Sang saka merah putih baru naik di pertengahan tiang. Namun pengibar bendera terlihat tak fokus, melihat korban kesurupan yang mulai berjatuhan dari kelas X1. Mereka memang berdiri pada posisi sempurna di depan tiang bendera, namun mata mereka tak henti-hentinya memantau dari kejauhan.
Di hadapan para siswa, nampak raut tegang dari kepala sekolah yang kala itu menjadi pembina upacara. Kelas kami mulai panik, terlebih korban yang kesurupan terus bertambah dan kini merembet ke kelas di sampingnya, X2.
"Gimana nih?" Keluh Maxim panik sambil menatap ke barisan belakang kelas kami. Dari raut wajahnya, aku menangkap kepanikan dan kekhawatiran akan terjadi korban lagi yang merembet ke kelas kami.
"Kenapa gak di hentikan aja sih upacaranya?" Keluh Ciko dengan wajah yang kian memucat. Aku tak heran, karena sejak awal dia memang kelihatan sangat takut dengan hal-hal yang berhubungan dengan hantu. Tapi aku juga setuju sih, kenapa upacara ini terus berlanjut?
Brak!!
Suara sesuatu jatuh, tak jauh dari tempatku berdiri. Aku langsung menoleh ke belakang, karena asal suaranya dari sana... dan ku lihat, barisan kami yang semulanya rapi, kini berhamburan dan tak beraturan lagi.
"Dara pingsan!!" Pekik salah satu dari teman kelas kami. Aku mengernyit. Dara pingsan? Aku yang semulanya hanya menoleh langsung berbalik, dan ternyata Kun pun melakukan hal yang sama. Ia menatap lurus ke arah keramaian.
Hal tersebut pun terjadi pada kelas X4 di sebelah kami. Korban berjatuhan secara bergilir. Sampai kakak kelas kami pun mendapati hal serupa.
Dan dari arah depan, terdengar suara teriakkan keras. Membuat kami tak kalah menaruh perhatiannya. Kami pun kini memalingkan wajah ke depan, melihat ketiga pengibar bendera oleng, hingga jatuh terjerembab di tanah secara bergiliran.
Sang merah putih yang hendak di kibarkan terlepas begitu saja, membuat talinya yang terik terulur dari gerekkan besi. Merah putih yang semulanya hampir berada di puncak kini terlepas dan melesat jatuh ke bawah.
Aku yang berdiri di barisan depan, tersentak, dan spontan saja segera berlari ke arah tiang bendera. Menangkap sang saka merah putih sebelum jatuh ke atas tanah.
Aku terduduk di atas tanah dengan lutut yang terlebih dahulu mendarat. Sehelai kain pusaka kini terjatuh di kedua tanganku. Namun tak serta merta membuat talinya berhenti terulur.
Grek.. Grek..
Suara tali yang awalnya bergesekkan dengan tiang kini terhenti. Aku pun mendongak, menatap seseorang yang sedang berdiri tegap di hadapanku.
"Good job wakil ketua osis!!" Ucap Maxim seraya tersenyum sinis ke arahku. Ia menahan tali agar tak segera terulur dan terlepas dari besi penggereknya. Aku merunduk dan mendongak, menatap posisiku dan juga dia.
Ck, si*lnya aku jadi terlihat sedang berlutut di hadapannya. Ia tersenyum puas. Tapi setidaknya ia telah membantuku menahan bendera agar tidak jatuh. Jadi, buat apa juga aku marah? Buang-buang tenaga!
Beberapa anggota osis dan murid yang sedang di jemur di dekat tiang bendera karena datang terlambat pun ikut membantu kami. Mengangkat tiga pengibar bendera yang sudah berguling di atas pasir layaknya buaya dan juga ular.
"Benderanya gimana?" Tanya Ciko ikut menghampiri kami.
"Turunin!" Pinta Maxim hingga membuatku mengernyit.
"Naikin lah!" Seruku sambil beranjak dan merebut tali yang ada di tangan Max. Aku segera menggerek tali tersebut dengan cepat, agar bendera itu cepat sampai ke atas.
