Bab 20 Tamu Tak Diundang

Hari minggu pagi tiba-tiba ada tamu di rumah tinggal Prapto dan Maryati. Kebetulan mereka berdua sedang berada di rumah berkumpul bersama kelima anak-anak nya. Tentu saja Prapto dan Maryati sangat terkejut dengan kedatangan tamu tersebut. Dia adalah ibu, bapak dan adik Maryati.

"Ibu, bapak, Siska!" ucap Maryati saat melihat siapa yang baru saja datang ke rumahnya.

Beberapa tahun ini sengaja Maryati tidak berhubungan dengan keluarga nya. Bahkan tidak pernah berkunjung kembali ke kediaman bapak ibu nya. Rumah Siska yang ada di kota pun tidak Maryati datangi. Maryati merasa keluarga nya sudah tidak menerima dirinya karena miskin saat itu. Ditambah desas-desus yang mengatakan bahwa dirinya dan Prapto adalah sumber petaka bagi kematian adik kandung nya serta saudara sepupunya. Memang kenyataannya kedua orang itu meninggal karena berkaitan dengan Maryati serta Prapto. Di mana keduanya memang benar adanya meninggal dijadikan tumbal pesugihan. Adik kandung Maryati sendiri yang bernama Koniyah sengaja dijebak Prapto untuk dijadikan tumbal pesugihan ratu iblis sesembahan Duan. Sedangkan Minah sendiri yang dijadikan tumbal pesugihan kandang bubrah milik Maryati dan Prapto.

Rahasia besar antara Prapto dan Duan ditutup rapat-rapat. Kedua sahabat dekat itu sepakat saling membantu jika mengalami kesulitan dalam urusan ritual pesugihan mereka. Bahkan Duan sendiri lah yang telah menganjurkan Prapto untuk mencari pesugihan supaya terbebas dari kepahitan dan kesusahan hidup. Walaupun sekarang antara Prapto dan Maryati baru menyadari bahwasanya kehidupan yang penuh kemewahan dan banyak harta bukan jaminan untuk mendapatkan kebahagiaan dan kedamaian. Nyatanya beberapa tahun ini mereka menjauh dari keluarga besarnya dan menjalani kehidupan nya yang sekarang.

"Mentang-mentang sudah kaya raya kamu lupa dengan kami, yah?" sahut Siska dengan judes.

Bapak ibu Maryati langsung masuk ke dalam rumah Maryati dan Prapto dengan pandangan takjub. Rumah Prapto dan Maryati seperti istana. Perabotan mewah ada di dalam nya. Anak-anak Prapto dan Maryati pun terlihat bersih dan terurus. Tentu saja mereka berpenampilan dan berpakaian yang cukup bersih dan berkelas. Ditambah lagi rumah sebesar itu sudah ada beberapa pembantu rumah tangga yang ikut mengurus. Maryati sudah seperti nyonya besar dengan penampilan elegan dan mewah. Perhiasan yang ia gunakan cukup menyolok mata. Demikian halnya Prapto sudah berbeda jauh dengan dulu. Kulitnya sudah mulai putih bersih dengan penampilan orang kaya yang berkelas.

"Bukan, bukan begitu mbak Siska. Kami hanya takut jika berkunjung ke rumah ibu bapak, kami tidak diterima," ucap Maryati. Sekarang bapak ibu dan juga Siska sudah duduk di kursi sofa yang cukup mewah.

"Itu tidak mungkin, Maryati! Bapak ibu sudah menerima kamu, nak. Kamu sudah bisa membuktikan bahwa kamu bisa menjadi orang. Maka dari itu kamu dan Prapto bisa kembali ke keluarga besar kita yang disegani banyak orang," sahut bapak Maryati. Siska masih terlihat kurang suka dengan keberhasilan dan kesuksesan Maryati dan Prapto.

"Hem, jadi usaha kamu dan Prapto hanya bisnis bakso mie ayam saja?" ucap Siska yang masih meremehkan Maryati dengan usaha nya. Maryati terlihat tenang dan sabar menanggapi Siska.

"Mas Prapto ada usaha lain mbak. Ada beberapa showroom jual mobil baru dan bekas di pusat kota," jelas Maryati. Siska dibuat melongo dengan pengakuan Maryati.

"Hah, showroom mobil? Yang mana? Jangan-jangan kamu hanya mengaku saja. Padahal hanya omong kosong doang," sahut Siska dengan sewot.

Berjalan dengan angkuh Prapto bersama kelima anak-anak nya yang sudah mulai menginjak remaja. Mereka mendekati bapak ibu dan juga Siska. Maryati tersenyum melihat kelima anak-anak nya yang datang bersama dengan suami nya.

"Anak-anak, beri salam nenek kakek dan juga tante Siska!" Perintah Prapto.

