18. Marah

Orangtua Alena sudah pulang dua jam yang lalu, tugas sebagai seorang ibu sudah selesai ia kerjakan. Dimulai dari memasak dan mencuci bekas sarapan pagi tadi karena tidak sempat, sekarang Karin sudah di meja makan menunggu anggota keluarga kesayangannya itu.

Bima dan suaminya sudah turun, tapi belum dengan Alena. Apa gadis itu lupa jam makan sore ya?

"Sore gaes," sapa Alena tanpa wajah berdosa, dia menyapa keluarganya. Mana dengan kata embel 'Guys'.

Bima mendelik. Dasar bocah laknat!

Makan sore berjalan dengan baik, tidak ada perdebatan ataupun pembicaraan yang membuat makan sore lama. Aturan yang diterapkan di keluarga Alena adalah jangan berbicara ketika makan, berbicaralah ketika sudah selesai.

Alena mengusap perutnya, ketika meminum energen coklat hingga habis. Gadis itu menatap Karin yang sedari tadi menatapnya, ada hawa-hawa tidak enak di wajah sang ibu yang melahirkannya itu.

"Ada apa, Ma?" tanya Alena cengengesan.

"Nikah muda? Maksudnya?" Karin malah melemparkan pertanyaan yang sangat sensitif, padahal Alena sudah berusaha untuk melupakan itu.

Alena diam tak menjawab.

"Lo mau nikah muda, Dek?" kini Bima yang membuka suara.

"Bang bukannya kata Papa kamu pulang besok?" Alena mengalihkan pembicaraan.

Dion memutar mata malas. "Nikah sama siapa?"

Alena menghela napas panjang, anggota keluarga kecilnya itu terus membahas nikah muda. Apa tidak ada pembahasan lain? Mungkin Alena harus jujur sekarang perihal kecelakaan tadi siang.

Alena menundukkan kepala. "Alena kecelakaan Ma, Pa, Bang."

"Kecelakaan?" ucap mereka serempak.

"Ada yang terluka gak, Sayang?"

"Kecelakaan apa lo?"

"Ah paling ngerusuh lagi,"

Perkataan Dion membuat anak pertamanya dan sang istri diam. Bukannya khawatir malah berpikir bahwa Alena membuat masalah lagi, ya walaupun ada benarnya sih.

Alena mengangkat kepala, lalu cengengesan tidak jelas. "Tuhkan apa kata Papa, pasti Alena bikin rusuh lagi. Ngerusak hubungan siapa, sampai mau nikah muda, hmm? Iri sama yang pacaran?" Dion menatap Alena dalam, tak paham mengapa putrinya itu berbeda dari dirinya. Bahkan sifat Karin tidak ada di diri Alena.

"Alena membuat masalah lebih besar loh, Pa!" jawab Alena antusias, tidak ada rasa salah sama sekali setelah merusak pernikahan orang.

"Apa?" tanya Dion. Bima dan Karin hanya menyimak percakapan anak dan ayah yang menurutnya tidak menarik, karena sudah bosan mendengar keluhan Alena. Dimulai dikejar orangtua anak yang dikerjain, dibentak ibu-ibu karena teriak tidak jelas dan masih banyak lagi.

"Alena ngehancurin pernikahan orang lain, terus orang itu minta tanggung jawab agar Alena menjadi pengantinnya." jawab Alena santai, dia yakin pasti orangtuanya tidak akan marah. Paling menceramahi agar tidak seperti itu lagi. Sudah Alena duga pasti mereka tidak akan marah, toh masih diam.

"Sudah Alena duga, pasti kalian tidak akan setuju aku nikah muda." lanjutnya terkekeh, sesekali menujukan wajah songong ke arah Bima.

"Nikahin ajalah, Pa. Eneg gue lihat muka songongnya itu," celetuk Bima yang dianguki Dion.

"Mama juga capek, Pa. Masa tiap hari denger bahwa anak kita membuat masalah," sambung Karin.

"Papa juga sebenarnya capek, mungkin kalo Alena nikah gak bakalan capek lagi ya." Alena melotot ketika mendengar perkataan Dion, mana bisa begitu.

Alena menggeleng keras. "Gak! Alena gak mau nikah muda. Alena janji gak bakalan nakal lagi, Alena bakalan jadi anak yang baik. Janji ya," ucap Alena terdengar prihatin. Padahal mereka hanya pura-pura saja, mengancam Alena untuk segera taubat.

