(Flashback)
*Author Pov
Kejadian sebelum Kun menghampiri Agam ke kamar.
Kun melihat Agam masuk ke dalam kamar setelah bertegur sapa dengan ibunya. Kun hendak menyusul Agam, tetapi ia melihat ibu Dinda duduk sendiri sambil menonton televisi.
"Kasian juga ibu sendiri.. Apa saya temani?" Gumam Kun sambil melayang ke dekat ibu Dinda.
Tiba-tiba saja ibu Dinda tersentak, tepat setelah ku semakin mendekatinya. Ia melihat ke sekeliling sambil beberapa kali mengusap tengkuknya, dan memperhatikan bulu-bulu yang ada di tangannya.
"Kok tiba-tiba merinding gini ya?" Gumam Ibu Dinda. Ia pun bergidik sambil menggelengkan kepalanya dan mengernyit. Ia pun membesarkan volume tv-nya karena merasa sedikit takut dan tubuhnya terasa tidak enak. Ia pun meletakkan remote ke sampingnya.
"Permisiii, ada setan buk." Ucap Kun sambil duduk di samping ibu Dinda. Tanpa sengaja, Kun menjatuhkan remot yang ada di dekatnya ke bawah.
"Astaghfirullah!! Naga bunting!! Naga buntung!!" Tekak ibu sambil tersentak kaget. Ia terdiam sambil menatap benda apa yang baru saja jatuh.
"Kok remote tv bisa jatuh? Kan gak ada yang senggol?" Gumam Ibu Dinda sambil melihat keberadaan remot yang telah tergeletak di lantai. Kun langsung tersentak kaget dan menatap ibu Dinda dengan wajah bersalahnya.
"Saya yang senggol, tidak sengaja bu." Timpal Kun meskipun suaranya tidak akan terdengar oleh ibu Dinda.
Ibu Dinda pun mengambil remote tersebut dan menggenggamnya. Ia kembali fokus pada televisi di depannya. Namun wajahnya masih terlihat panik dan ketakutan. Terlihat dari ibu yang sejak tadi mengubah posisi duduknya. Ia merasa sangat gelisah.
[Dasar ya lo!! Baperan banget jadi orang!! Lu kira dia naksir sama lo?]
"Baper? Apa itu?" Keluh Kun sambil menyimak siaran di tv.
"Saya tidak pernah dengar kata-kata itu? Apa itu bahasa Indonesia yang baru?"
[Jadi lu kepo sama gue selama ini?! Lancang banget ya lo!!]
"Ah?! Ke.. kepo?" Kun mengernyit panik.
[Dasar Julid!! Minggir lo!!]
"Julid lagi? Apa lagi itu?? Ini masih di Indonesia kan ya?" Keluh Kun gemetaran.
"Jangan-jangan saya mati sudah lebih dari enam belas tahun. Bahasa Indonesia jadi seaneh ini? Saya tidak paham!" Gumam Kun dengan mata yang terbelalak.
[Perempuan tadi mendorong temannya ke jalan raya. Dan dari arah yang berlawanan, datang sebuah mobil besar menuju perempuan yang sedang terjatuh di tengah jalan tersebut.]
"LARI!!!" Pekik Kun sambil menutup kedua telinga dengan tangannya. Ia benar-benar terbawa suasana ketika menontonnya. Sementara ibu Dinda terlihat tegang dengan raut wajah nya yang sangat serius. Tak satupun dari alisnya yang bergerak.
[Aaaaaaaaaaaa!!!] Pekik perempuan di dalam tv.
"Ah?! Kenapa kamu teriak, bukannya lari?" Protes Kun yang merasa kesal.
*15 menit kemudian
[Aaaaaa!!!]
[Bersambung.]
"Udah habis lagi... Kan penasaran, nanti siapa yang nolongin!" Gumam ibu Dinda sambil mengganti channel tv-nya.
Kun hanya terdiam dengan wajah yang mengernyit, lalu menatap malas ke arah tv. Hanya menonton siaran itu beberapa menit, ia bisa merasa sekesal dan sesetres ini.
