Aku terperangah membaca pesan di sebuah kertas kosong yang ada di atas meja kamarku. Jam dan buku yang ada di atas meja jadi berantakkan. Mungkinkah ia memberantakkan ini semua agar aku bisa datang ke dalam kamar dan membaca pesan darinya?
Tapi.. apa maksud pesan darinya ini? Dia? Ada bersamaku? Tapi.. tapi di mana? Di mana dia?
Aku langsung mengedarkan pandanganku. Menoleh ke segala sudut kamar untuk mencari keberadaannya. Dan tatapan ku tertuju pada pintu kamar mandi. Tadi pagi pasti ia yang telah memecahkan cerminku, jadi.. mungkin saja sekarang ia ada di sana.
Aku segera berjalan menuju kamar mandi dan membuka pintu kamar mandi itu secara tiba-tiba. Namun tak ku lihat apa pun di dalam sana, kecuali serpihan kaca yang pecah dan belum di bereskan sama sekali. Aku menilik ke atas dan ke dalam bak mandi, seolah mencari sesuatu benda, padahal tentu benda yang ku cari itu tak kasat mata sama sekali.
“Mana? Di mana?” Gumamku sambil terus mencari.
Aku langsung menoleh ke belakang ketika ku lihat sekelabat bayangan putih melintas. Meskipun aku melihat dengan ujung sudut mataku, tapi aku tahu barusan ada yang baru saja lewat.
Aku menarik gagang pintu kamar mandi dan keluar. Dadaku berdetak kencang. Ku kira aku akan melihat sesuatu di balik pintu kamar mandi ini, namun aku masih belum melihat apa pun. Mungkinkah karena aku ini bukan anak indigo jadi aku tidak bisa melihat benda-benda seperti itu, tapi sebenarnya ia ada di dalam sini bersamaku?
Aku terdiam di tempat. Mengawasi setiap sudut kamarku.
Kreeek.. krieeeet.. kreeeek...
Suara sesuatu. Suara apa itu? Aku tidak mungkin salah dengar kan? Karena kondisi rumahku sangat sepi dan aku tidak menyalakan televisi sama sekali, jadi suara sekecil apa pun itu mampu terdengar di telingaku.
Suara goretan? Tidak, ini seperti suara cakaran kuku pada sebuah kayu. Suaranya cukup menyakiti telingaku dan membuat gigi-gigiku ngilu. Aku melangkah perlahan.. sangat perlahan.. hingga akhirnya aku terhenti tepat di depan pintu kamarku.
Aku menempelkan telinga di daun pintu. Tidak salah lagi, suaranya berasal dari balik pintu ini. Apakah aku harus membuka dan melihatnya? Atau aku harus pura-pura tidak tahu saja, dan pergi tidur untuk beristirahat? Tapi mau bagaimana lagi, rasa penasaranku terlalu besar dari pada kegelisahanku.
Aku yang berdiri tepat di depan pintu pun perlahan menggerakkan tanganku dan mengarahkannya pada sebuah gagang pintu. Kini kulit tanganku melekat pada besi tersebut. Merasakan dinginnya besi di genggamanku. Aku terdiam dengan jantung yang berdebar kencang. Tiba-tiba saja badanku rasanya panas, setelah tadi merasakan sensasi dingin yang menggelatak hingga menusuk ke daging dan tulangku.
Krieet.. kreeek..
Suara itu semakin menjadi. Aku mengerjapkan kedua mataku. Gila saja, ini benar-benar membuat sekujur tubuhku merinding. Aku mengumpulkan niat dan keberanian untuk membukakan pintu.
Setelah aku merasa cukup siap dan yakin, dengan cepat aku menarik gagang pintu tersebut dan membukanya. Menampakkan sesosok benda di hadapanku. Saking kagetnya, aku berteriak kencang hingga jatuh terduduk tepat di hadapan benda putih tersebut. Jantungku terasa berhenti seketika, hanya beberapa saat, lalu berdegup dengan begitu kencangnya. Aku bersyukur jantungku tak berhenti, aku rasanya hampir mati.
“Aaaakhh!!!” Pekikku, namun di luar dugaan, benda itu pun ikut berteriak bersamaku. Dia mengejutkanku, tapi kenapa dia juga malah terkejut padaku??
Aku terdiam dengan napas yang terengah-engah. Aku yang terduduk ini menatapnya yang sedang berdiri. Ia pun menatapku yang berada di bawah kakinya. Aku pun ikut menoleh ke arah kakinya, dan betapa mengerikannya, kakinya pucat pasi.. tak di aliri darah.. berbeda sekali dengan warna kaki manusia pada umumnya. Kakinya putih pucat pasi kebiruan. Kuku kakinya membiru, bahkan hampir berwarna ungu. Dan yang lebih mengerikannya lagi, kakinya melayang. Tidak menapak di atas lantai. Oh tidak! Dia benar-benar hantu? Aku melihat hantu untuk pertama kalinya dalam hidupku?
Aku yang masih menengadahkan kepalaku ke atas pun perlahan mundur dengan menyeret tubuhku yang masih terduduk di atas lantai. Apa ini? Apa yang ada di hadapanku ini? Tubuhku gemetaran.. rasanya aku ingin segera berlari dari tempat ini, namun sialnya tubuhku terlalu kaku. Alhasil, aku hanya dapat menggerakan sedikit saja tubuhku. Menggeser tubuhku sedikit saja menjauhinya.
Ah, apa-apaan ini? Tubuhku mati rasa?! Kelu dan aku tak dapat merasakan apa pun. Menggerakkannya saja aku tak mampu. Apalagi memerintahkan tubuhku untuk lari. Baru kali ini tubuhku tak menuruti apa yang otakku perintahkan.
Dia ini.. dia ini yang ada di dalam lukisan itu kan? Matanya hijau, rambutnya putih, dengan lingkaran hitam di kantung matanya. Ia memakai baju putih yang menutupi lehernya, baju kaos putih yang cukup besar untuk ukuran tubuhnya. Dan lagi.. celana pendek? Hantu pakai celana pendek?
Ia menatapku tak berkedip sama seperti tatapanku padanya kini. Aku bingung, aku tak bisa membaca arti dari wajahnya itu.
“Sial.. badan gue gak bisa gerak!” Gumamku dalam hati sambil terus berusaha menggerakkan tubuhku yang mati rasa ini. Benda itu berjalan mendekatiku bahkan itu bukan berjalan, tapi melayang, mungkinkah ia ingin membunuhku? Atau merasukiku lagi?
“Jangan dekat-dekat!!” Pekikku hingga membuatnya berhenti. Ia memiringkan kepalanya dan menatapku dengan heran, sepertinya.
“Kamu...” Gumam suaranya yang terdengar serak.
“Kamu bisa melihat saya?” Tanyanya hingga membuatku kebingungan. Aku mengernyitkan dahiku sambil menunduk, lalu kembali membalas tatapannya.
“Kenapa..”Gumamku. Ia mengernyit.
“Kenapa lu nyakar pintu?” Tanyaku. Entah kenapa, aku malah menanyakan hal seperti itu padanya. Padahal ada banyak hal yang ingin ku tanyakan. Lebih dari itu.. Dan aku tak perlu bertanya dia ini hantu atau bukan, karena itu sudah jelas kan. Mana ada manusia yang kakinya melayang.
“Mmm.. saya suka aja. Kenapa? Tidak boleh?”
“Suka nyakar pintu?” Ia mengangguk.
“Kami suka melakukan itu.”
“Kami?” Ia kembali mengangguk.
“Memangnya lu ini apa?”
“Saya??”
“Kuntilanak..” Ucapnya lempeng hingga membuatku tersentak kaget di sertai dengan merinding di sekujur tubuhku. Apa katanya barusan??
“Ku.. kunti?” Ia mengangguk.
“Me.. memangnya ada kunti yang laki-laki?” Ia mengernyit heran.
“Jangan-jangan, elu...."
"kunti bencong!” Sambungku lagi sambil terperangah.
“Sembarangan!!” Bentaknya.
“Tapi, emang enggak ada kan?”
“Kenapa enggak? Manusia juga ada yang laki-laki kan?”
“Bukan.. tapi yang ada di novel horor, atau film horor.. mereka itu perempuan kan?? Semuanya perempuan..”
“Sok tahu kamu, manusia!!”
“Emang begitu kan.. dia, kuntilanak itu, rambutnya panjang terus kusut.. mukanya putih, terus eyelinernya luntur-luntur gitu di mata.. bajunya panjang, terus warna putih. Dia terbang-terbang, tinggalnya di pohon.”
“Mm, ada kok yang cantik.. terus pakai rok mini.. kadang gak pakai baju.” Aku mengernyit heran mendengar perkataannya yang seolah lelucon itu.
“Gak pakai baju? Seriusan tuh?”
“Iya.. yang telanjang..” Ia mengangkat-angkat kedua alisnya. Seolah pamer atau minta respon dan pendapatku.
“Lu pernah liat?”
“Sering.”
“Terus.. lu gimana pas liat itu?”
“Biasa aja. Emang harus apa?” Aku menggelengkan kepalaku. Mikir apa sih aku.. lelaki kalau mendengar kata telanjang itu pikirannya jadi kemana-mana. Ia mulai berjongkok dan menatapku yang masih terduduk di lantai. Sepertinya bukan hantu jahat, jadi mungkin dia bisa di jadikan teman.
“Nama lu siapa?” tanyaku ketika ia menatapku.
“Nama saya?” Gumamnya sambil melirikkan bola matanya ke atas sesaat.
“Lupa! Saya udah lama matinya.. jadi lupa.” Ucapnya sambil kembali menatapku. Tentu saja ia lupa, ia kan udah meninggal enam belas tahun yang lalu kira-kira. Kata Maxim sih begitu.
“Jadi.. kalau mau manggil lu, gimana dong.. nama lu aja gue gak tau.”
“Panggil saja kuntila...”
“Stop stop.. gue risih denger kata itu.” Ia terdiam ketika ku potong.
“Gimana.. kalau gue kasih lu nama.”
“Boleh.” jawabnya tanpa pikir.
“Sekarang.. nama lu.."
"Mmm.."
".......KUN.”
“Kun?”
“Nama depan dari jenis lu." Ia masih terdiam, nampaknya takjub.
"Gimana?”
“Bagus juga.” Aku tersenyum. Sepertinya dia bukan hantu yang buruk. Tampangnya juga tidak menyeramkan sama sekali.
“Mm.. gue pengen nanya sama lu.”
“Silahkan.”
“Kenapa... elu bisa ngikutin gue?”
“Kenapa?” Ia tersenyum sinis.
“Kamu yang mengeluarkan saya.. kamu masuk gudang, dan memberikan tanda tanganmu di lukisan saya.”
“Dengan tinta darah..” ucapnya hingga membuatku tertegun. Tinta darah? Apa maksudnya itu spidol warna merah itu? Itu kan bukan tinta darah, tapi tinta merah. Tapi, mungkin mereka gak tau yang namanya tinta itu apa. Jadi, buang-buang nyawa saja menjelaskannya. Anggap saja ia benar.
“Terus, kenapa?”
“Bagi kami, itu adalah sebuah ikatan perjanjian.. artinya, kamu meminta saya untuk menjadi milikmu, dan kamu menjadi milik saya.” Aku terdiam dan terbelalak.
“Jadi.. apa yang kemarin ngerasukin gue itu elu?”
“Iya.”
“Tubuh kita cocok.. karena gak semua hantu bisa masuk ke dalam tubuh manusia. Tapi saya bisa merasukimu.” Aku terdiam, dan entah kenapa, tiba-tiba aku mengingat cerita Maxim, kalau bocah ini mau membunuhku waktu itu. Lebih baik ku tanyakan itu juga.
“Tapi.. kenapa waktu itu lu bilang mau ngebunuh gue? Elu beneran mau bunuh gue? Gue kan udah ada perjanjian sama lu, apa beneran lu tetep mau bunuh gue?”
“Memangnya itu kelihatan kayak main-main?” aku terdiam.
“Terus.. yang katanya OB mati di dalam sana, elu juga yang bunuh?”
“Iya.”
“Ke.. kenapa lu bunuh dia?” Ia terdiam. Menatapku.
“.....Terserah saya dong.” Sahutnya lempeng dan datar. Aku jadi bingung mau kesal atau takut padanya.
“Harusnya lu gak berbuat kayak gitu kan? Emangnya dia salah apa? Dia Cuma penasaran dan mau ngebuktiin kalau elu itu ada atau enggak kan. Cuma itu.”
“Dia mengusik saya... saya gak suka.” Sahutnya, terdengar begitu kesal dan sinis. Aku terdiam.
“Kalau gak mau mati, jangan dekat-dekat!” Timpalnya lagi.
“Itu udah jadi bukti kan, kalau keberadaan saya itu ada. Jadi jangan main-main!” aku menghela napas panjang.
“Bukannya gue juga main-main, tapi kenapa elu gak bunuh gue?”
“Jadi kamu mau mati?” Aku langsung tersentak panik.
