Bab 4 Desa Pleret

☠️☠️☠️☠️☠️

Mobil Duan kini melewati jalan aspal yang sepi. Di kanan kiri pohon jati yang sedang berguguran daunnya. Di tempat itu jauh dari pemukiman penduduk. Namun mereka mendapati satu rumah kayu yang minim penerangan nya. Rumah kayu itu mungkin saja penghuninya telah tidur terlelap. Atau mungkin saja rumah itu kosong tiada penghuni nya karena rumah kayu itu seperti dijadikan warung kopi oleh pemilik nya. 

Duan dan Prapto diam seribu bahasa dengan suasana mencekam di alas jati. Suara binatang malam semakin menambah suasana tegang diantara keduanya. Prapto menatap jalanan di depan sedangkan Duan fokus dengan kemudinya.

Memasuki desa Pleret suasana mencekam terasa. Apalagi Duan dan Prapto tiba di tempat itu malam hari. Desa itu seperti kuburan. Tidak ada satu orang pun lalu lalang di luar rumah. Bahkan lampu depan rumah sengaja dibuat redup pencahayaan nya.

"Wan, kamu yakin ini jalan nya menuju ke desa Pleret? Kampung ini seperti tidak ada kehidupan. Bahkan suara binatang malam pun tidak ada," kata Prapto dengan suara gemetaran karena benar-benar dilanda ketakutan. Duan diam seribu bahasa. Pria itu bukan berarti sangat pemberani. Namun keadaan lah yang memaksa dirinya untuk tetap datang ke tempat itu.

"Tenanglah, Prapto! Sebentar lagi kita akan sampai di rumah dukun dan juru kuncen," sahut Duan sambil mengemudikan mobilnya melintasi hutan jati yang saat ini sedang berguguran daun-daunan.

Sepanjang jalan itu, di kanan dan kiri ada hutan jati yang sedang berguguran daunnya. Ada rumah-rumah gubuk dengan pencahayaan minim di sana. Namun jarak antara rumah satu dengan rumah yang lain jaraknya cukup jauh. Betapa suasana mencekam karena tidak ada satupun yang melewati jalan itu. Sedangkan jam di tangan Prapto masih menunjukkan pukul tujuh malam.

Tiba-tiba saja, Duan mengerem mendadak. Sukses membuat Prapto terkejut dibuat nya.

"Ada apa, Wan?" tanya Prapto ikut panik. Wajah Duan terlihat pucat pasi. Namun dia akhirnya memberanikan dirinya membuka pintu samping kemudinya untuk turun dari dalam mobil.

"Sepertinya aku tadi menabrak seekor kucing berwarna hitam. Aku lihat dulu yah!" kata Duan. Prapto ikut panik. Dia karena penasaran ikut turun dan melihat apa yang telah terjadi.

"Tidak ada apa-apa, Wan! Kamu salah lihat kali, Wan," ucap Prapto. Duan masih mencari-cari di bawah mobilnya. Siapa tahu benar apa yang telah ia lihat tadi. Di mana dirinya sempat tidak fokus hingga menabrak seekor kucing hitam yang menyebrang di jalan itu.

"Kok aneh yah! Tadi sepertinya aku jelas-jelas melihat seekor kucing yang mau melintas ke jalan seberang. Tapi kok tidak ada yah," ucap Duan.

"Mungkin saja, kucingnya cepat lari dan kita tidak bisa melihat nya," sahut Prapto yang segera kembali naik ke dalam mobil.

Duan menyipit bola matanya. Dia akhirnya kembali ke kursi kemudi dan mulai menjalankan mobilnya. Namun Prapto mulai mengendus bau yang cukup menyengat.

"Kok bau melati yah?" ucap Prapto.

Duan memberikan isyarat pada Prapto supaya diam dan jangan banyak bicara. Diam-diam Duan melihat ke kaca spion dan melihat tempat duduk mobilnya di belakang. Setelahnya Duan kembali fokus menatap jalanan di depan. Prapto melihat wajah Duan yang pucat. Dia tentu saja tidak paham dengan semua yang terjadi karena dirinya tidak melihat keanehan di dalam mobil itu. Namun berbeda dengan Duan yang seperti menahan rasa ketakutan.

"Duan! Kamu tidak apa-apa kan?" Prapto benar-benar kepo dengan Duan yang tiba-tiba bersikap aneh. Hingga mobil itu tiba di rumah kayu dengan halaman yang cukup luas. Prapto dan Duan merasakan kelegaan. Di mana di rumah itu ramai orang di sana. Itu pandangan mata dari Prapto. Ini berbeda saat Duan yang melihat suasana di rumah itu yang sangat sepi tanpa ada seorang pun di sana.

"Ini rumah sang dukun dan juru kuncen!" kata Duan. Prapto menyipit bola matanya.

"Ramai juga pasien nya yah," ucap Prapto. Duan mengerut kening nya. Bahkan dirinya tidak melihat seorang pun di sana.

"Ayo, lebih baik kita masuk dan mencari sang juru kuncen," ajak Duan sambil menahan rasa ketakutan pada dirinya.

Dalam hati Duan merasa heran dengan Prapto sahabat nya itu. Di mana Prapto bisa melihat sesuatu yang gaib di tempat juru kuncen itu. Sedangkan dirinya tidak melihat nya. Benar! Memang menurut cerita sang juru kuncen, rumah itu selalu ramai orang yang meminta tolong atau bantuan pada orang pintar itu. Di mana orang-orang yang datang itu mencari pesugihan yang rela mengorbankan anggota keluarga nya. Semua itu demi mencapai tujuan yaitu kekayaan yang bersifat duniawi. 

"Wan, kamu sering ke rumah ini yah?" tanya Prapto yang mulai muncul tanda tanya besar di benaknya.

Duan membisikkan sesuatu pada Prapto. Sekarang Prapto mulai paham, kenapa sahabatnya itu dengan cepat meraih kesuksesan dalam bidang financial. Usaha Duan semakin maju dan pesat. Bahkan kemarin Duan lah yang membantu membayar hutangnya. 

"Sebenarnya aku tidak ingin kamu terjebak dalam lingkaran iblis seperti aku. Namun aku merasa kasihan dengan kamu yang hidup susah dan dipandang rendah oleh keluarga mu," ucap Duan pelan.

Prapto diam membisu. Prapto tidak ingin memuja setan maupun mencari pesugihan dengan jalan pintas seperti yang dilakukan oleh Duan. Namun dia sudah putus asa dalam kehidupan nya. Apakah dirinya akan mengambil langkah dan keputusan seperti Duan, sahabat nya? Entahlah. Prapto perlu memikirkan lagi berulang kali. Bila perlu meminta persetujuan dan kesepakatan dengan Maryati istrinya. 

"Apakah tidak ada cara lain untuk menjadi kaya, Wan? Apakah aku harus membayar semua ini dengan keimanan dan keyakinan ku? Aku rasa ini sangat berat. Bahkan Maryati pun tidak akan ridlo dan setuju jika kami mencari pesugihan dengan memuja iblis," ucap Prapto. 

Duan seketika memberikan isyarat pada Prapto untuk diam. Seorang laki-laki tua telah datang mendekati keduanya dengan tatapan mata uang tajam. Jelas itu sudah dipastikan adalah juru kuncen itu. 

"Apakah laki-laki tua itu adalah juru kuncen nya?" tanya Prapto dengan berbisik.

Duan semakin tidak enak karena seperti nya laki-laki tua itu kurang menyukai kedatangan Duan yang mengajak Prapto ke tempat itu untuk melakukan ritual tahunan. 

"Tidak ada perdebatan di sini. Siapapun yang sudah datang di tempat ini, aku pastikan akan menjadi budak iblis. Dan kamu anak muda! Selekasnya mempersiapkan ritual tahunan jika tidak, kamu sendiri yang akan menjadi tumbal berikutnya oleh sesembahan mu," ucap laki-laki tua yang diduga oleh Prapto merupakan juru kuncen yang membantu Duan maupun orang-orang itu untuk menghubungkan manusia dengan makhluk gaib sejenis jin maupun iblis. 

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!