...***...
...“Tidak ada kesalahan yang tidak dimaafkan, kecuali selingkuh.”...
...***...
Alena baru saja sampai di kampus Hanna, Afgan tidak mengantarnya ke tempat di mana Hanna berada ataupun belajar. Gadis itu melihat sekeliling, ternyata di kampus ini banyak cogan. Apa Alena merubah pikiran, akan melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah?
Alena berjalan sesuka hatinya, dia melihat cewek sendiri yang berjalan di depannya. Sepertinya dia sedang menghujat. Alena bersembunyi, dia kepo dengan hujatan cewek itu.
"Astaga sial, kenapa Hanna bisa memiliki Reyhan dengan cepat. Perasaan gue duluan deh yang kenal dia, tapi kenapa Hanna yang menjadi istrinya. Ini gak bisa dibiarin, mereka harus cerai!" ucap cewek itu.
Alena yang mendengar kalo cewek itu akan, membuat rencana untuk memisahkan Hanna dengan Reyhan. Dia langsung keluar dari tempat persembunyiannya, ia melangkah dengan langkah lebar ke arah cewek itu. Dia tidak peduli soal umur, yang penting amarahnya hilang.
Alena menendang kaki cewek itu, yang membuatnya tersungkur ke tanah. Cewek itu menatapnya tajam tidak terima, diperlakukan seperti ini. Cewek itu ingin berdiri, membalas Alena. Tapi sayang Alena lebih dulu menginjaknya, lalu menarik rambut kritingnya itu. Cewek itu jelas meringis kesakitan, padahal dia tidak kenal dengan Alena tapi kenapa dia menyiksanya.
"Lepasin! Apa-apaan sih lo, kenal aja kagak," desis cewek itu.
Alena semakin keras menarik rambutnya. "Oh ya, coba katakan sekali lagi. Lo mau bikin Reyhan cerai dari Hanna," ucapan Alena membuat cewek itu diam.
"Bagi lo Hanna siapa, hah?" kini cewek itu membuka suara, ketika beberapa detik terdiam.
Alena terkekeh, melepaskan rambut cewek tiu dari tangannya. "Gue sahabatnya, kenapa? Lo takut?" kata Alena, membuat cewek itu terdiam lagi.
Cewek itu pernah dengar cerita sahabat Hanna yang lumayan ganas, seperti laki-laki. Ternyata apa yang dia dengar, kini sudah ada dihadapannya. Badannya bergetar hebat, takut Alena berbuat lebih jauh dari sekedar menjambak. Langsung saja dia memeluk kaki Alena, memohon maap karena telah lancang membuat rencana seperti itu.
Alena mencoba melepaskan tangan cewek itu, tapi dia malah semakin kuat memeluknya. Alena berteriak agar dia melepaskan tangannya, tapi dia tidak mengubris. Dia malah memohon ampun pada Alena, dia berjanji tidak lagi berurusan dengannya ataupun Hanna, yang penting dia terlepas dari Alena.
Alena yang mendengar itu, hanya menghela napas. Karena kesal cewek itu terus memeluk kakinya, terpaksa Alena harus menendangnya kuat.
Alena tersenyum puas, melihat cewek itu terlepas dari kakinya. Bagi Alena, dia seperti ulat bulu yang menempel di badannya. Memikirkannya saja Alena sudah bergidik ngeri, dia mundur beberapa langkah ketika cewek itu ingin meraih kakinya lagi.
"Maapkan aku," lirihnya disela tangisan.
Alena yang baru saja ingin menjawab, sudah ditarik paksa oleh Afgan. Bahkan tidak hanya menariknya, dia memangul Alena bak seperti menculik. Alena meraung meminta menurunkannya, tapi Afgan tidak mengubris. Alena menatap cewek itu lagi, yang kini berdiri sembari mengambil tasnya, ketakutan. Alena memukul punggung Afgan, bagi Afgan itu hanyalah pukulan semut yang lama kelamaan menjadi brutal.
Ketika sudah jauh dari lokasi kejadian di mana Alena bertengkar, Afgan menurunkan Alena dengan kasar. Dia menatap kesal wajah Alena yang menahan amarah, harusnya dialah yang marah bukan Alena.
"Apaan sih?" tanya Alena, dia risih ketika Afgan terus menatapnya.
"Tunggu di sini, gue mau manggil Hanna," titah Afgan, dia meninggalkan Alena sendirian. Ternyata Afgan membawanya ke belakang kampus, Alena menatap kagum taman kampus itu.
Alena melangkahkan kakinya itu sesuka hati, tak lupa dia memakai kacamata andalannya. Entah sejak kapan Alena membawa kacamata itu, yang penting dia mengambil milik cewek tadi. Menurutnya kacamata ini lucu jadi dia ambil pas cewek itu lengah. Alena berlari-lari ria, sembari menatap sekitar. Dia tidak peduli dengan tatapan aneh orang kampus, dia terus melanjutkan langkahnya.
Alena menghentikan langkah, dia melihat lelaki yang pernah dia temui. Bahkan dia pernah mengambil beberapa fotonya dari media sosial. Alena mengikuti jejak langkah lelaki itu yang gontai, sepertinya dia sedang sibuk. Alena kehilangan jejak lelaki itu, dia menghela napas kasar. Masa iya dia kehilangan!
Alena istirahat sejenak, tak sangka lelaki itu membawanya ke jalan masuk kampus. Alena tidak tahu tempat apa ini, yang penting dia tidak tersesat sih. Alena mendudukkan bokongnya, baru saja dia mendaratkan tapi sudah terdengar kegaduhan yang tak jauh dari tempat dia duduk.
Alena berdiri, mengedap mencari sumber keributan itu. Dia memakai kacamatanya lagi, yang tadi sempat disimpan karena mengejar seseorang. Alena tersenyum miring, ternyata lelaki itu yang berantem.
"Apa kau bilang, kau mau putus? Yang benar saja dong," ucap lelaki itu, ingin meraba pipi pacarnya itu tapi dia menepisnya.
"Ya, aku mau putus darimu. Temanku bilang kau selingkuh!" jawab pacarnya.
Alena yang semakin tertarik dengan keributan, dia semakin membesarkan senyum miringnya itu. Dia berjalan angkuh ke arah mereka, jangan tanya rasa malu Alena. Dari awal keluar rumah saja, rasa malu itu sudah tidak ada. Bahkan sejak dia menceritakan tentang kisahnya.
Alena menerobos kerumunan itu, cewek yang bertengkar dengannya tadi membelalakkan mata, nyalinya menciut ketika Alena melangkah ke hadapan lelaki yang hendak menampar pacarnya itu.
"Omo-omo, apa kau selingkuh dariku, sayang?" Alena mulai melancarkan aksinya, ya apalagi kalo bukan merusak hubungan orang.
Orang yang berkerumun seketika kaget dengan kedatangan Alena yang tiba-tiba, pacarnya itu menatap lelakinya seperti meminta penjelasan. Tapi dipotong karena Alena kembali bersuara.
"Aish, kau ini apa-apaan. Kau berani sekali selingkuh dari ku, hah?" tanya Alena lagi dia memelaskan wajahnya.
"Siapa kau?" tanya lelaki itu.
Plak!
Alena menampar lelaki itu, sungguh tidak menyangka lelaki itu akan berkata demikian. Orang-orang yang menonton terkejut, apalagi cewek yang bertengkar dengan Alena. Alena berjalan ke arah pacar lelaki itu, dia menunjukan foto lelaki itu tanpa baju. Ah sial terbongkar aib tukang nyolong foto.
"Liat lah, bahkan dia pernah main ke rumahku," Alena menunjukan foto itu. Pacarnya kaget dengan kelakuan lelakinya, dia mendekati lelaki itu lalu menamparnya.
Alena tertawa dalam hati, kena kau batinnya.
Alena pergi ketika pacarnya itu pergi, Alena buru-buru menjauh dari lelaki itu. Takutnya dia kena amukannya. Untung saja lelaki itu terus diam, mungkin dia kaget karena tamparan pacarnya itu. Alena terus berlari sembari melihat ke belakang, takutnya lelaki itu mengejarnya.
Alena tidak memerhatikan yang di depan, sehingga dia menabrak dada bidang seseorang. Anehnya hanya Alena saja yang terpental, tapi orang yang Alena ta tabrak tidak goyah.
"Aws..." rintih Alena, dia melihat lututnya yang sedikit tergores tanah dan juga sedikit aspal.
"Makanya kalo jalan tuh liat ke depan!" sentak orang itu, Alena yang tau siapa orang itu hanya memanyunkan bibir.
"Ish, Kak Afgan mah nyebelin, bukannya bantuin malah ngatain," rengek Alena, dia memasang wajah sedih.
Afgan memutar mata malas. "Bodo amat, orang kalo bahagia itu ngatain dulu, baru nolong," ucapnya lalu membantu Alena bangun.
"Lu habis dari mana sih? Udah dibilangin tunggu di taman, eh malah ilang," ingat Afgan. Padahal dia sudah mengatakan pada Alena untuk tetap diam di taman, tapi dia malah berlari entah kemana.
"Habis liat-liat, lagian nunggu lama itu melelahkan," sahut Alena tidak ada rasa bersalah. "Oh iya, Hanna mana?" lanjut Alena.
"Di taman," jawabnya.
Alena langsung meraih tangan Afgan dan memeluknya hangat. "Yuk, jalan," ucapnya santai. Dia tidak peduli dengan jantung seseorang yang sedang ia peluk tangannya, jantung Afgan sedang tidak baik-baik saja sekarang. Dia juga bingung, kenapa dirinya bisa seperti ini, padahal kemarin-kemarin tidak seperti ini. Apakah dia sedang?
Afgan mengeleng keras, tidak! Dia tidak menaruhkan hati pada Alena, anak SMK lulusan kemarin itu. Dia terus mengeleng, sampai tidak sadar Alena menatapnya. Alena mengerutkan kening, kenapa Afgan tidak berjalan.
"Kenapa, Kak?" tanya Alena.
Afgan langsung sadar, dia mendehem lalu berjalan menuntun Alena untuk bertemu Hanna di taman. Padahal waktu Hanna tidaklah lama, dia diberi waktu oleh Reyhan 15 menit. Tapi ini sudah lewat dari 15 menit, Afgan harap Hanna masih ada di taman.
Afgan menuntun dengan langkah besar, hingga Alena kewalahan mengikutinya. Dia terbinar ketika melihat air mancur di kampus itu nyala, sedangkan tadi tidak. Tangannya melepaskan tautan Afgan dan berlari ke arah air mancur itu.
Afgan melihat sekitar, ternyata Hanna sudah pergi. Dia menatap Alena nanar, bisa-bisanya dia bahagia ketika sahabatnya itu sudah pergi. Dia menghampiri Alena yang sedang asik bermain air, Alena melirik Afgan yang menepuk punggungnya. Afgan tahu apa maksud dari kerutan kening Alena.
"Yuk balik, Hanna udah pulang." ucap Afgan langsung menyeret Alena pulang, dia tidak mengubris ucapan Alena yang meminta penjelasan tentang Hanna.
...***...
...TBC...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 23 Episodes
Comments