14. Mantan hanna

...***...

...“Tidak ada yang bisa menebak jalan pikir manusia, sekalipun ditebak pasti salah. Iya salah, karena aku mencintaimu.”...

...***...

Alena terdiam diri di balkon kamarnya, dia habis menelepon Hanna. Hanna sempat meminta maap karena meninggalkan Alena di kampus, karena dia hanya diberi waktu sebentar oleh Reyhan.

Alena tertawa hambar, kemudian mengatakan tidak apa-apa, lagian itu tidak penting begitulah Alena menjawabnya. Padahal jauh dari lubuk hatinya, Alena sangat merindukan sosok Hanna yang hangat dan sering marah ketika diusil olehnya. Alena menghela napas, ternyata yang sudah berumah tangga memanglah berbeda.

Alena mengambil ponselnya, mungkin Hanna mengirimkan pesan karena nada deringnya berbeda dari orang lain. Alena memicingkan matanya membaca pesan tersebut, belum sadar dengan arti dari pesan itu. Beberapa detik kemudian matanya membelalak, dia membaca lagi pesan dari Hanna.

Hannayuk🦍

|Len, mantan gue mau nikah.

^^^Anda^^^

^^^Trs? |^^^

Alena sengaja membalas singkat, mungkin dia ingin berlama-lama marah pada Hanna. Dia berharap Hanna akan menyepamnya seperti dulu, ternyata tidak.

Hannayuk🦍

|Gk sih.

^^^Anda^^^

^^^Oh.|^^^

^^^Kpn? |^^^

Alena sedikit tertawa ketika dia berusaha cuek pada Hanna, padahal dia tidak tega melihat wajah sedih sahabatnya itu.

Hannayuk🦍

|Besok

Alena hanya membaca pesan itu, lalu melemparkan asal ponselnya. Dia berdiri berjalan ke arah cermin untuk menata rambutnya yang berantakan, duduk memandang dirinya sendiri. Alena tersenyum miring, ketika melihat wajahnya di cermin.

"Mungkin bermain dengan mantan Hanna tidaklah buruk," gumamnya. Dia berlari mengambil ponsel untuk menanyakan di mana tempat menikahnya. Setelah mendapati jawaban dari Hanna, Alena berbaring di kasur. Entah kenapa dia sangat suka merusak hubungan orang, kalo dia sendiri yang dirusak mungkin akan marah.

"Oke, selamat menjalankan rencana yang sangat memalukan, Nyonya Alena." semangatnya pada diri sendiri, dia membalikan badan menatap atap kamar. Alena tidak sabar, menunggu hari besok tiba. Ditambah tempat menikahnya mantan Hanna itu tidak jauh dari tempat tinggal dia sekarang. Hanya membutuhkan beberapa menit saja, karena di seberang kota besar.

***

Hari yang Alena tunggu kini sudah tiba, dia sudah bangun beberapa menit yang lalu bahkan sudah mandi akibat terlalu semangat menganggu hubungan orang lain. Wajahnya dia poles bedak, bibirnya tidak lupa pake liptin agar tidak terlalu pucat.

Dia meloncat kegirangan, semoga rencana memalukan ini berjalan dengan lancar. Semoga! Alena mengepalkan kedua tangannya, menyemangati diri sendiri. Alena memakai minyak wangi, tangannya bergerak mencari sesuatu yang memperkuat aksinya. Ah tidak-tidak, itu sangat memalukan ketimbang merusak hubungan orang, Alena tidak lagi mencari sesuatu tadi. Setelah semuanya selesai, dia turun untuk ikut sarapan bersama keluarga.

Gadis itu menghela napas gusar, abangnya itu selalu saja tidak pulang membuat dia rindu kasih sayang sang kakak. Mungkin lelaki itu masih marah, perkara Alena tidak mau melanjutkan pendidikannya. Padahal Bima itu mati-matian mencari kuliah yang baik untuk Alena, dari pada berantakan dijalan mending jangan.

"Pagi Ma, Pa." sapa Alena menarik kursi dan duduk menghadap orangtuanya. Dia sempat melirik kursi samping yang kosong.

"Pagi sayang," jawab mereka serentak, mereka juga mengikuti tatapan anak bungsunya itu, seperti mengerti Dion mengangkat suara.

"Abangmu bentar lagi pulang, besok mungkin." tuturnya membuat Alena menghela napas.

"Ma, Pa habis sarapan aku izin keluar, doain semoga lancar ya," Alena meminta izin, supaya rencananya lancar.

