Prapto telah melewati ritual-ritual untuk mendapatkan pesugihan kandang bubrah. Dibantu oleh sang juru kuncen, akhirnya Prapto bisa berhasil mendapatkan pesugihan kandang bubrah. Tentu saja semuanya memiliki resiko. Di mana di sana Prapto telah melakukan perjanjian dengan iblis untuk mendapatkan pesugihan kandang bubrah tersebut.
Prapto dan Maryati kini berjalan jauh meninggalkan kampung Pleret. Beruntung sekali, mereka berdua mendapatkan angkutan menuju perbatasan kota. Di mana mereka harus membeli tiket bus untuk pulang ke kampungnya. Lagi-lagi angkutan yang mereka tumpangi seperti telah disiapkan. Keganjilan-keganjilan pun mereka alami seperti saat mereka hendak memasuki kampung Pleret. Sopir angkutan yang aneh. Dengan penumpang yang naik di tengah jalan tepatnya di hutan jati.
Suasana mencekam mereka rasakan. Apalagi malam semakin sepi. Mungkin saja waktu menunjukkan pukul dua pagi dan sebentar lagi fajar akan segera tiba. Itulah sebabnya angkutan itu melaju dengan cepat. Maryati dan Prapto yang merasakan keanehan itu hanya bisa diam. Mereka telah pasrah akan nasibnya. Mereka yakin angkutan yang membawanya menuju perbatasan kota bukanlah angkutan biasa. Bagi mereka saat ini bisa sampai di perbatasan kota dan mendapatkan tiket bus menuju kampungnya. Walaupun keberangkatan ke kampung halaman pasangan suami istri itu biasanya di jam satu siang.
"Turunlah! Aku hanya bisa mengantarkan kalian sampai di sini. Sebentar lagi pagi. Di depan sana kalian bisa melanjutkan perjalanan kalian kembali," ucap sopir aneh itu dengan suara parau.
Maryati dan Prapto segera turun dari mobil angkutan yang sudah tua itu. Prapto memberikan bungkusan pada sang sopir. Maryati mengerutkan keningnya. Tentu saja Maryati penasaran dengan bungkusan yang telah diberikan sopir aneh itu dari suaminya. Setelahnya sopir aneh itu melaju meninggalkan Prapto dan Maryati. Sebelum Maryati menanyakan isi bungkusan itu, dirinya sudah tidak mendapati mobil angkutan itu bersama dengan sopir aneh nya.
"Hah, lewat mana angkutan itu, mas? Cepat sekali hilangnya," kata Maryati. Prapto menarik lengan istrinya dan mengajaknya berjalan ke depan. Di mana mereka telah mendapati jalan raya yang cukup ramai dengan pemukiman penduduk yang padat. Di sana juga ada toko-toko dan warung yang masih buka dua puluh empat jam.
"Lebih baik kita istirahat di warung makan itu. Kita ngopi dan jika kamu ingin makan, kamu boleh makan sekenyang nya," ajak Prapto pada Maryati.
"Baiklah, mas! Tapi sebenarnya bungkusan yang mas berikan pada sopir aneh itu isinya apa, mas?" tanya Maryati. Dia sangat penasaran dengan semua itu.
"Sebenarnya bungkusan itu tadi pemberian sang dukun. Ki Praja berpesan kalau nanti naik angkutan dan bertemu dengan sopir aneh, aku disuruhnya menyerahkan itu sebagai bayarannya. Aku sendiri juga tidak tahu menahu apa isinya," terang Prapto. Maryati menyipit bola matanya.
"Kapan sang dukung itu memberikan bungkusan itu pada mu, Mas?" tanya Maryati.
"Hem, kapan yah? Aku lupa. Ayolah jangan membahas lagi soal itu. Kita sudah cukup dibuat tegang sejak kemarin sore. Aku ingin rileks dan santai dulu sambil ngopi, Mar!" sahut Prapto sambil menarik lengan Maryati supaya lebih cepat jalannya menuju warung makan yang letaknya di pinggir jalan raya.
Setibanya di warung makan itu, di mana ada beberapa sopir truk dan bus istirahat sembari ngopi di sana. Tatapan mata yang aneh tertuju pada Prapto dan Maryati yang baru saja datang serta duduk memesan minuman dan makanan. Beruntung di jam setengah tiga itu Maryati bisa menikmati menu makanan yang diinginkan yaitu soto ayam. Berbeda dengan Prapto yang hanya memesan kopi hitam sembari menikmati rokok lintingannya.
"Mas, tidak makan?" tanya Maryati. Prapto menggeleng sembari menyalakan batang rokoknya.
"Tidak! Aku masih kenyang, Mar!" jawab Prapto sambil menghisap batang rokok yang sudah dinyalakan nya. Maryati kembali teringat kalau dirinya sebelumnya telah memakan daging saudaranya yaitu Minah dalam bentuk ikan goreng.
"Sudah, jangan diingat-ingat terus. Nanti kamu jadi stres, Mar!" ucap Prapto yang sangat paham psikologi istrinya. Maryati menarik napas dalam-dalam berusaha tenang. Sampai akhirnya minuman dan makanan yang sudah mereka pesan kini telah tiba diantar oleh seorang wanita setengah baya yang mungkin saja pemilik warung makan tersebut.
"Ini kopi dan teh panasnya, mas, mbak! Dan ini nasi soto ayam nya. Silakan dinikmati," kata wanita dengan ramah.