"Pikirkan apa akibat yang akan kamu dapat setelah merusak pernikahan oranglain, lelaki itu gak bakalan melepas kamu dengan mudah, Alena." ucapan Dion membuat Alena teringat akan ucapan lelaki itu.

***

Suara teriakan lelaki terdengar sangat nyaring, ketika gadis yang merusak pernikahanya hancur hilang entah kemana. Mata Kenzo menatap ke arah jendela yang terbuka, pasti gadis itu kabur lewat jendela. Kaki panjangnya ia langkahkan ke arah jendela, urat tangan kanan terlihat begitu jelas menandakan dia sangat marah.

"Apa maksudnya ini, Kenzo? Kau membatalkan pernikahan yang sudah saya rancang dengan baik?" suara bariton dibelakang Kenzo, membuat lelaki itu menghela napas panjang.

"Ini tidak seperti yang Ayah lihat," jawabnya membalikkan badan, melangkah mendekati pria paruh baya. Mungkin dia datang karena pernikahan yang lelaki itu rancang rusak, pasti orangtua pengantin wanita mengadu padanya.

Pria itu menganguk. "Lalu?" tanyanya sembari duduk di kursi rias.

"Ada seseorang yang merusak pernikahan ini, Ayah." jawab Kenzo.

"Baguslah, lagian wanita itu tidak cocok untukmu,"

"Apa maksud, Ayah? Elena wanita yang baik!"

"Kalo dia baik, mana mungkin dia selingkuh di belakang kamu, Kenzo!" bentak pria itu.

Kenzo menggeleng, tidak percaya dengan jalan pikir ayahnya. "Apa ini rencana Ayah? Mempermalukan Kenzo, hah?" Kenzo menutup mata, takut kewalahan.

Pria yang disebut Ayah terkekeh pelan. "Nikahi saja wanita itu, jangan balas dendam karena sudah merusak pernikahanmu."

"Tapi Ayah, Elena dan wanita buruk itu berbeda!"

"Apa perbedaan mereka, Kenzo?"

"Dia Elena dan wanita itu Alena, Ayah. Beda satu huruf saja bisa menjaminkan bahwa perilakunya juga berbeda."

Pria itu terkekeh, mendengar jawaban Kenzo. "Memang beda, Elena wanita yang selingkuh dan Alena adalah calon istrimuh." kini pria itu tertawa keras, karena diakhir kata ditambah huruf 'h'.

Kenzo menahan tawa, melihat sifat random sang ayahnya itu. Sungguh diluar nalar, "Ayah, ayolah ini serius!"

"Ayah tidak setuju kamu menikah dengan Elena,"

"Lalu kenapa ayah membiayai pernikahan, Kenzo?"

"Ayah hanya gabut, karena bingung uang kita harus dipake dengan cara apa lagi."

"Ayah!"

"Cari saja wanita yang bernama Alena itu, bawa ke hadapan Ayah. Ingat jangan berhubungan lagi dengan Elena, wanita itu tidak baik untukmu." setelah mengucapkan itu, pria paruh baya itu meninggalkan Kenzo sendirian.

"Alena? Bahkan gue gak kenal sama tuh cewek, apa benar yang cewek itu ucapkan, dia sahabat mantan gue? Kalo iya, kenapa gue baru lihat tuh cewek anjir," kata Kenzo sembari mengingat wajah Alena, agar gampang dicari.

***

Alena terus menggosok telinganya yang sedari tadi panas, dia pikir pasti ada yang membicarakan dirinya. Tapi siapa? Alena mengangkat bahu acuh, dari pada memikirkan yang tidak pasti, mending tidur.

Baru saja ingin menutup mata, suara ketukan pintu terdengar membuat Alena harus membukanya. "Sabar napa, Bang!" dia tahu bahwa yang mengetuk pintu itu adalah Bima, apalagi ketukan pintu yang tidak santai sudah jelas perilaku sang abang.

"Abang ish!" rengek Alena ketika Bima menoyor kepalanya ketika pintu dibuka, lalu lelaki itu masuk tanpa berdosa.

"Lo ngehancurin pernikahan siapa? Kenapa?" tanya Bima, dia sudah duduk di pinggir kasur Alena.

Alena berdiri beberapa meter. "Mantan Hanna, karena gue dendam." jawab Alena.

"Lo yakin kalo itu mantan Hanna? Sedangkan lo sendiri belum ketemu sama tuh orang,"

Alena terdiam. "Tapi gue tau namanya, Bang! Gue juga dikasih tahu tempatnya sama Hanna, jadi mana ada salah orang." jawab Alena yakin.

"Tapi yang nikah ada dua orang loh," jawaban Bima membuat Alena berlari menghampiri dirinya.

"Ko abang tau?" tanya Alena penasaran, bagaimana Bima bisa tahu. Padahal dia belum bercerita tentang ada dua orang yang menikah.

"Gue hanya lewat,"

"Bang! Jawablah yang jujur!"

"Dengerin tapi," ucap Bima yang dianguki Alena. "Tadi gue lewat ke tempat yang lo ceritain, seharusnya kan gue pulang besok, ya?" Alena menganguk menyimak.

"Nah gue gak sengaja lihat beberapa orang lari entah mencari siapa, gue iseng tuh nanya."

Bima yang sedang berjalan-jalan mencari angin, dibuat bingung oleh orang-orang yang panik entah mencari siapa. Karena dia memiliki jiwa yang kepo, dihampirilah ibu-ibu yang sedang duduk santai dikursi panjang. "Eh, eh ada apa ini, Bu?" tanya Bima sembari duduk, ketika melihat orang-orang berlari entah kenapa.

Ibu itu menoleh pada lelaki yang duduk disampingnya, bisa salah paham nih kalo suaminya melihat mereka berdua. "Lagi nyari pengantin yang kabur, Nak." jawab Ibu-ibu yang hanya diam tanpa ada niatan membantu nyari.

"Emang sebenarnya ini teh ada apa?" tanya Bima lagi, karena tadi bukan jawaban yang dia inginkan.

"Ada wanita yang tiba-tiba ngerusak pernikahan, ngomongnya sih dia hamil anaknya pengantin pria. Dia minta tanggung jawab, tapi malah kabur. Pengantin pria ngamuk karena malu untuk yang kedua kalinya, pasti itu wanita gak bakalan bisa kabur deh. Wong orangnya galak banget, pasti ketemu tuh." jelas Ibu itu, Bima tersenyum puas karena ini jawaban yang dia inginkan.

"Untung yang sebelah gak kena imbas, karena sudah selesai akad." celetuk ibu itu membuat Bima kembali bertanya.

"Berdua ya? Aku kira satu tapi tempatnya dua, tapi kok yang sebelah sederhana ya nikahnya terus rusak."

"Engga, Nak. Walaupun yang pernikahannya rusak tapi dia juga dari kalangan orang berada, lihat tuh orang-orang yang berpakaian biasa, Ibu denger mereka bawahannya. Padahal wanita itu beruntung menikah dengannya, eh malah kabur."

"Yakin lo gak bakalan ketemu sama tuh cowok?" tanya Bima tiba-tiba, dia malas bercerita lagi karena suami dari ibu itu datang.

"Yakin lah, gue sama dia gak kenal. Pasti akan sulit buat nemuin gue, apalagi gue kang rebahan." eh sebentar sejak kapan Alena tukang rebahan, bukannya dia kang rusuh ya.

"Gue denger itu cowok gak pernah punya mantan." bisik Bima berbohong.

Alena menatap Bima tajam. "Tau dari mana lo? Dia punya mantan, mantannya adalah Hanna. Mana ada gue salah orang, toh dia juga yang bilang!" sentak Alena membuat Bima semakin semangat mengerjainya.

"Lo tau sendiri gue suka banget nyari sesuatu yang gak gue tahu, gue tau semuanya dari Ibu itu." lagi-lagi Bima berbohong, padahal setelah suami ibu itu datang Bima langsung kabur takut dimarahi.

"Terus gue harus gimana, Bang?"

"Mending keluar yuk sama gue, biar diizinin."

Alena mendelik, menyebalkan!

"Ogah!"

Bima bangun. "Ya udah, kalo lo ada masalah jangan minta bantuan gue." setelah mengatakan itu, dia melangkah keluar tapi dihadang oleh Alena. Mampuskan lo!

"Jangan gitu, ya udah ayo."

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!