Trek..
Bunyi suara pintu berderit. Seseorang membuka pintu kamarku. Aku yang masih terduduk di depan meja belajar dan menghadap komputer langsung menoleh ke arah pintu. Ku dapati ibuku sedang menatapku dengan ragu. Ia hanya menjulurkan kepalanya saja, dengan tubuh yang masih berada di balik pintu.
“Kenapa bu?” Tanyaku heran dengan raut wajah tegang.
“Mmmm..” Ibuku mengernyit sambil melirikkan matanya ke sisi samping sesaat, lalu kembali menatapku sambil membuka pintu kamarku seluruhnya. Ia masuk lalu menghampiriku.
“Kamu mandi air panas ya.. udah ibu siapin.” Aku mengernyit, menatap ibu yang membawa ceret berisi air panas ke kamar mandiku.
“Kok tumben?”
“Udah ibu siapin.. tinggal mandi aja. Ya..” Aku pun mengangguk. Ibu tersenyum cepat lalu pergi dari dalam kamarku. Jujur, aku melihat tatapan ibu lebih kepada sebuah kekhawatiran padaku.
Ada sesuatu yang tidak ku sadari. Aku pun menoleh ke arah jendela kamar, dan mendapati hari masih gelap. Ku alihkan tatapanku pada jam di meja belajarku. Ternyata sudah masuk waktu subuh. Jadi semalaman aku tidak tertidur dan terjaga. Beberapa menit setelah lukisanku tumbang disertai dengan padamnya listrik di rumahku, aku segera menyembunyikan kanvas berisi pesan tertulis itu. Tak lama setelahnya lampu kembali menyala.
Bagaimana aku bisa terlelap, aku terus kepikiran pesan yang langsung tertulis setelah aku melukis dan mengajaknya berbicara. Jadi.. apakah Dia itu benar-benar ada? Sepertinya dia memang ada.. dan apa maksud pesan darinya? Kenapa dia mengajakku untuk sama-sama membunuh pelakunya?
Dan satu hal lagi yang membuatku tak bisa tidur adalah.. apakah hari ini adalah hari kematianku? Bukankah Max bilang, kalau hidupku tinggal satu hari lagi? Setelah aku mengalami kejadian nyata ini sendiri, aku jadi tidak bisa menganggap perkataan Max sebagai hal yang remeh belaka.
Trek...
Pintu kamarku kembali terbuka. Dan lagi-lagi ibu mendatangiku.
"Belum shalat subuh, nak?" Aku terdiam meskipun tak sedang melamun.
"Habis mandi, bu." sahutku.
“Belum mandi juga?” Aku terkesiap. Dengan segera aku beranjak dari tempat dudukku dan mengambil handuk yang berada di dekat samping pintu toilet kamar. Aku masuk ke dalam kamar mandi tanpa menghiraukan lagi ibuku yang masih menatapku dengan raut bingung dan khawatir.
Aku berjalan perlahan ke kamar mandi, dan menggantung handukku di cantelan dinding. Aku terdiam cukup lama, menatap uap air panas yang membuat cerminku berembun. Harusnya aku segera memandikannya, sebelum air itu kembali dingin. Di sela-sela menggosok gigi, aku memandangi wajahku sendiri di dalam cermin.
Pernah tidak kalian terus-menerus memandangi wajahmu sendiri di cermin? Tanpa berkedip? Apa yang kalian lihat? Apa yang kalian rasakan? Kenapa semakin lama aku menatap wajahku sendiri, rasanya wajahku berubah tua dan mengerikan. Tatapan mata yang mengerikan. Seperti orang lain...
Saat sedang asik saling tatap dengan diriku sendiri, cermin di kamar mandiku tiba-tiba saja retak. Padahal tidak ku sentuh sama sekali. Aku terkesiap kaget dan mundur beberapa langkah. Aku mengernyit. Aku bingung, kenapa juga cerminku tiba-tiba saja pecah? Aku menelisik, menatap cerminku lekat-lekat dalam jarak beberapa langkah. Takut serpihan kaca tersebut akan mengenaiku.
Segera aku berkumur dan menyirami tubuhku dengan air hangat. Menyikat tubuhku dengan sabun dan keramas. Setelah menghilangkan semua busa di tubuh, aku segera mengeringkan tubuhku dengan handuk dan tidak lupa mengambil wudhu sebelum keluar dari kamar mandi. Aku menarik gagang pintu dan membukanya.
“Suara apa itu Gam?” Tanya seseorang yang telah berdiri di depan pintu kamar mandi hingga membuatku terperanjat kaget. Jantungku hampir melompat ke luar. Aku terkejut sekali melihat ayahku telah berdiri di depan pintu. Aku mengusap dadaku yang berdegup kencang, menatap ayahku dengan mata yang terbelalak sambil bernapas terengah-engah.
“Kenapa kamu? Kaget Gam sama ayah?” Tanya ayahku heran. Kakiku tiba-tiba saja lemas saking kagetnya.
“Ayah kok tiba-tiba muncul gitu?!”
“Tadi ayah masuk ke kamar kamu, tapi gak sengaja denger suara benda pecah di dalam sana.. kamu ngapain sih?” Aku tercekat mendengarnya.
“Mandi lah yah.” Singkatku.
“Gak nganeh-nganeh kan?” Aku mengernyit.
“Maksud ayah?”
“Minggir, ayah mau cek kamu abis ngapain!” Ucap ayahku sambil mendorong pelan tubuhku menjauhi pintu. Aku pun menatap ayah yang mulai masuk ke dalam kamar mandiku.
“Gam.. Agam!” Panggil ayah dari dalam.
“Hn?”
“Kamu nulis apa di dalam sini?” Tanya ayahku hingga membuatku mengernyit dan buru-buru masuk ke dalam kamar mandi untuk melihatnya.
“Apa yah?” Tanyaku sambil menatap ayah.
“Udah hilang, tapi kayaknya kamu nulis sesuatu pas kacanya berembun.” Gumam ayahku sambil menahan satu tangannya di dinding dan memperhatikan cerminku lekat-lekat.
“Nulis? Agam gak nulis kok yah.”
"Masa' sih.. Tapi ini apa?" Tunjuk ayahku pada sebuah bekas sidik jari yang telah memudar karena uap yang kian menghilang. Aku mengernyit, berusaha mengartikan guratan yang nampakknya membentuk sebuah tulisan.
"Kok bisa retak ya?" Gumam ayahku ketika tak mendapat jawaban.
"Ini berembun?"
“Kamu mandi air panas ya?”
“Ibu yang suruh.”
“Oh, mungkin aja kacanya udah lama dan tipis, jadi pas kena uap panas jadi pecah.”
“Nanti ayah ganti yang baru.” Ucap ayahku sambil keluar dari kamar mandiku.
“Cepetan ganti baju trus shalat, ibu udah siapin sarapan di dapur.”
“Oke, yah.” Ayahku pun keluar dari dalam kamar.
Karena penasaran, aku kembali masuk ke dalam kamar mandiku. Menatap cermin yang sudah retak, namun masih tetap tertempel di dinding. Aku menilik, memang seperti ada bekas sidik jari.. tapi tulisannya tidak tahu apa.. Aku mengernyi dalam.
Aku pun mendekat ke arah kaca, namun tiba-tiba tubuhku nyaris terpelanting ke belakang karena reflek menghindar dari kaca yang pecah. Aku terkejut dengan serpihan cermin yang terlepas dari dinding.
Hampir saja itu menghantam wajah dan kepalaku, kalau seandainya aku tidak sigap dan menghindar. Mungkin sudah ada darah yang berceceran dari wajahku. Aku melihat pecahan cermin itu di atas lantai. Apa dia benar-benar mau membunuhku?? Ini pasti ulahnya kan?
“Gam.. apa lagi itu?” Teriak ibuku dari arah dapur. Mungkin saja ia kedengaran suara pecahan kaca ini.
“Gak, bu..” Ucapku sambil keluar dari dalam kamar mandi. Aku segera melaksanakan shalat subuh, dan mengaji.
Buru-buru aku memakai seragam sekolah dan bergegas ke dapur. Sepertinya ayah dan ibu sudah menungguku sejak tadi di situ.
Dan benar saja, ku lihat mereka duduk berdua dengan wajah yang tegang, membiarkan makanan yang ada di hadapan mereka menjadi dingin. Aku menggerek kursi dan duduk di hadapan mereka.
“Semalam mati lampu bu.” Ucapku berbasa-basi sambil mengambil piring. Ibu menatapku datar sambil menyedokkan nasi ke atas piringku dan piring ayah.
“Iya.. ibu tau.” Aku terdiam sambil menyomot beberapa tempe goreng di atas meja. Dan menyirami nasiku dengan kuah sayur bayam.
