Aku tak bersuara. Berharap agar Kun memberikan aku sedikit waktu untuk diam. Untuk menyerna maksud dari kalimatnya.
Toilet ini memang kosong dan sepi, namun tetap saja terasa ramai dengan berbagai teriakan teman-temanku dari luar.
Aku mendengus kasar. Merunduk seraya meletakkan kedua tangan ke pinggang. Aku menengadahkan kepalaku ke atas sambil mendengus senyum. Ku lihat Kun masih datar menatapku.
"Ada-ada aja lu, kok nyalahin gue?" Ia tak bergumam. Ia masih menatapku dengan datar.
"Jadi kesurupan ini salah gue?" Tanya ku lagi. Sesungguhnya, mengulangi kalimat sampai dua kali itu bukanlah gayaku. Tapi aku berusaha menyangkal apa yang di tuduhkan Kun padaku.
"Kamu harap ucapan saya tadi bohong?" Ucapnya, membuatku mengernyit.
"Tapi saya tidak pernah bohong padamu." Balasnya. Dan sialnya, tatapan matanya tak menyiratkan kalau ia sedang membohongiku.
"Ck!!" Aku mendecakkan lidah sambil memalingkan wajahku dan memunggunginya.
"Kenapa?" Tanyaku sambil merunduk di depan cermin. Kun menatap pantulan wajahku dari cermin.
"Kenapa bisa salah gue?" Lanjutku sambil mengangkat kepala, dan menatap Kun yang terpantul di kaca. Kami saling tatap di pantulan cermin masing-masing.
Sebenarnya hatiku tak karuan, melihat begitu banyak korban yang berjatuhan saja membuatku terasa panik dan khawatir. Aku mengumpat di dalam hati pada setiap hantu di sekolah ini. Tapi, kenapa Kun malah menyalahkan aku atas peristiwa ini? Tentu aku tak merasa ada sangkut paut apa pun.
"Sudah saya bilang kan, jangan kasih perempuan itu makanan saya!" Aku mengangkat alis tinggi-tinggi mendengarnya. Apa itu? Apa aku tidak salah dengar?
Aku mendengus senyum, sambil membalikkan tubuhku menghadap Kun. Menatap wajahnya yang berjarak tak jauh dariku.
"Lu lagi bahas gue yang ngasih Lian bunga?" Kun menelengkan kepalanya namun enggan mengangguk.
"Jadi cuma karena itu, elu ngerasukin mereka semua?"
"Kamu ini idiot!" Balasnya, membuatku tersentak dan tak terima atas ucapannya barusan. Tapi saat ini pikiranku memang sedang kacau, dan aku tak dapat berpikir dengan jernih. Yang ingin ku lakukan saat ini adalah protes pada para hantu. Termasuk Kun.
"Mana mungkin ini ulah saya, ini kan ulah kamu! Kenapa jadi menuduh saya?!"
"Ulah gue dari mana sih?"
Kun menunjuk mataku dengan telunjuknya. Ia menatapku dengan wajah yang sedikit seram saking seriusnya. Tiap ia melakukan itu dan tak menunjukkan wajah lucunya, jantungku terasa berdenyit-denyit. Hantu tetaplah hantu, selucu apa pun mereka, tetap ada sisi menyeramkan yang mereka simpan.
"Kamu ini biawak! Mantan Lian marah!!" Aku mengernyit. Hampir tersedak mendengarnya. Ekspresi menyeramkan yang ia tunjukkan tadi buyar seketika di pandanganku. Dia masihlah lucu.
"Buaya?" Koreksiku padanya. Lagi pula untuk apa aku mengoreksinya. Dia kan sedang mengejekku.
"Iya, itu!"
Aku terdiam sambil merunduk dan menatap ke lantai. Kembali menyerna perkataan Kun barusan. Sepertinya dari kemarin, tepatnya hari sabtu, Kun memang bilang kalau mantan Lian punya niat buruk padaku? Dia juga bilang kalau akan ada badai di hari senin.
"Oh, ini ulah mantan Lian?" Tebakku.
"... tapi, gimana caranya dia manggil setan?"
"Cara klasik." Aku terperangah ketika Kun menjawab.
"..Jailangkung?" Terka ku. Kun pun mengangguk. Aku langsung tersentak hebat. Tak menyangka, di zaman seperti ini, masih saja ada orang-orang kolot yang memakai cara itu untuk memanggil hantu. Dan yang masih membuatku tak percaya adalah..
Kenapa juga hantu mau di panggil dengan cara yang seperti itu?
"Ah!" Desahku kesal.
"Kalau ada masalah sama gue, kenapa dia bawa-bawa banyak orang gini sih? Kenapa gak gue aja?!" Kun mendengus sinis mendengarnya.
"Kamu ini naif!" Singkatnya. Aku langsung menoleh ke arahnya. Benar-benar yaa, kenapa dia selalu berkata dengan pola pikirku. Dia begitu mirip denganku. Itu yang ku rasakan, setiap kali ia mengatakan sesuatu. Perkataan singkat pada lawan bicara, tapi langsung mematikan argumen orang seketika. Ia pendebat yang baik untukku.
"Jelas kamu tujuannya! Tapi kenapa hantu-hantu itu malah merasuki orang lain?" Aku terdiam. Tak dapat menjawab pertanyaan yang di lontarkan Kun padaku. Lebih tepatnya, aku menunggu ia sendiri yang menjawabnya.
"...Karena mereka tidak bisa melakukannya!" Aku tersentak kaget. Bagaimana mungkin mereka tak bisa merasukiku, sementara orang lain bisa. Ada apa? Kenapa? Apa mungkin....
Aku menatap ke arah Kun dengan tajam dan mengintimidasi. Tak sedikit pun alisku terangkat. Memandangnya dengan penuh dugaan yang memenuhi kepalaku. Ia nampak menyadarinya, dan balik menatapku.
"Elu.. ngelindungin gue kan?" Tembakku padanya. Ia tak bergeming, dan hanya menatap malas padaku.
"Kenapa kamu berpikiran begitu?"
"Jelas! Karena lu... mimisan, tepat saat gue ngerasa ada sesuatu yang masuk ke tubuh gue." Ia tersenyum mendengar jawabanku.
"Kamu tahu? Kenapa setiap bicara, kamu terdengar seperti saya?" Lanjutnya. Oh, sekarang apa lagi? Dia malah membalikkan apa yang aku pikirkan tadi. Harusnya aku yang bilang begitu kan?
"Kenapa lu mikir gitu?"
"...Karena kamu benar.. Saya memang melindungimu." jawabnya mengaku.
Ternyata benar kan.
"Tentu saya akan melindungimu dari mereka semua! Tak boleh ada yang masuk ke tubuhmu kecuali saya!" Sahutnya.
"Bahkan, tanpa jadi target pun kamu akan tetap di incar, karena apa?" Aku mengernyit tak paham.
".... Karena kamu.. udah ketempelan makhluk halus!" Seketika aku bergidik mendengarnya, yaa.. meskipun makhluk halus yang di maksud adalah Kun sendiri, tapi aku tetap saja merinding mendengarnya.
"Jadi, dirasukinya teman-temanmu adalah karena mereka gagal memasukimu!"
"Mereka semua marah!!"
"Ke gue?" Tanyaku.
"...Padamu, dan pada saya." Aku lagi-lagi terbelalak mendengarnya. Mereka juga marah pada Kun? Apa jangan-jangan...
"Karena elu ngelindungin gue?" Terka ku.
"Jelas! Bahkan hantu yang sudah mati beberapa ratus tahun yang lalu, yang seharusnya kami hormati pun saya lawan. Saya tidak punya pilihan lain!" Aku mengernyit tak percaya. Apa maksud Kun, hantu yang telah meninggal ratusan tahun itu seperti senior? Jadi harus di hormati dan tidak boleh di lawan?
"Sebenarnya saya tak mau melawan mereka! Tapi.. saya tidak bisa membiarkanmu begitu saja!"
Aku terdiam. Mungkin kalau dia tidak ada, aku sudah kerasukan seperti teman-temanku yang lain. Jadi, apakah aku harus bersyukur?
Pantas saja, semua hantu yang merasuki badan teman-temanku berteriak seperti 'Beraninya kamu!', bahkan Dara terang-terangan menunjukku. Mungkin mereka sedang menunjuk kami berdua yang telah memancing amarah mereka.