Mereka mengerutkan alis. "Mau kemana kamu?" tanya Karin. Dia takut anaknya itu membuat masalah seperti kemarin, kalian tahu? Alena menceritakan semua kejahilannya pada Karin, di mulai dia memalak Afgan. Apalagi Karin kaget ketika mendengar cerita Alena yang berantem di kampus Hanna.

"Nyari duda kaya raya." sahut Alena, tangannya sibuk memindahkan makanan untuk disantap.

Karin menatap Dion, tatapannya seperti mengatakan 'Anak kamu nyebelin' dibalas angkatan bahu acuh oleh Dion, dia juga anak kamu.

Sarapan pagi hanya terdengar dentingan sendok dan piring, biasanya Alena akan mengisi keheningan ini. Tapi sekarang sang empu malah sibuk dengan pikirannya sendiri. Entah apa yang mengisi pikiran anak bungsu di depan ini, membuat Karin menatap Alena penuh selidiki. Pasti anak itu akan melakukan masalah besar, dari cara berpikirnya saja sudah berbeda. Tapi Karin tidak bisa memastikan, itu hanya angan-angan saja, takut tidak sesuai ekspektasi.

Alena mengelus perut yang sudah terisi penuh, sekarang Karin membuatkan energen coklat hal itu membuat semangat Alena semakin banyak. Ayah Alena sudah berangkat kerja beberapa menit yang lalu. Tangan kiri Alena terangkat menujukan pukul 07.30, matanya menatap Karin. Tidak sadar akan kepergian sang Ayah.

Karin yang merasa ditatap langsung menatap balik. "Apa?" tanyanya tidak santai, takut anaknya itu meminta pertolongan yang sulit.

"Kalo pernikahan di masjid suka jam berapa, Ma?" tanya Alena, membuat Karin menghela napas lega. Sudah diduga diluar ekspektasi.

"Jam sembilan, kenapa?" Karin penasaran, kenapa Alena bertanya seperti itu. "Kamu mau nikah di masjid?" sambung Karin.

Alena menggeleng. "Gak, nanya aja sih. Alena mau ikutan bilang sah aja," jawab Alena ngawur.

"Rata-rata pengucapan ijab qobul suka jam sembilan, Dek. Tapi ada juga yang agak siangan, tergantung penghulunya si, eh tapi ada juga yang tergantung kitanya." jelas Karin membuat Alena bingung.

Alena mengangkat bahu acuh, dirinya bingung harus berangkat jam berapa. Dari pada telat lebih baik datang lebih awal, kalo tidak tahu nanti tanya info ke tetangga di sana.

Alena sudah kenyang, dia berpamitan pada Karin. Matanya menyapu mencari keberadaan sang ayah, namun tidak ada. Mungkin ayahnya sudah berangkat kerja ke kantor, apalagi dia mendengar ada jam lembur. Astaga padahal Dino sudah berpamitan pada istrinya, hanya saja Alena tidak menyadari kepergian sang ayah. Salahkan saja dia yang sibuk dengan dunia khayalan.

"Assalamualaikum." pamit Alena menyalami tangan Karin. "Doain semoga lancar ya, Ma." kekeh Alena, membuat Karin mengerutkan alis, wanita paruh baya itu bingung dengan perbuatan anaknya. Sedari tadi terus menyuruh agar mendoakan rencananya berjalan lancar. Entahlah Karin tidak terlalu memikirkan pikiran Alena, karena anak itu sulit ditebak.

"Waalaikumsalam. Hati-hati, Alena." balas Karin, menggelengkan kepala ketika melihat Alena setengah berlari ke luar rumah. Terlihat sangat bahagia, semoga anak itu baik-baik saja. Karin pikir, mungkin Alena akan mencari pekerjaan, karena sudah genap tiga bulan dia lulus.

***

Alena loncat-loncat kecil, sembari bersenandung ria. Menyapa tetangga disekitar, meminta mereka untuk mendoakan Alena agar rencananya lancar. Untung tetangganya sudah akrab bahkan hafal perilaku Alena, jadi mereka iyain aja biar cepat.

Tangannya merongoh tas selempang kecil warna crem, mengambil ponsel mencari alamat yang akan dituju. "Baru jam delapan kurang, masih ada waktulah buat pergi ke sana," gumam Alena membaca pesan dari Hanna, yang menunjukan tempat di mana mantannya itu menikah.

"Mau kemana lo, bocil?" tanya seseorang dibelakang Alena, dia tidak tahu kedatangan orang itu.

