"Apakah kalian sudah berhasil menangkap salah satu ikan di dalam kolam itu?" tanya sang dukun itu saat keluar dari dalam rumah menjumpai pasangan suami istri tersebut. Prapto menunjukkan hasil ikan tangkapannya pada sang dukun. Sang dukun tersebut menyipit bola matanya lalu sejurus kemudian melihat pasangan suami istri itu secara bergantian.
"Kalian yakin akan mengorbankan ikan itu?" sahut sang dukun pada Prapto. Prapto dengan tegas langsung menjawabnya dengan penuh keyakinan.
"Saya yakin, Ki! Sejak tadi saya sudah mempertimbangkannya ikan mana yang harus saya tangkap," jelas Prapto penuh percaya diri. Sang dukun terkekeh lalu melihat pada Prapto dan Maryati lagi secara bergantian.
"Sepertinya kamu sangat membenci sekali wajah orang yang terlihat di kepala ikan itu. Tapi dugaan kamu benar sekali. Ikan ini nanti akan kalian makan setelah dimasak. Di mana itu artinya kamu telah mengorbankan nyawa orang tersebut sebagai tumbal pertama. Dan ingat satu hal bahwasanya kedatangan kalian kemari banyak disukai oleh iblis-iblis penghuni alam ini," ungkap sang dukun panjang lebar.
Prapto dan Maryati lagi-lagi bungkam namun keduanya saling berpandangan. Jelas mereka belum mengerti apa maksud dari perkataan Ki Praja sang dukun juru kuncen tersebut.
"Ya sudah, kalian boleh masuk ke dalam. Aku akan menyiapkan semuanya baik ritual selanjutnya yang harus kalian jalani berikutnya," kata sang dukun yang segera masuk kembali ke dalam rumah dengan membawa seekor ikan hasil tangkapan Prapto yang di jaringnya di dalam kolam.
Maryati mengikuti suaminya masuk ke dalam rumah kayu tersebut. Maryati mulai kepikiran dengan penjelasan Ki Praja bahwasanya mereka berdua akan memakan ikan yang tidak lain perwujudan dari Minah. Minah sendiri adalah saudara sepupu dengan Maryati. Minah sering sekali menghina Maryati dan Prapto karena kemiskinan nya. Selain itu jika Minah mengetahui saat orang-orang penagih hutang datang ke rumah Maryati dan Prapto, Minah langsung menghina mati-matian. Hal itulah yang membuat Prapto semakin sakit hati dengan sikap maupun ucapan Minah yang merendahkan harga diri Prapto sebagai suami Maryati.
"Mas, aku tidak akan menyangka kalau nanti bakalan menjadi orang paling kejam di dunia ini. Di mana aku sangat tega mengorbankan nyawa saudara ku sendiri untuk tumbal. Bahkan nanti kita memakannya. Walaupun di sini yang terlihat oleh mata kita makan ikan," ucap Maryati mulai bimbang. Prapto mengusap punggung tangan Maryati dengan penuh kelembutan.
"Tapi ikan itu sejatinya adalah perwujudan dari Minah. Kenapa dalam hal ini aku tidak bisa melihat wajah-wajah dari ikan-ikan itu yah, mas? Yang kata sang dukun dan mas Prapto sendiri ada wajah-wajah orang-orang yang kita kenal," kata Maryati.
"Sudahlah, Maryati! Itu artinya hati kamu masih ada kebaikan. Beda seperti aku yang sudah ingkar dan tidak percaya lagi dengan Tuhan," sahut Prapto.
Maryati menghela napas panjang. Dia tidak menyangka kalau suaminya pada akhirnya berpaling dari Tuhannya. Dia sangat putus asa dengan segala kepedihan dan kepahitan hidupnya. Prapto merasa kehidupan nya seperti telah dipermainkan oleh Tuhannya.
"Minah! Sebenarnya kamu baik. Tapi kenapa kamu menjadi berubah saat melihat aku menikah dengan mas Prapto. Apalagi mas Prapto belum bisa memberikan ku kemewahan dan kekayaan. Tapi sejatinya aku cukup bahagia hidup bersama mas Prapto. Walaupun kehidupan kami saat ini dalam kesulitan dan kesusahan hidup," batin Maryati.