Prapto pun memberi salam pada kedua mertuanya itu dengan hormat. Bapak ibu Maryati tersenyum lebar melihat kelima cucu-cucu nya tumbuh remaja dengan wajah yang tampan dan cantik. Setelahnya kelima anak-anak Maryati dan juga Prapto kembali meninggalkan nenek kakek serta tante mereka kembali beraktivitas seperti semula. Ada yang bermain game, ada yang bermain handphone di kamar, ada yang berenang bersama teman-teman nya yang sengaja datang bermain di rumah itu.

"Yah, beginilah pak bu, Siska, kehidupan kami sekarang. Anak-anak kami sudah mulai besar. Yah, syukur lah kami sudah bisa membuat mereka penuh kecukupan," ucap Prapto sambil menatap tajam ke arah Siska.

"Syukur kalau kamu bisa membahagiakan Maryati dan cucu-cucu kami. Memang sepantasnya kamu sebagai kepala rumah tangga dan juga laki-laki harus bisa bertanggungjawab menghidupi istri dan anak-anak kamu," sahut bapak Maryati.

"Benar, pak! Terimakasih atas hinaan bapak ibu dan juga keluarga besar terhadap kami dulu. Hal itu mencambuk kami untuk bangkit dan merubah nasib kami," kata Prapto sedikit menusuk dan menampar bapak ibu dan juga Siska. Siska terlihat geram dengan kesombongan Prapto sekarang. Maryati merasa tidak enak dengan sikap suaminya yang kurang sopan itu.

"Mas, eh em bagaimana kalau kita ajak bapak, ibu dan juga mbak Siska makan siang bersama. Hari ini kita masak banyak bukan, mas?" ajak Maryati.

"Baiklah! Nanti setelah kita makan bersama, saya akan memberikan sedikit hadiah buat bapak, ibu dan juga mbak Siska. Yah, walaupun tidak seberapa, tapi ini sebagai ungkapan kebahagiaan dan rasa syukur kami karena kami sudah mulai sukses dan berhasil," ucap Prapto. Bu Maryati menyipit bola matanya. Dia mulai mengutarakan pendapat nya.

"Bagaimana kalau kamu mengundang anak yatim dan bikin pengajian di rumah ini? Ini sebagai rasa syukur kamu terhadap Tuhan karena sudah memberikan banyak rejeki yang lebih," kata ibu Maryati. Maryati langsung menatap ke arah suaminya.

"Tentu saja sudah kami lakukan bu. Tapi kami langsung memberikan nya ke tempat panti asuhan. Namun kami tidak mengundang mereka ke rumah. Takutnya ini justru akan membuat riya," ucap Prapto akhirnya.

Maryati mengerut keningnya. Padahal selama ini mereka belum bersedekah dengan sebagian harta mereka ke anak-anak yatim piatu maupun kaum duafa. Apalagi membuat pengajian di rumah mereka. Tentu saja Maryati dan Prapto takut jika di rumahnya ada kegiatan agama. Itu akan membuat tidak senang sesembahan maupun makhluk lain yang membantu dirinya menjadi kaya.

"Wah, bagus itu! Syukur lah kalau kalian tidak lupa bersedekah," sahut bapak Maryati. Lagi-lagi Siska masih ragu dengan kesuksesan dan keberhasilan Prapto Maryati. Dalam waktu kurang lebih tiga tahuan mereka bisa secepat itu memiliki rumah bak istana dengan aset-aset berharga. Mobil yang mahal dan mewah lebih dari tiga di rumah itu.

"Kalian yakin kan, kalau kalian benar-benar mendapatkan penghasilan dari yang halal? Kalian tidak sedang memuja setan kan? Eh em maksud nya kalian tidak memiliki pesugihan untuk bisa cepat kaya kan?" sahut Siska sambil melihat sekeliling rumah itu. Wanita cantik dengan penampilan mewah itu seperti mencari-cari ruangan yang aneh di rumah itu. Siska cukup jeli dengan rumah yang penghuninya memiliki pesugihan.

Bapak ibu Maryati seperti kurang suka dengan ucapan Siska. Lalu serta merta Maryati berbicara.

"Kenapa mbak? Mbak Siska iri dengki dengan keberhasilan kami? Jangan-jangan mbak Siska seperti memiliki pesugihan untuk bisa kaya raya," Maryati berbalik menyudutkan Siska. Siska cukup dibuat melongo dengan tuduhan Maryati. Prapto terkekeh melihat ekspresi Siska yang cukup terkejut dengan keberanian Maryati berbicara.

"Sudah, sudah jangan ribut dong! Lebih baik kita makan bersama yuk," ucap Prapto akhirnya. Bapak, ibu dan juga Siska akhirnya diam seribu bahasa. Ketiga orang itu akhirnya mengakui bahwa Maryati dan Prapto cukup berhasil menunjukkan ke keluarga nya bahwasannya dirinya bisa sukses dan kaya raya dengan usaha nya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!