Suara itu Alena tahu, dia tersenyum kecil. Sepertinya meminta antar lelaki itu boleh juga. Alena membalikkan badan, senyumannya luntur kala melihat wanita disamping Afgan.

"Pacar lo?" tanya Alena sekilas menatap cewek itu, cantik.

Afgan menggeleng. "Dia se—"

"Kalo iya, kenapa?" potong gadis yang disamping Afgan, membuat Afgan menatapnya tajam.

Alena mengeleng lesu, menundukkan kepala."Sayang sekali," ucapnya menghela napas gusar.

Afgan dan gadis itu saling tatap, seperti tahu kalo Alena patah hati. Dari pergerakannya saja, seperti menahan diri untuk tidak cemburu. "Kenapa ko diem?" tanya gadis itu lagi, Afgan menyenggolnya pelan.

Alena mengangkat kepala, menatap mereka berdua. Kemudian menggeleng. "Gak nyangka aja, modelan kaya Afgan bisa dapet lo. Mungkin pas jatuh cinta lo kelilipan ya, jadi gak lihat kalo Afgan itu burik." jelasnya sembari mengelengkan-gelengkan kepala.

Afgan melotot, refleks tangannya menjitak Alena. "Ngaco. Dia bukan pacar gue, tapi se-pu-puh." Afgan menekan kata sepupuh.

Alena mencibir, mengusap kening. Gadis yang disebut sepupuh Afgan terkekeh, ternyata dugaannya salah.

"Kak Afgan, anter gue, yuk!" seru Alena, yang dianguki oleh Afgan.

"Bol—"

"Jangan, dia gak bisa. Kamu pergi aja sendiri, bye." lagi-lagi gadis itu memotong ucapan Afgan, tak hanya memotong tapi sekarang gadis itu membawa pergi Afgan dari hadapan Alena.

Alena menghela napas panjang, kemudian membalikkan badan menatap kepergian Afgan yang semakin jauh. Memang Alena sulit ditebak ya pikirannya, jatuh langsung bangkit mungkin seperti itu. Toh dia sekarang sudah berlari kesetanan, orang ngira pasti Alena gabut. Sebelum berlari gadis itu bergumam. "Fower ranjer merah!" tak lupa dengan tangan swagnya.

Afgan menghempaskan tangan sepupuhnya itu, tak disangka tenaganya kuat juga. "Lo apa-apaan sih?" tanya Afgan tidak santai.

"Lo disuruh ke alfamart beli bahan kue, kalo lo lupa." jawab gadis itu santai.

Afgan mendecak. "Lo gak tau situasi sih!" sentaknya.

Gadis itu kaget, kenapa Afgan bisa semarah itu. "Dia siapa lo?" tanyanya.

Afgan melihat ke belakang, di mana Alena sedang berlari kencang. "Dia gebetan gue, maka dari itu gue bersedia kapanpun dia minta pertolongan." jawab Afgan tersenyum, hatinya sakit melihat Alena berlari kencang. Dia pikir mungkin Alena kecewa, padahal jauh dari pikirannya Alena tidak seperti itu.

"Maap, gue gak tahu," lirih gadis itu.

Afgan membalikkan badan, menggeleng kuat. Bahaya kalo cewek itu nangis, bisa-bisa dia malu! Karena sangat tidak manusiawi kalo menangis.

"Lo gak salah. Ayo, katanya mau ke alfamart." ucap Afgan yang dianguki lawan bicara. Mereka melanjutkan perjalanan, sesekali Afgan melihat Alena yang masih berlari, kini larinya sedikit lambat tidak sekencang tadi.

"Maap kalo gue ngecewain lo, Alena. Gue gak bisa melakukan apa-apa kalo sama sepupuh, gue harap lo gak ambil hati masalah tadi. Lo tau? Dada gue sakit, ketika liat lo berlari seperti itu, semoga hubungan pertemanan kita baik-baik aja."

...***...

Astaga Afgan, kamu pikir Alena sakit hati? Duh kamu ini sangat berlebihan, ibunya saja tidak bisa menebak jalan pikir anaknya. Lah kamu? Sangat idaman.

Eh, Afgan suka Alena? Jadi gimana dong ini, bisa-bisanya Afgan suka sama cewek, seaneh Alena. Tapi baguslah dari pada tuh anak jomblo.

Jangan lupa vote saat online ya!

...Ada yang disampaikan ke Hanna atau Reyhan?...

...Alena?...

...Afgan?...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!