"Dari tadi nanya bunuh-bunuh terus!" Timpalnya ketus.
“Bu.. bukan gitu!! Gue itu Cuma nanya, apa alasan elu gak bunuh gue, sementara OB itu elu bunuh.”
“Sudah saya bilang kan, terserah saya.” Jawabnya lagi, dan ketus. Kenapa juga dia yang marah-marah. Bikin kesal juga lama-lama.
"Oke, elu mulai ngeselin!!" Timpalku hingga membuatnya menaikkan kedua alis.
“Kalau lu gak mau jelasin, gue gak mau lu jadi milik gue. Dan sebaiknya lu pergi aja dari sini, kembali ke rumah lu.. di gudang sekolah.” Ucapku datar hingga membuat ekspresi wajah Kun berubah.
“Gak mau.” Sahutnya seperti sedang ketakutan.
“Saya takut di sana.”
“Takut?”
“Di sana ada kiai.” Ucapnya pelan.
“Siapa kiai?”
“Gak boleh.. kami takut menyebut namanya.”
“Kiai? Perasaan di sekolah gak ada kiai? Apa maksud Kun itu, bapak Budi? Guru pendidikan agama islam kami? Kayaknya bapak itu agamis banget, rajin shalat dan selalu bawa Al Qur’an kemana-mana.” Gumamku dalam hati. Biar ku tanyakan saja ciri-cirinya, pasti emang pak Budi.
“Mm.. Kun, tampang kiai itu kayak apa?” Kun terdiam sesaat dan melirikkan matanya ke atas untuk berpikir.
“Pakai sorban.. kulitnya bersinar-sinar.. ada airnya.. terus ada yang pakai jubah putih-putih di dekatnya. Di atas, di bawah, di kiri, di kanan, di depan dan belakang.”
“Yang pakai jubah itu yang jaga.. badannya besar tinggi, bersinar-sinar juga. Ada sayapnya. Sayapnya ada dua, ada yang tiga, ada juga yang empat.”
“Kiai kayak raja-raja.” Aku mengernyit kembali mendengar penjelasannya. Selama menjelaskan sosok kiai, ia berbicara dengan cara berbisik, seolah takut terdengar seseorang. Padahal tidak mungkin ada yang dengar kan, di rumah ini Cuma ada aku dan dia saja.
“Perasaan, di sekolah gak ada yang kayak gitu deh. Gak ada yang pakai sorban. Terus bersinar-sinar gimananya sih?”
“Tadi subuh kamu juga bersinar-sinar.. ada airnya.” Tambah Kun lagi. Apa yang ia maksud itu.. bersinar-sinar karena air wudhu? Subuh tadi kan aku shalat, perasaanku juga jadi sedikit tenang setelah shalat.. apa karena itu ia tidak berani mengganggu? Karena di tubuhku masih ada air wudhu?
“Jangan pulangin saya ke gudang.. nanti kiai marah, nanti saya di pasung dan di belenggu.” Pintanya setengah memelas. Kasihan juga melihatnya. Padahal kan aku cuma mengancam saja. Tidak sungguh-sungguh.
“Oke.. gue gak bakal pulangin lu ke gudang, tapi lu harus jawab semua pertanyaan dari gue dengan jujur.”
“Oke. Apa?”
“Kenapa.. elu gak jadi bunuh gue?” Ia terdiam sambil menatapku. Sepertinya ia tidak ingin menjawab pertanyaanku yang satu ini. Apa alasannya? Apa mungkin ada sesuatu yang sedang ia sembunyikan? Atau ia mau membunuhku diam-diam setelah ini? Karena Maxim bilang, waktuku hidup kan satu hari lagi kemarin. Jadi hari ini adalah hari terakhirku kan seharusnya.
Lagi pula, seseorang yang akan mati, jadi bisa melihat sesuatu yang seharusnya gak bisa mereka lihat sebelumnya? Sekarang aku bisa melihat hantu, mungkin beberapa saat lagi, aku bisa melihat malaikat pencabut nyawa atau yang lainnya lagi..
“Saya mau membunuhmu.. tapi gak bisa.” Aku tersentak kaget mendengarnya. Apa maksudnya dengan gak bisa membunuhku? Jadi dia benar-benar ingin membunuhku sebenarnya?
“Kenapa gak bisa?” ia mengendikan bahunya.
“Gak tahu.. gak bisa di bunuh.”
“Lu gak bohong kan?” ia hanya diam.
“Untuk apa?”
“Siapa tau lu bohong, biar bisa ngebunuh gue diem-diem abis ini.”
“Buat apa? Kalau mau, sekarang juga saya bunuh. Tapi gak bisa.”
“Memang gak bisa membunuh kamu.”
“Saya juga penasaran.”
“Makanya lu ngikutin gue?”
“Enggak.”
“Saya ngikutin kamu, karena sebuah perjanjian.”
“Kalau tidak mau diikuti, kenapa tanda tangan segala?” protesnya padaku.
“Gue tanda tangan itu karena tantangan dari temen gue.”
“Saya tidak perduli.” Balasnya hingga membuatku sedikit kesal. Apa ini perasaan yang di rasain cewek-cewek kalau ngomong sama gue? Mereka selalu bilang kalau gue menyebalkan. Tapi, makhluk satu ini kayaknya menyebalkan juga deh.
“Yang saya tahu, kamu sudah tanda tangan. Jadi kamu gak bisa nolak saya. Saya harus bersama kamu.”
“Oke.. gak masalah.. tapi, ngomong-ngomong.. mengenai pesan lu kemarin, kenapa lu ngajak gue buat ngebunuh pelaku yang ngebunuh elu?” Kun hanya terdiam.
“Kalau lu tau siapa pelakunya, sekarang lu kasih tahu ke gue, biar gue cari buktinya. Dan bisa nangkep tu pelaku secepat mungkin.”
“Mana boleh.. kami tidak boleh melakukan itu.”
“Urusan dunia, bukan urusan kami.”
“Tapi ini urusan elu juga dong, kan elu Cuma mau nyari siapa pembunuh elu? Tinggal bilang aja kan.”
“Kami ada hanya untuk berbaur dengan manusia tanpa di lihat oleh mereka, tapi tidak berhak untuk ikut campur urusan makhluk hidup. Kalau tidak, kami akan di hukum nantinya.” Aku terdiam mendengarnya.
“Yang bener? Tapi kadang ada kok, hantu yang muncul dan nakutin manusia.”
“Mereka itu melanggar, nanti juga dapat sial atau dapat hukuman.” Sahutnya membuatku menggaruk-garukkan kepalaku. Jadi apa yang harus gue lakuin sekarang? Apa ku tanya random aja lagi?
“Mmm, terus, yang mecahin kaca kamar mandi gue itu elu juga?” Kun hanya mengangguk sambil tertawa.
“Saya tulis pakai tangan, tapi malah pecah.” Ucapnya sambil terkikik.
“Pas udah jadi, yang baca malah ayahmu. Untung pesannya sudah hilang.” Aku mengernyit.
“Emangnya lu nulis apa?”
“Itu..” Kun menunjuk sebuah kertas di atas meja yang aku temukan tadi.
“Cuma mau bilang itu kenapa harus pakai pesan-pesan segala sih?”
“Kan biar serem.”
“Biar serem nulisnya pakai darah gitu?”
“Itu cat airmu. Warna merah saya campuri dengan hitam.”
“Anjeeey, kok lu bisa nyampurin warna gitu sih?”
“Saya kan pelukis dulunya.”
Aku terdiam. Ya benar, dari cerita Maxim, anak ini waktu masih hidup itu suka melukis kan.
“Lagi pula, sekarang kamu bisa menggunakan saya.”
“Kayak senjata..” ucapnya.
“Makanya saya gak bisa bunuh.. mungkin begitu kan ya?”
“Kamu tuan, dan saya.. senjata milik tuan.”
“Apa.. maksudnya sih? Senjata apanya?”
"Senjata itu, gak bisa membunuh tuannya."
"Kata siapa? Ada kok peribahasa, senjata makan tuan." balasku.
"Mm, saya belum lapar. Belum mau makan." Sahutnya bak pelawak. Padahal maksudku adalah peribahasa.
"Tapi.. apa maksud dari senjata? Hantu sama dengan senjata?"
"Mau saya jelaskan?"
"Apa arti dari tuan dan senjata?" Tanyanya sambil menyeringai, dan entah kenapa, ekspresi itu membuatku bergidik.
.
.
.
.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 257 Episodes
Comments
setiawan awan
wkwkw
2024-10-09
0
Zuhril Witanto
mungkinkah kiai yang di maksud penjaga sekolah
2024-02-16
1
Zuhril Witanto
kena air wudhu
2024-02-16
0