Agam yang terpaku di tempat duduknya hanya terdiam membisu. Menatap Kun dengan wajah dan baju yang hampir memerah. Apakah kalau dia marah, maka dia akan berubah warna? Siluman bunglon kah??
Tapi, dari pengalaman yang ku dengar, kalau kuntilanak merah itu adalah yang terseram dalam jenisnya, juga yang tergalak.
Aku masih tertegun, terlebih lagi setelah mendengar Kun menyebut kalau tidak ada yang boleh menyentuh tuannya, yaitu aku. Dia sampai membelaku seperti itu, padahal ia belum lama ada bersamaku. Sedikit tersentuh sih. Jadi dia harus mendapatkan sesuatu dariku.
"Ini." Ucapku sambil meletakkan botol teh melati yang harusnya ku berikan pada Randy Di hadapan Kun, tapi berhubung Randy juga kabur bersama orang-orang yang lain, jadi ku berikan saja ini untuk Kun.
"Apa? Ini untuk saya?" Tanyanya sedikit kaget dan tak percaya.
"Ya."
"Terimakasih karena udah ngebela gue segitunya, lain kali.. elu gak perlu ikut campur urusan manusia. Bocah kayak gitu, gue bisa atasin sendiri kok."
"Wah, makasih... Rasa melati kan ya??" ucap Kun girang sambil memeluk botol yang baru saja ku berikan. Apa barusan dia tak menghiraukan ucapanku ya?
Berselang beberapa waktu kemudian, beberapa penjaga warung yang sibuk di dapur keluar dari warung mereka. Mereka terlihat heran, pasalnya kantin mendadak sepi. Padahal baru saja ada keraimaian disini. Terlebih lagi kini kantin sudah acak-acak dan berantakkan. Bak baru saja terjadi ****** beliung mini. Mereka pun tersentak dan mengeluarkan beberapa pertanyaan.
"Loh, kemana anak-anak yang pesan makanan tadi?"
"Ngeprank kah?"
"Mana kantinnya berantakkan lagi?"
"Apa ada yang abis tauran?"
"Atau udah bel masuk? Padahal mbok belum denger bunyi bel apa pun."
"Yang lainnya hilang? pergi kemana ya?"
"Kok cuma ada dua orang." Ucap beberapa ibu kantin padaku seraya mengedarkan pandangannya.
Merasa heran dan tak mendapatkan jawaban apa-apa dariku, mereka pun kembali masuk ke dapur dalam keadaan bingung. Tapi tunggu dulu, kenapa dia bilang ada dua orang? Bukankah Kun tak terlihat? Apakah mungkin...
Ada orang lain yang bersamaku?
Aku mulai mengedarkan pandanganku, dan nampak seorang perempuan berdiri di sudut kantin. Ia menatap lurus ke arahku. Aku tak mengerti arti dari tatapannya, yang ku tahu, ia hanya menatap ku tak berkedip.
Setelah aku membalas tatapannya, buru-buru perempuan itu mengalihkan pandangannya dariku, ia pergi dan meninggalkanku begitu cepat, dan lantas tak pernah berbalik sedikit pun padaku selepas kepergiannya. Aku jadi penasaran, kenapa di saat semua orang lari ketakutan, tapi ia masih berada di sana bersamaku. Meskipun dengan jarak dari ujung ke ujung.
"Dia.. Dara kan? Teman sekelas gue?" Gumamku sambil menatap kepergiannya.
"Dia itu.. menatapmu sepanjang pelajaran di kelas tadi." Ucap Kun hingga membuatku tersentak.
"Dara? Liat gue?" Ulangku.
Yang ku tahu, dari semua teman perempuan di kelasku, bahkan di sekolahku, hanya dia yang tak tampak tertarik denganku. Tempat duduknya tak terlalu jauh dariku, tapi diantara teman-teman kelasku, aku hanya tak pernah bicara dengannya. Dengannya saja. Dia itu sepertinya anak yang pendiam dan dingin. Jadi kesannya seperti sombong dan enggan bergaul dengan orang lain.
"Gak.. Gak mungkin.." Kun mengernyit bingung, tak paham maksudku.
"Apanya?"
"Ya, Dara gak mungkin liat gue terus kan." Balasku.
"Kenapa tidak?"
