"Bagaimana kabar kamu, To?" tanya Duan saat ketemu Prapto pagi ini di pasar sedang mengangkat barang-barang milik orang. Prapto menjadi kuli panggul di pasar.
"Yah, seperti yang kamu lihat, Wan!" sahut Prapto.
Duan memperhatikan penampilan Prapto yang kacau dan asal. Mungkin saja Prapto sudah tidak memperdulikan lagi gaya hidup dan penampilan nya.
"Kamu sedang mengalami kesulitan ekonomi yah?" tebak Duan. Prapto mengangguk cepat. Duan tersenyum seraya memperhatikan tubuh ideal Prapto yang maco.
"Aku bisa membantu kamu, To. Tapi itu jika kamu mau," sahut Duan. Prapto melebar bola matanya mendengar sahabat nya mau membantu kesulitannya.
"Tentu saja aku mau, Wan. Sekarang ini aku benar-benar sudah buntu. Keluarga istriku selalu saja merendahkan aku yang tidak becus mencari uang untuk memenuhi keluargaku," jelas Prapto.
Duan mulai prihatin dengan masalah yang dihadapi temannya itu. Masalah Prapto sudah pernah ia alami saat dirinya belum menjadi sekarang ini yang sukses dengan segala usaha dan sudah terbilang mapan.
"Baik, kalau begitu besok pagi ikut aku yah. Aku akan mengajak kamu ke suatu tempat. Tapi tempat nya ini diluar kota. Kira-kira dua puluh empat jam lebih untuk bisa tiba di tempat itu," jelas Duan. Prapto mulai tertarik dengan ajakan Duan.
"Tidak apa, Wan! Aku harus merubah nasib aku. Aku sudah lelah hidup dalam kekurangan dan kemiskinan. Apalagi ditambah dihina oleh orang-orang dan mertua," keluh Prapto.
"Ya ya, aku mengerti, To! Masalah seperti itu sudah pernah aku alami dulu," kata Duan seraya menepuk puncak Prapto, teman nya sewaktu sekolah dulu.
"Jangan lupa, besok pagi aku akan ke rumah kamu. Siapkan pakaian ganti juga karena kita akan melakukan perjalanan cukup jauh. Sekalian juga aku ada kepentingan di sana. Selain mengantarkan kamu untuk merubah nasib, aku juga memang ada urusan pribadi di sana," kata Duan.
"Syukur kalau begitu! Jadi aku tidak terlalu merepotkan kamu kan? Tapi aku harus membicarakan hal ini pada istriku, Mariyati, Wan. Masalahnya aku harus meninggalkan istri dan anak-anak ku ke luar kota. Sementara aku juga harus meninggalkan uang untuk Mariyati. Demikian juga aku pun butuh modal untuk pergi kan, Wan?" kata Prapto panjang lebar. Duan tersenyum lebar. Dia menepuk bahu kawannya itu pelan.
"Soal itu jangan khawatir, To! Aku akan membantu kamu soal ini, selain yang untuk jajan istri dan anakmu, kamu juga gratis aku bayari untuk melakukan perjalanan ini. Anggap saja, kamu menemani aku dulu di desa Pleret tempat aku mendapatkan kekayaan," terang Duan. Prapto tersenyum senang.
"Kamu yakin, Wan? Mau membantu ku soal keuangan ini?" sahut Prapto.
"Iya, satu juta cukup kan buat ninggalin istri dan anak-anak mu. Mungkin hanya tiga hari saja kok di sana," kata Duan.
"Tidak apa-apa Wan. Itu sudah lebih dari cukup. Kami sudah biasa hidup sederhana, Wan," ucap Prapto.
"Tidak apa-apa sekali-kali mereka makan enak, seperti ayam goreng," kata Duan sambil tersenyum lebar. Prapto tiba-tiba mendapatkan seseorang untuk meminta bantuan mengangkat beberapa barang belanjaan. Duan bergegas pamit pergi dari tempat itu.
"Ya sudah, aku pergi dulu yah. Itu kamu ada orang yang mau minta jasa kamu untuk ngangkat barang. Oke, besok pagi aku ke rumah kamu yah! Aku harus pulang dulu," kata Duan seraya menjabat tangan Prapto.
Duan berjalan menuju ke tempat di mana mobilnya dia parkirkan. Prapto menatap Duan dengan tatapan yang kagum terhadap perubahan yang terjadi pada nasib Duan.