"Bisa-bisanya dia teriak 15 menit, tapi mobilnya tidak sampai-sampai!" Keluh Kun sambil beranjak.
"Ternyata manusia suka buang-buang waktu dengan siaran yang tidak mendidik dan tidak berfaedah sama sekali! Nilai baik yang bisa di ambil apa? Mereka malah rebutan cowok!" Gumam Kun lagi.
"Oh iya! Ada kalimat baru yang bisa saya pelajari, tadi apa ya kata-katanya?"
"Baper.. Kepo, sama.." Kun meletakkan jari telunjuk ke dagunya. Ia berpikir sejenak, mencari kalimat yang tadi sempat ia dengar.
"Nah! Julid.. Artinya apa ya??" Ia kembali terdiam.
"Tanya Agam aah!!" Kun mulai melayang.
"Baper kepo julid, baper kepo julid, baper kepo julid." Gumam Kun berulang-ulang layaknya anak kecil yang di suruh ke warung untuk jajan. Ia pun melewati ibu Dinda dan menghilang. Ibu Dinda tersentak, dan menoleh ke arah Kun.
"Perasaan kayak ada bayangan putih lewat sekelabat? Tapi kok gak ada apa-apa ya?" Keluh Ibu Dinda sambil kembali mengusap tengkuknya.
(End Of Flashback)
*Author Pov end
.
Aku terdiam mendengar kisah Kun. Aku mengernyit menatap Kun yang mulai menyoret cermin dengan jari telunjuknya.
"Lu nakutin ibu tau!" Protesku.
"Memangnya saya menakutkan?" Tanya Kun hingga membuatku menatapnya. Kalau di lihat dari atas kebawah sih, tidak menakutkan sama sekali.
"Gam, ini belum hari minggu ya?" Todongnya padaku. Padahal baru saja aku menyampaikan itikad baikku, untuk mengajaknya besok. Masih saja dia tagih hari ini.
"Belum!"
"Kapan hari minggunya?" Desaknya lagi.
"Besok!"
"Masih lama tidak?"
"Lama!! Sana makan melati di kebun ibu! Lu berisik tahu!!" Keluhku. Dia benar-benar mengganggu waktu belajarku.
"Yasudah.." ku lihat Kun melayang ke arah jendela.
"Ayahmu pulang tuh." Gumamnya sambil menatap ke arah luar.
"Kenapa emangnya?"
"Masa' kamu masih tidak percaya?" Ia mengernyit sambil menoleh ke arahku.
"Percaya apa?"
"Dia bau wanita." Singkat Kun lagi. Aku terdiam sambil menggeleng, dan tersenyum sinis.
"Emang bau wanita tuh kayak gimana?"
"Hmm, saya tidak bisa menjelaskannya, tapi kami bisa membedakan jenis manusia..
dari bau darah." Ucap Kun hingga seketika membuat ujung pensil rancung yang ku tekan ke kertas ini patah. Mataku terbelalak disertai bulu kudukku yang kian berdiri. Aku terkejut ketika mendengar bahwa ia membedakan jenis manusia dari bau darahnya. Mereka seperti predator kah?
Tapi apa yang ku harapkan? Tentu saja mereka akan melakukan itu kan? Melihat manusia bagaikan mangsa yang kapan pun siap untuk mereka lahap. Mereka bukanlah manusia sepertiku. Apa sebaiknya aku tak perlu terlalu dekat dengan Kun? Dia berbahaya?!
"Saya bisa cium bau darah ibumu, ayahmu.. dan yang paling nikmat...
adalah bau darahmu." Ucap Kun yang membuat jantungku tercekat, terasa hampir berhenti berdetak.
Sayup-sayup tubuhku mulai lemas dan jemariku mendingin. Tengkukku mulai panas, dan aku merasa sedikit mual dan pusing. Aku menatap Kun yang kini menatapku datar namun tajam. Kenapa aku ini? Apa aku sedang merasa ketakutan?
"Tubuhmu.. minta di rasuki ya?" Tanya Kun dengan nada bicara yang sedikit berbeda dari biasanya. Jantungku berdenyut panjang. Lagi-lagi nyaris terjeda sesaat, namun seketika kembali berdetak tak karuan. Berpacu dengan cepat, seperti habis lari maraton saja.
"A.. Apa maksud lu?" tanyaku sambil terbelalak. Baru kali ini aku merasa Kun seseram itu.
"Tubuh yang seperti ini, mudah untuk di rasuki." Sahut Kun.
Apa karena saat ini aku ketakutan dan tubuhku kian melemah, jadi.. setan mudah untuk merasukinya?
"Ngomong apa sih Kun?" Dalihku, berusaha menghilangkan rasa takutku padanya.
"Jangan takut.. saya tidak akan jahat pada kamu. Hanya pada kamu." Tegasnya sambil berbalik dan memunggungiku. Tak lama Kun menghilang dari hadapanku. Layaknya asap yang tertiup angin. Lenyap seketika.
Aku menghela napas panjang, napas yang sempat tertahan beberapa saat. Namun setelah Kun menghilang, keteganganku berakhir sudah. Aku bersender di kursiku. Melepaskan kecemasan yang menghantuiku tadi.
"Apa gue lupa.. gue lupa kalau dia adalah hantu? Jadi, kapan pun, dia tetaplah berbahaya.." Gumamku sambil menyeka keringatku.
Apa dia sebenarnya, memakan darah manusia juga? Terus terang saja, raut wajahnya tadi sedikit berbeda ketika mengatakan tentang darah.
Dan seketika, dia bener-bener berubah menjadi menakutkan.
.
***
.
Besoknya, aku terbangun pukul sembilan siang setelah tidur lagi saat selesai subuh. Aku membuka paksa mataku yang nyaris tertutup rapat. Tubuhku terlalu lama tidur, jadi rasanya semakin lelah dan pegal.
Aku menduduki tubuhku dan bersender di belakang penyandar tempat tidur. Mengerjapkan mataku yang masih sayup-sayup.
Tok tok tok
Suara pintu kamarku di ketuk.
"Belum bangun Gam?" Tegur ibuku dari balik pintu.
"Udah bu." Singkatku dengan suara yang serak, khas suara orang yang baru bangun tidur.
"Oh, ibu pikir kamu belum bangun dari tadi. Kamu gak makan?"
"Entar Agam makan bu. Mau mandi dulu." Sahutku sambil bergeser ke ujung tempat tidur.
Aku masih duduk di pinggir tempat tidur. Berusaha mengumpulkan nyawaku terlebih dahulu. Setelah beberapa menit, aku pun beranjak, dan mengambil handuk yang ada di samping pintu kamar mandi.
Saat membuka pintu, aku lantas kaget, melihat ada seseorang yang berada di dalam sana. Bukannya dia yang berteriak, melainkan aku.
"Aakhh!!" Pekikku sambil menutup pintu.
"Kenapa Gam?" Tanya ibuku dari balik kamarku. Apa ibu masih disitu?
"Ke.. kecoak terbang buk!!" Dalihku.
"Ya ampun, kirain apaan Gam!!"
Aku menghela napas panjang. Membiarkan suara langkah kaki ibu terdengar menjauh dari kamar. Dan tiba-tiba pintu kamar mandiku kembali terbuka. Menampakkan Kun yang sedang keramas di dalam dengan bajunya yang masih lengkap. Inilah kecoak terbang yang tadi membuatku berteriak.
"Kamu kenapa teriak?" Aku terdiam, tentu saja aku berteriak, karena aku kaget sekali, ada setan yang sedang mandi di kamar mandiku. Inikah yang di namakan setan keramas? Atau kuntilanak keramas??
"Ini tidak ada sampo bau melati ya?" Tanya Kun sambil mengurut kepalanya yang dipenuhi busa seraya menatapku.
"Emang setan mandi?" Tanyaku tanpa menjawab pertanyaannya.
"Kuntilanak mandi kok, malahan suka."
"Ya ampun!! ini mengerikan!!" Gumamku dalam hati.