Dia tanpa sadar menitikkan air mata. Dia tidak akan mengira kalau sudah putus asa dengan rahmat Tuhan. Walaupun dalam hati kecilnya masih mengakui bahwasanya Tuhan saat ini masih mengujinya. Namun pilihannya sudah ditetapkan. Maryati dan Prapto kini sudah di desa pleret. Bahkan sekarang ini berada di rumah juru kuncen yang akan menghubungkan jalan perjanjian bersama dengan iblis untuk mendapatkan pesugihan.
Entah pesugihan apa yang akan mereka pilih pada akhirnya. Yang pasti setiap sesuatu yang berhubungan dengan iblis dan perjanjian alam gaib, semua akan meminta tumbal. Baik orang-orang terdekat mereka maupun mereka sendiri yang akan binasa atau menjadi korban jika tidak memenuhi syarat perjanjian setiap tahunnya.
Saat duduk menunggu di dalam rumah kayu tersebut, Prapto kembali melihat kejanggalan di sana. Dia dalam diam melihat beberapa bayangan yang jelas bukanlah manusia biasa. Begitu banyak arwah-arwah penasaran yang berada di sana. Mungkin saja orang-orang yang telah di jadikan tumbal pesugihan berada di sana. Arwah-arwah mereka penasaran karena mereka telah dikorbankan menjadi budak-budak iblis. Sedangkan malam ini adalah malam jumat kliwon, di mana mereka berkumpul di Kerajaan dedemit tersebut.
"Ada apa, mas? Apa yang kamu lihat mas?" tanya Maryati penasaran dengan wajah pucat suaminya. Prapto terlihat gemetaran saat bola matanya melihat disudut ruangan. Tentu saja Prapto melihat sesuatu yang membuat dirinya merasa ketakutan.
"Aku melihat bayangan Minah di sana!" ucap Prapto pelan. Maryati membulat bola matanya.
"Minah? Kenapa ada di sini? Dia belum mati. Dia masih hidup. Kamu salah lihat mas," sahut Maryati ikut syok dengan ucapan suaminya. Prapto mengucek bola matanya. Dia memastikan apa yang telah dia lihat adalah benar.
"Benar! Dia Minah, Mar! Mungkinkah sang dukun itu telah membunuh ikan yang aku tangkap tadi? Dan arwah Minah sudah dipanggil kemari untuk dijadikan tumbalnya," urai Prapto.
"Mas, jangan membuatku merasa sedih mas. Minah masih saudara dekatku. Apakah kita senekat ini mengorbankan Minah demi kekayaan mas?" ucap Maryati.
"Ini sudah resiko yang harus kita jalani, Maryati. Kita sudah sampai di sini dan memilih Minah sebagai tumbalnya. Apakah kamu mau mengorbankan bapak, ibu dan anak-anak kita? Bukannya tadi sudah aku katakan kalau di dalam kolam itu ada ikan-ikan menyerupai mereka. Dan diantara yang lain, Minah lah yang harus kita korbankan," urai Prapto.
Cukup lama Maryati diam seribu bahasa. Bola matanya ikut melihat ke sudut ruangan di mana suaminya melihat bayangan Minah di sana.
Terlihat bayangan Minah menangis terisak-isak di sana. Seolah-olah dirinya sudah terbelenggu dan tidak bisa melepaskan diri.
"Minah! Itu akibatnya kalau kamu sering menyakiti kami! Kamu akan kami jadikan tumbal, Minah!" ucap Prapto dengan lantang. Sorot mata Prapto terlihat penuh amarah dan kebencian. Dia harus tega mengorbankan Minah demi terwujud ambisinya menjadi orang kaya yang disegani dan dihormati. Tidak direndahkan oleh orang-orang sekitar dan keluarga besar nya.
"Mas, aku mendengar suara Minah menangis mas. Mas, apakah Minah benar-benar sudah mati?" sahut Maryati.
"Arwahnya sudah di sini, Maryati! Mungkin saja saat kita sampai di kampung halaman kita, Minah mati," kata Prapto. Maryati mengerut kening nya. Dia tiba-tiba saja melihat suaminya seperti bukan suaminya yang lugu dan kalem. Tapi Prapto sekarang penuh dendam dan ambisi.
"Apakah ini benar, Tuhan! Tapi jelas-jelas ini telah bersekutu dengan iblis," batin Maryati. Dia menutup telinganya karena jeritan tangis Minah begitu menyayat hatinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments