Teringat akan ucapan sang dukun desa Pleret, Maryati segera mencari Minah selang satu minggu setelah sampai di rumah setelah perjalanan nya bersama suaminya di desa Pleret untuk mencari pesugihan. Dan satu minggu tersebut mereka memulai usaha kecil-kecilan di dekat pasar.
Pada akhirnya mereka memiliki pesugihan kandang bubrah. Di mana memiliki pesugihan kandang bubrah setiap waktu harus merenovasi rumah nya. Namun saat ini Prapto dan Maryati yang masih mengontrak rumah hanya bisa merubah tata letak rumah yang mereka tempati. Rumah Maryati sendiri yang dahulunya warisan atau jatah pemberian orang tuanya harus disita karena dijadikan jaminan hutang oleh rentenir. Benar-benar mereka sangat dirugikan dalam hal ini. Namun demikian, ada tekad yang besar dari Prapto dan Maryati untuk membeli kembali rumah beserta sertifikat tanahnya yang kini berada di tangan sang rentenir.
Prapto dan Maryati mulai berdagang kecil-kecilan dari sisa uang pemberian Duan di dekat pasar. Dia mulai membuka warung mie ayam dan bakso di sana. Dengan modal nekat, dan tempat yang tidak luas Prapto memulai usaha warung bakso dan mie ayam. Gerobaknya pun beli di barang bekas namun layak pakai.
Hari ini usaha dagangan mie ayam dan bakso mereka telah habis ludes. Warung yang dibuka dari pukul sembilan pagi itu habis di siang hari pukul dua belas. Usai berdagang Maryati sengaja mencari Minah di rumahnya. Rumah Minah berdekatan dengan rumah bapak ibu nya. Saat tiba di rumah Minah, orang tua Minah menangis sedih. Di mana sudah hampir satu minggu lebih, Minah tidak bisa bangun dari tidurnya. Dia seperti mayat hidup, tidak mau makan dan minum. Tatapannya kosong dan suka meracau sendiri. Minah seperti terkena gangguan jiwa bagi orang yang melihat nya. Namun demikian tubuh nya lemah lunglai seperti orang yang terkena penyakit struk.
"Maryati! Kamu baru datang menjenguk Minah yah?" ucap Ibu Minah dengan kedua mata yang berkaca. Wanita setengah baya itu begitu sedih saat melihat putrinya jadi seperti mayat hidup. Maryati mendekati ibu Minah seraya duduk di dekatnya.
"Sejak kapan Minah seperti itu, bu?" tanya Maryati pelan. Ibu Minah yang mulai berkeriput itu menatap Minah dengan sedih. Jangan lupakan Minah yang kini menatap tajam ke arah Maryati. Wanita yang sudah tidak berdaya itu seperti menaruh kebencian pada Maryati. Maryati pura-pura sedih dan prihatin dengan keadaan saudara dekatnya itu.
"Minah tiba-tiba seperti ini saat kamu dan suami kamu pergi ke luar kota. Kejadiannya kurang lebih sepuluh hari yang lalu. Aku mengetahui kamu dan suami kamu pergi ke luar kota karena aku ke rumah orang tua kamu. Orang tua kamu tentu saja tersinggung karena anak-anak kalian dititipkan ke mertuamu bukan orang tua kandung mu sendiri," jelas ibu Minah yang bernama Salamah.
Maryati mengerut keningnya. Sejurus kemudian Maryati mendekati Minah dan memegang tangannya yang dingin. Tetapi Minah seperti ketakutan saat Maryati menyentuh tangan Minah.
"Mar, Minah selalu ketakutan kalau dipegang oleh seseorang. Bu Nyai juga sudah berusaha mengobatinya, namun masih saja Minah seperti itu," Bu Salamah menceritakan dengan gamblang.
"Sudah berobat ke dokter, bu?" tanya Maryati. Bu Salamah menyipit bola matanya.
"Aku pikir Minah seperti itu bukan karena sakit medis. Melainkan karena telah dikerjain seseorang," sahut bu Salamah.
"Dikerjain seseorang? Maksud ibu?" tanya Maryati dengan mengerut keningnya.
"Iya, seperti di guna-guna atau di santet gitu. Maryati, jika Minah bersalah dan pernah menyakiti kamu dan suami kamu, aku mohon maafkan Minah," ucap bu Salamah dengan melebar bola matanya. Maryati merasa seperti ditampar oleh ibu Salamah. Sejurus kemudian bu Salamah melanjutkan perkataannya.
"Selama kamu dan suamimu Prapto pergi ke luar kota. Sebenarnya kalian ada urusan apa? Lalu kenapa anakku Minah tiba-tiba menjadi seperti ini?" kata bu Salamah. Maryati seperti dituduh oleh bu Salamah biang keladi dari penyakit Minah. Maryati berusaha tenang. Dia tidak boleh terpancing emosi dengan ucapan bu Salamah.
