2. Cowok rese

"Lo jadi cowok lembek bener, lawak lo?" jawab Alena tidak mau kalah.

Alena menatap Hanna. "Udah bayar?" tanya Alena yang dianguki Hanna, langsung saja Alena menarik tangan Hanna, menjauh dari lelaki tidak tahu malu.

"Goblok lo!" teriak cowok itu ketika Hanna menginjak kakinya. Hanna mengulurkan lidah, untung Alena datang tepat waktu.

"Na, lo berani bener nabok orang," celetuk Hanna ketika sudah jauh dari orang aneh itu.

"Kalo dia ngelunjak gue bisa apa?" Alena malah menanya kepada Hanna.

Hanna tidak menjawab. "Lo beli apaan?" tanya Hanna sembari melihat plastik yang ditangan Alena.

Alena mengacungkan plastik. "Oh ini?" singkatnya. "Beli otak-otak lima ribu, cilor lima ribu sama kupat tahu delapan ribu terus teh manis deh empat ribu dapet dua." lanjut Alena yang membuat Hanna melonggo.

"Itu bakalan habis?" tanya Hanna yang dianguki Alena.

"Habis dong ya kali begini doang." jawabnya.

Hanna mengelengkan kepala tidak percaya. "Lo mah badan kecil makan kek sapi," ujarnya.

"Yang penting tenaga kuli," kata Alena sembari tertawa.

"Tuh kan tempatnya ada yang ngisi!" kata Hanna menatap Alena. Alena menghentikan tawa, ia langsung menatap dua orang yang sedang berpacaran.

Alena tersenyum miring, akhirnya mangsa sudah di depan mata!

Gadis itu memberikan kresek hitamnya pada Hanna. Hanna yang sudah tau apa yang ada di otak sahabatnya itu, langsung saja menerima kresek tanpa bantahan.

Alena menyarankan untuk menunggunya di sini sebentar, setelah dua orang itu pergi baru bisa duduk dengan enak. Hanna hanya menuruti apa kata Alena saja, dari pada ikut hanya membuatnya malu lebih baik cari aman saja.

Alena berjalan ke arah dua orang itu dengan santai, sesampainya dihadapan dua orang itu Alena menyimpan kedua tangannya dipinggang tidak lupa dengan muka.

Songongnya.

"Kenapa?" tanya cewek itu.

Alena menatap wajah cowok itu dengan perasaan penuh amarah. Jago bener ya ektingnya. Lalu berkata. "Jelasin sama gue cewek sialan ini siapa?" teriak Alena tanpa mengundang perhatian, tangannya menunjuk cewek yang duduk manis.

Cowok itu kebingungan, tidak tahu harus menjawab apa. Kenal saja tidak dengannya, jadi kenapa harus menjelaskan.

"Gue-"

"Halah alesan! Cara selingkuh lo murahan tau gak!" Alena mulai memancing amarah ceweknya itu.

"Lo siapa?" tanya Cewek itu.

Alena menatap tajam cewek itu. "Gue pacarnya! Kenapa panas?" jawab Alena tidak santai.

Cewek itu menutup mulutnya kaget atas ucapan Alena, lalu menatap wajah cowoknya seperti meminta penjelasan.

"Jelasin!" teriak cewek itu. Tanpa belas kasihan, Alena tersenyum miring dan tertawa dalam hati. Putus aja lah putus!

"Sayang aku gak kenal sama dia, sumpah." jawab cowok itu sembari menujuk Alena. Kini Alena menunjukan wajah marah.

"Tapi dia bilang pacar kamu! Kamu tega!" kata cewek itu sembari memukul dada bidang cowoknya.

"Sekarang lo boleh pergi dari sini, gue muak sama lo. Kita putus!" ucap Alena menekankan kata putus.

Cewek itu menangis, lalu pergi dari hadapan Alena, sebelum pergi ia menatap wajah cowoknya dengan tatapan kecewa. Setelah ceweknya pergi, cowok itu menatap tajam Alena, bersiap-siap untuk mengejar tapi ucapan Alena menghentikannya.

"Semoga tidak putus ya." ujar Alena santai.

"Lo– Sial!" geram cowok itu, lalu pergi menyusul pacarnya.

Alena duduk di bangku taman, lalu ia menatap sahabatnya yang sedang berdiri tak jauh dari tempat ia duduk.

"Skuy baby, sini udah kosong." ucap Alena menepuk samping bangku yang kosong, dia terkekeh ketika Hanna melangkah.

Hanna menghela napas, ia kasian dengan cewek tadi yang menangis. Tapi ia juga senang bisa duduk dengan enak, tanpa harus berdebat.

"Na, lo jahat tau gak." tegur Hanna ketika sudah duduk disampingnya.

"Lagian pacaran di sini, norak." jawabnya sibuk mencari otak-otak.

"Lo gak kasian gitu sama tuh cewek, tadi dia nangis loh," lanjut Hanna.

"Gue lebih kasihan sama lo yang makan tanpa duduk." jawab Alena yang membuat hati Hanna mengeleos. Bukannya baper hanya saja ia terkesan dengan jawaban Alena.

Katakan saja Alena tidak punya hati pada oranglain, tapi ia mempunyai hati untuk sahabatnya itu. Hanna sesekali bersyukur memiliki sahabat seperti Alena, ia tidak hanya pandai menghibur tapi ia juga ikhlas dalam pertemanan. Tanpa melihat keadaan, rupa ataupun itu. Tapi terkadang ia sebal dengan sifat Alena, di mana ia selalu memikirkan perasaan dirinya sendiri tanpa memikirkan perasaan oranglain.

"Makan, gak lapar kah?" ucap Alena membuyarkan lamunan Hanna. "Dih, malah bengong." lanjut Alena sembari menyuapkan otak-otak, ia memberikan teh manis pada Hanna.

"Makasih." singkat Hanna.

Alena mengerutkan kening. "Why? Gue gak ngasih cilor ya, gue cuma ngasih teh manis." kata Alena dibarengi tawa. Kalo soal makanan dia tidak bisa berbagi, sekalipun itu Hanna.

"Makasih untuk semuanya." ucapan serius itu membuat Alena menghentikan tawa.

"Kenapa sih? Ada apa?" tanya Alena yang kebingungan dengan sahabatnya itu.

Hanna mengeleng pelan. "Gak papa." ucapnya sembari membuka batagor.

"Kupat tahu makannya berdua ya," tawar Alena.

Hanna mengerutkan alis. Tumben. Dia mengeleng pelan. "Gak ah!" tolaknya halus.

"I-iih kok jahat banget," lirih Alena. "Tapi baguslah kalau begitu, gue senang. Solanya tadi cuma basa-basi doang." lanjut Alena tersenyum menampilkan giginya.

Hanna tertawa. "Lawak bener," sahutnya membuat Alena tertawa lagi.

"Lo kan yang tadi mukul gue?" tanya seseorang cowok yang membuat mereka berdua menatapnya.

Ternyata cowok itu adalah cowok tadi di tukang batagor, Alena menghela napas kenapa harus dipertemukan lagi dengan orang seperti dia.

"Apa? Ada masalah sama lo?" tanya balik Alena.

Plak!

Alena menatap Hanna yang memukulnya pelan. "Apaan sih emang gue salah ya?" tanya Alena kepada Hanna.

"Heh, lo itu harus sopan tau sama orang yang gak dikenal," tegur Hanna pada Alena.

"Dengerin tuh!" seru cowok itu.

"Terus cowok itu harus gue sopanin gitu? Kan dia duluan yang gak sopan." sanggah Alena.

"Lo itu cewek!" cowok itu meninggikan nada bicara.

Alena menyimpan otak-otak, lalu ia berdiri menatap tajam cowok itu. "Terus kalo gue cewek, lo apa? Banci?" tanya Alena tanpa rasa takut. Lagi-lagi Hanna harus melerai perdebatan.

Cowok itu mengangkat tangan berniat untuk memukul Alena, tapi Alena lebih dulu memukul perutnya hal itu membuat Hanna berdiri.

"Anjing banget sih lo!" maki cowok itu, teman cowok itu menahannya agar tidak terpancing amarah. 

"Apa lo!" seru Alena, Hanna langsung menahannya. Ia tidak mau Alena menunjukan sisi kelainannya, bisa gawat nanti.

"Udah! Lo bisa kena masalah kalo mukul tuh cewek," tahan temannya.

"Udah ih jangan berantem, malu!" ucap Hanna melihat sekitar, karena mereka sedang ditaman bermain pasti banyak pasang mata menatap mereka berempat.

"Tapi dia duluan, Han!" sahut Alena menunjuk kedua orang itu.

"Kamu, bawa temen kamu pergi!" perintah Hanna yang dianguki teman cowok itu.

Cowok itu terus menolak sepertinya ia ingin memukul wajah Alena yang mengejeknya itu. Alena menjulurkan lidahnya.

"Awas lo!"

"Gue gak takut, setan."

"Mulutnya!" tegur Hanna sembari mencomot bibir Alena.

"I-ih Hanna," rengek Alena.

"Mulutnya sih lemes bener," sahut Hanna kembali duduk.

Alena duduk. "Tapi gak gitu juga kali ih, mana asin lagi tangan lo." jawab Alena membuat Hanna mengeplaknya.

"Enak aja," elak Hanna tidak terima.

"Ih Hanna mah maen geplak-geplak wae, sebeul mama gigit nih. Aww," Alena tertawa setelah berkata itu.

Hanna tertawa. "Apaan sih? Kenapa jadi ke yang di tiktok!" lagi-lagi mengaplok punggung Alena.

"Ihh Hanna mah susah dibilangin!"

"Lagian lo gitu sama orang,"

"Tapi kan dia yang duluan!"

"Tapi kamu yang salah,"

Alena mengeleng. "Gak, Alena gak salah, cowok rese itu yang salah. Titik." sambar Alena.

Hanna menganguk, dia mengalah. "Buruan habisin. Kita pulang, takut Bunda nyariin." dia mengganti topik pembicaraan.

"Ishh, baru juga makan tiga biji otak-otak." ucap manja Alena, dia memasukan otak-otak ke mulutnya.

Hanna tertawa dengan perilaku Alena. "Ya makanya habisin, siapa suruh jajannya banyak banget." sahut Hanna.

"Ya kan biar kenyang, gue belum makan dari tadi tau!" curhat Alena, kini beralih membuka kupat tahu.

"Gue gak nanya!" celetuk Hanna membuat Alena memanyunkan bibir. "Aduh ini bibir!" gemesnya mencomot bibir Alena.

"Ihh, Hannaaa nyebelin banget!" teriak Alena kesal, mengembungkan pipi.

...***...

TBC

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!