Pantas saja di film-film horor, kadang mereka mandi juga seperti ini. Beruntungnya gue, wajah Kun lebih baik dari pada yang ada di film-film horor itu.
"Saya mau mandi, habis ini kita pergi kan?" Aku mengangguk.
"Lama gak? Gue juga mau mandi, cepetan lu!!" Ku lihat Kun menyirami rambutnya dengan shower milikku. Membuat rambut putihnya layu dan membentuk kepalanya.
So creepy!
Aku menatapnya datar, namun tiba-tiba dia menghilang dari hadapanku. Menghilang begitu saja, apa dia Naruto? Ah, maksudku apa dia ninja?
Aku langsung tersentak dan mengerjapkan mataku beberapa kali.
"Kemana perginya dia?" Keluhku sambil masuk ke dalam kamar mandi untuk memeriksa keberadaannya.
"Selamat mandi!!" Seru Kun tiba-tiba dari belakangku. Aku langsung tersentak dan berbalik menatapnya yang telah berada di luar kamar mandi.
KLAP!!!
Kun menutup pintu, dan mengurungku di dalam kamar mandi. Si*lan!! Dia selalu mengagetiku begitu, kalau aku punya riwayat sakit jantung, mungkin sudah lama aku pergi ke dunia sana.
.
***
.
Setelah makan dan berpamitan dengan ibu dan ayah, aku pun mengajak Kun pergi ke bioskop untuk menonton film action yang sudah lama ingin ku tonton. Tapi, berhubung aku sibuk dan tidak punya teman dekat, jadi aku malas sekali untuk pergi.
Kalau pergi dengan teman perempuan, tentu mereka akan mengajakku nonton film romantis, padahal aku benar-benar alergi dengan film genre itu.
Aku berbaris untuk mengantri tiket film. Kun terlihat sibuk dengan layar LCD yang besar, yang menampakkan beberapa cuplikan film yang sedang tren tersebut.
Tak lama ia menghampiriku, tepat saat giliranku untuk memilih filmnya.
"Silahkan pilih." Ucap penjaga tiket.
"Mm, film ini." Ucapku sambil menunjuk film action kesukaanku itu. Kun pun ikut melihat pilihanku itu.
"Ini sudah habis untuk hari ini, adanya hari senin, jam delapan pagi dan dua belas siang." Aku mengernyit.
"Si*al!! Filmnya laris banget!! Gue jadi kehabisan tiket, harusnya tadi gue beli online aja!"
"Kalau dua puluh menit lagi adanya film apa ya?"
"Dua puluh menit lagi adanya film ini, dan ini.." Ucap mbak tiket padaku sambil menunjuk film kuntilanak dan dia adalah melonku.
"Gue pilih yang.."
"Ini!!" Seru Kun sambil menunjuk film temannya itu.
"Yang mana?"
"Ah, ini." Aku menunjuk apa yang baru saja di tunjuk oleh Kun. Film kuntilanak.
"Nonton sendirian ya?"
"Berdua!" Sahut Kun.
"Iya, sendiri!" Sahutku.
"Silahkan pilih mau duduk di mana."
"Di sini." Tunjukku random.
"Lima puluh ribu." Aku memberikan uangku. Dan mbak ini memberikan tiketnya padaku.
"Silahkan tunggu di lantai F ya."
"Terimakasih." Ujarku seraya berbalik.
Namun tanpa sengaja, aku menabrak seorang wanita di barisan belakangku. Ia tak sampai jatuh, tapi tak enak rasanya, terlebih dia sudah sedewasa itu. Mungkin umurnya tidak jauh beda dari ibu.
"Ah!! Maaf tante!!" Seruku panik. Ia nampak sedikit kaget begitu bertemu pandang denganku, namun secepat kilat, ia segera mengubah raut wajahnya di depanku.
"Tante yang minta maaf, tante gak liat kamu." ucapnya seraya berjalan ke meja tiket. Aku pun mengangguk seraya meninggalkannya.
"Kamu tidak bayar tiket saya?" Tagih Kun ketika aku hendak berjalan menuju lift.
"Buat apa? Lagian juga elu gak kelietan!"
"Nanti saya duduk di mana?" Aku langsung menatapnya.
"Di kepala orang, kan bisa." Singkatku sambil meninggalkannya yang masih terbang mematung.
"Jahatnyaaa~ padahal dia yang mengajari saya, tidak boleh duduk di kepala orang!" Gerutu Kun sambil menatap punggungku.
"Ayo!! Bentar lagi filmnya mulai!!" Ajakku. Kun pun menyusulku.
Kami telah sampai di ruang F setelah menaiki lift. Aku membeli popcorn dan juga ice lemon. Kami menunggu beberapa saat, sebelum mbak-mbak datang untuk merobek kertas tiket kami dan memeriksa isi dari tas kami.
Ia juga menyuruh kami masuk dan duduk di bangku masing-masing, sesuai dengan tiket yang kami beli tadi. Menuntun kami masuk ke dalam satu-satu.
Beberapa cuplikan iklan sebelum film di mulai pun di putar. Lampu utamanya masih belum di padamkan. Kun duduk di atas senderan kursi milikku. Aku menunggu sambil memakan popcorn yang tadi ku beli.
Tak berselang lama, lampu utama pun di matikan. Tanda kalau film segera di mulai. Cerita awal mulai di jelaskan, dan seperti biasa, adegan mengejutkan membuat perempuan di dalam bioskop berteriak kencang.
Aku mendongak, melihat bagaimana reaksi Kun terhadap film tersebut. Ku lihat dia sangat tegang, apa dia takut? Itu kan film teman-temannya.
Ada adegan kuntilanak memakan ar*-ari, dan ku lihat Kun meringis. Apa karena dia kuntilanak pemakan bunga, jadi dia merasa adegan pada bagian itu seram? Namun seketika Kun tersentak, matanya terbelalak, diiringi dengan berdenyutnya nadiku. Pori-pori tanganku kembali membesar, menyebabkan bulu-bulunya berdiri.
"Itu, hantu yang di dalam film, ada di sini!!" Ucap Kun hingga membuat jantungku terjeda sesaat. Yang benar hantunya ada di sini?
"Dimana?" Gumamku pelan sambil menoleh ke segala sisi, dan tanpa sengaja aku menampik tangan seseorang yang berada di sampingku.
"Ah, maa.." Perkataanku terhenti, ketika kembali bertemu tatap dengan seorang wanita.
"Oh, maaf! Tidak sengaja." Ucapku sambil menatapnya. Dia adalah wanita yang tadi ku tabrak di meja tiket. Ia hanya terdiam, dan tak begitu memberikan aku respon yang bersahabat seperti sebelumnya. Aku pun mengabaikannya.
"Kamu lihat bangku yang kosong di depan sana?" Tanya Kun. Aku pun mengangguk.
"Sepertinya bangku itu di khususkan untuknya!"
"Yang benar? Kenapa dia menonton di sini juga?"
"Tentu saja, jangankan di buat film, di bicarakan saja, kami akan muncul di dekat kalian!" Aku mengernyit masam.
"Dan kalau kamu bisa melihat, di dalam sini.. Kuntilanaknya ada ratusan, bahkan lebih banyak dari pada jumlah manusia yang menontonnya." Ucap Kun, hingga lagi-lagi membuatku tercekat. Aku jadi kesulitan menenggak ludahku sendiri.
Pantas saja ya, setiap menonton film hantu, pasti merinding deh bawaannya. Ternyata mereka semua juga hadir ya?
Aku mengalihkan pandanganku pada Kun lagi, dan melihat ia sedang menutup telinganya. Ia mendengar suara apa sih?
"Mereka tertawa.. ada juga yang menangis.. berisik!" Keluh Kun sambil mengernyit dan menutup matanya. Ku lihat dari telinganya keluar darah.
Kenapa?
Ada apa?
Apa seberisik itu kah suara mereka? Untung saja aku tidak punya kemampuan indigo, jadi tidak bisa mendengar suara mereka meskipun aku bisa merasakannya. Bulu kudukku berdiri sejak tadi.
...
Film pun berakhir. Beberapa orang mulai meninggalkan ruangan ini. Ku lihat Kun hanya terdiam sambil menunjukkan wajah yang masam beberapa kali.
"Lihat!! Si bintang filmnya sombong!!" Keluh Kun. Apa maksudnya adalah si kuntilanak itu?
"Dia bilang dia populer di kalangan kami!!"
"Hah?" Aku melongo mendengarnya.
"Kenapa sih tidak bikin cerita kuntilanak lelaki saja?"
"Mana gue tahu, penulis filmnya udah bikin yang kayak gitu!"
"Kalau gitu nanti kamu yang buat cerita tentang saya, saya kan ada! Biar orang tahu!"
"Gue kan bukan penulis! Mana bisa buat cerita begitu!"
"Bisa!!"
"Lu cemburu ya?? Mau ngetop juga kayak mbak kunti?"
"Tidak tuh," Balas Kun, padahal aku tahu dia cemburu.
"Udah keluar semua nih orang-orangnya.. Ayo balik!" Ucapku seraya beranjak dari kursiku.
"Duluan aja ya!! Saya mau minta tandatangan mbak kunti dulu!" Ucap Kun seraya terbang ke arah depan. Ia meniruku memanggil temannya dengan nama mbak kunti.
"Kelihatan cemburu, tapi mau minta tanda tangan juga! Dasar setan!!"
.
***
.
Aku berada di lift bersama beberapa orang. Aku sejak tadi gelisah, di mana kini Kun berada? Apa dia sedang antri minta tanda tangan? Tapi lama sekali ya..
"Agam!!" Kejutnya padaku. Aku kian tersentak mendengar suara dan melihat Kun datang secara tiba-tiba di hadapanku. Aku melotot, menatapnya dengan sengit.
"Tanda-tangan!" Ucapnya sambil memamerkan sebuah kain putih dengan bekas cakaran berupa bercak darah di atasnya.
"Ini baju mbak kunti! Jadi tidak akan terlihat manusia!" pamer Kun dengan bangganya padaku. Ia pun menyimpan kain tersebut di antara bajunya.
Tiba-tiba saja Kun tersentak dan raut wajahnya berubah.
"Bau ayahmu!" Ucap Kun sambil melihat ke arah pintu lift yang terbuka. Seseorang segera keluar dari dalam lift tersebut sebelum pintunya tertutup.
"Bau ayahmu, memudar?!" Singkatnya lagi bertepatan dengan menolehnya wanita yang baru saja keluar tadi. Pintu lift pun tertutup, seolah menahan pandanganku dari wajah wanita itu.
Tapi tunggu dulu.. wanita itu kan??
Yang ku tabrak di meja tiket? Yang ku senggol di sampingku saat di dalam bioskop? Dan sekarang, ia satu lift denganku, padahal sejak tadi aku menunggu lumayan lama di dalam sana bersama Kun.
Apa jangan-jangan, wanita ini....
.
"Kun.." Bisikku.
"Ya?"
"Gue mau nanya.."
"Apa?"
"Lu bisa baca isi hati orang lain kan?"
"Kenapa?"
"Apa dari tadi, ada yang ngikutin gue?"
Ku lihat Kun hanya terdiam. Ia memutar bola matanya perlahan, dan terhenti tepat padaku.
"Ada!"
Ternyata benar.
"Dia itu.. sudah mengikutimu,"
"sejak aku ada bersamamu!"
"Apa?!" Aku tersentak dan mataku terbelalak.
Maksud Kun... apa?
.
.
.
Bersambung..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 257 Episodes
Comments
Ira Resdiana
sopan banget setan nya /Grin//Smirk//Sly/ pake acara permisi segala 😄
2024-09-19
0
Zuhril Witanto
apa tuh perempuan selingkuhan nya bapak Agam
2024-02-18
0
Zuhril Witanto
🤣🤣🤣🤣🤭
2024-02-18
0