"Punya lah, banyak. Kenapa emang?" tanyanya balik.
"Mau tanya, yang putih, cantik, bersih, pendiam siapa namanya?" tanya Reyhan lagi.
"Lo kalo ngomong yang bener, mana bisa gue sebutin satu-satu, sedangkan temen gue pada cakep semua," jawabnya tidak santai.
Reyhan melihat sekeliling siapa tau dia melihat cewek yang dia maksud. Mata Reyhan menyapu sekeliling anak Akuntansi siapa tau jodohnya ada disekitar mereka. Yes ketemu!
Mata Reyhan pokus pada cewek yang memakai baju cream, di bawah pohon sedang berteduh dengan wajah melasnya mungkin menunggu kedatangan Monika.
"Dia," Reyhan menunjuk seseorang. Monika mengikuti arah yang ditunjukkan temannya itu.
Monika menganguk-angukan kepala, kemudian mengeleng. "Gak boleh, dia udah punya pawang," bebernya tanpa memperdulikan perasaan Reyhan.
Reyhan tersenyum pahit. "Gue nanya namanya doang njir," ucapnya padahal dia berharap pujaan hatinya jomblo.
"Namanya Hanna," jawab Monika. "Udah kan, gak ada lagi yang ditanyakan? Kasian dia udah lama gue dari tadi," lanjut Monika, dia melambaikan tangan pamit kepada Reyhan.
Reyhan menghela napas. "Reyhan ... Reyhan lo kasian banget, belum juga jadian udah sadboy anjir," ucapnya pada diri sendiri.
...***...
"Oy Alena!" teriak Tiara teman Alena yang menegurnya tadi.
Alena menatap sekilas wajah Tiara, dia sedang malas berdebat. Apalagi dengan keadaan perut kosong itu sangatlah memalaskan. Sekolah Alena sudah bubar, Alena benar-benar ingin makan sekarang, sudah lapar sangat seharian tidak makan.
Dia menghela napas, ketika memastikan uang sakunya benar-benar tidak ada uang. Alena membuka ransel, siapa tau ada uang sisa kemarin yang tersimpan tapi nihil tidak ada satu lembar pun uang didalamnya. Dia meringis menahan tangis, jarak sekolah ke rumah lumayan jauh.
Alena sedang malas menghubungi keluarganya, apalagi mengingat kejadian tadi pagi. Hanna tidak bisa menjemputnya karena ada kegiatan dadakan, gadis itu menghentikan langkah kemudian dia mendongokakkan kepala sembari memejamkan mata, berharap Reyhan lelaki tadi pagi yang mengantarnya ada di sekitar jalan raya.
Baru saja Alena membukakan mata, ternyata yang dia harapkan sudah di depan mata. Reyhan sedang menepi di jalan, sepertinya sedang galau. Terlihat saja dari wajahnya yang cemberut itu, apalagi sembari menopang dagu, tak salah lagi kalo dia sedang galau.
Alena langsung berlari tanpa babibu ke arah di mana lelaki itu berada, Reyhan yang melihat seseorang berlari ke arahnya hanya mengerutkan kening, ternyata masih dengan orang yang sama. Reyhan tau apa tujuan gadis itu, segera dia bersiap untuk menghidupkan mesin. Tapi sayang Alena dengan sigap duduk di jok motornya.
"Kak anterin gue lagi, nanti gue bayar kalo udah di rumah," ucapnya dengan tanpa dosa.
...TBC...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 23 Episodes
Comments
Ichigo Kurosaki
Pengen langsung baca lagi!
2023-08-12
0
💟《Pink Blood》💟
Gak sabar nunggu lanjutannya thor!
2023-08-12
1
Má lúm
Terpesona☺️
2023-08-12
1