Pemandangan rumahku tampak hening dari luar. Ku dengar suara ibu-ibu yang bergosip sambil berbelanja sayur di sekitar halaman luar rumahku seperti hari-hari biasanya. Tukang sayur suka sekali berhenti dan mangkal di depan rumahku. Aku yang tengah memandang ke arah luar jendela pun menatap kembali penampakkan yang ada di hadapanku.
“Mau tidak?” Tanyanya lagi.
“Jelaskan.” Singkatku. Aku juga penasaran dengan tuan dan senjata yang ia maksud.
“Hn.. kamu tahu kan apa itu benda keramat?” Aku mengangguk.
“Benda keramat itu, adalah benda yang memiliki penunggunya."
"Biasa di bilang orang-orang sebagai benda yang angker...” Kun menoleh ke arah luar jendela. Mungkin karena sejak tadi aku memandang ke sana.
“Dan gudang itu adalah tempat saya di bunuh.. jadi tempat itu juga menjadi angker. Karena saya lah penunggunya.” lanjutnya.
“Angker apanya? Penunggunya gak serem sama sekali.” Gumamku dalam hati. Ia mulai berdiri dan melayang ke arah jendela.
“Tempat angker itu adalah kediaman saya, jadi ketika ada orang lain masuk, saya akan merasa terganggu.. sama hal nya juga dengan para manusia. Jika ada tamu yang datang dan berbuat seenaknya, kalian juga pasti akan merasa terganggu kan?” Aku mengangguk, karena perkataannya itu benar.
“Saya ingat, waktu itu kamu datang sendiri, jam dua belas malam. Awalnya mau saya bunuh, tapi saya ingin lihat apa yang kamu lakukan.” Aku menenggak ludah mendengarnya. Jadi dia ini akan membunuh siapa saja yang mengganggunya ya? Beruntungnya aku, dia tidak bisa membunuhku. Entah itu benar atau tidak, setidaknya dia tak membunuh atau mencoba menyerangku ketika pertama kali bertemu.
“Saya lihat kamu menandatangani lukisan saya dengan tinta darah, lalu kamu juga bersiul dengan lagu yang biasa saya siulkan semasa hidup dulu. Lagu wajib nasional ‘syukur’. Kebetulan sekali, cuma itu lagu yang saya suka dan saya tahu.” Aku mengernyit. Aku memang bersiul lagu itu, karena cuma lagu itu yang tiba-tiba terlintas di pikiranku. Tak ada yang khusus. Apa siulan itu juga yang menyelamatkanku?
“Saya pikir kamu mengerti saya. Lalu saya biarkan kamu menandatanganinya. Saya ingin lihat apa lagi yang kamu inginkan.”
“Besoknya kamu datang lagi, saya pikir kamu mau mengambil saya.. karena kamu sudah mengadakan perjanjian tertulis dengan saya. Tapi ternyata, kamu membawa banyak orang.. tertawa dan berisik.. saya terganggu.. saya masuk ke badan kamu, tentunya untuk membunuhmu.. Kamu lancang dan kurang ajar!!” Geramnya. Aku bergidik mendengarnya, namun Kun tiba-tiba saja terdiam.
“Tapi tidak bisa.” Lanjutnya lemas.
“Saya tiba-tiba saja bisa keluar dan menempel padamu. Selama enam belas tahun saya terkunci dan terbelenggu. Ketika saya terlepas, saya ikuti kamu sampai pulang ke rumah.”
“Jadi kamu tuan saya. Kamu telah mengadakan perjanjian dengan saya. Saya bisa ikut kamu kemana pun.” Terangnya sambil berbalik menatapku.
“Kamu bisa gunakan kekuatan saya...”
“Tapi dengan satu syarat.” Aku tertegun mendengarnya. Lambat-lambat ku kernyitkan alis hingga bertautan.
“Syarat apa?”
“.... Kita,
Harus menyatu.” Aku terperangah mendengarnya. Kedua mataku terbelalak dan terbuka lebar. Aku kaget bukan kepalang.
“Apa maksudnya itu?”
“Me.. menyatu apanya?” Aku memundurkan langkahku darinya.
“Jangan-jangan.. lu ini beneran jelmaan Lucinta luna.” Ia mengernyit bingung.
“Itu siapa? Kuntilanak juga?” sahutnya dengan wajah yang polos.