"Bukannya semua orang melihatmu. Saya dengar suara hati mereka, mereka mencintaimu, dan yang lelaki iri padamu." Aku tersentak, lalu mengernyit.
"Denger suara hati?" Kun mengangguk.
"Iya.. Saya bisa dengar suara hati manusia." Aku kembali terkesiap.
"Jadi selama ini lu bacain isi hati gue juga?!" Kun mengernyit.
"Emangnya kamu koran?"
"Terus kenapa kamu suka sekali menuduh orang?" Aku langsung menoleh cepat ke kiri dan ke kanan.
"Mana?? Yang mana orang??"
"Anggap saja saya." Aku meringis masam. Sudah jadi setan, masih mau di panggil orang. Harusnya kan, mereka di panggil jurig atau demit.
"Kamu tak bisa saya baca.. gak tahu kenapa. Mana tidak bisa di bunuh juga!" Kini gantian aku yang mengernyit.
"Bohong!! Mana mungkin sih lu ngomong bener, lu kan setan."
"Kalau saya bisa baca isi hati kamu, kenapa saya harus minta dan tanya sesuatu dulu padamu, kalau bisa.. saya baca saja isi hati dan pikiranmu, tentu saya bisa ngerti tanpa nanya-nanya dulu."
Aku terdiam. Benar juga sih. Kemarin dia juga nanya sampai ke hal yang tidak penting, seperti google dan semacamnya. Kalau dia bisa baca isi hatiku, tentu dia tahu kalau aku tidak mau menjelaskan arti google padanya karena malas, kan. Tapi dia sepertinya memang tak bisa membaca isi hatiku. Syukurlah.
Apa ini juga alasan di balik wajah marah Kun ketika mantan Lian dan teman-temannya datang?
"Jadi.. pas gerombolan tadi datang ke meja gue, lu udah baca isi hati mereka, makanya muka lu jadi berubah marah pas mereka datang?" Terka ku.
"Ya! Mereka mengumpatmu di dalam hati. Saya kesal mendengarnya."
"Terus, mereka juga punya niat buruk habis ini." Aku tersentak mendengarnya.
"Niat buruk?" Kun mengangguk.
"Niat apa itu?" Kini ia menggeleng.
"Saya gak mau kasih tahu kamu."
"Kenapa? Barusan tadi lu bilang dan mau kasih tau gue, kenapa sekarang gak mau kasih tau?"
"Saya bilang pas itu sudah terjadi kan, kalau belum terjadi, saya gak mau bilang." Aku mendecak lidah mendengarnya.
"Katanya gue tuan lu, tapi kok gak mau kasih tau."
"Kalau kamu mau, kamu bisa mendengarkan isi hati mereka sendiri." Aku mengerutkan dahi membuat alisku hampir bertautan.
".....Caranya?"
"Pertukaran ludah."
Lagi-lagi Kun mengatakan tentang hal itu. Kenapa dia terkesan begitu memaksa agar aku melakukan pertukaran itu? Apa dia punya niat buruk di balik semua itu? Apa pertukaran ludah itu semacam perjanjian? Dan aku tahu, tidak ada perjanjian yang baik jika di lakukan bersama sebangsa mereka. Itu sama saja dengan musrik, dan bersekutu dengan setan itu tidak baik.
"Gak, gue gak mau!" Tolakku untuk kesekian kalinya.
"Kenapa? Kamu bisa baca hati manusia dengan kekuatanku. Jadi kamu bisa mendengarkan apa yang mereka katakan, dan kamu bisa tahu mana yang munafik dan mana yang sungguh baik." Aku terdiam sesaat, menyerna kalimatnya.
"Itu yang gue dapetin, nah kalau gue lakuin itu, tentu lu juga pasti ingin dapetin sesuatu kan dari gue?" Di luar dugaan, Kun malah mengangguk dan tak menyangkal dugaanku sedikit pun.
"Memang."
"Jadi bener."
"Saya cuma mau merasakan perasaan manusia. Dan mendengarkan isi hatimu."