“Kamu semalaman gak tidur kan?” Ucapan ibu membuat tubuhku mematung. Aku melirikkan mataku memandangnya.
“Makanya ibu suruh kamu mandi air panas.. kalau enggak, nanti kamu bisa demam.”
Keheningan tercipta di dapur kami. Aku menenggak ludah sebelum melanjutkan.
“Ibu.. tahu dari mana Agam gak tidur?” Ibu menghela napas. Menatap nasi yang ada di hadapannya.
“Semalam ibu keluar kamar buat nyalain lilin di kamar ibu, di ruang tengah, sama di kamar kamu. Tapi...” Perkataan ibu menggantung, membuatku penasaran saja.
“Tapi kenapa bu?”
“Apa kamu gak ngerasa ada sesuatu yang aneh di dekat kamu gitu?” Aku menggeleng.
“Enggak.”
“Tapi kok, ibu kayak ngeliat sesuatu di depan pintu kamar kamu..” Ucap ibu hingga membuat tubuhku merinding seketika. Mimik wajahku langsung berubah, dan ku harap.. ibu dan ayah tak menyadarinya.
“Maksud ibu?”
“Iya.. maksud ibu, ibu liat sesuatu di depan pintu kamar kamu pas ibu mau bawain lilin. Ibu kira, ibu salah lihat.. tapi, pas ibu ngeliatnya dengan seksama, dia bergerak, dan masuk ke dalam kamar kamu..” Aku tersentak, nyaris tersedak ludahku sendiri.
“Ibu coba ngedeket ke kamar kamu, ibu liat.. ada penerangan di dalam kamar kamu. Lampu hp.. jadi pasti kamu belum tidur kan?” Aku terdiam. Tentu saja aku belum tidur, karena waktu itu.. aku kan sedang melukis anak yang meninggal itu.
“Tapi.. badan ibu waktu itu rasanya jadi gak enak. Panas dingin.. ibu juga merinding, jadi ibu takut banget buat masuk ke dalam kamar kamu.” Terang ibu lagi.
Aku menghela napas lega. Setidaknya ibu jadi tidak tahu pesan yang tertulis di atas kanvas. Kalau saat itu ibu langsung masuk, pasti dia juga akan terkejut melihat lukisanku di lumuri pesan darah seperti itu.
“Kok kamu kayak lega gitu, Gam?” Tanya ayah hingga membuatku tersentak. Ternyata sejak tadi ayah diam sambil memperhatikan ekspresiku.
“Lega apanya yah? Gak kok.”
“Ibu.. salah liat kali karena terlalu takut.. Agam gak ngerasa apa-apa tuh.”
“Ibu gak salah liat kok.” Timpal ayahku.
“Pas pulang kerja, dan kamu masih tidur di kamar.. ayah juga liat apa yang ibu kamu liat..” Aku mengernyit.
“Dia berdiri di depan pintu kamar kamu.”
“Ayah lihat juga?” Tanya ibuku takjub.
“Emangnya.. kalian liat apa sih?” ibu dan ayah terdiam. Mereka saling menatap satu sama lain, kemudian kembali menatapku.
“Laki-laki pakai baju putih.. rambutnya juga putih.” Ucap ayah dan ibu serentak.
“Kakinya gak napak.” Tambah mereka lagi. Jujur, perasaan aneh tiba-tiba menyeruak dalam diriku. Membuat sekujur tubuhku menggigil dan gemetaran. Aku terdiam, dan ku rasa darah kesulitan mengalir di wajahku. Ku mohon jangan buat wajahku pucat pasi. Kedua tanganku dingin, tapi tengkukku malah panas dingin.
Laki-laki berambut putih? Berbaju putih? Itu kan.. itu kan.. itu kan lukisan yang ku gambar semalam? Apa dia ada di sini? Apa dia mengikutiku kesini?
Aku pun mengedarkan pandanganku keseluruh ruangan dengan cepat, tanpa menghiraukan ekspresi heran dari kedua orang tuaku yang tengah duduk di depanku. keringat dingin mulai mengucur dari pelipisku, hingga tanpa sadar membasahi poni depanku. Aku menyeka keringatku sendiri sambil bernapas terengah-engah. Sesak sekali rasanya. Jantungku juga berdenyut-denyut diselingi dengan rasa panas dalam sudut perutku. Si*l, aku merasa mual, dan hampir memuntahkan makanan yang baru saja aku makan.
“Kamu kenapa, nak?” Tanya ibu hingga membuyarkan lamunanku.
“Muka kamu kok tiba-tiba pucat gitu? Kamu sakit?” tanya ibu lagi.
Ayah hendak menyentuh dahiku, namun tanpa sadar aku malah menepis tangan ayah sebelum sampai pada tubuhku. Tentu saja hal ini membuat ayahku terkejut, apalagi aku. Karena aku tak pernah melakukan hal seperti itu sebelumnya, kecuali ketika aku dalam keadaan panik dan takut.
“Maaf, yah..” Ucapku ketika menyadari ketidak sopananku padanya.
“Kamu sakit ya?” tanya ibu sambil menempelkan tangannya ke dahiku. Seketika ia menarik tangannya lagi dengan cepat dengan raut wajah kaget.
“Panas banget!!” Keluh ibu sambil mengusap punggung tangannya.
“Wah.. kalau kayak gini, ibu gak jadi ke kantor deh. Mau nemenin kamu di rumah. Atau kamu mau ibu antar ke rumah sakit?” Aku menggeleng.
“Agam gak apa-apa kok bu.”
“Tapi kamu panas loh.. muka kamu pucat.. kayaknya kamu udah sakit dari kemarin deh.”
“Gak.. Agam cuma gak enak badan aja.. mungkin karena semaleman gak tidur sampai pagi.” Ibu menatapku khawatir.
“Ibu berangkat aja ke kantor. Agam bisa jaga diri kok. Ibu izinin aja Agam ke wali kelas, biar hari ini gak usah sekolah.” Ibu terdiam sesaat.
“Beneran?” Aku hanya mengangguk lemah.
“Lagian ini juga udah hampir jam kerja.. kita harus berangkat.” Ucap ayah seraya beranjak dan menaruh piring bekas makannya ke wastafel. Ibu masih saja menatapku.
“Beneran bu, gak apa-apa.” Ucapku berusaha meyakinkan ibu lagi. Ibu pun tersenyum seraya ikut membereskan piring bekas makanku dan juga piringnya.
“Kalau kamu ngerasa gak kuat lagi, kamu telpon ibu ya.. biar ibu bisa izin, terus nemenin kamu.”
“Gak usah bu.. ibu fokus kerja aja.” Sahutku lagi.
“Bu.. Ayah udah mau berangkat nih..” kata ayah yang sudah berdiri di depan pintu keluar.
“Baik-baik ya nak.. Jangan lupa istirahat dan minum obat. nant ibu telpon lagi.” Ucap ibu seraya mengusap kepalaku sesaat dan pergi menyusul ayah.
Aku mengantar mereka berdua sampai ke depan rumah. Dan melambaikan tangan ketika mereka hendak pergi keluar dari halaman rumah. Di dalam mobil, ibu masih saja menatapku dengan tatapan penuh kekhawatiran. Terkadang ibu lupa umurku sudah berapa, ia masih saja menganggapku seorang anak kecil yang harus di jaga, di rawat dan di temani ketika sedang sakit.
Setelah ku rasa mobil mereka menjauh dan tak terlihat lagi, aku pun masuk kembali ke dalam rumah dan menutup pintu. Entah kenapa, kesendirianku ini rasanya benar-benar mencekam dan sangat menggangguku.
Terlebih ku rasa tubuhku benar-benar merasa tidak enak, apalagi saat ayah dan ibu membicarakan sosok yang mereka lihat di depan pintu kamarku semalam. Apa hal yang ku lakukan semalam malah membuatku memanggilnya? Atau, aku sudah memanggilnya sejak awal, saat aku datang ke gudang?
Sudah dari pagi juga tidak enak.. di tambah cermin di kamar mandiku harus retak dan pecah, padahal tidak ku sentuh sama sekali. Aneh sekali... aku sedikit merasa tenang pagi tadi ketika selesai shalat subuh, apa itu tanda kalau aku harus lebih banyak berdoa? Mungkin saja ibadahku akhir-akhir ini berkurang.. terlebih kemarin aku malah meninggalkan dua shalat wajibku karena ketiduran. Aku tidak pernah melakukan hal seperti itu.. aku juga tidak menyangka kalau aku harus tertidur sampai bangun larut..
Aku berjalan ke arah dapur, menghampiri kotak p3k yang ada di rumah. Aku sudah selesai makan, dan waktunya sekarang untuk meminum obat penurun panas dan demam. Aku pun mengambil satu pil sebesar kuku jempolku. Mengambil segelas air putih dan meminumnya.
Aku harus banyak istirahat sepertinya.. tubuhku lelah beberapa hari ini. Aku menutup keran dispenser setelah menuangkan segelas air tadi. Namun kenapa tubuhku terasa kaku. Mataku mulai melirik sekitar, tanpa membuat kepalaku ikut bergerak.
Rasanya.. rasanya seperti sedang di tatap.. sedang di lihat dan di awasi.. Tapi di mana? Di kanan? Di kiri? Di bawah? Atau di atas? Dengan perlahan aku mengedarkan pandanganku ke seluruh ruangan rumahku yang lumayan besar. Bahkan aku sampai melirik ke bawah dan juga atas langit-langit..
Sepertinya karena terlalu lelah, aku jadi banyak berkhayal.. sebaiknya aku beristirahat dulu.
Aku berjalan menuju kamar, namun seketika aku langsung menoleh ke sisi belakang. Karena perasaanku tidak enak, dan sepertinya aku baru saja menangkap sesuatu yang ada di belakangku. Tapi saat aku berbalik, tidak ada apa pun di sana.
Salah lihat kah??
Tapi kenapa rasanya tidak tenang begini? Aku juga lihat seperti ada sesosok yang sedang berdiri tadi. Segumpal besar, warna putih.
“Si.. Siapa ya?” Gumamku pelan. Yang terdengar hanya suara detikkan jam dinding, deru mesin kulkas dan juga oksigen dari akuarium.
Aku menggelengkan kepalaku sambil menghela napas. Melangkahkan kakiku kembali menuju kamar.
Tap.. tap.. tap...
Suara langkah kakiku, tapi kenapa terdengar suara langkah susulan setelah aku? Aku kembali menggelengkan kepalaku. Suasana di rumah ini entah sejak kapan menjadi sedikit panas sepagi ini. Padahal kelihatannya udara di luar benar-benar sejuk.
Ketika aku melangkahkan kakiku, dan aku kembali tersentak dengan suara benda jatuh dari dalam kamarku. Aku pun bergegas berlari dan membuka pintu kamar.. dan aku terbelalak, melihat apa yang ada di dalam kamarku.. Lagi-lagi sebuah pesan? Bertuliskan..
“Aku bersamamu?”
.
.
.
.
.
Bersambung..
.
.
.
.
Hai readersku tersayang..
aku mau kasih tau pengalaman nyata yang aku alami pas lagi nulis novel K.U.N ini
Kalian tau kan bab bukan lukisan itu? Dimana Agam salah menandatangani cermin yang ia kira lukisan
Aku udah nulis chapter ini jauh2 hari di laptop aku, tanggal 20-06-2020 tepatnya bulan lalu, jadi cerita di mana Agam melihat hantu di cermin sudah ku tulis pada bulan lalu
dan pada tanggal 30-06-2020, aku iseng-iseng chat sama temen aku, karena kami pakai bahasa daerah, jadi chatnya udah aku translate ke bahasa Indonesia, isi chatnya kayak gini
Aku nanya dia ada di kamar ato gak pas malem, tanggal 30-06-2020
niatnya cuma mau nakutin dengan bilang, "Liat cermin deh, ada hantu!"
Tapi gajadi, karena keinget lagi di rumah kakak dan tidur sendirian. Dari pada abis nakutin org malah takut sendiri kan gak lucu ya!
Tapi besoknya, tiba-tiba dia ngirim foto cermin dong, dan ada bayangan serem di foto itu.
Langsung keinget sama bab yang udah aku tulis tentang hantu yang ada di cermin..
Padahal temen aku gak tau sama sekali tentang cerita yg ku tulis..
dan update bab-nya pun bulan ini, tepatnya tanggal 07-07-2020,
sumpah kaget banget sama kebetulan ini!!
dan lagi, tiba-tiba foto yang ke save di memo aku jadi blur, padahal sebelumnya enggak sama sekali, bagus2 aja gambarnya..
tapi pas mau speak tentang ini, dan mau up gambarnya, malah blur kayak gini
temenku udah gak ngesave foto ini lagi, jadi gak bisa minta foto yang kualitas baik tanpa blur T,T
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 257 Episodes
Comments
azey
authornya org Bangka
salken Thor dr lubuk besar
2024-07-20
0
Zuhril Witanto
gambarnya tak skip...takut baca malem2
2024-02-16
0
Zuhril Witanto
serem...
2024-02-16
0