Jam pelajaran di mulai setelah itu. Semuanya berjalan seperti biasa, dan lagi-lagi Kun menggunakan kepala Randy sebagai tempat duduknya. Berkat perkataan Kun tadi, selama pelajaran, sesekali aku menoleh ke arah Dara. Apakah perempuan itu melihat ku atau tidak.
Ia duduk sejajar denganku. Aku pada barisan pertama bangku paling belakang dekat jendela, ia pada barisan ke empat dekat pintu masuk, tapi duduk paling belakang juga.
Saat aku menoleh, ia segera merunduk, terkadang menoleh ke arah lain. Ia bersikeras untuk menghindari tatapanku. Entah kenapa.
Aku yang jarang melihatnya pun kini menyadari, kalau dia cantik juga. Matanya berbinar dan pupilnya besar. Rambutnya tergerai lurus, ia biarkan salah satu rambut menutupi kupingnya, dan yang satunya memperlihatkan telinganya.
Bentuk wajahnya mungil, begitu juga dengan bibir dan hidungnya. Kulitnya putih kemerahan, rambutnya hitam namun agak kecoklatan di beberapa bagian. Kenapa juga warna rambutnya tidak rata begitu?
"Papan tulis sudah pindah, ya?" Ucap Kun hingga membuatku mengalihkan pandanganku dari Dara.
"Apa pelajarannya, ada di wajah Dara?"
"Apasih!" gumamku mendengus hanya sekedar bisik.
"Hm, Dara barusan ngomong dalam hati.." Aku langsung terkesiap, dan segera menatap Kun.
"Ngomong apa?"
"Ngapain sih, dia ngeliat gue dari tadi?" Jawab Kun meniru perkataan Dara. Logat yang dia sampaikan jadi berbeda dari logat yang biasa ia gunakan.
"Dia gak suka kamu lihat!" Ucap Kun memperjelas.
Aku tersenyum mendengarnya. Gila!! Dia gak suka aku lihat? Padahal rata-rata perempuan lain malah cari perhatian padaku. Mungkin dia salah satu perempuan aneh yang ada di bumi ini.
***
Setelah menyatat cukup panjang, hingga buku ku penuh dengan tulisan dari penjelasan yang ku dengar mengenai materi pelajaran, bel istirahat pun berbunyi. Aku tak lantas bercengkrama atau berbasa-basi pada teman sekelasku, aku segera pergi ke mushola, karena sekarang sudah masuk waktu dzuhur. Kun terbang mengikutiku tanpa bertanya. Apa dia bisa pergi ke mushola?
Namun seraya berjalan sambil menatapnya, beberapa kali aku melihat raut marah dari wajah Kun saat aku melewati beberapa orang. Apakah mereka sedang membicarakan hal buruk padaku di dalam hati? Lalu Kun mendengarnya?
Hm, sepertinya iya.
Saat aku hampir sampai ke mushola, aku mulai mengajak Kun bicara. Sepertinya tidak ada siapa-siapa lagi disini. Wajar saja, mushola selalu sepi, apa lagi jalan menuju mushola, sangat jarang di lewati siswa dan siswi di sini.
"Kun."
"Hn?"
"Ada yang ngomongin gue?"
"Kamu tahu?" Tanyanya takjub.
Ternyata benar kan. Pantas saja Kun sejak tadi kelihatan kesal. Padahal aku yang di gosipkan, tapi ia ikut kesal ketika orang berkata buruk padaku. Sepertinya Kun adalah sahabat yang baik.
"Kelietan kok dari muka lu."
"Muka saya?" Ucapnya sambil menyentuh wajahnya sendiri. Aku hanya menggeleng sambil tersenyum tipis.
"Kamu mau kemana sih?" Tanyanya sambil menurunkan tangan dari wajahnya. Ia menatapku datar.
"Mau shalat!" Ia langsung terhenti. Matanya sedikit membelalak dan kelihatan panik.
"Hah?! Shalat? Menyembah Allah?" Aku mengernyit.
"Iya, kenapa?"
"Saya bisa terbakar kalau kamu lakuin itu!" Ucapnya kalang kabut, sambil terbang ke kanan dan ke kiri.
"Jadi?"
"Lu pengen gue gak shalat gitu?"
"Dosa tau!! Bisa-bisa lu langsung di tendang ke neraka bareng gue!!" Kun kembali terhenti.
"Siapa bilang?! Kami takut Allah!! Takut dengar adzan, ngaji, air wudhu, juga zikir!"
"Terus?"
"Saya pergi dulu yang jauh, ke tempat yang tidak terdengar adzannya!"
"Terus? Gimana caranya gue nyariin elu?"
"Saya bakal dateng kalo kamu panggil, kamu bayangkan, atau kamu bicarakan dalam hati! Tapi kalau masih ada wudhu, saya ambil jarak! Kecuali kalau wudhumu batal."
"Hm, yaudah.. Sono lu pergi!! Bentar lagi adzan!"
Buru-buru Kun pergi setelah ku bilang kalau sebentar lagi akan adzan. Jadi begitu ya, bangsa mereka juga takut dengan Allah, takut sekali tampaknya. Ia sampai terbang keteteran begitu. Tapi.. bagaimana dengan manusianya?? Kalian gak malu sama setan?
Aku tersenyum sambil berbalik meninggalkan Kun. Aku harus shalat sunah masjid dulu sebelum adzan.
***
*Author POV
Adzan indah berkumandang, buru-buru Yoyo, salah satu remaja masjid di sekolah meninggalkan tugasnya yang hampir selesai. Yoyo ini juga salah satu ketua rohis di sekolah. Ia benar-benar anak sholeh namun culun. Ia menutup kancing bajunya sampai menyekik leher. Ia juga mengenakan behel karena giginya sedikit maju. Rambutnya tersisir rapi, belah pinggir. Tapi di luar itu, dia adalah lelaki tampan yang berwibawa dan berkarisma.
"Ya Allah!! Gak sadar udah adzan!!" Keluhnya seperti merasa begitu bersalah. Beberapa anak-anak menatapnya yang sedang bergegas keluar kelas.
"Loh, gue pikir yang lagi adzan itu elu Yo, bukan ya?" Yoyo terhenti di depan kelas, yang merupakan tempat anak-anak dari kelas lain sering berkumpul untuk nongkrong.
"Mm.." Yoyo terdiam, menikmati lantunan adzan tersebut.
"Ini suara si Agam!" Singkatnya. Beberapa anak dari kelas lain yang sedang berkumpul terkesiap kaget. Itu karena sejak tadi mereka sibuk menggosipi Agam, perihal di kantin tadi.
"Agam? Sejak kapan dia ke mushola? Apa karena ada gosip dia bersekutu sama setan, jadi dia cari muka di mushola? Cara basi tau gak!!" Kecam Gino kesal. Yoyo langsung mengernyit sambil mengusap dadanya.
"Astaghfirullahaladzim!! Gin!! Lu gila ya!! Itu namanya fitnah! Emang lu punya bukti apa kalau dia bersekutu sama setan?" Gino terdiam.
"Dia selalu ada di mushola bareng gue! Dari pertama dia masuk sekolah malah! Dia tadarusan bareng gue juga selepas shalat!! Elu mana tau dia ke mushola atau enggak, emangnya lu pernah ke mushola juga? Enggak pernah kan?!" pekik Yoyo sedikit kesal. Gino kembali terdiam, begitu juga dengan anak-anak yang sibuk menggosipi Agam tadi.
"Pake nuduh Agam bersekutu sama setan lagi!! Kalau bener, ngapain coba dia rajin shalat gitu? Setan aja takut kali deket-deket dia!!" Yoyo mulai memperhatikan teman-teman kelasnya dan kelas lain yang masih nongkrong di depan kelas, harusnya mereka juga ikut ke masjid. Padahal mereka sendiri mendengar suara adzannya.
"Terus kalian ngapain disini? Udah adzan loh?!" Sindir Yoyo.
"Ooh, gue tau.. itu karena kalian golongan setan kan?" Ujar Yoyo sambil meninggalkan teman-temannya. Mereka hanya saling melirik selepas kepergian Yoyo.
*Author POV End
.
***
.
Aku yang baru selesai adzan pun mendengarkan suara langkah kaki. Langkah itu terdengar mendekatiku.
"Assalamualaikum.." Sapa seseorang. Aku yang baru menyudahi adzan segera berbalik untuk menyalami seseorang tersebut.
"Waalaikumsalam Yo." Ucapku sambil menyalaminya. Ternyata dia ketua rohis di sekolahku, Yoyo. Anaknya sopan, baik, dan lumayan ganteng. Dia orang yang pertama ku temui saat berada di mushola sekolah ini.
"Masih sepi aja Gam, kayak biasanya ni mushola?"
"Ya gak apa-apa, yang penting ada anak-anak rohis, jadi ada jamaah deh."
"Jadi siapa imamnya?"
"Elu aja Yo." Yoyo terkesiap kaget sekaligus malu.
"Elu yang adzan, jadi elu aja yang imam.." Tolaknya halus.
"Oh, yaudah."
Aku pun mengimami shalat dzuhur hari ini. Selepas shalat, aku dan Yoyo mengaji seperti biasanya, sambil membaca arti dari ayat yang kami baca. Aku juga banyak belajar dari Yoyo mengenai hadist dan juga amalan sunah yang di kerjakan Rasulullah.
Setelah berbagi ilmu, kami pun bergegas masuk kembali ke kelas untuk mengikuti pelajaran terakhir sebelum pulang. Terlebih bel masuk pun memang sudah berbunyi sejak tadi. Tapi.. ngomong-ngomong aku kebelet, mau pipis dulu. Waktunya benar-benar tepat, ketika aku melewati toilet.
Aku pun berbelok arah ke toilet. Masuk ke sana sambil menutup pintu toilet. Aku berdiri di hadapan kloset khusus lelaki. Di hadapanku ada cermin yang membias pantulan wajahku.
Aku menurunkan resleting celanaku, mengeluarkan air yang sedari tadi ku tahan. Sambil menggeliat, aku berpikir.
"Kemana perginya si Kun?" Dalam hatiku. Tiba-tiba...
"BAAA!!" Kejut Kun dari dalam cermin. Aku tersentak dan tanpa sengaja menarik resletingku ke atas.
"Ahk!!" Keluhku sambil mengernyit dengan wajah yang pucat.
"Saya merasa terpanggil.." ucap Kun santai sambil keluar dari dalam cermin.
"Sial*n!! Punya gue kejepit ini!!" Keluhku. Kun langsung menunduk menatapnya.
"Wah, itu benda yang besar!!"
"Si*l!!" Keluhku sambil menutupnya di balik calana. Rasanya sakit sekali, hampir mau pingsan!!
"Air wudhu mu batal!" Singkatnya. Pantas saja dia langsung muncul tanpa jarak, rupanya karena barusan aku membatalkan wudhu ku. Buang air seni kan membatalkan wudhu.
"Berisik!" Keluhku singkat dan datar.
"Gam!!" Ia menyapaku yang masih terpaku karena menahan rasa sakit.
"Kenapa?"
"Pulang nanti kamu kemana?"
"Ya namanya juga pulang, ya pulang ke rumah lah!"
"Begitu ya??"
"Kenapa emangnya?"
"Saya kira kamu mau ajak saya main."
"Main?" Gumamku dalam hati.
Tak lama kemudian, muncul seseorang dari luar. Ternyata itu Maxim. Aku dan dia terdiam serentak ketika bertemu pandang. Ia masuk dengan ragu, sambil mengambil tempat di ujung kloset. Membiarkan kloset yang bagian tengahnya kosong. Ia membuat jarak denganku.
"Lu di sini ternyata?" Ucapnya.
"Kenapa?"
"Pak Somad udah masuk tuh." Aku pun berpaling, hendak meninggalkannya, karena urusanku sudah selesai.
"Eh Gam.." Sapanya sambil buru-buru menutup resletingnya. Aku pun terhenti sambil memutar kepala ke arahnya.
"Barengan!" Pintanya seraya menyusulku. Aku pun menunggu, hingga kami bisa berjalan berdampingan. Aku keluar toilet lebih dulu.
"Eh Gam! Hari ini lu ikutan rapat osis lagi ya di aula, kayak kemarin."
"Ngapain?"
"Kan hari ini pelantikkan lu jadi ketua osis, gantiin gue."
"Apa?!" Seruku kaget, sambil memutar tubuhku menghadapnya, dan tanpa sadar, ada seseorang yang menabrak tubuhku dari belakang.
Tubuh mungilnya terpelanting ketika menabrakku. Dengan sigap aku menangkapnya sebelum jatuh. Mau tak mau aku malah berhadapan dengan jarak yang dekat padanya.
"Dara?!" Gumamku heran. Ia nampak mengernyit di dalam pelukanku. Kepalanya dengan cepat menoleh ke tempat yang baru saja ku masuki tadi.
"Lu dari toilet?" Tanyanya ketus.
"Iya."
"Ngapain?!"
"Kencing lah!!" Singkatku tak kalah ketusnya.
"Iiih!!! Lu pasti gak cuci tangan kan?" Aku mengerjap.
"Lupa." Singkatku dengan jujur.
"Lepasiiiiin!!!" Pekiknya. Dan tentu saja aku menuruti keinginannya. Melepaskannya hingga terjatuh ke atas lantai.
"Cowok jorok!!" Ucap Kun. Entah itu perkataan dari Kun, atau berasal dari isi hati Dara. Sepertinya ini isi hati Dara deh. Logatnya jadi beda dengan bahasa baku yang selalu di gunakan Kun.
"Sakit?" Tanyaku ketika ia meringis. Dan dengan sigap Maxim membantu Dara berdiri.
"Nyebelin banget sih!!" Pekik Dara padaku.
"Baru tau!!" Sahutku cuek sambil mengalihkan pandanganku darinya.
"Ngapain lu di luar?" Tanya Maxim heran. Aku juga heran, harusnya dia masuk ke kelas kan sekarang. Dara hanya diam, tak bergeming. Ia merapatkan mulutnya dan menatapku dengan sengit.
"Apa?" Tanyaku hingga membuatnya berjalan terlebih dahulu meninggalkanku dan juga Maxim.
"Yaudah.. kita masuk ke kelas juga." Ajak Max sambil menepuk dan menarik pundakku mengikutinya.
***
Sepulang sekolah, aku mengikuti Maxim untuk datang ke ruang aula. Di sana, sudah ramai berkumpul teman-teman satu sekolahanku.
Maxim menjelaskan panjang lebar mengenai niatnya, yaitu mengangkatku menjadi ketua osis dan menggantikannya. Namun, aku tak serta merta menerimanya. Ya tentu saja selain tidak berminat, aku merasa tidak menyelesaikan misi darinya dengan baik. Aku kan salah menandatangani lukisan saat itu.
"Jadi, gue bermaksud untuk menolak pengangkatan ketua osis yang baru ini!" Jelasku pada teman-teman.
"Kenapa Gam?" Protes Maxim padaku.
"Jelas kan Max, gue gak nyelesain tantangan lu itu. Gue salah tanda tangan!"
"Emang iya, tapi.."
"Gue tau kok lu bertanggungjawab dan adil, lu nganggep tantangan dari lu itu berhasil, tapi gue juga butuh keadilan untuk lu." ucapku, membuat Maxim dan anak-anak lain mengernyit.
"Karena gue gak berhasil, meski udah ngelaksanain tugas dari lu, jadi gue gak pantes dong jadi ketua osis."
"Jangan berdalih deh Gam, lu mau lari?" Protes Maxim lagi.
"Bukan, gue mau keadilan.. Kalau gue, lebih pantes jadi wakil ketimbang ketua.
"Alasannya?"
"Gue anak baru, jadi gue gak bener-bener tau nilai kebersamaan dari kalian semua! Gue gak ikut MOS bareng kalian!"
"Jadi apa yang kalian harepin dari orang yang gak tau apa-apa tentang kalian?" tanyaku, membuat mereka semua bungkam.
"Tentu dia lebih tau segalanya kan? Gue lebih setuju untuk di bimbing sama Maxim menjadi wakilnya, dan mengenal kalian lebih baik. Menyukseskan visi misi dari Maxim untuk kepentingan siswa. Gue udah baca, visi misi Max yang terbaik." Ucapku sambil menunjuk ke arah Maxim.
"Dan kalau masih ada yang gak setuju Maxim jadi ketua, kalian boleh ngadep gue satu-satu."
"Kalian milih gue bukan karena jiwa pemimpin yang gue milikin.."
"Tapi, karena visualnya aja kan?" Timpalku lagi, membuat mereka semakin membisu. Terlebih lagi para siswi, tentu mereka yang sangat ingin aku menggantikan Maxim, ya karena aku ganteng, katanya.
Setelah berceramah panjang lebar, kami pun menyelesaikan rapat osis, dan tetap menunjuk Maxim sebagai ketua, dan aku wakilnya.
Maxim begitu berterimakasih padaku. Namun bagiku, ia pantas mendapatkan itu. Lagi pula dia juga baik dan bertanggungjawab. Jiwa kepemimpinannya seperti sudah mendarah daging.
Aku pun segera berjalan menuju halte seusai rapat. Seperti biasa aku menunggu angkot hitam yang biasa ku naiki. Saat angkotnya berhenti, aku pun mulai masuk ke dalam. Ku lihat ada beberapa siswi dari sekolah lain. Mereka segera berbisik ketika melihatku.
"Ganteng bangeeet!!" Ucap Kun. Pasti ia sedang meniru suara hati perempuan ini.
"Maaf, gue duduk di sini ya.." Ucapku meminta izin pada mereka.
"Oh, silahkan. Gak apa-apa kok." Aku pun duduk di dekat mereka.
"Wangi banget!!" Gumam Kun lagi, yang duduk di antara mereka.
"Ada-ada aja.." gumamku sambil menggelengkan kepala.
"Kalian dari sekolah sebelah?" Tanyaku berbasa-basi. Mereka terlihat terkejut ketika aku bertanya begitu. Karena Kun membaca suara hati mereka, ku rasa mereka akan senang jika ku ajak bicara.
"Ah, iya.." Sahut salah satu dari mereka secara malu-malu.
"Nama gue Agam, salam kenal ya!!" Lanjutku sambil mengumbar senyum.
"Aku Yola!"
"Mitha."
"Cantika" Sahut mereka cepat, namun bergiliran.
"Nama kalian cantik-cantik ya.." Lakarku hingga membuat mereka tersipu.
"Kamu ini bilang begitu, memangnya suka sama mereka?" Aku menggeleng tanpa bersuara pada Kun.
Ibuku selalu minta agar aku berbuat baik dan berkata lembut pada perempuan.
"Kalau nanti ketemu, panggil ya! Jangan sombong-sombong." Ucapku lagi membuat mereka terlihat girang dan malu-malu.
"Wuuu!! Biawak!!" Sorak Kun sambil menurunkan jari jempolnya ke bawah. Apa maksud dia buaya? Dasar setan!!
Aku melihat laju mobil begitu kencang, padahal sudah hampir dekat rumahku. Aku menepuk kursi supir sambil berkata-
"Kiri pak!!" Ucapku pada supir. Supir angkot pun menghentikan laju mobilnya.
"Duluan ya.. Yola, Mitha, Cantika.." ucapku seraya turun dan memberikan ongkosku pada supir.
"Daah Agam!!" Ucap mereka serentak, angkot yang mereka naiki pun kian berderu meninggalkanku di depan rumah.
"Kamu ini baik sama semua orang begitu?" protes Kun.
"Kenapa memangnya?"
"Kalau mereka suka kamu?" Aku menghela napas.
"Kun, kita itu sesama manusia harus baik, kalau mereka suka.. ya mungkin itu bonus.. Lagian kan gue cuma basa-basi aja tadi, biar gak canggung!"
"Sama itu baik, tapi kok sama Dara di lepas? Itu kan tidak baik." Protes Kun, perihal di depan toilet cowok tadi.
"Dah lah, yuk masuk!" Ajakku sambil membuka pagar rumah.
"Bijaksana sekali!!" Keluh Kun dengan wajah yang meledek.
Aku masuk ke dalam rumah, dan ku lihat ibu sudah berada di ruang tv.
"Ibu? udah pulang?" Ibuku terkesiap, dan langsung menoleh ke arahku.
"Eh, Agam.. Udah Gam.. Hari ini kan sabtu. Jadi ibu pulang cepet." Aku pun menyalami ibuku.
"Agam ke kamar ya bu."
"Udah makan?"
"Udah bu!" Sahutku sambil menuju kamar, dan masuk ke dalamnya.
Masih ada waktu sebelum adzan Ashar, sebaiknya aku belajar dan mengulang materi yang tadi, sambil memeriksa apakah ada pr atau tidak. Meskipun besok hari minggu, tapi aku punya urusan lain nanti.
Aku mulai mengecek jadwal pelajaran hari senin, dan menyiapkan buku-bukunya. Sambil melihat apakah ada pr atau tidak.
"Ternyata ada banyak tugas dan pr? Ada ulangan biologi juga?" Keluhku.
"Gue harus baca sedikit, biar nggak lupa." Gumamku sambil membuka buku biologi yang tebal.
"Gam?" Sapa Kun yang tiba-tiba muncul di hadapanku. Aku tersentak kaget, hingga hampir terjungkal ke belakang. Jantungku berdetak kencang saking kagetnya.
"Bisa gak kalau muncul tuh gak kayak setan?" Keluhku geram. Badanku seketika menjadi lemas dan jantungku berdegup kencang.
"Salah saya apa? Saya kan memang setan." Sahut Kun. Dan si*lnya dia benar.
"Mau apa?" Tanyaku tanpa mengangkat kepala dari buku.
"Mau nanya."
"Apa?"
"Arti baper itu apa?" Tanya Kun hingga membuatku heran.
"Bawa perasaan." Sahutku.
"Kalau kepo?" Kini aku mengernyit.
"Mau tau aja!"
"Kalau julid?" Aku pun mengangkat kepala menatapnya.
"Lu baca WA gue ya?"
"WA itu apa?"
"Aish!!" Aku menggaruk kepala karena kesal.
"Lagian lu tau kata-kata itu dari mana?"
"Tadi nonton sama ibu.."
"Nonton? Nonton apa?"
"Itu loh, nonton yang orang di tabrak mobil, teriaknya sampai lima belas menit, tapi mobilnya gak sampai-sampai."
"Itu sinetron!" Sahutku.
"Sinetron?"
"Iya.. Lu gak boleh nonton itu!!"
"Kenapa?"
"Nanti lu jadi *****!"
"Jadi ibu ***** juga?" Ucapnya polos hingga membuatku kesal.
"Mau gue bunuh ya?"
"Buat apa? Saya kan sudah mati?" Balasnya lagi. Aku pun mengacak-acak rambutku saking kesalnya.
"Udah, entar gue ajak lu nonton bioskop. TV nya gede. Orangnya rame."
"Wah, yang benar?" Aku mengangguk.
"Kapan?"
"Besok ya!! Kita weekend!!"
"Asiiik!!"
"Tapi sekarang lu jauh-jauh dulu, jangan ganggu!" Usirku.
"Baik boss!!!" Serunya dengan girang.
.
.
.
Bersambung!!!!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 257 Episodes
Comments
geora elysian vale
thor udah thor😭 nyindir banget ya😭😭
2025-03-11
1
V.I.A
aku mencium bau2 buaya
2024-09-24
0
Zuhril Witanto
🤣🤣🤣
2024-02-18
0