“Dia mana tahu dengan lucinta luna ya..” Gumamku dalam hati.
“Pokoknya dia lebih horor dari kuntilanak.” Sahutku asal.
“Begitu?”
“Apa kamu sedang berpikiran jorok barusan?” Tanyanya membuatku tersentak. Sedikit sih, sempat kepikiran juga kalau Kun ingin meminta yang tidak-tidak. Apa lagi yang terpikirkan pertama kali kalau mendengar kata dua orang yang harus melakukan penyatuan, kalau bukan hal yang seperti itu kan?
“Ma.. mana mungkin gue berpikiran begitu!” dalihku tergagap.
“Baguslah.”
“Kan baru mau saya jelaskan.. kalau penyatuan yang saya maksud itu adalah...
Pertukaran ludah.” Dan lagi-lagi perkataan Kun membuatku kembali tersedak ludah sendiri. Apa lagi yang ia maksud dan inginkan sih?
“Nah kan bener! Lu ini setan homo ya!!” Ia mengernyit mendengar tuduhanku.
“Kenapa sekarang pikiran manusia seperti setan ya?” Gumamnya hingga membuatku sedikit kesal. Tapi sepertinya dia benar.
“Terus tukaran ludah apanya yang elu maksud? Lu mau kita ciuman kan?” Terka ku, hingga membuatnya mendecakkan lidah tiga kali.
“Memangnya saya pernah bilang ciuman?” Aku tertegun.
“Saya bilang pertukaran ludah, bukan ciuman!!" Sahutnya kesal.
“Bedanya apa?”
“Beda! Kamu sering lihat manusia yang ketempelan hantu kan.. misalnya karena mereka meludah atau pipis sembarangan?”
“Biasanya, ludah dan air seni mereka itu di makan hantu, makanya jangan pipis dan meludah sembarangan! Nanti kalian malah tanpa sengaja jadi menyatu.” Aku mendengus menahan tawa.
“Begitu? Pantas saja, kalau ada yang meludah di tempat angker, biasanya sering kesurupan atau yang macam-macam lah.. seperti ketempelan juga.” Gumamku lagi dalam hati.
“Terus apa untungnya melakukan penyatuan begitu?” ia terdiam mendengar pertanyaanku. Ia menengadahkan kepalanya ke atas sesaat.
“Kalau kamu memakan ludah saya, kamu bisa memiliki kekuatan saya, kalau saya memakan ludahmu, saya bisa merasakan perasaan manusia. Tapi, ada baiknya kalau saling bertukar kan.” Jelasnya.
“Jadi.. ayo sekarang, lakukan.” Ucapnya sambil menghampiriku.
“Berikan saya ludahmu.” Pintanya, terdengar seperti sedikit memaksa padaku. Aku hanya menghela napas panjang. Dan duduk di ujung tempat tidurku sambil menumpu tubuhku dengan kedua tangan yang ku letakkan di belakang.
“Kalau gue gak mau?” Kun terdiam. Ia mengernyit dengan kedua mulutnya yang tertutup rapat.
“Lu tetep sama gue, tapi gue gak mau kita menyatu. Lagian buat apa juga gue punya kekuatan elu, dan apa elu pengen ngerasain jadi manusia? Manusia gak enak kok, setengahnya setan setengahnya siluman.”
“Bukan berarti gue ngusir lu kok.. lu masih bisa ikut gue.” Ucapku hingga membuat Kun mengubah raut wajahnya menjadi lebih baik dari pada sebelumnya.
“Yasudah.” Balasnya mengalah.
....
Setelah bercerita cukup lama padanya, aku pun mengambil ponselku. Harusnya aku istirahat sekarang, tapi ku rasa tubuhku sudah normal dan sehat-sehat saja. Apa karena sudah minum obat? Atau karena tubuhku mulai bersahabat dengan makhluk ini?
Aku berbaring di kamar sambil memainkan ponsel, dan mencari tahu mengenai kuntilanak laki-laki di google. Di sana, aku membaca kalau mereka memang ada. Kalau kuntilanak perempuan menyukai lelaki, ku kira kuntilanak lelaki juga menyukai perempuan, tapi ternyata mereka juga suka dengan lelaki. Apa jangan-jangan karena menyukaiku, jadi Kun ingin ikut denganku?
