Prapto dan Maryati kini telah berhenti di pertigaan jalan. Sopir angkot yang mengantarkan mereka berdua menurunkan nya di jalan sepi. Sedangkan di tempat itu tidak terlihat satu rumah pun. Maryati memegang lengan Prapto karena takut.
Keputusan Maryati dan Prapto mencari pesugihan itu karena sudah benar-benar putus asa dan buntu. Dari hinaan yang selalu mereka terima karena hidup mereka susah. Selain itu mereka juga terlilit banyak hutang di mana-mana karena untuk mencukupi kebutuhan keluarga kecilnya. Memang ada pepatah mengatakan bahwasanya memiliki banyak anak banyak rejeki nya. Namun kenapa mereka justru dilanda kesulitan hidup dan kekurangan ekonomi.
Selama Maryati memutuskan ikut pergi bersama suaminya mencari pesugihan, anak-anaknya telah dititipkan pada orang tua Prapto. Maryati tidak mungkin menitipkan anak-anaknya ke orang tua nya, kalau tidak mendapatkan cemooh dari keluarga besarnya.
"Mas Prapto! Di mana rumah juru kuncen yang akan kita datangi, mas?" tanya Maryati.
Prapto terlihat celingukan bingung memilih jalan mana dari tiga simpang jalan itu. Suasana malam yang mencekam terasa di tempat itu. Suara binatang malam dan ditambah tidak ada seorang pun yang melewati jalan itu. Maryati dibuat dingin telapak tangannya karena takut.
"Ya ampun, gini amat mau nyari kaya, mas!" Keluh Maryati. Prapto hanya bisa mengusap punggung tangan istrinya supaya lebih tenang.
"Tenanglah, Mar! Semuanya harus kita upayakan. Kita harus berhasil. Kita tidak akan pulang ke rumah kalau tidak berhasil mendapatkan pesugihan itu. Sekarang kita harus memilih jalan yang mana untuk menuju ke rumah juru kuncen itu," kata Prapto. Maryati mengerut keningnya.
"Mas Prapto harus ingat dong! Kemarin saat ke sini bersama Duan, lewat jalan yang mana saat ketemu pertigaan jalan ini?" tanya Maryati mulai jengah dengan sikap suaminya yang kurang sat set kerjaan nya.
Memiliki suami yang seperti lelet begitu membuat geram sebagai istrinya. Namun bagi Maryati, selama suaminya sudah bekerja keras mencari nafkah, dirinya tetap menghargai nya. Walaupun hasilnya jauh dari kata cukup. Bahkan masih sangat kurang karena hutang-hutang mereka semakin bertumpuk. Beruntung Duan menolong mereka memberikan dana beberapa juta untuk melunasi hutang mereka. Ditambah lagi memberikan modal Maryati dan Prapto untuk berikhtiar mencari pesugihan ke desa itu. Desa yang berada di bawah kaki gunung Kawi. Tentu saja Maryati sendiri tidak mengetahui bahwasanya Prapto telah mengorbankan adik kandung Maryati yaitu Koniyah yang akan dijadikan tumbal pesugihan.
"Saat aku ke sini bersama dengan Duan, sepertinya kami tidak lewat jalan pertigaan ini. Rumah juru kuncen itu tidak jauh dari jalan raya di mana kita turun tadi. Tapi sopir angkutan tadi membawa kita cukup jauh ke desa pleret tempat tinggal juru kuncen itu," terang Prapto.
Maryati yang mendengar cerita suaminya semakin geram. Dia menjadi ketakutan di tempat itu.
"Terus bagaimana ini, mas? Apakah kita harus kembali ke tempat tadi?" sahut Maryati. Prapto bingung. Dia akhirnya memejamkan matanya. Pria itu berusaha fokus mendengarkan suara hatinya. Sejurus kemudian, Prapto membuka matanya lalu tersenyum ke arah istrinya.
"Ayo, Mar! Kita pilih jalan itu!" ajak Prapto sambil menggandeng tangan istrinya ke jalan sebelah kiri. Prapto tanpa keraguan mengajak Maryati berjalan ke jalan itu. Maryati diam seribu bahasa. Dia dalam hati masih membaca bacaan tasbih, takbir, tahmid dalam hati. Berbeda dengan Prapto yang benar-benar fokus dengan suara hati dan suara gaib yang menuntun dirinya.
"Syukurlah, Mar! Kita benar mengambil jalannya. Di sana ada barak-barak yang disediakan untuk melakukan ritual. Kita memang langsung ke tujuan untuk mencari pesugihan. Rumah kediaman juru kuncen memang bukan jalan ini. Melainkan dekat penurunan bus besar tadi," terang Prapto dengan wajah yang cerah.
Dalam pikiran nya, ia harus bertekad. Dia pulang ke rumah harus mendapatkan hasil. Menjadi kaya adalah impiannya. Menjadi orang yang dihormati karena kesuksesan dan banyak harta itulah yang ia inginkan.
*****
Sementara itu di tempat lain, di mana Duan telah melakukan ritual memanggil ratu iblis yang menjadi istri gaib nya. Di mana ratu iblis itulah yang memberikan jalan bagi Duan menjadi kaya raya dan segala usahanya maju pesat. Koniyah yang sejak tadi berbaring di atas tempat tidur menjadi heran. Lambat laun Koniyah mulai curiga. Kenapa Duan tidak juga mendatangi dirinya. Bahkan sejak tadi komat-kamit baca mantra seperti mendatangkan makhluk gaib.
Koniyah menatap Duan. Gadis itu mulai turun dari tempat duduknya mendekati Duan. Tiba-tiba saja kedua mata Duan menatap tajam pada Koniyah. Sorot matanya tajam seperti hendak memangsa Koniyah. Sepertinya ratu iblis telah menguasai tubuh Duan.
Duan berdiri dan mendekat lebih dekat pada Koniyah yang sudah siap diapain saja oleh Duan. Itulah yang diharapkan oleh Koniyah. Di mana dirinya akan menyerahkan tubuh nya serta kesuciannya pada pria bersuami namun tetap ia cintai. Koniyah yang tertutup hati nya dengan rasa cinta tidak menyadari kalau Duan telah dirasuki ratu iblis. Pria itu menggiring Koniyah kembali ke atas ranjang. Setelahnya semua yang melekat dan menempel di tubuh Duan maupun Koniyah satu persatu dilepaskan. Baju dan celana mereka dilempar begitu saja di pantai ruangan yang minim pencahayaan nya itu.
Duan yang telah dikuasai napsu birahi ratu iblis itu tidak bisa menghindari perbuatan asusila itu. Di mana tubuh nya dijadikan alat untuk mengoyak darah perawan yang dimiliki Koniyah.
"Mas Duan, sakittt," rintih Koniyah yang merasakan kesakitan dan pedih karena Duan begitu kasar dan brutal mengobrak-abrik keperawanannya.
Hampir dua jam pria itu mengobrak-abrik tubuh Koniyah. Koniyah yang awalnya bergairah dengan Duan menjadi kesakitan. Tentu saja Koniyah tidak menyangka kalau pria yang dia cintai nya itu begitu kasar dan tentu saja kuat dalam hal begituan. Koniyah pingsan karena kelelahan dan rasa sakit yang ia rasakan. Bahkan ukuran bagian inti yang dimiliki Duan lebih besar dari manusia pada umumnya. Hal itulah yang membuat Koniyah heran.
Dalam situasi di mana Koniyah pingsan itu, Duan yang telah dirasuki ratu iblis akhirnya menyudahi kegiatan intens nya. Dia mulai menghisap darah di area inti milik Koniyah hingga habis. Hal itu lah yang membuat Koniyah menjerit kesakitan. Bukan hanya darah perawan nya saja. Darah segar ikut dihisap oleh ratu iblis itu. Dimana dengan mata telanjang Duan lah yang melakukan nya.
"Akhhhhh sakit, mass! Akhh," teriak Koniyah dengan panjang serta keras.
Suara tawa ratu iblis menggema di ruangan itu, dia lambat laun keluar dari tubuh Duan. Setelahnya Duan ambruk tidak sadarkan diri. Jangan lupakan Koniyah yang telah tewas karena ulah Ratu iblis yang menghisap darah Koniyah.
"Hahaha, aku menjadi awet muda kembali, hahaha! Bagus Duan! Kamu benar-benar bisa membuatku senang. Sebagai imbalannya, aku akan memberikan kamu emas yang banyak, hahaha!" oceh ratu iblis dengan suara yang menggema.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments