...***...
...“Pengen banget kaya di film-film, orang yang pertama kita temui itu adalah jodoh kita di masa depan, tapi jangan yang kemarin Tuhan.” ...
...-Alena Diandra ...
...***...
Matahari muncul malu-malu, tampaknya kalah dengan seseorang yang kini sedang duduk di balkon tanpa rasa malu sedikit pun. Orang itu adalah Alena, selepas mandi dia berniat untuk meneriaki tetangganya agar segera bangun.
"Bangun sobat, ini sudah siang jangan sampai telat. Marilah tegakkan hidup sehat, dengan minum energen rasa coklat!"
Tetangga Alena menyambut dengan baik, syukurlah dia tidak keberatan dengan teriakan Alena yang sangat kencang, mungkin mereka telah terbiasa dengan teriakan Alena.
Alena telah siap dengan seragamnya, setelah puas dengan teriakan selamat pagi kini ia turun dan segera berangkat sekolah. Sebelum benar-benar berangkat, gadis itu harus pergi ke rumah Hanna terlebih dahulu.
Alena turun dengan bersenandung ria yang menurutnya enak didengar, dia melihat Mamanya yang sedang memenuhi meja makan untuk sarapan. Sungguh anak yang durhaka, bukannya membantu orangtua ini malah menatapnya saja.
"Mama, aku berangkat dulu ya." pamit Alena mengaitkan ranselnya dipundak, dia mengulurkan tangan. Karin-Mama kandung Alena hanya menatap tangan kosong itu.
Alena menarik kembali tangannya. "Why, Maaa?" tanya Alena bingung, dia mengosokkan tangannya.
"Sarapan dulu baru berangkat," jawab Karin sembari menyimpan susu coklat. "Padahal Mama udah nyiapin susu coklat kesukaan kamu," lanjutnya sembari terkekeh.
"Pidihil Mimi idih nyiipin sisi ciklit kisikiin kimi," ucap Alena menyenyenye. Padahal yang dia suka adalah Energen coklat, dia sangat tidak suka dengan susu karena dulu pernah dia meminum susu coklat. Endingnya sangat menyebalkan. Setelah susu habis, perut sakit seperti ingin buang air besar.
Sejak kejadian itu Alena tidak ingin lagi minum susu coklat, tapi kalo yang dikemas kotak beda lagi wkwk.
Karin terkekeh mendengar celotehan anak keduanya itu. "Ya udah itu buat Abang aja, kamu berangkat aja sana," usirnya sangat menusuk.
Alena menatap sebal Mamanya itu. "Mama mah gitu ih, nyebelin!" teriak Alena. "Eh, ada abang ya?" tanya Alena sadar akan sesuatu. Dia berlari ke kamar pertama, Alena sangat merindukan sosok abangnya itu.
Alena mengedor pintu yang masih tertutup dengan tidak sabar, menarik napas panjang untuk mengedor pintu lebih keras. Baru saja dia ingin mengedor, tiba-tiba pintu terbuka dengan menampilkan lelaki tampan yang lebih tua darinya.
Tangan Alena melayang di udara. "Abang!!" teriak Alena sembari memeluk tubuh Bima. "Abang, gue kangen banget!" lanjutnya semakin mengeratkan pelukannya.
Bima ingin melerai pelukan itu, tapi Alena semakin mengeratkan. "Lo gak lapar?" tanya Bima, hal itu membuat Alena melepaskan pelukan.
Alena menganguk, kemudian menuntun abangnya untuk turun. Bima tersenyum ternyata adiknya itu semakin gemas, tidak lupa menutup pintu kamar terlebih dahulu.
Bima bisa dibilang seumuran dengan Hanna, hanya saja lebih duluan Hanna lahirnya. Meskipun begitu tapi Bima tetap memanggil dengan namanya, Hanna saja tidak keberatan. Kalo dia keberatan dengan sebutan nama, lalu apa kabar dengan Alena yang tidak sopan itu?
Alena menghentikan langkah, menatap Karin dengan kesal. Sekarang dia paham kenapa Mamanya menyeduhkan susu coklat, ternyata itu buat Bima karena dia sangat suka dengan susu coklat. Alena menatap tajam wajah Bima, sekarang dialah yang akan menjadi anak kesayangan keluarganya itu!
"Abang!" tekan Alena, membuat Bima mengerutkan kening. "Belum salim," ucapnya sembari mengulurkan tangan. Bima menghela napas lega, dia pikir Alena akan memarahinya karena tidak memberitahu akan pulang hari ini.
Bima menerima uluran itu. "Bang, gue masih marah ya perihal lu gak ngasih kabar buat balik!" katanya langsung mengeleos menghampiri Karin dan Dino-Papanya yang sedang menunggu mereka berdua.
Bima menelan ludah kasar, menatap wajah sangar adiknya itu. "Segalak itu kah adik gue? Pantesan gak ada yang suka sama tuh orang," gumamnya sembari mengelengkan kepala.
"Ma, Pa Alena berangkat sekolah dulu ya," pamit Alena.
"Hati-hati," jawab Dino singkat. Hati Alena mengeleos, sangat sakit mendengar perkataan Ayahnya itu. Apalagi Mamanya sangat tidak peduli dengannya, jangan ditanya Bima juga tidak peduli. Dia malah sibuk meminum susu coklat buatan Mamanya itu.
"Tau ah masih pagi nyebelin banget!" maki Alena, dia berlari keluar tanpa pamit pada abangnya itu.
Alena berlari ke rumah Hanna, dia menyembunyikan wajah sedihnya itu sekarang dia menampilkan wajah senang di pagi hari yang cerah.
Alena mengedor gerbang rumah Hanna, namun tidak ada jawaban dari tuan rumah. Dia menghela napas, membalikkan badan berjalan ke sekolah tanpa Hanna. Alena membalikkan badan menatap gerbang rumah Hanna, takutnya dia pergi terus Hanna keluar pergi kuliah.
Alena menatap sebal pintu gerbang rumahnya, dia sama sekali tidak percaya kalo orang rumah seperti itu padanya. Dia bingung antara senang dan sedih, senang karena abangnya datang dan sedih karena dia dipedulikan.
Jam menunjukan pukul 06.12 masih ada waktu untuk menunggu bus sekolah, biasanya dia selalu nebeng ke motor Hanna. Tapi sekarang dia tidak ada dan terpaksa harus naik bus. Alena melangkah ke depan jalan raya, jarak rumah ke jalan raya tidaklah jauh hanya butuh beberapa menit.
Sesampainya di jalan raya, Alena mengodok saku seragam putihnya itu berniat menyiapkan uang untuk membayar bus. Alena menghela napas kesal, dia lupa membawa uang saku terpaksa harus jalan kaki ke sekolah. Sungguh hari yang sial, padahal masih pagi tapi sudah sial! Ada apa dengan semua orang di sini? Kenapa tidak ada yang mengajaknya nebeng?
Alena menangis tanpa mengeluarkan air mata, dia sangat kasian. Pagi tanpa sarapan, berangkat tanpa kendaraan lalu sekolah tanpa uang jajan. Sungguh penderitaan yang akan diingat oleh Alena. Gadis itu melangkah tanpa rasa lelah, tapi lama-lama dia juga merasakan lelah.
Alena berhenti melangkah, berharap ada seseorang yang mengajaknya bareng ke sekolah. Matanya menatap sekeliling, dia harus melepaskan watak yang tak tahu malunya itu!
Alena menganguk sembari mengangkat kedua tangannya, dia harus melakukan itu!
Mata Alena pokus pada cowok yang mengenakan motor beat hitam, sepertinya dialah mangsa yang akan ditebengi Alena. Tangan kiri Alena diulurkan, berniat untuk menghentikan motor itu. Terdengar helaan napas panjang, Alena senang akhirnya motor itu berhenti.
Dia berlari kecil ke arah lelaki itu, sepertinya kenal dengan setengah wajahnya itu. Alena mengeleng pelan, mungkin dia salah. Cowok itu membuka kaca helm dan menatap Alena dari bawah hingga atas, hal itu membuatnya risih.
"Kak boleh nebeng?" tanya Alena langsung menaiki motor cowok itu, padahal lelaki itu belum menjawab pertanyaan Alena.
"Woy, lu cewek yang kemarin di taman nasional itu kan?" tanya cowok itu. "Turun lo, ogah banget gue bareng sama lu!" lanjutnya.
Alena panik ternyata benar, dialah orang yang kemarin dia lawan. "Kak anterin doang ya, sekarang kita damai dulu ya, ya!" seru Alena sedikit berteriak, takutnya suara Alena tidak terdengar karena cowok itu memakai helm.
Cowok itu mengeleng keras. "Gak, gak mau gue!" tolaknya kasar. "Turun lo dari motor gue!" sambungnya sembari mengoyangkan motornya kencang.
Alena yang refleks langsung memeluk cowok itu, bukannya sadar tapi malah mencari kesempatan. Dasar Alena!
Cowok itu melotot. "Lepasinn tangan gatal lo, gue mau kuliah, udah siang ini!" bentaknya menarik paksa tangan Alena agar terlepas dari pinggangnya.
Alena mengeleng keras."Gak mau, anterin dulu!" kekeh Alena masih memeluknya erat. Sungguh tidak tahu malu!
Cowok itu menghela napas. "Oke, lepasin dulu tangan lo. Baru gue jalan," ucapnya penuh kesabaran. Hanya karena Alena mengeleng, cowok itu kembali marah. "Lo anjing banget tau gak!" sentaknya tak membuat Alena takut.
Cowok itu akhirnya mengalah, segara dia menghidupkan mesin motornya dan segara pergi ke sekolah cewek yang tanpa nama itu. Sungguh hari yang sial, meskipun dia ada teman saat berkendara tapi dia tidak berharap bertemu dengan Alena.
Alena menyebutkan nama sekolahnya, ketika cowok itu bertanya di mana dia bersekolah. Alena tersenyum ketika cowok itu mengantarnya ke depan sekolah. Banyak pasang mata yang menatap Alena, tapi sayang Alena mengacuhkannya. Apalagi cowok tanpa nama itu, dia tidak peduli sama sekali.
"Makasih," ucapnya tulus. "Kalo boleh tau, nama kakak siapa ya?" tanya Alena, seolah-olah tidak ada perdebatan di antara mereka tadi.
Cowok itu menatap Alena, dia masih mengenakan helm itu. "Lu nanya gue siapa?" tanya cowok itu sembari menghidupkan mesin motornya.
Alena menganguk pelan. "Reyhan," ucapnya langsung pergi dari hadapan Alena. Alena mencibir kesal, padahal dia cuma ingin tau namanya bukan kepo. Sama aja Kuda!
...***...
...Jadi ceritanya Abang Bima itu kuliah sambil kerja, maka dari itu dia jarang di rumah. Sekalinya ke rumah nyebelin ya! ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 23 Episodes
Comments
Fiqri Skuy Skuy
Penulisnya jenius! 🌟
2023-08-12
0
zhouzhou_zz
Bingung mau ngapain setelah baca cerita ini, bener-bener seru!
2023-08-12
0