"Semoga saja ini usaha yang terakhir untuk merubah nasibku. Semoga di sana nanti aku bisa cocok dengan pekerjaan yang ditawarkan oleh Duan. Walaupun jauh dengan istri dan anak-anak ku. Tapi ini demi mereka juga," gumam Prapto.
Setibanya di rumah Prapto membicarakan soal keberangkatan nya keluar kota untuk merubah nasib. Tentu saja Mariyati merasa keberatan jika Prapto harus bekerja di luar kota yang akan jauh dari istri dan anak-anaknya.
"Tapi, mas! Tapi pekerjaan apa yang ditawarkan oleh Duan? Kalau bisa kamu bekerja di sini saja mas. Aku dan anak-anak lebih suka jika kita kumpul bersama di sini. Walaupun kita hidup dalam kesederhanaan tapi aku dan anak-anak sangat senang jika kamu tidak jauh dari kami," ucap Mariyati.
"Kita lihat nanti saja, Mar! Doakan aku bisa bekerja di sini dan tidak meninggalkan kamu dan anak-anak demi sebuah pekerjaan. Walaupun pekerjaan dan keluarga juga sama-sama penting," kata Prapto.
"Iya, mas! Semoga apa yang kamu inginkan terkabulkan," sahut Mariyati.
"Keinginan adalah bisa merubah nasib keluarga kita. Aku sudah lelah mendapatkan hinaan dari orang-orang. Dan juga orang tua kita karena kita miskin," ucap Prapto. Ucapan Prapto membuat Maryati menangis. Semua karena orang tuanya yang selalu menghina suaminya. Selain itu mungkin saja Prapto akan cuek jika orang menghina dirinya.
⭐⭐⭐⭐⭐
Pagi itu Duan benar-benar datang ke rumah Prapto. Dia sudah bersiap-siap pergi ke luar kota. Namun saat tiba di rumah Prapto, Duan terlihat kecewa karena Prapto belum bersiap-siap pergi. Padahal kemarin seperti sudah menyanggupi kalau pagi ini Prapto akan ikut bersama Duan akan pergi ke luar kota, tepat nya di desa Pleret di daerah Jawa perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Mobil Duan berhenti di depan rumah Prapto. Prapto beserta Mariyati berdiri di depan rumah sudah menyambut kedatangan Duan dengan mobil mewahnya. Ada rasa cemburu dalam benak Prapto atas keberhasilan dan kesuksesan Duan. Rasanya Prapto ingin seperti Duan yang sudah memiliki rumah, mobil dan juga showroom mobil dan motor. Mariyati diam-diam memperhatikan suaminya yang seperti melamun saat melihat Duan dengan penampilan yang wah.
"Loh, Prapto! Kok kamu belum siap-siap sih? Jadi enggak ikut aku ke desa Pleret?" kata Duan yang langsung bertanya saat dirinya turun dari dalam mobilnya. Prapto melihat Mariyati dan Duan secara bergantian.
"Em, kita masuk dulu Wan! Kami mau bicara dengan kamu di dalam soal pekerjaan di sana nanti," kata Prapto.
Duan menyipit bola matanya. Sepertinya memang Duan harus membicarakan hal ini pada Prapto beserta istrinya. Mungkin saat di pasar kemarin ada kesalahpahaman Prapto mengenai pekerjaan yang ditawarkan oleh Duan. Akhirnya Duan mengikuti Prapto beserta Mariyati masuk ke dalam rumah mereka. Lebih tepatnya rumah kontrakan mereka.
"Assalamu'alaikum!" ucap Duan saat kaki nya melangkah masuk ke pintu rumah Prapto.
"Waalaikumsalam, ayo duduk Wan!" sahut Prapto pada Duan. Prapto dan Duan kini telah duduk di kursi kayu di ruangan itu. Sementara itu Mariyati ke dapur kecilnya untuk membuat kopi untuk Duan dan juga suaminya.
"Jadi seperti ini Wan! Mariyati sebenarnya keberatan jika aku bekerja di luar kota. Apalagi harus jauh dengan anak dan istri. Lagipula di sana aku belum jelas bekerja apa. Kamu bisa menjelaskan dan meyakinkan Mariyati soal ini tidak?" kata Prapto.
Duan mulai menarik batang rokoknya. Rokok itu dia nyalakan dan mulai menghisapnya. Duan menunggu Mariyati ikut duduk di ruangan itu. Tidak lama Mariyati datang membawa dua gelas minuman panas dan meletakkan di atas meja.