Apa benar cuma itu? Kenapa terdengar sederhana sekali niatannya? Tapi, aku tidak boleh langsung percaya pada ucapannya. Manusia yang sudah akrab dengan kita pun bisa berkhianat, apa lagi sebangsa Kun yang baru ku kenal kemarin. Kalau selepas bertukar ludah, bagaimana kalau bayarannya adalah nyawaku? Karena permintaan bangsa mereka ini biasanya tidak main-main dan mengerikan, pasti bayarannya juga setimpal dengan apa yang sudah ia berikan.
"Gak, gue gak percaya." Balasku.
"Tidak apa-apa." Sahut Kun sambil membuka botol teh dan meminumnya. Seketika baju dan kulitnya yang tadi sempat memerah, berubah memutih seketika. Seperti warna yang luntur oleh cairan pemutih. Aku hanya terkesiap dan menatapnya berulang-ulang. Terkesima dengan apa yang barusan terjadi.
"Waaah!! Air melati ini enak!! Manusia itu macam-macam ya idenya." Komennya dengan mata yang berbinar pada minuman yang ku berikan.
.
*Author POV
Di kelas Lian, nampak Lian sedang membaca novel sambil terus memegang mawar pemberian Agam. Ia tersentak begitu melihat beberapa orang berlarian masuk ke dalam kelas dengan napas yang terengah-engah.
"Kenapa sih?" Keluh Lian sambil menatap Naura yang baru saja menghempaskan tubuhnya ke kursi sambil berseloyoran, meletakkan kepalanya di atas meja.
"Gila gila!!" Ucap Naura sambil mengangkat kepalanya, dan mencondongkan tubuhnya ke arah Lian.
"Gila apanya?" Tanya Lian sambil menggerek kursinya mendekat ke arah Naura.
"Tadi, si Gino cari gara-gara sama Agam di kantin!!" Perkataan Naura langsung saja membuat Lian spontan dan menutup buku novel yang sedang ia baca, sambil beranjak dari bangkunya.
"Apaan sih!!! Maunya apa coba tuh anak?!"
"Eeeh, sabar-sabar!!" Naura menarik tangan Lian agar kembali duduk ke bangkunya.
"Terus Agam gimana? Dia gak apa-apa kan? Dia gak di pukulin Gino kan?"
"Bener-bener ya tuh orang, udah pacarannya kasar dan main tangan! Terus dia selalu aja ngehajar cowok-cowok yang ngedeketin gue!! Maunya apa coba?!!"
"Sabar Li!! Gue kan belum selesai ngomong!! Lu kayak bajaj aja, berentetan kemana-mana gak pake berenti!!" Lian pun terdiam mendengar perkataan Naura.
"Agam gak apa-apa kok." Lian segera menghela napas panjang.
"Syukur deh, aduuh.. gue jadi panik.. takut dia di pukulin Gino!" Ucap Lian sambil mengusap dadanya.
"Tadi.. sempet mau di pukulin sih, tapi.. tiba-tiba..." Lian mengernyit, sedikit kesal ketika Naura menggantung kalimatnya.
"Tiba-tiba apa?" Naura menenggak ludahnya.
"Tiba-tiba aja, angin kenceng dateng.Terus piring, cangkir, sama kursi-kursi plastik yang ada di kantin pada melayang!" Lian mengernyit heran. Merasa bingung sekaligus tak percaya dengan ucapan Naura.
"Apaan sih? Ada ****** beliung mendadak gitu di kantin?"
"Bukan gitu Li!! Tiba-tiba aja angin kenceng dateng pas Gino mau mukul Agam.. seketika, kita semua yang ada di kantin merasa merinding gitu deh.. Kayak gimana gitu rasanya!"
"Kayak gimana maksudnya?"
"Kayak ada yang ngelindungin Agam.." Bisik Naura hingga tanpa sadar membuat bulu kuduk Lian ikut berdiri.
"Iih!! Jangan nakutin deh!!"
"Beneran! Buat apa sih gue bohongin lu!! Secara ni ya, gue tuh ada di kantin tadi! Gue liat, dan gue rasain juga!" Lian terdiam.
"Sebelumnya, kemarin Agam gak masuk sekolah.. Sakit.. Terus sebelum dia gak masuk sekolah, dia kerasukkan kan di gudang.."
"Dia juga katanya udah masuk dan nandatanganin sesuatu di gudang, pakai spidol merah! Tapi kok, gak sesuai gosip, harusnya.. dia udah gak ada kan sekarang, kayak korban yang udah-udah."