Maryati dan Prapto tersenyum simpul. Dia tidak banyak berbasa-basi pada pemilik warung makan itu. Di lain tempat tatapan aneh dan sinis memperhatikan pasangan suami istri yaitu Maryati dan Prapto. Bisik-bisik pria yang berprofesi sebagai sopir truk dan juga bus itu mulai terdengar. Bahkan sayup-sayup terdengar di telinga Prapto. Berbeda dengan Maryati yang fokus menyantap makanan nya.
"Pasti mereka habis dari desa Pleret untuk mencari pesugihan. Aku berani taruhan soal itu," kata salah satu sopir truk dengan kulit yang eksotis. Suara tawa mereka cukup terdengar ditelinga Prapto. Kali ini Prapto tidak peduli dengan orang-orang nyinyir yang tidak ia kenalinya.
"Jangan berprasangka buruk dulu, Jo! Siapa tahu mereka tersesat di jalan. Lebih baik kita tanya saja. Sesama manusia kita harus saling menolong dan memberikan petunjuk," sahut Marno sang sopir truk yang lain.
"Benar, kalau mereka sudah tersesat jalan nya karena mencari pesugihan supaya ingin lekas kaya. Mungkin saja mereka mencari pesugihan tuyul kali. Ah, sayang sekali istrinya yang cantik itu bakal ngasih makan tuyul-tuyulnya dengan air susu nya, hahaha!" ucap sang sopir yang dipanggil dengan sebutan Jo.
Sopir-sopir yang lain tertawa lepas. Mereka mulai larut dalam pembicaraan yang seru. Jangan lupakan Prapto yang hanya diam tanpa menggubris ocehan dan obrolan para sopir-sopir. Bagi Prapto semuanya tidak penting. Prapto melihat Maryati sudah selesai makannya. Prapto terlihat celingukan mencari wanita paruh baya pemilik warung makan dan kopi itu untuk membayar minuman dan makanan nya. Mungkin juga sekalian bertanya di mana ada penginapan murah untuk dijadikan istirahat sejenak sampai siang hari baru melanjutkan perjalanan kembali ke kampung halamannya. Bus menuju ke kampung halaman Prapto biasanya akan beroperasi di siang hari.
"Bu, berapa semuanya bu?" tanya Prapto pada wanita pemilik warung makan tersebut. Terlihat wanita itu mulai menghitung makanan dan minuman yang tadi telah dipesan oleh Prapto bersama istrinya.
"Tidak mahal, mas! Hanya tiga puluh lima ribu saja, untuk satu soto ayam, kopi hitam dan teh panas nya," terang wanita pemilik warung makan itu.
Prapto mengerut keningnya karena baginya harga makanan dan minuman yang telah ia pesan bersama istrinya di kampungnya termasuk mahal. Mungkin perbandingan harga di kampungnya semuanya hanya sembilan ribu rupiah. Di mana soto ayam dengan harga lima ribu. Sedangkan teh panas dan juga kopi hitam seharga empat ribu rupiah.
Prapto mengeluarkan uang satu lembar lima puluh ribuan pada wanita pemilik warung makan itu. Uang itulah pemberian Duan untuk dirinya sebagai upah mencarikan orang yang dijadikan tumbal pesugihan nya.
"Tunggu yah, mas! Aku akan ambilkan kembaliannya yang lima belas ribu," ucap wanita pemilik warung makan itu. Sebelum wanita pemilik warung makan itu meninggalkan Prapto dan Maryati, Prapto tiba-tiba memanggil wanita sepuh itu.
"Tunggu, bu!" ucap Prapto. Wanita paruh baya itu mengerut lalu kembali mendekati Prapto lagi.
"Iya, mas! Ada apa yah, mas?" tanya wanita itu.
"Di mana penginapan murah di dekat sini bu? Kami butuh istirahat sejenak sampai siang nanti. Karena bus menuju kampung halaman kami berangkat jam satu siang," kata Prapto. Wanita itu tersenyum simpul.
"Oh, kalian butuh kamar buat istirahat yah? Saya ada beberapa kamar di belakang warung ini. Jika mau harga semalam nya seratus ribu rupiah," terang wanita itu. Prapto tersenyum lega.
"Oh, baiklah saya ambil satu kamar saja bu. Tapi apa tidak boleh kurang?" sahut Prapto. Prapto yang merasa selama ini sulit mendapatkan uang seratus ribu rasanya berat jika melepas begitu saja untuk harga satu kamar untuk menginap sampai siang nanti. Sedangkan sekarang sudah menjelang subuh.
"Hem, tidak bisa mas! Kalau mau harga segitu kalau tidak mau cari saja yang lain. Biasanya sopir-sopir di sini hanya hitungan jam memakai kamar itu untuk melepas penat dan lelah," terang wanita itu. Prapto mengerut keningnya. Sesaat kemudian Prapto mengeluarkan uang dua lembar uang lima puluh ribuan pada wanita itu. Kembali senyum lebar dengan mata berbinar terlihat jelas di wajah wanita itu.
"Mari mas, mbak! Saya akan tunjukan kamar untuk kalian berdua," ucap wanita itu dengan semangat setelah mendapatkan uang dari Prapto dan juga Maryati. Jangan lupakan sopir-sopir yang masih duduk ngopi melihat dan memperhatikan Maryati dan Prapto dengan serius.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments
MasWan
kepo juga nih abang² sopir, kyk makmak
2024-03-30
0