"Ini minumnya di minum dulu mas!" ucap Mariyati setelah dua gelas kopi telah ia letakkan di atas meja.
"Mariyati, kamu duduk lah! Ini Duan akan menjelaskan pekerjaan apa yang akan aku lakukan di luar kota nanti," kata Prapto. Duan sejenak bingung harus memulai dari mana. Dia melihat pasangan suami istri itu secara bergantian.
"Jadi begini, mbak Mar! Sebenarnya aku ingin mengajak Prapto dulu ke suatu tempat di luar kota ini. Di sana lah ada sesuatu yang harus aku lakukan. Ini berkaitan dengan kesuksesan dan keberhasilan ku seperti sekarang. Aku bisa punya uang banyak dan segala kemewahan," cerita Duan. Prapto dan Mariyati mengerut keningnya. Pasangan itu saling berpandangan.
"Tentu nya setelah di sana nanti, Prapto bisa mengikuti jejakku. Tapi jangan khawatir segala sesuatu nya akan aku tanggung untuk perjalanan ke sana. Bahkan aku sudah menjanjikan pada Prapto akan memberikan uang satu juta untuk ninggalin anak istri nya saat Prapto aku ajak pergi," sambung Duan. Mariyati dan Prapto saling berpandangan. Mereka tentu saja masih bingung dengan pekerjaan yang dilakukan oleh Duan.
"Tapi masalah Prapto nantinya tidak cocok dan tidak mau mengikuti jejakku untuk sukses seperti sekarang ini, aku juga tidak akan memaksa loh! Semua akan aku kembalikan pada Prapto dan juga kamu mbak Mar," kata Duan lagi.
Tiba-tiba seseorang datang dengan marah-marah. Seorang ibu-ibu berteriak memanggil Mariyati.
"Bu Mariyati! Bu Mariyati, tolong keluar!" teriak seorang ibu-ibu. Mariyati dan Prapto saling berpandangan. Akhirnya Mariyati dan Prapto keluar menuju ke depan rumahnya. Wajah judes terlihat pada wajah ibu-ibu yang datang langsung marah-marah itu.
"Bu Mar! Mana uang yang kemarin bu Mariyati pinjam ke saya dua juta. Saya sangat butuh hari ini. Janjinya hari ini mau bu Mar bayar bukan?" kata ibu-ibu itu. Mariyati dan Prapto saling berpandangan. Akhirnya Prapto angkat bicara.
"Tolong beri kelonggaran satu minggu lagi bu. Kami benar-benar belum bisa mengembalikan uang ibu," sahut Prapto.
"Halah, kalian ini benar-benar sudah tidak dipercaya lagi. Katanya mau dikembalikan hari ini. Tapi nyatanya hanya janji doang," ujar ibu itu.
Duan yang mendengar keributan itu dari dalam segera ikut keluar. Duan menarik tangan Prapto untuk masuk ke dalam rumah.
"Ayolah, Prapto! Lebih baik kamu ikut dengan ku dulu. Aku yakin setelah di sana nanti kamu akan tertarik mengikuti kesuksesan aku. Soal segala urusan kamu di sini, biar aku bantu deh. Termasuk hutang pada ibu itu yang dua juta. Bagaimana?" kata Duan pada Prapto setelah Duan mengajak masuk ke dalam rumah. Jangan lupakan ibu-ibu penagih hutang itu masih di depan ngomel-ngomel dengan Mariyati.
"Kamu yakin mau bantu aku, Wan? Uang tiga juta tidak sedikit loh," sahut Prapto. Duan tersenyum lebar.
"Jangan khawatir! Ini aku sudah menyiapkan lima juta untuk keluarga mu dari rumah. Semoga uang ini bisa menyelesaikan urusan kamu," kata Duan.
Prapto mengambil amplop coklat pemberian Duan. Tanpa berpikir panjang, Prapto bergegas ke luar menjumpai ibu-ibu penagih hutang itu. Lalu membayar hutang nya yang dua juta rupiah itu pada ibu itu. Sementara itu Mariyati menatap heran darimana suaminya tiba-tiba mendapatkan uang yang banyak.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments
MasWan
wah seru nih kayaknya.... lanjut lagi ah bacanya... yg semangat ya thor upload cerita² nya
2024-03-28
0