Aku pun menoleh ke arah Kun yang sedang duduk bersila, melayang di depan lemari komikku. Ia melihat salah satu koleksiku dan mengambil random. Ku lihat ia memegang komik bajak laut.
Kalau di lihat-lihat sih, dia tidak aneh. Tidak seperti suka lelaki, atau menempel-nempel padaku. Dari tadi dia sibuk sendiri, dan kelihatannya hanya tertarik dengan benda-benda milik manusia, seperti komik, laptop, mp3 player, ps, dan juga tv. Mungkin di zamannya hidup, benda itu belum ada ya?
“Agam..” sapanya hingga membuatku melirik.
“Hn.”
“Ini sambungan bukunya mana?” aku pun beranjak duduk mendengarnya. Menatap komik yang sedang ia pamerkan padaku.
“Oh, itu lu baca yang baru terbit. Palingan edisi terbarunya minggu depan. Tapi kalau lu mau baca sekarang, bisa baca di google kok.”
“Google itu apa?”
“Hah?” aku mendesah mendengarnya. Zaman dia hidup belum ada google kah? Bagaimana cara menjelaskannya?
“Gak penting kok.” Sahutku. Aku benar-benar malas menjelaskannya. Pasti ceritanya akan panjang.
“Cerita bergambar ini bagus ya. Kalau kamu pergi untuk membelinya, saya mau ikut. Mau cari cerita kuntilanak superhero.” Ucapnya gamblang, membuatku tertawa geli saking lucunya.
“Mana ada yang kayak gitu!” Balasku sambil tertawa. Ku lihat ia kembali menaruh komikku ke tempat semula. Sungguh bermartabat sekali setan yang satu ini. Eh, tapi dia kan hantu, bukan setan.
Ia pun kembali melayang ke meja belajarku, dan menatap laptop yang berada di atas sana.
“Ini apa ya? Tv?" tanya Kun sambil menunjuk laptopku.
“Itu laptop.”
“Laptop?” Ia sedikit kaget.
“Sejenis komputer, tapi bisa di bawa kemana-mana. Tahu komputer kan?”
“Woah!! Perasaan waktu itu benda ini sebesar tv tabung.”
“Sekarang komputer juga udah pake LCD, bukan tabung lagi. Jadi lebih tipis.” Ia mengalihkan tatapannya padaku.
“Itu apa?? Yang di tanganmu?”
“Ini?” Tanyaku sambil menatap ponsel yang ada di tanganku.
"Iya, sejak tadi kamu menatapnya. Apanya yang bagus dari benda persegi panjang itu? Terus itu apa?"
“Ini ponsel. Mirip telepon, tapi bisa di bawa kemana-mana juga.”
“Woah, pantesan tidak ada kabel.” Sahutnya takjub.
"Tapi kamu tidak menelepon siapa pun? Atau kamu sedang mengirim pesan pada seseorang?" Aku terdiam mendengarnya. Yaa, zaman dia kan belum ada medsos. Jadi yang dia tahu, fungsi telepon ya untuk menelepon dan mengirim pesan saja.
Tapi gila ya.. dia benar-benar hantu yang lucu. Pertanyaannya unik-unik. Aku yang selalu sendirian karena anak tunggal pun jadi merasa punya adik. Kalau ku tunjukkan cara menyetak gambar dari laptop ke printer, pasti dia kaget sekali. Haha! Kok bisa gambar keluar dari kotak itu.. pasti komentarnya begitu.
Krururuk..
Tiba-tiba saja perutku berbunyi. Lapar sekali. Memangnya sekarang sudah jam berapa sih?
Aku pun melihat jam yang ada di ponselku. Pantas saja lapar, ini sudah hampir jam dua belas siang. Waktunya makan siang, sebelum shalat dzuhur. Aku beranjak dari tempat tidurku, membuat Kun menatap ke arahku.
“Mau kemana?”
“Makan.” Sahutku sambil berjalan keluar. Ia pun mengikutiku keluar kamar. Aku berjalan ke dapur, dan ia menghentakkan kakinya menuruti langkahku. Mungkin seperti ini yang ia lakukan pagi tadi, sampai-sampai aku merasa takut dan risih. Dasar!
***
Kun menatapku tak berkedip. Ia melihatku makan dengan lahapnya. Apa ia juga mau makan? Apa ia juga bisa merasakan lapar? Dari pada penasaran, sebaiknya aku cari saja di google, apa makanan dari hantu ini.
“Saya lapar juga.” Ucapnya tiba-tiba hingga membuatku tersedak.
“Hantu makan juga?”
“Memangnya kamu pikir sesajen itu buat apa? Buat kasih makan curut?" Sahutnya ketus.
“Yaudah, makan sama-sama.” Ucapku hingga membuatnya meringis melihat makananku. Ekspresi apa itu? Jijik atau tidak nafsu? Padahal makanan mereka lebih seram dan menjijikkan dari pada makanan manusia kan? Dasar, setan!
“Saya tidak makan itu. Terus itu apa lagi? Yang kotak-kotak?” tanyanya penasaran sambil menunjuk ke arah tempe goreng di atas piring.
“Ini juga, kenapa ayamnya di buat begitu? Keras? Ayam mentah yang masih hidup kan enak, tapi saya gak makan itu.”
“Ini namanya ayam goreng! Lagian tau ayam mentah enak dari mana? Lu aja gak makan itu!” Ia tertawa mendengar ocehanku. Apa dia kira aku bercanda? Aku kan sedang serius.
“Memangnya lu mau makan apa?” Tanyaku kesal. Ia terus mengomentari makananku dari tadi. Menghilangkan selera makan saja!
Belum sempat ia menjawab, aku sudah mendapatkan jawabannya di google. Ponselku langsung terjatuh saking kagetnya, ketika membaca makanan dari jenis Kun ini. Di sini tertulis, kalau mereka memakan buah zak*r. Buah zak*r itu kan? Telorku? Gila.. gak salah? Dengan gemetaran, ku ambil ponsel yang ku jatuhkan di atas meja dan menatapnya.
“Saya suka makan bu...”
"Bu apa?!” Sergapku hingga membuatnya terdiam dan sepertinya sedikit terkejut.
“Buah z*kar kah? Apa bentar lagi dia mau makan punya gue?” Gumamku panik dalam hati.
“....Bunga melati.. mawar juga boleh. Ada?” ucapnya hingga membuatku menghela napas lega. Dasar, ku kira ia mau minta buahku.
“Beneran lu makan itu?” Ia mengangguk.
“Kenapa?”
“Bukannya lu makan buah z*kar ya?”
“Apa itu buah zak*r?”
“Eh, ni hantu pura-pura **** apa gimana sih?”
"Ini loh, telor yang disini!!” Ucapku sambil menunjuk ke arah bawah selangkanganku. Ia mengernyit lalu kembali mendatarkan wajahnya.
“Ada yang makan itu, tapi saya tidak. Lagian dari mana kamu tahu?”
“Bohong ya lu.. entar pas gue tidur, lu makanin juga!”
“Enggak! Manusia kan ada yang vegetarian, nah itu saya, tapi versi hantunya.” Aku menghela napas kasar.
“Yaudah, kalau lu mau makan itu.. kayaknya ada deh di taman.” Ucapku sambil mengajaknya pergi ke taman bersama. Ku lihat dia bisa menyentuh benda-benda manusia, jadi ku suruh dia bantu buat metik makanan dia sendiri. Emangnya dia pangeran di sini, minta di sediain.
“Bunganya banyak.. ibu yang tanam?” Ucapnya seolah sudah benar-benar dekat dengan keluargaku. Padahal baru satu hari dia membuntuti ku.
“Menurut lu? Yakali gue yang tanam.” Balasku sambil memetik bunga dan meletakkannya di atas piring.
“Mawarnya dikit aja, saya lebih suka melati.”
Aku terdiam. Sejak tadi memang ku lihat dia lebih banyak memetik bunga melati ibu ketimbang mawar. Baguslah, kalau mawarnya hilang, pasti bakal ketahuan karena dia berbunga satu satu dalam setiap batang. Kalau melati, ibu pasti gak bakalan tau, karena ada banyak.
“Ini udah?” tanyaku sambil menyodorkan sepiring penuh bunga melati dan beberapa bunga mawar. Ia hanya mengangkat jari jempolnya ke hadapanku.
Kami pun kembali ke dapur dan makan bersama. Ku lihat ia makan dengan lahapnya. Sepertinya makanan Kun memang bunga melati. Baguslah. Kalau yang datang padaku kunti jenis lain yang makan buah z*kar, ****** deh aku. Masak buahku nanti tinggal satu karena habis di makan satu.
.
.
.
*Author POV
“Kok pulang cepet sih Din, kan baru jam lima. Biasanya juga kamu ambil lembur sampe malam.” Ucap salah satu teman kantor bu Dinda, Ibu Agam.
“Yah, mau gimana lagi Jeng, anak saya lagi sakit.”
“Anakmu? Si ganteng Agam?”
“Iya.. dari kemarin mukanya pucet. Kalau di tanya jawabnya pasti gak apa-apa. Mau di anterin ke rumah sakit juga dia gak mau.”
“Ya iyalah Din. Anak udah gede kok mau di temenin gitu. Risih lah dia. Entar di ejek temen-temennya loh, kalau Agam anak mama.”
“Iya sih.. tapi yang namanya orang tua, mau gimana pun juga pasti tetep nganggep anak bujangnya masih kecil.”
“Aduh Din, anak ku udah nikah semua sih, jadi pengen punya anak remaja tanggung lagi.”
“Ya bikin aja dong Jeng.”
“Eiih, kamu Din.. Gak lah, dua anak juga cukup.” Ibu Dinda hanya tertawa mendengarnya.
“Yaudah, aku balik duluan ya Jeng.”
“Hati-hati Din.”
*Author POV End
.
.
.
Aku berada di depan meja komputerku. Seperti biasa, meskipun aku tidak sekolah, aku harus tetap belajar. Aku yang sedang belajar tiba-tiba saja mendapat telepon dari Maxim. Tumben-tumbenan dia meneleponku. Biasanya tidak pernah.
“Males juga ngangkatnya, mana pas gue lagi belajar lagi.” Gumamku sambil mengecilkan volume ponsel milikku.
Tak lama kemudian, dari arah luar terdengar suara teriakkan ibu. Aku pun mengernyit dan dengan sigap keluar dari dalam kamarku untuk menemuinya. Apa yang ia lihat sampai berteriak sekencang itu? Lihat ular masuk pekarangan rumah kah?
“AGAM!! GAM!!” Pekik ibuku, terdengar begitu panik.
“Kenapa bu?” Tanyaku sigap ketika telah berada di depan rumah.
“Ini loh Gam, kok bunga ibu jadi gini?” Tanya ibuku panik sambil terus memperhatikan dan mengelus bunga-bunga miliknya. Ku lihat, Kun menyusulku dari belakang. Apa dia kaget juga karena ibu teriak-teriak?
“Emang bunganya kenapa bu?”
“Ini loh.. mawarnya hilang lima, melatinya juga pada kemana? Pagi tadi di sebelah sini masih banyak!” Kata ibu hingga membuatku tersedak. Gila, sampai jumlah dan letaknya pun ibu tau. Memang, manusia yang bernama ibu ini serba tahu ya, jadi susah untuk dibohongi.
“Perasaan emang kayak gitu deh bu dari kemarin. Gak hilang.”
“HILANG!!”
“Ibu tahu kok. Ibu yang siram tiap hari, jadi ibu tahu kalau ini hilang.” Aku mengernyit sambil menoleh ke arah Kun, dan kembali menatap ibu.
“Agam.. gak tahu bu.”
“Hah!! Jangan-jangaaaan...” Wajah ibu seketika berubah panik.
“Ibu tahu!! Ibu tahu siapa pelakunya!!” ucap ibu dengan kedua mata yang terbuka lebar.
“Yang makan ini, pasti hantu lelaki putih yang semalam ada di depan kamarmu!” aku terkesiap kaget mendengarnya. Aku langsung menoleh ke arah Kun yang sedang memasang wajah datar ke arah kami.
“Da.. dari mana ibu bisa tahu?”
“Kalau yang makan bunga-bunga ibu, adalah Kun?” Gumamku dalam hati.
.
.
.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 257 Episodes
Comments
V.I.A
dsr cwok, se sholeh2 apapn cwok pst jg pkrnnya sll jorok
hadeh, mas Agam mas Agam 🤦♀️
2024-09-22
0
Zuhril Witanto
🤣🤣🤣di kira jeruk minum jeruk
2024-02-16
0
Khalifatinadhwa Adhwa
gammm 😭 ngakak
2024-02-15
0