"Hush!! Lu nyumpahin Agam?!" Bentak Lian pada Naura.
"Bukan itu sih inti yang gue maksud Li.."
"Maksud gue itu, apa Agam.."
"Udah deh, lu jangan ngomongin itu lagi! Gue merinding nih!! Terus badan gue jadi gak enak rasanya."
"Yaudah deh, gue diem!!"
***
Sementara itu di kelas Gino, ia sibuk menyuruh temannya untuk mengipas tangannya dengan buku. Ia merasa tangannya menjadi perih dan kesakitan.
"Belum juga nonjok, udah K.O aja lu Gin! Gimana kalau berantem beneran!"
"Lagian gua dulu se SMP sama Agam, dia kan juara silat.. Menang mulu' di turnamen, tapi pas masuk SMA, kayaknya dia fokus ke pelajaran akademis aja, dulu dia akademis sama non akademisnya jago semua. Perfect banget!!"
"Jadi maksud lu, Gino bakal beneran K.O sama dia, kalau seandainya jotos beneran?"
"Pastinya!!" Gino mengepalkan kedua tangan mendengar perkataan temannya.
"Diem lu!! Gue gak tau, tiba-tiba rasa tangan gue panas pas mau nonjok dia! Mana ada angin kenceng lagi!!"
"Bener juga lu, pas ada angin kenceng, badan gue rasanya jadi gak enak."
"Jadi kayak merinding gitu."
"Iye bener.. Kirain gue doang yang ngerasain gituan, ternyata elu juga ya?" Gino mengerjapkan mata mendengarnya.
"Bener juga, gue juga ngerasa gitu.. apa jangan-jangan..."
"Jangan-jangan apa?"
"Si Agam bersukutu ama setan lagi."
"Hush!! Jangan asal ngomong deh lu kalau gak ada bukti!"
"Lu mau bukti apa lagi? Lu tau kan kalau Agam udah nandatanganin lukisan angker di gudang, tapi gak ada yang terjadi ama dia tuh.. dia gak apa-apa sampai sekarang."
"Iya juga ya, kalau dari gosip yang beredar sih, harusnya si Agam udah mati!"
"Tapi kan dia juga sempet kerasukan kemarin, jadi gak mungkin kalau dia bersekutu kan, kalau dia gak kesurupan, baru gue yakin dia bersekutu.. Artinya emang gak ada yang terjadi ama dia.."
"Iya, cewek kelas kita aja kemarin bilang kalau Agam sakit dan gak masuk sekolah karena abis kesurupan. Artinya dia juga ngerasa efek dari tu setan!"
"Apa jangan-jangan, setannya cewek lagi, terus demen sama si Agam, jadi Agam di tempelin!!" Perkataan mereka lantas membuat Gino menghantam meja dengan kakinya.
"Apa-apaan sih kalian semua!! Jadi kalian mau bilang kalau gak cuma manusia yang demen Agam, tapi setan juga?!!" Bentak Gino tidak terima.
"Apaan sih lu Gin, sensi amat!! Kayak cewek dateng mens tau!!"
"Elu bikin kesel sih!! Lagian gue setuju ama omongan lu barusan." Temannya mengernyit tak mengerti.
"Dari pada ngeduga-duga, kenapa gak kita buktiin aja.. hm.." Ucap Gino sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Maksud lu.." Gino mengangguk.
"Iya.. Maksud gue itu."
"Ah, gila lu Gin!!"
"Gue gak mau ah!!"
"Penakut lu, brengs*k!"
"Jadi.. siapa yang mau ikutan?" Mereka saling memperhatikan satu sama lain, tanpa langsung menjawab pertanyaan Gino.
*Author POV End
***
Kun tersenyum sendiri sambil menikmati tegukkan teh terakhirnya di botol. Aku jadi sedikit merinding kalau melihatnya tersenyum tanpa sebab seperti itu.
"Kenapa lu Kun?"
"Mereka menceritakan saya dan kamu sejak tadi." ucap Kun hingga membuatku mengernyit.
"Kok lu tau?"
"Tau lah, setiap manusia yang menceritakan bangsa kami, maka.. kami akan muncul di sekitarnya, di dekatnya. Mengacaukan perasaan mereka, dan membuat mereka bergidik." Aku mengernyit.
"Pantesan aja, setiap bercerita hantu, pasti merinding. Artinya kalian muncul di dekat kami gitu?"
"Bukan cuma bercerita saja, saat kalian membayangkan, atau mengucapkan dalam hati, maka kami akan hadir di dekat orang tersebut."
"Tapi kok lu masih disini, katanya lu bakal hadir di dekat mereka?"
"Kamu kan cerdas, pasti tau kan dengan istilah ghaib?" Aku terdiam.
"Saya ada di sini, juga di antara orang-orang yang menceritakan saya. Walau yang menceritakan saya sejauh di belahan bumi lain, maka saya tetap ada di sana juga, dan saya juga bisa tetap ada di kamu."
"Itulah ghaib kan?"
Bener juga perkataannya. Lagi pula, apa yang sedang mereka katakan? Apakah mereka curiga padaku, karena tadi Kun sempat membantuku?
"Mm, mereka ngomongin apa?"
"Kamu, bersekutu dengan setan!" Ucap Kun hingga membuat mataku terbelalak. Apa-apaan mereka? Kenapa sampai berpikiran kalau aku seperti itu?
"Apa-apaan?!!" Keluhku.
"Kenapa mereka mikir gue bersekutu dengan setan?!"
"Apa karena.. tadi elu nolongin gue?"
"Mungkin.."Singkat Kun.
"Udah gue duga, harusnya elu gak usah nolongin gue tadi."
"Kamu marah?" Aku menatap wajah polos Kun. Yah, aku hanya bisa menghela napas panjang saja. Untuk apa juga aku marah padanya, seperti anak kecil yang ngambekkan aja.
"Gak kok, biasa aja."
"Kenapa?"
"Karena gue gak perduli omongan orang." Singkatku. Ku lihat kedua alis Kun terangkat, ia membuka lebar matanya menatapku. Kagum nampaknya.
"Pikiran kita sama." Singkat Kun juga.
"Ada banyak kesamaan pada kita, saya juga gak perduli omongan para hantu."
"Maksudnya?"
"Hantu juga gosipin elu? Karena main ama manusia?"
"Pintar!"
"Gilasih, setan ama manusia sama-sama hobi gosip."
"Itu kan hobi setan, manusianya aja yang ikutan. Mana gosipnya kadang fitnah lagi, di telan mentah-mentah! Lebih parah dari setan! Ucap Kun hingga membuatku terbahak.
Sumpah, dari semua teman-temanku, dari SD sampai SMA, rasanya cuma Kun yang cocok dengan pemikiranku. Sayangnya dia ini hantu, kalau manusia, mungkin aku akan mengangkatnya menjadi saudara. Pasti ibu gak keberatan, aku kan anak tunggal.
"Yah, pada dasarnya manusia suka membuang-buang waktunya untuk mikirin orang lain, bahkan saat orang itu gak mikirin mereka." Ucapku.
Aku lihat Kun terdiam menatapku. Ekspresinya tiba-tiba saja berubah. Apa ia ingin mengatakan sesuatu padaku?
"Sebenarnya, saya tidak boleh mengatakan ini.. jadi saya bingung. Tapi saya suka pemikiran kamu. Kamu cerdas."
"Mau ngomong apa emangnya?"
"Saya bisa dapat pelanggaran kalau mengatakannya langsung."
"Jadi, clue saja ya."
Mau ngomong apa sih dia? Serius sekali nampaknya.
"Hari senin nanti..
Akan ada badai."
"Dan kamu, adalah tujuannya."
.
.
.
Bersambung...
.
.
.
.
Hai readers, maap yaa, di bab kali ini author lagi gak enak badan, semoga gak mengurangi kualitas tulisan author...
Jadi happy reading yaa..
Tetap jaga kesehatan semuaa 🤗
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 257 Episodes
Comments
Ryan Alkhumaira
agam tidak sepintar itu kun, lagi bingung tuh dia sekarang
2024-10-26
0
Zuhril Witanto
apa maksudnya geng Gino mau bikin onar ma agam
2024-02-18
0
Zuhril Witanto
gak usah makan melati Kun minum teh nya aja🤭
2024-02-18
0