"...Saya menjaga kamu, bukan karena tidak ingin kamu di rasuki.." Aku mengernyit heran. Penuh tanda tanya? Pasti!
"Tapi karena saya yang ingin merasuki!!" Jawab Kun cepat dengan suara serak khasnya.
Ia terkikik sambil menyelesap cepat, dan melayang ke hadapanku. Tentu aku tak sempat lari. Dan lebih tepatnya tidak bisa lari.
Tubuhku kembali kaku. Tolong lah, aku cuma manusia normal yang sebelumnya tak percaya dengan cerita mistis dan hantu. Tapi begitu aku mengalaminya sendiri, aku tak mau munafik pada kalian. Kalau sesungguhnya aku juga merasa sedikit takut.
Aku membalikkan tubuhku, berusaha menghindar. Namun kalian tau apa yang kini ku rasakan??
Pernah tidak kalian di tabrak sesuatu? Nah. rasanya seperti itu. Seperti ada yang menabrak tubuh bagian belakangku. Namun bedanya, kali ini aku merasa tabrakkan kencang itu masuk ke dalamku. Ke dalam tubuhku. Rasanya kejut, seperti kesetrum sesuatu. Kesemutan yang menjalar-jalar di seluruh bagian tubuhku.
Rasanya aneh!! Tubuhku terus kesemutan dan seluruh tubuhku bak ringan melayang. Namun aku tak lantas terjatuh. Aku merasa tubuhku masih kuat berdiri, dan tak oleng sama sekali. Ada sesuatu yang ku rasakan, tapi aku yakin ini bukan perasaanku. Perasaan apa ini???
Aku berusaha menggelengkan kepala untuk menyadarkanku. Tapi apa yang ku dapat? Tubuhku kembali kelu, aku tak dapat menggerakkan tubuhku, barang satu jari pun.
Aku sadar, tapi tidak dengan bagian tubuhku. Apa-apaan ini? Apa aku lumpuh?? Tapi di satu sisi, aku merasa penasaran atas apa yang terjadi padaku.
Aku berusaha bergerak. Namun lagi-lagi aku tak menggerakkan apa pun. Kesemutan ini menjalar diseluruh tubuhku. Apa aku benar-benar lumpuh?
Tapi dugaanku luntur seketika, ketika aku merasa tubuhku bergerak, tapi sungguh.. ini tidak seizinku. Aku tak memerintahkan tubuhku seperti ini!! Apa-apaan ini?? Rasanya seperti kelu dan kesemutan, tiap salah satu bagian tubuhku itu bergerak.
Kini aku merasa kesemutan ini menjalar ke bibirku.
"Kamu takut Gam?" Ucapku tiba-tiba. Membuatku heran dan terkejut. Ini suaraku? Ini ucapanku? Tapi aku tak berniat untuk bicara sedikit pun.
Tapi di satu sisi aku penasaran. Kenapa aku bisa seperti ini. Kenapa aku bicara sendiri. Tapi ini bukan aku.
Bibirku kembali merasakan kesemutan. Sama seperti saat aku berbicara tanpa perintah tadi.
"Kamu sedang saya rasuki!" Ucapku lagi.
Wah!! Gila!! Luar biasa!! Aku tersentak dan kagum!! Jadi begini rasanya kesurupan? Keren!! Tubuhku seperti di setrum ringan. Kesemutan terus menerus menjalar di seluruh tubuhku. Berdenyar-denyar melalui aliran darah dan nadiku. Apa karena energi kami saling beradu dan bertabrakan?? Makanya kesemutan ini terus ku rasakan.
Bibirku tak kelu. Apa aku bisa mengatakan sesuatu? Biar ku coba..
"Elu Kun?" Ucapku. Dan aku memang bisa sedikit mengendalikan diriku. Kuncinya cuma satu, fokus dan jangan pasrah. Lawan! Ya, itu yang ku lakukan.
"Ngapain lu ngerasukin gue?" Tanyaku.
Bak sedang bergilir, bibirku kembali kelu dan merasakan kesemutan lagi. Kali ini aku tak bisa melawannya.
"Karena saya sudah tahu, apa yang di rencanakan anak-anak nakal itu padamu." Ucapku yang sedang di kendalikan oleh Kun.
Direncanakan? Rencana apa yang Kun maksud?
"Mereka menyangkamu telah bersekutu dengan setan karena saya melindungimu waktu itu. Mereka sedang melakukan percobaan tentang dugaan mereka, biar saya sebut itu hipotesis. Hipotesis mereka adalah, jika kamu dilindungi, tentu saat mereka mengincarmu dengan memanggil para hantu, kamu tetap tidak akan kesurupan..."
"... Karena tentu saya akan melindungimu."
"Tugas saya di sini adalah, menyangkal dan mematahkan dugaan itu!" Ucapku. Maksudku, Kun, dengan menggunakan diriku.
"Anak itu cukup pintar, karena siswa disini adalah murid pilihan, dan senakal-nakalnya pun kalian, kalian tetaplah cerdas dan pintar!"
"Kecuali teman sebangkumu itu!" Tambahnya.
Haah? Dasar, sedang serius seperti ini pun masih sempat-sempatnya dia mengingat dan menghujat Randy. Tapi Randy pintar juga kok, lumayan. Entah punya dendam pribadi apa Kun pada Randy.
Aku menunggu, penasaran dengan apa yang selanjutnya akan di lakukan oleh Kun. Rasanya exited sekali, aku juga penasaran dia akan mengatakan apa lagi. Karena menggunakan tubuhku, kata-kata yang keluar juga dari mulutku. Ini pengalaman baru bagiku.
Tapi kenapa kerasukan kali ini.. aku masih sadar ya? Saat pertama kali di rasuki Kun, aku malah tak ingat apa-apa. Seperti pingsan. Tapi sekarang aku sadar. Apa ini artinya, tubuh kami saling cocok satu sama lain? Kun pernah bilang, kalau tubuh kami ini cocok.. begitukah?
Aku kembali merasakan kebas di tanganku. Dan tentu saja setelah ini Kun akan menggerakkan bagian tubuhku yang menjalar-jalar seperti kesemutan itu. Mulutku juga kesemutan. Kali ini apa lagi yang ingin ia lakukan?
"Ngupil aaah!!" Ucapku sambil menusuk jariku ke dalam lubang hidung. Tentu saja itu ulah Kun. Kenapa dia masih saja bermain-main di situasi seperti ini? Sayang sekali mulutku kesemutan, aku masih di bawah kendalinya. Kalau tidak, akan ku percikkan dia dengan air wudhu. Biar kebakaran sekalian!
Kini kedua kaki ku yang terasa kebas. Sepertinya ia ingin berjalan. Tapi kemana?? Aku tak mau!! Jangan sampai dia melakukan hal yang aneh-aneh di depan orang banyak nanti. Melakukan tari ular, atau ngupil seperti barusan.
.
.
.
*Author POV
Maxim mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Yang terlihat hanyalah siswa dan siswi yang bergelimpangan di sepanjang teras lobi. Ada yang masih kesurupan, ada yang sudah sadar, namun tampak lemah dan masih berbaring.
Dara masih setengah sadar. Di antara belasan orang, Maxim seorang yang masih sadar dan tak terpengaruh dengam hantu-hantu itu. Ia masih terduduk seorang, di antara tubuh-tubuh yang bergelimpangan.
Keringat mengucur di dahinya. Ia menyekanya dengan cepat, sebelum keringat itu mengalir ke sudut matanya.
"Ah, mana nih orang-orang?? Ustadnya juga belum sampai-sampai dari tadi! Ngapain sih?? Ke sekolah jalan kaki apa?" Keluh Maxim yang mulai kesal karena merasa begitu keteteran.
Maxim menatap lurus ke toilet. Menantikan seseorang keluar dari balik pintu tersebut.
"Mana sih Agam?" Gumam Maxim.
"Lu cari Agam?? Percuma!!" Ucap seseorang hingga membuat Max menoleh dan menengadahkan kepalanya. Ia tersentak menatap Gino yang telah berdiri di belakangnya. Ia adalah mantan Lian.
"Elu?"
"Maksud lu apa?" Gino mendengus mendengarnya.
"Gue denger lu punya masalah sama Agam?" Maxim mengernyit. Tak mengerti dengan alur pembicaraan yang di lakukan Gino padanya.
"Punya masalah apa? Osis?" Tanya Max lagi, dan Gino hanya mengendikan bahunya dengan cuek.
"Itu udah selesai kok. Gue gak punya masalah apa-apa lagi sama Agam."
Gino terdiam. Dari raut wajahnya, ia nampak kecewa mendengar pernyataan Maxim barusan.
"Gak punya masalah?? Meskipun dia penyebab semua ini?!!" Pekik Gino hingga membuat Maxim tersentak kaget.
"Maksud lu apa?!"
"Rank 1 umum kan? Jadi, gak usah belagak ****!!" Dengusnya geram. Tangan Gino terkepal kuat. Menahan amarah nampaknya.
"Ada yaa, ketua osis yang ngebiarin semua pelajar menanggung ini semua gara-gara Agam?!"
"To the point aja deh!! Lu tuh mau ngomong apa sebenarnya?!" Balas Maxim.
"Selama ini, sekolah kita belum pernah kejadian kayak gini!! Gak pernah kesurupan massal!!"
"Gak! Gak sebelum Agam datang!!" Maxim membelalakkan kedua matanya.
"Apa lu belum tau? Kalau Agam itu.. udah bersekutu sama setan!!" perkataan Gino lagi-lagi membuat Maxim membelalak dan terkejut.
"Apa-apaan lo!! Jangan sembarangan ngomong deh!"
"Faktanya udah ada Max!! Lu gak usah muna deh!! Gue yakin, dalem hati lu itu, membenarkan semua dugaan gue kan?" Maxim tercekat.
"Lu gak penasaran, kenapa Agam masih hidup setelah masuk gudang dan nandatanganin lukisan itu?"
"Gak curiga?" Maxim mengernyit. Dari raut wajahnya, ia mulai membenarkan perkataan Gino barusan.
"Kalau dia, pasti bersekutu dengan setan!" Maxim kembali tersentak.
"Kita lihat satu lagi bukti! Kalau sampai kejadian kesurupan ini selesai, dan dia sama sekali gak kesurupan, berarti dugaan gue bener!"
"Dia pelaku di balik kesurupan massal ini!!" Maxim menarik napas panjang mendengarnya.
Ia teringat saat Dara menunjuk Agam, dan mengatakan sesuatu seperti 'Beraninya kamu!'
Apa mungkin Agam benar-benar pelakunya? Tapi ini sudah benar-benar jelas. Agam lah pelakunya. Siapa lagi? Semua hantu menunjuknya, dan lagi, kejadian ini memang tak pernah terjadi sebelum Agam muncul dan masuk ke sekolah ini.
Sejak awal kedatangannya, Agam memang membawa keributan dan bencana untuk semua orang, pikir Maxim.
Maxim beranjak, bangkit dari duduknya. Ia menatap tajam ke arah toilet yang di masuki Agam.
"Kita cari Agam!!" Ucap Max geram. Dan Gino tersenyum menang.
.
.
.
.
Bersambung...
.
.
.
.
Note :
Hai readers semuaa!!! 😁😁😁
Disini, saya sedang membahas gimana rasanya kerasukan atau kesurupan yang sebenarnya.
Jadi, buat kalian yang udah pernah kesurupan, pasti gak asing lagi kan dengan apa yang di rasain Agam di tubuhnya, tapi author mau bagi2 rasa juga dong buat yang belum pernah kesurupan.. Kalo rasanya tuh begini looh, dan itu benar!
Jadi, yang belum pernah kesurupan, kalian bisa bayangin.. seperti itu rasanya...
Mengerikan tapi.. penasaran..
Kebas, kesemutan, sama kayak kesetrum ringan gitu..
tapi author itu cuma ngewawancarain satu orang, jadi author gak tau kalau rasa kesurupannya sama atau beda dari satu orang ke orang lainnya. Pokoknya rasanya gituu wkwkw
Daaaan, kejadian kesurupan massal ini benar-benar kisah nyata dan author alami sendiri.. Bedanya bukan saat upacara dan bukan zaman SMA..
Ini kejadiannya pas penutupan pensi 2014..
Di salah satu univ di daerah author.
Cmiwww
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 257 Episodes
Comments
Zuhril Witanto
Randy males belajar
2024-02-19
0
英
kalah kau Gino /CoolGuy/
2023-11-13
0
Nine
Weh
2023-06-17
0