...***...
...“Kupinang kau dengan bismillah allahumma ahya wa bismika wa amut, supaya aku selalu tidur denganmu.”...
^^^-Reyhan^^^
...***...
Reyhan sempat mengirimkan pesan kepada Alena bahwa dia akan ke rumah Hanna sekarang dan benar saja dia sedang bersiap-siap untuk rumah Hanna, Reyhan memberitahukan kepada ayah dan ibunya bahwa hari ini dia akan melamar sang pujaan hati.
Reyhan tersenyum bahagia, kedua orangtuanya merestui. Bahkan mereka tidak keberatan siapa cewek yang akan menjadi menantunya, tidak peduli seperti apa dia dan tidak peduli dari keluarga mana dia berada. Kedua orang tua Reyhan tidak memandang rupa ataupun harta, yang penting dia bisa menjadi istri yang baik untuk anaknya.
Reyhan dengan balutan kameja hitam sangat pas di tubuhnya itu, Afgan sangat terpana oleh ketampanan Reyhan ternyata temannya itu bisa keren juga. Selain terpana oleh ketampanannya, Afgan juga terharu bahwa temannya itu akan melamar sang pujaan hati yang dia dambakan di kampus.
Afgan melihat dan menghitung apa saja yang akan dibawa oleh temannya itu, setelah semuanya siap dimuat oleh mobil langsung saja Afgan berlari dan membuka pintu mobil. Dia duduk di depan, menjadi sopir Reyhan.
Berbeda lagi dengan keluarga Hanna, kemarin selepas Reyhan mengirimkan pesan bahwa hari ini akan datang ke rumah. Jadi Hellen memasak makanan yang cukup banyak, untuk makan-makan di rumahnya.
Alena terus menatap Hanna di cermin, walaupun dia tidak pandai merias wajah tapi dia berusaha keras untuk mendandani sahabatnya itu dengan pulasan yang sederhana. Alena hanya menambahkan lipbam dan sekidit bedak, hal itu membuat Hanna terlihat sangat cantik.
"Udah ih," rengek Hanna ketika Alena ingin memulas wajahnya lagi.
"Tambah maskara doang, Han. Biar bulu mata lo lentik," jelas Alena sembari mengulas bulu mata Hanna dengan maskara.
Hanna menghela napas, padahal dia hanya ingin terlihat sederhana. Tapi Alena malah memulas wajahnya dengan beberapa tepuk bedak. Hanna menatap dirinya di cermin, walaupun begitu Hanna terlihat lebih cantik dari biasanya.
Hanna tersenyum. "Cantik juga ya gue," puji Hanna pada dirinya sendiri.
Alena menganguk. "Iya dong," ucapnya, sembari memilah-milih lagi peralatan make up. Hanna hanya menatapnya saja, kali ini dia tidak akan memprotes Alena untuk memulas wajahnya.
"Na, lo kapan ujian?" tanya Hanna.
"Minggu depan, kenapa emang?" jawab Alena, masih pokus mencari sesuatu.
"Lo nyari apaan sih?" tanya Hanna, dia juga ingin membantunya.
"Nyari liptin yang agak merah itu, biar bibir lo seksi," jawabnya sambil mengutak-atik wadah make up.
"Biar apa anjir, jangan lah pake begituan. Gak suka," gerutu Hanna.
"Cariin aja napa, jangan banyak bacot!" ketus Alena sedang mode singkat, tajam dan menyakitkan.
...***...
Reyhan menunjukan jalan, karena beberapa hari lalu ke rumah Hanna. Mungkin dia agak sedikit lupa, jadi Afgan menghentikan mobil menatap resah temannya itu. Dia berharap Reyhan bisa mengingat jalan ke rumah Hanna.
"Kemana Rey?" tanya Afgan.
Reyhan tidak ingat sama sekali, padahal dia pernah ke rumah Alena beberapa kali. Tapi kenapa hari ini ingatannya sangat tidak mendukung, Reyhan mengingat di mana dia dan Alena pulang dari taman nasional.
"Ah belokan yang di depan, terus lurus aja. Soalnya udah keliatan rumah Hanna di sana," akhirnya Reyhan mengingat, hal itu membuat orang yang di dalam mobil menghela napas lega. Jangan tanya Afgan, sudah jelas dia tidak pernah bermain ke rumah Alena ataupun Hanna.
Afgan menuruti apa yang dikatakan Reyhan, untung gangnya masuk mobil. Afgan kira gang ini hanya untuk orang yang sederhana saja, ternyata dugaannya salah. Gang ini adalah rumah orang kaya yang terlihat sederhana, Afgan mengelengkan kepala, ternyata dia salah menilai kampung yang tersembunyi.
Afgan menghentikan mobil di depan rumah yang bernuasa biru, mungkin itu adalah rumah Hanna. Reyhan menurunkan bawaan tadi, Ibunya sudah disambut hangat oleh Hellen yang disusul oleh ayahnya.
Afgan menatap Reyhan yang gugup, dia melangkah dan menepuk punggung Reyhan. Dia memberikan semangat, bismillah semoga lancar katanya. Reyhan tersenyum lalu menganguk kecil dan masuk bersama.
"Assalamualaikum," sapa Reyhan sopan, dia menyalami Hellen dan Yuda bergantian yang disusul oleh Afgan.
"Ada apa ya, Pak Bu? Ko bawa barang banyak banget?" tanya Hellen berhati-hati, ah ralat dia berpura-pura tidak tau.
"Oh jadi gini, Bu." jawab Ayahnya Reyhan. "Maksud tujuan kami datang ke sini, anak saya Reyhan ingin melamar putri Ibu, Bapak yaitu Hanna," jelasnya yang dianguki mereka berdua.
"Bentar ya, Pak. Saya panggilkan dulu," ucapnya izin untuk memanggil Hanna.
Hanna turun dengan santai yang di susul oleh Alena, Reyhan yang tadinya menatap takjub wajah Hanna langsung merubah ekspresi ketika menatap Alena yang menunjukan sikap centilnya itu.
Reyhan tak berhenti menatap Hanna, hal itu membuatnya salah tingkah. Untung saja Alena sigap menangkap Hanna, kalo tidak sudah jatuh! Reyhan tersenyum kecil, melihat wajah malu Hanna. Ah sial Reyhan sangat ingin mencubit pipinya itu.
"Jalan tuh liat ke bawah, Han!" gerutu Alena, jantungnya hampir loncat ketika Hanna akan terjatuh, untung saja dia langsung menangkapnya kalo tidak ahh jangan ditanya! Pasti malu.
Reyhan masih menatap Hanna, mulai dari tangga hingga duduk dihadapannya itu. Afgan menyenggol tangan sahabatnya itu, sungguh mata keranjang sampai tidak mau berkedip!
Reyhan menatap Afgan, dia seperti berkata 'Ada apa?'. Afgan yang paham dengan kode, dia langsung menunjuk ke arah Hanna. Reyhan mengikuti arah yang Afgan tunjuk, ternyata tertuju pada sang pujaan hati. Ah dah lah kalo sama yang bucin, gak bakalan kelar!
Reyhan mengaruk tenguknya yang tidak gatal. "Hai," sapa Reyhan, Hanna hanya tersenyum.
"Jadi bagaimana, Pak Yuda? Apakah lamaran anak saya diterima?" tanya Ayah Reyhan, dia terlihat sangat bersemangat.
Yuda menatap anak sulungnya itu. "Udah Ayah terima aja," bisik Alena. "Kita tanya dulu pada Hanna, apakah dia setuju?" jawab Yuda. Dia terkekeh melihat wajah tekuk Alena.
"Aku setuju kok, Yah," sahut Hanna.
"Tuh kan, apa kata Alena, pasti dia mau!" bisik Alena membuat Hanna kepo. Yuda terkekeh, lalu dia menganguk kecil.
"Jadi rencana pernikahannya kapan?" tanya Yuda.
"Bulan depan, Om," jawab Reyhan yang sedari tadi menyimak. Mereka semua menganguk, kecuali Hanna.
"Baiklah, Om serahkan saja semuanya kepada Nak Reyhan." titip Yuda yang dianguki Reyhan.
Setelah bertanya-tanya, kini giliran makan bersama. Alena yang sudah siap siaga di kursi langanannya, untung saja Hellen dan Yuda tidak mempersalahkan itu karena kedua orang tuanya menitipkan Alena padanya.
Reyhan dan Afgan saling menatap, isi otaknya kini penuh tanda tanya. Jadi Alena siapanya Hanna, teman apa teman? Itu lah yang ada dipikirkan mereka saat ini.
Alena menunggu yang lain duduk di meja makan, tadinya dia akan makan duluan. Tapi, setelah melihat Hanna yang terlihat sangat tertekan, jadi mengurung niatnya.
"Kenapa diam aja? Gak suka ya?" tanya Hellen, Alena mengeleng pelan.
"Bareng sama yang lain aja deh, Bun," bisik Alena yang dianguki Hellen dan juga Hanna. Ah sial ternyata Hanna sedari tadi menatapnya. Dia tersenyum kikuk, mengaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Reyhan duduk dihadapan Hanna, Afgan pun duduk dihadapan Alena. Mata mereka saling menatap, apalagi Alena menatap Reyhan dan Afgan bergantian. Hanna merintis ketika kaki Alena menendangnya, dia menatap sebal Alena. Sungguh kurang ajar tuh bocil SMK!
"Bun, kata Hanna nasinya kurang?" ucap Alena pada Hellen, untung Hellen tau kalo Alena sedang bercanda.
Hanna melotot, dia tidak terima. Hanna mencari kaki Alena, sepertinya itu kakinya. Dengan santai Hanna menendang kaki tersebut, kemudian menatap wajah Alena yang tidak ada sama sekali kesakitan. Matanya menatap seseorang yang kesakitan tak lain adalah Afgan.
...***...
...TBC ...
Oke, di sini aku matikan dulu tokoh pendukungnya baru tokoh utama. Kenapa begitu? Biar ada bahan untuk up wkwk.
Up Reyhan gak papa kan?
Gimana nih ada yang penasaran dengan lelaki yang menikahi Alena? Kalo di awal bakalan nikah sama Reyhan, eh ternyata salah.
Di part selanjutnya, aku percepat lagi. Supaya tokoh pendukung cepat mati! Eh bukannya membunuh, hanya saja aku akan pokus pada tokoh utama.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 23 Episodes
Comments