"Aku dan mas Prapto pergi ke luar kota untuk mencari pinjaman uang bu. Kebetulan sahabat mas Prapto mau meminjamkan uang yang cukup banyak untuk modal usaha kami. Seperti yang telah ibu tahu, aku dan mas Prapto sekarang ini telah memulai usaha warung bakso dan mie ayam di dekat pasar. Walaupun warungnya masih kecil tapi kami berharap bisa laris dan ramai setiap hari," jelas Maryati yang berusaha tenang menjelaskan semua pada ibu Minah. Maryati tidak ingin ibu Minah menjadi curiga dengan semua yang terjadi pada Minah.
"Soal Minah seperti ini, saya juga tidak tahu menahu bu. Saya dan mas Prapto tentu saja sangat terkejut dengan keadaan Minah yang seperti sekarang ini," sambung Maryati. Bu Minah seperti terpengaruh dengan ucapan Maryati. Wanita itu manggut-manggut dan percaya dengan kata-kata Maryati.
"Maafkan aku, Maryati! Karena anakku Minah sering menyakiti kamu dan suami kami, aku takut kalau kalian sakit hati lalu mencelakai Minah dengan ilmu Hitam," ucap bu Salamah dengan perasaan menyesal karena putrinya, Minah selama ini sering menghina pasangan suami istri yaitu Prapto dan Maryati soal kemiskinannya dan banyak nya hutang.
Namun sekarang Prapto dan Minah mulai bangkit dan memulai usaha warung bakso mie ayamnya. Walaupun mereka berdua memiliki pesugihan kandang bubrah. Di mana mereka menyakini segala usaha-usaha dan urusan mereka akan semakin sukses dan berjaya dengan meminta makhluk lain selain Sang Pencipta Alam Ini.
"Astaghfirullah, bu Salamah! Saya dan suami saya, mas Prapto tidak ada dendam dan sakit hati bu. Mana mungkin kami mencelakai Minah? Kita itu saudara, bu!" sahut Maryati berusaha menyakinkan bu Salamah. Di mana bu Salamah sendiri adalah adik kandung dari bapak Maryati. Jadi Maryati adalah keponakan bu Salamah.
"Maafkan ibu jika sudah berprasangka buruk dengan kalian. Ibu tahu kalau Minah sudah sangat sering mengganggu kalian berdua dan bahkan membuat kalian sakit hati dengan ucapan Minah. Maka dari itu, ini sangat kebetulan sekali di mana kejadiannya di saat kalian pergi ke luar kota dan Minah menjadi seperti ini," ungkap bu Salamah.
Sebagai seorang ibu, tentu saja dia punya insting yang kuat. Di mana penyakit Minah bukanlah penyakit biasa pada umumnya. Bu Salamah beranggapan kalau Minah telah di dukun kan atau dikerjai seseorang dengan ilmu Hitam. Anggapan seperti itulah yang menjadikan bu Salamah berpikir semuanya adalah rasa dendam dan sakit hati seseorang terhadap Minah. Seseorang itu tidak lain adalah Maryati dan Prapto yang masih saudara dekatnya sendiri.
"Saya berani sumpah Demi apapun soal ini bu. Bila perlu saya mau sumpah pocong kok, bu. Jika ini akan membuat ibu kembali percaya pada kami," sahut Maryati berusaha menyakinkan Bulik nya itu.
"Tidak, tidak perlu! Saya percaya kamu dan suami kamu kok, Mar. Baiklah, tunggu sebentar dan temani Minah. Ibu akan membuatkan minuman untuk kamu," kata bu Salamah akhirnya. Wanita setengah baya itu meninggalkan Minah dan Maryati di ruangan itu. Jangan lupakan Minah yang seperti ketakutan saat ditinggal oleh ibu nya dan kini hanya ditemani oleh Maryati. Maryati tersenyum sinis. Dia mulai mendekati telinga Minah dan membisikkan sesuatu di sana. Minah yang hanya bisa berbaring di atas tempat tidur rasanya ingin memberontak dan berlari menjauhi Maryati. Namun karena tubuh nya seperti tidak bisa digerakkan itu hanya bisa mengeluarkan rengekan seperti anak kecil.
"Kamu tahu Minah? Sebentar lagi aku dan mas Prapto akan kaya raya. Kami sudah mulai membuka warung bakso dan mie ayam. Kamu tahu? Warung bakso mie ayam kami setiap hari ramai pembeli dan selalu habis. Dan kamu...," bisik Maryati pelan. Bola mata Minah melotot tajam saat mendengar Maryati berbicara pelan di telinga Minah.
"Dan kamu akan kami jadikan tumbal. Kamu akan mati, Minah. Pelan-pelan tubuh kamu akan habis, kurus kering. Lalu kamu akan mati, hehehe," bisik Maryati kembali di telinga Minah.
Minah terlihat marah. Namun tidak bisa berbuat apa-apa. Mulut nya tidak mampu berteriak-teriak. Hanya saja merengek seperti hendak memanggil ibu nya. Bola matanya melotot hingga tubuh nya mulai kejang-kejang. Melihat hal itu, Maryati memanggil-manggil bu Salamah karena kondisi Minah semakin mengkhawatirkan.
"Bulik Salamah! Minah, Bulik!" teriak Maryati yang mulai menyadari kondisi Minah seperti hendak berpisah antara tubuh dan nyawanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments