Bab 19 Penampakan

Warung bakso mie ayam di pusat kota milik Prapto benar-benar ramai pengunjung. Peminat bakso dan mie ayam memang cukup diminati oleh semua kalangan. Apalagi kalau baksonya benar-benar daging asli dengan campuran tepungnya sedikit saja.

Di antara beberapa pengunjung warung bakso mie ayam itu ada seseorang yang bisa melihat makhluk kasad mata. Tentu saja orang tersebut memiliki kelebihan khusus yang tidak dimiliki oleh sebagian orang pada umumnya.

"Ada apa, bro? Sejak dari tadi kamu tidak memakan mie bakso nya. Justru lihat mas-mas yang menyiapkan pesanan bakso mie ayam para pembeli," ucap Fakih pada Ersan. Ersan masih terpaku pada bagian depan warung bakso mie tersebut. Di mana di sana gerobak bakso terletak.

"Ersan! Kamu lihat apa sih?" tanya Fakih. Ersan datang bersama dengan Fakih ke warung bakso mie ayam tersebut. Dan di sana Ersan tiba-tiba menjadi tidak berselera menikmati bakso dan mie ayam di warung tersebut. Sedangkan Fakih sudah menghabiskan baksonya dan juga es tehnya.

"Kamu sudah selesai makan baksonya?" Ersan justru bertanya balik. Fakih menyipit bola matanya menatap heran temannya itu. Mangkok yang berisi mie bakso nya masih utuh belum dia makan. Bahkan dicicip pun tidak.

"Lihatlah! Bahkan aku sudah menghabiskan baksonya. Kenapa kamu tidak jadi memakan mie ayam baksonya? Tadi bilangnya ingin makan mie ayam bakso. Tapi sudah aku pesan kan justru tidak kamu makan," omel Fakih.

"Sudahlah, ayo kita pergi dari sini. Tiba-tiba aku menjadi kenyang," sahut Ersan sambil berdiri dari tempat duduknya. Fakih yang bingung hanya bisa mengikuti Ersan dari belakang setelah dirinya membayar semuanya.

Fakih berlari kecil mengejar Ersan yang berjalan cukup cepat menuju tempat parkiran. Benar! Motor mereka di parkir agak jauh dari warung bakso mie ayam itu. Warung bakso mie ayam, di mana pemilik nya adalah Prapto dan juga Maryati.

Ersan menghidupkan motor nya dan Fakih membonceng di belakang. Pria muda yang kini masih berkuliah di perguruan tinggi swasta kota itu pun belum bicara mengenai apa yang telah dilihatnya. Di mana dirinya melihat makhluk lain di warung bakso mie ayam milik Prapto. Sepanjang perjalanan menuju kost nya, kedua pria muda tersebut diam seribu bahasa. Sampai akhirnya mereka berdua tiba di rumah kost-kostan khusus untuk laki-laki.

"Ersan, kamu belum cerita padaku. Kenapa kamu tiba-tiba mengajak pulang cepat dari warung bakso mie ayam yang sedang viral itu. Bahkan mie ayam bakso yang sudah kamu pesan tidak kamu makan. Sebenarnya ada apa sih?" tanya Fakih yang benar-benar sangat kepo.

Ersan menarik napasnya dalam-dalam. Pria muda yang baru saja duduk di bangku kuliah semester tiga itu menjatuhkan tubuh nya di atas tempat tidur di kamar kost nya. Kamar kost yang tidak begitu luas namun cukup untuk dirinya beristirahat dan belajar dengan tenang.

"Aku pikir warung bakso mie ayam yang lagi viral itu pakai pelarisan. Aku melihat makhluk lain yang tentu saja bukan manusia. Bahkan sangat jelek sekali. Mual tiba-tiba perutku setelah melihat makhluk itu," jelas Ersan dengan serius.

Fakih mengerut keningnya. Karena dia tidak bisa melihat makhluk halus, dia hanya bisa manggut-manggut saja. Fakih percaya dengan kemampuan Ersan yang memiliki indera ke enam. Bahkan mungkin saja memiliki indra ke tujuh. Kemampuan nya untuk itu sudah lama. Ersan mengakui kelebihan nya melihat dunia lain hanya pada teman dekatnya yaitu Fakih. Fakih adalah teman dekat Ersan yang satu jurusan dan juga satu kost dengan dirinya.

"Lalu, apa yang kau lihat di warung bakso mie ayam itu? Kenapa tiba-tiba kamu jadi gak mau makan?" Sahut Fakih. Ersan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Pria itu lalu mulai mengusap perut nya. Dia baru sadar kalau dirinya belum jadi makan dan perut nya terasa lapar.

"Yang pasti lihat sesuatu yang bikin muntah. Ah, sudahlah! Sepertinya aku kali ini tidak perlu mengatakan padamu. Nanti kalau aku ceritakan dengan jujur dan jelas, kamu bisa muntah. Apa yang sudah kamu makan dan minum di sana jadi ingin kamu muntah kan. Oke?" terang Ersan. Pria itu bangkit berdiri dari tempat tidur.

"Hai, tunggu dulu! Kau mau kemana, Ersan?" tanya Fakih.

"Nyari makan dulu," sahut Ersan seraya menyambar jaket kulit nya. Fakih mengerut keningnya lalu mengambil kunci motor di meja sebelum Ersan lebih dahulu mengambilnya.

"Aku ikut! Biar aku antar kamu ke warteg. Tapi jangan lupa cerita kan apa yang sudah kamu lihat tadi yah," ucap Fakih yang masih penasaran tingkat dewa. Ersan terkekeh mendengar Fakih yang masih ingin tahu apa yang sudah dia lihat saat di warung bakso mie ayam yang sedang viral tidak lain milik Prapto itu.

☠️☠️☠️☠️☠️

Saat di warteg di mana Ersan sudah selesai makan nasi campur. Pria muda itu mulai menceritakan apa yang sudah ia lihat saat di warung bakso mie ayam yang ramai pembelinya itu. Fakih yang mendengarnya jadi geli dan rasanya mau muntah. Perut nya seperti meledak-ledak ingin dikeluarkan semua yang sudah ia makan saat di warung bakso mie ayam itu.

"Astaga naga! Benar-benar menjijikkan sekali. Coba saja sejak awal kamu menceritakan semua padaku, aku pasti tidak jadi makan bakso ku," ucap Fakih dengan penyesalan nya.

"Hahaha, sudahlah! Semuanya sudah masuk di perut kamu. Justru itu yang bikin lezat baksonya bukan? Hahaha," sahut Ersan.

"Ih benar-benar yah! Kuah bakso diludahi oleh makhluk brengsek itu. Apa dia tidak ada kerjaan, ngludah sembarang tempat. Ditambah mangkok mie ayam dan bakso nya dijilati oleh iblis itu," ucap Fakih kembali mengungkapkan apa yang sudah Ersan ceritakan.

"Justru itulah yang bikin nagih. Orang-orang yang sudah makan bakso di situ jadi kembali lagi dan semakin ramai. Itu adalah pelarisan usaha warung bakso mie ayam yang viral itu," terang Ersan. Fakih mengerut keningnya.

"Hem, apakah pemilik warung bakso mie ayam itu juga akan mencarikan tumbal untuk pelarisan usaha nya?" sahut Fakih. Ersan menyipit bola matanya.

"Entahlah! Aku juga tidak tahu. Yang jelas di warung bakso dan mie ayam itu ada beberapa penghuni lain yang ada di sana. Ada banyak dan lebih dari satu. Aku rasa pemilik warung bakso mie ayam itu memuja iblis. Selain pelarisan usaha nya, dia juga bersekutu dengan iblis dengan memiliki pesugihan," Ersan berusaha menjelaskan hasil analisa nya.

"Astaga, ini gila! Jaman modern seperti ini orang masih menggunakan bantuan gaib. Apakah orang itu tidak percaya dengan kebesaran Tuhan dan kepercayaan dirinya dalam berusaha? Benar-benar manusia dalam kebodohan yang nyata," kata Fakih. Ersan tersenyum mendengar ocehan Fakih sahabatnya itu.

"Entahlah, bro! Manusia kurang bersyukur lah yang memilih jalan pintas seperti ini. Dia ingin secepatnya sukses dan cepat kaya. Walaupun keselamatan nya akan terancam. Dia telah mempertaruhkan keimanan nya dengan ke syirik an nya," urai Ersan sambil meneguk air es teh di gelasnya. Fakih manggut-manggut mendengar ucapan Ersan.

"Aku sendiri juga masih meminta orang tua. Mungkin saja karena beban hidup yang semakin berat dan besar menyebabkan seseorang menjadi putus asa. Semoga orang tua ku bisa sabar mencari penghasilan yang halal. Aku jadi berpikir, bagaimana kalau sudah menjadi orang tua yang membiayai sekolah dan hidup anak-anak nya. Sementara perekonomian semakin sulit," ucap Fakih akhirnya.

"Nah, itu kamu baru tahu. Makanya kuliah yang benar supaya bisa cepat membantu orang tua kamu. Kamu bisa bekerja dan mendapatkan penghasilan, " sahut Ersan yang selama ini sudah mendapatkan penghasilan dari platform online nya.

Walaupun dia sendiri masih kuliah namun sudah berpikir bagaimana caranya mendapatkan penghasilan sendiri. Supaya tidak terus menerus meminta orang tua nya. Apalagi hidup di rantau orang.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!