Saat aku mendongak ke atas, ku lihat Kun sudah melayang di atas sana bersama dengan bendera yang ku tarik. Baju putihnya yang besar berkibar layaknya bendera. Aku langsung terperanjat karena ulahnya.
"Si*lan!! Gue kaget!!" Keluhku dalam hati. Siapa sih yang tidak terkejut, melihat sesuatu yang berbentuk manusia, terbang dan berada di atas sana?!
"Tarik lagi Gam!! Terus... Terus.." Serunya dari atas. Mungkin dia sedang latihan jadi tukang parkir.
"Pak, gimana ini?" Ku dengar suara Bu Yuyun, ia telah menghampiri kepala sekolah di tengah lapangan.
Ngiiing.. Ngiiing..
Suara dengungan mic ketika kepala sekolah mengangkat dari penyanggahnya. Ia mengetuk mic dengan jari telunjuknya, memeriksa apakah mic tersebut menyala atau tidak.
"Semua siswa dan siswi berserta guru-guru!! Upacara di bubarkan, dan bantu siswa dan siswi yang kesurupan." Pinta kepala sekolah ketika mic di dekatkan ke mulutnya. Membuat kami semua dapat mendengar suaranya. Bendera telah sampai ke atas, dan aku segera mengikatnya.
"Perhatian untuk seluruh siswa, balik kanan bubar.. Jalan!!" Sambungnya lagi.
Kami semua pun mulai membubarkan barisan. Ku lihat di deretan kelasku, sudah banyak yang kesurupan dan berjatuhan. Bahkan di antaranya ada siswa laki-laki juga.
Aku pun mengedarkan pandangan keseluruh lapangan. Melihat kepanikan yang tercipta diiringi suara bising yang memekikkan telinga. Ku rasa suaraku tak akan mampu terdengar, saking ramainya situasi ini.
Kun menghampiriku. Ku lihat ia menatap lurus ke arah korban-korban yang berjatuhan itu. Aku mengernyit tepat ketika ia kembali tersenyum.
"Ada yang lucu?" Tanyaku hingga membuatnya merubah mimik wajahnya. Ia menatapku dingin, hanya secepat kilat, lalu mengalihkan wajahnya dariku. Ia terbang ke arah kerumunan kelasku, dan tentu saja aku mengikutinya.
"Lu tau sesuatu kan?" Ucapku sambil berjalan cepat, agar mampu berjalan beriringan dengannya.
"Kamu lupa ya.. Apa yang saya katakan kemarin-kemarin?" Aku mengernyit, dan tiba-tiba saja aku tersentak ketika sebuah memori masuk ke ingatanku. Aku terbelalak sambil menatapnya yang terhenti di dekatku.
"Hari senin..."
"Akan ada badai?" Gumamku. Kun menatapku penuh arti. Begitu pula aku membalas tatapannya. Layaknya satu orang yang sedang bercermin. Kami saling meniru raut wajah satu sama lain.
"Jadi.. Badainya ini?"
"Ya."
"Dan ini gara-gara kamu!" Aku mengernyit bingung. Membiarkan kedua alisku bertautan.
"Kenapa gue?"
"Itu karena kamu..."
"Gam, bantuin ibu angkat Rara ke uks!!" Pinta ibu Yuyun padaku. Aku terpaku beberapa saat. Di satu sisi aku masih ingin mendengarkan alasan Kun. Tapi di sisi lain ibu Yuyun meminta bantuanku.
Ah! Si*l!! Aku bingung!!
Namun kakiku langsung melangkah gontai menuju bu Yuyun. Ia sedang berjongkok di atas tanah, sambil menahan kepala perempuan yang bernama Rara tadi.
"Ini siapa bu?" Tanyaku heran, sambil memandang perempuan berkulit kecoklatan dengan hidung bangirnya nan indah. Bibirnya terlihat unik, ia terdiam seraya menggeram dengan bibirnya yang terkatup rapat, matanya menatapku. Penuh benci nampaknya.
"Rara, anak pramuka!! Kelas X4! Ayo bantu ibu!!"
"Iya bu." Sahutku sambil memapah tubuh Rara kepelukanku. Bu Yuyun menuntunku di depan. Ia berjalan cepat, namun langkahnya tak mantap. Kadang ia terhenti beberapa kali, melihat korban yang sepertinya ingin ia bantu seluruhnya. Tapi apa daya, tubuhnya hanya satu, sementara korbannya terlalu banyak.
Sepanjang perjalanan, ku temui korban kesurupan yang tergeletak hampir di setiap lapangan sekolah. Guru-guru yang lain pun terlalu sibuk dan kewalahan, mengurus korban yang terus bertambah.
Tingkah mereka bermacam-macam. Yang pasti, tidak ada yang normal dari apa yang mereka semua lakukan. Ya, manusia tidak akan mau melakukan semua itu. Menyambak rambutnya sendiri. Menjerit hingga mulutnya terbuka sampai batas maksimal. Berguling di pasir. Menangis, dan lain sebagainya.
Tiap lewat dan menatap mereka, dasar perutku rasanya mulas. Dada ku berdenyut panjang, dan kerongkonganku tercekat. Pundakku terasa berat, bukan karena sedang menggendong gadis ini, tapi karena hawa yang ku rasakan di sekolah seperti ini.
Aku dan bu Yuyun terhenti di depan Uks. Ku lihat di terasnya pun sudah penuh. Apalagi di dalam... Dan lagi, semua yang berseragam PMR ikut menjadi korban kesurupan massal.
Aku merasa Rara menggeliat di dekapanku. Seolah-olah tubuhnya licin dan akan meluncur terlepas dariku. Kun yang sedari tadi menempel padaku menggelengkan kepalanya dengan wajah kecut, seolah melihat sesuatu yang menjijikkan. Apa dia melihat rupa hantu yang sedang merasuki Rara?
"Gam, taruh di sini aja." Pinta bu Yuyun lemah. Aku pun menggeletakkan tubuh Rara di atas teras Uks.
"Kamu bantu anak-anak yang lain ya."
"Iya bu.." Sahutku sambil menuju ke kelas kami.
Namun lagi-lagi aku di hentikan oleh salah seorang guru. Pak Edi! Guru BK kami. Dia minta tolong membawa salah satu murid perempuan. Aku tak pernah melihat gadis ini, sepertinya dia tidak seangkatan denganku. Kakak kelasku?
"Gam, bantu bapak bawa Cinta." Pintanya ketika aku lewat. Aku segera membantu dengan mengangkat tubuh Cinta yang nampak lemah. Tapi sepertinya dia sudah sadar dari kesurupannya. Ia mengernyit sambil memejamkan matanya.
"Ikut bapak ya." Ucap Pak Edi sambil mengangkat tubuh salah satu korban laki-laki yang kesurupan. Aku bersama lima orang yang lainnya mengikuti pak Edi sambil membawa korban.
Dari arah rute yang kami tempuh, aku yakin ini jalan menuju masjid. Di bawa ke masjid? Kenapa? Apa karena Uks sudah penuh?
Dari kejauhan, ku lihat di sepanjang jalan sampai teras masjid pun ramai orang-orang yang tergeletak. Guru-guru nampak kewalahan. Dan aku dapat melihat raut sedih dan khawatir dari wajah pak Edi.
"Pak, kenapa gak manggil ustad aja yang bisa ruqiah?" Tanya ku. Pak Edi sedikit menyelis sekilas padaku.
"Tadi udah di hubungin Gam. Mungkin sekarang udah dalam perjalanan." Aku terdiam.
Setelah membantu pak Edi di teras masjid, aku hendak kembali ke kelasku. Membantu Ciko dan juga Maxim yang ku tinggalkan tadi. Namun ketika sampai, aku benar-benar terkejut, melihat salah satu korban kesurupan yang tengah menangis menggerung adalah Ciko.
Yah, apalagi yang mau ku katakan. Dia memang penakut. Mungkin karena itu setan jadi suka mengganggunya. Sekarang malah merasukinya. Tapi ini jadi susah, karena semakin banyak korban yang berjatuhan, kami-kami yang masih sadar ini akan semakin berkurang untuk membantu mereka.
Tapi.. ngomong-ngomong soal setan.. Kuntilanak pirangku mana ya?
"Gam!! Tadi lu bantu guru-guru, mereka bilang apa? Korbannya makin nambah nih!!" Keluh Maxim sambil menangani Dara. Aku pun menghampiri.
"Mereka udah panggil ustad, bentar lagi sampe kok, lagi otw!"
"Masih lama gak sih? Lelet bener!! Gue kewalahan ni!!" Aku terdiam. Mana ku tahu. Kenapa dia marahnya padaku? Aku duduk di dekat Maxim yang sedang memangku kepala Dara. Menatap perempuan yang sedang menggeram dan mengepalkan tangannya dengan kuat ini.
"Mm.. Mm.." Geram Dara sambil menatapku. Apa yang ia inginkan? Nampaknya ia ingin mengatakan sesuatu.
"AGAM!!" Pekik Kun yang tiba-tiba saja muncul di hadapanku. Aku tersentak kaget sampai-sampai jatuh terduduk. Maxim langsung mengernyit heran dan menatapku.
"Apa-apaan sih Gam? Jangan ngelawak gitu deh!! Lagi gak lucu tau!" Bentak Maxim sewot padaku. Lagian siapa juga yang ngelawak? Gue kan bener-bener dikagetin Kun barusan.
Aku kembali berjongkok setelah jatuh terduduk. Menatap Kun dengan sengit. Namun ia hanya diam dan fokus menatap Dara.
.
.
.
*Author POV
Sementara orang-orang sibuk dengan kekacauan yang ada. Beberapa orang tampak mengetuk abu rokok ke sembarangan tempat. Ia duduk santai menikmati keributan sambil menyesap rokoknya yang terasa begitu manis.
"Apa gak apa-apa nih?" Tanya salah satu dari mereka.
"Di dalem banyak yang kesurupan tuh."
"Santai aja. Entar juga guru-guru pasti bertindak. Manggilin dukun misalnya."
"Tapi, elu gak takut?"
"Udahlah.. Lagian cuma gue doang yang lakuin itu! Kalian kan cuma liat aja, jadi kalau ada apa-apa, ya gue yang tanggungjawab." Teman-temannya bungkam.
Lelaki berbadan besar tinggi, berotot dan memiliki tubuh indah ini pun menyundut api rokoknya pada sebuah kertas. Melempar kertas tersebut pada sebuah tampah dari anyaman daun kering. Ia beranjak sambil meludah sembarang.
Ia menyimpan sebuah kertas yang sejak tadi ia kepal dan telah ia remas di saku celananya.
"Kayaknya guru-guru udah sibuk deh. Jadi kita tinggal masuk ke dalam kelas." Ucapnya hingga teman-temannya ikut dengan setia. Namun salah satunya kembali menoleh ke tempat yang mereka tinggal.
"Barang-barang itu gimana?" Lelaki yang merupakan pemimpin mereka pun menoleh.
"Biarin aja. Lagian gak bakalan ada yang tahu kalau kita pelakunya!"
*Author POV End
.
.
.
Tiba-tiba saja Dara menunjukku dengan tangan yang bergetar hebat, saking kuatnya kepalan tangan yang ia lakukan. Aku mengernyit, begitu pula dengan Maxim.
Di arah belakang, korban kesurupan mulai saling berteriak dan menjerit satu sama lain. Mereka terus mengatakan kalimat seperti..
"Beraninya kamu!! Beraninya kamu!!" Ucap Dara sambil menunjukku. Seperti ucapan yang di katakan beberapa teman-teman kami, termasuk Ciko yang sedang menari ular di teras kelas.
Aku hanya terdiam tanpa ekspresi. Tetapi Maxim menatapku dengan raut yang berbeda. Apa dia bermaksud untuk menuduhku atas kejadian ini?
"Kamu!!" Tunjuk Dara lagi padaku. Aku langsung menggenggam tangannya, menurunkan jari telunjuknya ke dalam, dan mengepalkan tangannya dengan genggamanku.
"Diem deh!" Singkatku.
Aku pun menatap Kun yang terdiam. Ia berada di sebelah Dara, tepatnya di hadapanku. Pasti Kun tahu sesuatu. Tapi bagaimana cara untuk mengajaknya bicara? Aku tak mungkin melakukannya di depan Maxim kan? Jelas nanti dia akan curiga padaku.
Aku terus menatap Kun tanpa mengalihkan pandanganku. Namun secara tiba-tiba, bulu kudukku bergidik. Sayup-sayup angin dingin merambat di dekat tengkukku. Aku merasa ada sesuatu yang mencoba masuk dan meresap ke kulit ariku.
Dan secara tiba-tiba, Kun mengalami mimisan di hidung. Ia menatapku datar, apa dia tidak menyadari, darah yang telah mengucur tersebut?
Ia menyekanya kasar. Namun ia terus-terusan menatapku. Dan seketika itu kulit di tengkukku tiba-tiba terasa tercabut saking sakit dan pedasnya. Aku segera mengusapnya karena kepedihan.
Tapi, ini memang benar atau hanya perasaanku? Rasa dingin tadi lantas menghilang dan kembali normal. Bulu kudukku sudah tak berdiri lagi, dan pori-poriku yang tadinya keluar karena merinding, kini telah normal kembali.
Namun lagi-lagi darah kembali menetes dari hidung Kun. Kenapa ini? Apa terjadi sesuatu?? Apa barusan dia melakukan sesuatu? Aku harus bicara padanya. HARUS!
Aku beranjak, membuat Maxim mendongak menatapku.
"Mau kemana lu?"
"Toilet!" Singkatku sambil pergi dan meninggalkan Maxim yang masih mematung. Ku dengar ia kembali mengajak hantu yang berada di dalam tubuh Dara untuk bicara.
Aku berjalan cepat melangkahi selokan untuk segera sampai ke toilet. Di sepanjang jalan dan kelas, siswa dan siswi masih bergelimpangan dengan gaya mereka masing-masing. Ah! Hantu itu ternyata unik-unik. Ada lagi yang bergaya macan, tapi kok mirip kucing?
Tapi.. untuk apa juga aku memperdulikan gaya mereka. Yang seperti itu sejak awal tidak usah di hiraukan saja, nanti makin suka lagi kalau di perhatikan.
Aku mengabaikan mereka semua, melangkah masuk ke dalam toilet, dan tentu saja Kun mengikutiku. Di sini tidak ada siapa-siapa selain aku. Dan juga Kun. Aku menutup pintu toilet dengan rapat.
Aku berbalik menyergapnya yang berada di belakang dengan tatapanku. Ia terenyak, dan menatapku.
"Lu pasti tau kan?"
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanyaku hingga membuat Kun terbelalak. Ia terdiam dan memejamkan matanya sesaat, lalu kembali membuka matanya, memperlihatkan sepasang bola mata berwarna hijau.
"Ngomong apa sih? Saya kan, tidak tahu!" Jawabnya sambil melebarkan senyum, membuat pori-poriku mekar dengan bulu-bulu yang kembali berdiri. Ah!! Lagi-lagi aku merinding tiap melihat ekspresi itu.
Entah kenapa, aku merasa ada kebohongan pada ucapannya. Tapi kenapa dia berbohong?
"Padahal ini salah kamu." Ucap Kun sambil menatapku.
"Kamu lah yang membuat semua ini terjadi!"
.
.
.
.
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 257 Episodes
Comments
Zuhril Witanto
kayaknya ini perbuatan gino
2024-02-19
0
@krhmd24_
Thor gw baca ini pas janda pirang lagi viral😂
2023-07-09
0
Imas
ngakak 🤣🤣
2022-06-04
0