Prapto dan Maryati saling berpandangan ketika dirinya langsung disambut dengan hangat oleh sang juru kuncen yang bernama Ki Praja. Kedatangan pasangan suami istri itu sudah bisa dirasakan oleh sang juru kuncen. Di mana keduanya ingin mencari pesugihan. Dalam hal ini jika keduanya berjodoh dan berhasil melakukan ritual pesugihan, dia akan kembali pulang dengan harapan dan keinginan mereka. Di mana mereka akan diikuti iblis yang akan membantu dirinya dalam urusan dunia seperti segala urusan maupun usaha mereka akan sukses dan mereka akan lebih cepat kaya dari bantuan makhluk yang dijadikan pesugihan.
Prapto menggandeng tangan istrinya, Maryati mendekati rumah kayu. Di mana rumah kayu tersebut di kanan kirinya berderet kamar-kamar yang sengaja disiapkan untuk tamu-tamu maupun pasien yang sengaja datang dari luar kota. Tentu saja mereka datang dengan tujuan yang berbeda-beda. Ada yang ingin mendapatkan pesugihan. Ada yang berobat. Ada yang ingin memperpanjang kontrak perjanjian dan lain sebagainya.
Saat mereka sudah berdiri di depan pintu rumah kayu tersebut, suara pria tua nyaris mengagetkan mereka berdua. Bahkan keduanya sampai melompat karena terkejut. Bersyukur jantung mereka adalah ciptaan Tuhan bukan buatan manusia sehingga tidak sampai lepas.
"Kalian berdua masuklah! Jangan berdiri terus di depan pintu!" Perintah pria paruh baya yang tidak lain adalah sang juru kuncen yang bernama Ki Praja.
Maryati dan Prapto saling berpandangan. Keduanya terlihat ragu-ragu hendak masuk ke dalam rumah. Jangan lupakan sang juru kuncen sendiri duduk di kursi goyang sembari menghisap rokok lintingannya yang diracik khusus. Bau kemenyan keluar dari asap mengebul rokoknya. Rupanya sang juru kuncen menggunakan kemenyan di dalam racikan tembakau lintingnya.
"Kenapa masih berdiri mematung di depan pintu? Cepat masuk! Atau akan aku tutup pintunya kembali. Aku paling tidak suka dengan orang yang ragu-ragu dan plin-plan," sambung sang juru kuncen.
Prapto dan Maryati dengan cepat berjalan masuk ke dalam rumah dan serta merta duduk di bangku kayu depan sang juru kuncen setelah pria tua itu memberikan isyarat untuk duduk di bangku tersebut.
"Hem, sudah kuduga kalau kamu bakal kembali lagi ke tempat ini, pria lemah!" ucap sang dukun dengan tatapan tajam ke arah Prapto. Prapto sedikit gemetaran saat tatapan tajam sang dukun seperti hendak menerkam dirinya.
"Maaf, kek! Saya sudah putus asa. Saya ingin kaya," sahut Prapto. Suara tawa lepas keluar dari mulut pria paruh baya itu. Tawanya seperti sangat menghina dan meremehkan.
"Baik-baiklah! Aku paham apa yang kamu rasakan. Sekarang tidak perlu membuang-buang waktu lagi. Jika kamu ingin cepat kaya dengan cara ini, lakukan apa yang aku perintahkan," ucap sang dukun sambil berdiri. Pria itu memberi isyarat mengajak Prapto ke belakang rumah itu. Jangan lupakan Maryati yang pada akhirnya mengikuti langkah suaminya yang berjalan di belakang sang dukun. Saat sang dukun itu berhenti di dekat kolam ikan yang cukup luas, Prapto pun ikut menghentikan langkahnya. Maryati menatap sang dukun dan Prapto secara bergantian.
"Ini kolam ikan. Di sinilah kamu harus memancing dan sampai mendapatkan satu ikan yang kamu pancing. Setelah mendapatkan satu ikan itu, kamu boleh menemui ku kembali," ucap sang dukun.
Prapto mengerti. Dia mulai mengambil alat pancing yang sudah disiapkan oleh sang dukun. Selain alat pancing, di sana ada alat jaring yang ada gagangnya. Sebenarnya mudah untuk mengambil ikan di dalam kolam tersebut tanpa memancingnya. Namun bisa diambil dengan jaring pun bisa karena banyak ikan-ikan besar yang terlihat di dalam kolam itu.
Betapa terkejutnya Prapto saat melihat ikan-ikan yang berenang di dalam kolam. Dia melihat ikan-ikan itu bagian kepalanya menyerupai wajah-wajah keluarganya. Prapto melihat ikan-ikan itu berwajah bapak, ibu, anak-anak nya, saudara iparnya serta orang-orang yang pernah menghina dirinya. Keterkejutan Prapto membuat heran bagi Maryati. Maryati yang sejak tadi berdiri di sebelah Prapto yang duduk berjongkok hendak menjaring ikan itu, akhirnya ikut duduk berjongkok di samping Prapto.
"Ada apa mas? Kenapa mas Prapto tidak cepat-cepat menjaring ikannya? Ayo tangkap satu ikannya yang paling besar. Supaya secepatnya kita menyelesaikan apa yang diperintah oleh sang dukun itu," ucap Maryati pelan. Namun Prapto sesaat menatap Maryati dengan heran. Apakah Maryati tidak melihat ikan-ikan yang wajahnya menyerupai orang-orang yang mereka kenal.
"Maryati, ikan-ikan ini...," ucap Prapto yang tidak melanjutkan kalimat nya. Maryati mengkerut keningnya. Dia semakin tidak mengerti apa yang telah dipikirkan suaminya.
"Kenapa dengan ikan-ikan itu, mas? Ayo cepatlah dijaring! Tunggu apa lagi? Apakah mas Prapto menjadi ragu?" kata Maryati.
"Maryati, apakah kamu tidak melihat keanehan ikan-ikan itu? Aku melihat ikan-ikan yang mendekati kita itu kepalanya mirip dengan wajah-wajah keluarga kita dan orang-orang yang pernah menghina kita," terang Prapto.
"Hah, apa? Maksud mas Prapto apa?" sahut Maryati.
"Wajah ikan itu ada yang mirip dengan bapak, ibu kamu, Mar. Ada yang mirip dengan anak-anak kita. Dan ada lagi ada yang mirip dengan Tarmin, Dores, Mila dan Minah," Prapto menjelaskan dengan gamblang. Maryati mulai mengucek matanya. Dia tidak melihat keanehan itu. Di mana ikan-ikan itu selayaknya ikan-ikan biasa. Tidak seperti yang diceritakan oleh suaminya.
"Ah, sudahlah mas! Jangan diambil pusing, mas. Lebih baik mas Prapto menjaring ikan yang mirip dengan ibuku saja. Mungkin saja itu ikan yang bernilai tinggi. Dan kita akan menjadi kaya raya dengan cepat," Maryati berpendapat.
"Tidak! Aku tidak akan menangkap ikan yang menyerupai ibu bapak maupun anak-anak kita. Bagaimana kalau aku menangkap salah satu ikan yang wajahnya mirip bapak, ibu dan anak-anak kita, itu akan membuat celaka salah satu dari mereka," kata Prapto. Maryati menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Apa yang dikatakan suaminya ada benarnya. Dalam mencari pesugihan biasanya ada korban jiwa yang akan dijadikan tumbal.
"Ah sudahlah! Terserah kamu saja mas. Yang penting secepatnya mas Prapto mengambil salah satu dari ikan-ikan itu," sahut Maryati. Prapto mengangguk pelan.
Pria yang sudah menikahi Maryati beberapa tahun ini akhirnya menjaring salah satu ikan dengan kepala yang wajahnya mirip dengan orang yang pernah menghina Maryati maupun Prapto. Ikan itu yang wajahnya menyerupai Minah.
Sebenarnya bapak dan ibu Maryati juga tidak kalah membuat sakit hati Prapto. Namun demikian, Prapto tidak mungkin mengorbankan keduanya. Bagaimana perasaan istrinya jika salah satu orang tua Maryati meninggal karena telah dikorbankan menjadi tumbal pesugihan. Walaupun sebenarnya Prapto benar-benar merasa diinjak-injak harga dirinya sebagai menantu oleh mereka. Ditambah lagi mereka selalu membandingkan dengan menantu nya yang lain yang tentu saja lebih sukses dan kaya raya.
Prapto ingin menunjukkan pada mereka setelah ini kehidupan nya akan berubah. Dia akan kaya raya dan sukses. Itu akan menjadi kebanggaan bagi Prapto bisa membahagiakan Maryati dengan kemewahan dan kekayaan nanti nya. Walaupun dengan jalan mencari pesugihan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments