Bab 14 Makan Daging Saudara

Sang dukun kini telah menyiapkan makanan untuk pasangan suami istri tersebut. Selain sang dukun sendiri, dia tinggal bersama istrinya di rumah itu sendirian. Setiap hari istrinya rela melayani tamu-tamu dan pasien yang sengaja datang meminta bantuan suaminya yaitu sang juru kuncen.

Beruntung istri Ki Praja sangat sabar. Dia rela memasakkan dan memberikan makan bagi orang-orang yang datang di rumahnya. Sebagian besar orang-orang itu datang dari kota lain. Hanya sebagian kecil saja orang-orang penduduk desa Pleret yang datang berobat dan meminta bantuan Ki Praja.

Sebagian orang berpendapat jika mereka ber dukun di desa yang sama, kekuatan dan kesaktian nya kurang. Ini jauh berbeda ketika orang ingin meminta bantuan seorang dukun yang tempat tinggalnya jauh. Apalagi harus menyeberangi lautan biru yang luas.

"Kalian berdua, kemari lah!" Perintah sang dukun Ki Praja pada pasangan suami istri yaitu Maryati dan Prapto. Keduanya segera bangkit dari tempat duduknya mendekati Ki Praja yang sudah duduk bersama istrinya. Mereka hendak makan malam bersama. Seharian ini Maryati dan Prapto belum makan malam setelah perjalanan tadi. Setiba nya di rumah sang dukun langsung diperintahkan menangkap ikan.

Malam semakin larut dan sebenarnya makan malam itu sudah sangat terlambat. Di rumah kayu itu ada jam dinding kuno telah menunjukkan pukul dua belas malam.

"Ayo, kalian makanlah yang lahap! Sengaja aku memasakkan buat kalian. Ikan yang sudah kalian tangkap tadi sudah aku masak. Satu ekor ikan itu bisa kalian makan bersama-sama. Ukurannya juga lumayan besar. Aku rasa ikan sebesar itu kalau ditimbang bisa dua kilo. Itu sangat cukup membuat kalian kenyang bukan?" urai istri sang dukun. Ki Praja terkekeh sambil mengusap dagu nya yang ditumbuhi jenggot yang sudah memutih.

"Asal kalian tahu saja! Itu adalah ikan yang harus kalian makan dan tidak boleh ada sisa. Kecuali duri-duri nya," sambung Ki Praja. Maryati dan Prapto menatap ikan yang sudah diolah itu. Sepertinya cukup menggugah selera.

Prapto melihat bagian kepala ikan itu. Dia tentu saja masih ingat wajah siapa di bagian kepala ikan itu. Lagi-lagi Maryati heran. Suaminya kembali bengong.

"Mas, ayo makan!" bisik Maryati. Prapto tentu saja masih melihat bagian kepala ikan itu yang mirip dengan Minah. Tapi bau masakan istri sang dukun itu cukup menggugah selera membuat Prapto memberontak perutnya ingin segera mengeksekusi makanan yang sudah disiapkan khusus untuk dirinya dan Maryati.

"Kalian harus menghabiskan nya! Jangan sampai ada sisa," Lagi-lagi sang dukun mengingatkan. Akhirnya Prapto dan Maryati mulai memakannya. Ikan yang telah digoreng dan dibumbui itu diambilnya sedikit demi sedikit. Mereka colek kan dengan sambal. Cukup membuat lahap bagi Maryati karena dia tidak melihat perwujudan wajah Minah di kepala ikan itu. Berbeda dengan Prapto. Dia seperti memakan daging manusia bukan ikan seperti yang dilihat Maryati.

Sang dukun terkekeh demikian juga halnya dengan istrinya.

"Manusia memang benar-benar dalam kebodohan! Demi harta dan kekayaan rela melakukan apapun," ucap Ki Praja. Tawa pasangan suami istri yang aneh itu tidak dihiraukan oleh Maryati dan Prapto. Keduanya berusaha menghabiskan ikan dengan ukuran yang cukup besar. Hingga beberapa menit kemudian Prapto dan Maryati benar-benar telah menghabiskan ikan goreng itu.

"Hahaha, bagus! Dengan ini kalian telah sah terikat kontrak dengan iblis yang akan membantu kalian untuk mendapatkan apa yang kalian inginkan," ucap Ki Praja. Maryati dan Prapto merasakan kekenyangan setelah menikmati makan malam ditengah malam itu.

"Setelah ini kalian jangan terkejut jika setibanya di kampung kalian nanti, ada salah satu saudara kalian yang telah meninggal dunia. Orang itu tentu saja ikan yang kepala nya mirip dengan wajah orang yang kalian pilih untuk dijadikan tumbal. Dan kalian berdua lah yang telah memakannya," urai sang dukun.

Maryati melongo. Dia begitu sok dan hampir pingsan. Lagi-lagi jika mengingat telah ikut andil melenyapkan nyawa saudara nya yaitu Minah.

"Kalian jangan khawatir! Setelah ini kehidupan kalian akan segera berubah. Kalian akan kaya raya dan dihormati oleh banyak orang," kata sang dukun.

"Sebenarnya ada beberapa pilihan. Tapi pada akhirnya kalian akan mengambil pesugihan Kandang bubrah. Setelah ini akan aku jelaskan pantangan- pantangannya ketika kalian memiliki pesugihan kandang bubrah," Terang Ki Praja.

"Baik, Ki! Terimakasih atas bantuannya," sahut Prapto dengan hati bahagia. Dalam pikiran nya dia akan kaya raya dan berubah nasib kehidupan nya. Namun berbeda dengan Maryati yang masih sok lantaran siapa yang telah dijadikan kurban atau tumbal untuk mendapatkan pesugihan kandang bubrah tersebut.

"Minah! Maafkan aku!" batin Maryati sambil menahan sesak di dadanya.

Prapto mengusap punggung istrinya yang sesenggukan karena menangis. Maryati berlari ke depan rumah. Sekuat tenaga dia berusaha memuntahkan kembali apa yang sudah ia makan. Namun apa yang dilakukan Maryati sia-sia. Ikan itu telah mati dan bahkan telah digoreng lalu dia dan suaminya lah yang telah memakannya. Di mana ikan itu perwujudan dari Minah yang akan dikorbankan menjadi tumbal pesugihan kandang bubrah.

"Sudah cukup Maryati! Kamu tidak boleh melakukan itu! Bukannya kamu ingin kaya? Bukannya kamu juga ingin merubah nasib kita? Kamu sendiri kan yang mengijinkan aku mengambil jalan sesat ini?" ucap Prapto kembali mengingatkan Maryati. Maryati mendongak melihat suaminya. Kedua matanya melotot seperti tidak suka. Bahkan tiba-tiba seperti menyalahkan suaminya.

"Seharusnya kita tidak perlu ke sini mas. Seharusnya kita tidak perlu mendatangi dukun sesat itu. Aku rela hidup miskin asal damai dan tentram yang aku rasakan bersamamu," kata Maryati sambil terisak.

"Cukup! Nasi sudah menjadi bubur. Lagipula mana ada hidup damai dan tentram kalau kita dalam kesusahan dan kemiskinan?" sahut Prapto.

"Sudahlah, Maryati! Ayo kita kembali masuk ke dalam rumah. Tidak enak dengan Ki Praja dan istrinya," sambung Prapto akhirnya. Pria itu mengusap punggung Maryati supaya kembali tenang.

"Aku yakin kamu akan terbiasa dengan semua ini. Yang penting kita pulang mendapatkan hasil. Dan tidak lama lagi kehidupan kita akan berubah. Kita akan menjadi orang kaya yang disegani dan dihormati," oceh Prapto lagi.

Keduanya kembali masuk ke dalam rumah. Jangan lupakan sang dukun dan istrinya sudah tidak terlihat lagi di ruangan rumah kayu itu. Hal itu membuat Prapto dan Maryati menjadi heran dan saling berpandangan.

"Di mana mereka, mas?" tanya Maryati. Wanita itu sedikit ketakutan. Suasana mencekam di dalam rumah kayu itu mulai terasa. Kenapa rumah kayu itu seperti tidak berpenghuni. Di mana bangunannya yang awalnya kokoh kini terlihat lapuk. Bahkan banyak sarang laba-laba di dalam rumah. Rumah kayu yang tadi terlihat bersih sekarang terlihat berserakan dan berdebu.

"Mas, aku takut!" ucap Maryati gemetaran.

"Ayo, lebih baik kita tinggalkan tempat ini. Aku rasa kita sudah selesai dengan urusan kita. Dan juga seperti apa kata sang dukun, Ki Praja kita sudah berhasil mendapatkan pesugihan kandang bubrah," ucap Prapto sambil memegang lengan istrinya dan mengajaknya meninggalkan tempat itu.

Dengan membawa tas ranselnya, Prapto dan Maryati meninggalkan rumah itu dengan berjalan kaki. Barak-barak yang ada di sekitar rumah kayu itu terlihat sepi dan tidak ada satu orang pun. Ini jauh berbeda saat mereka baru datang di rumah itu yang ramai oleh orang-orang dan pasien-pasien yang berkunjung mencari sang dukun.

Maryati dan Prapto menengok ke belakang ke barak-barak. Pikiran mereka sama, yaitu dimana orang-orang yang tadi ia lihat? Apakah mereka sudah selesai dengan urusan dan ritual mereka. Kampung Pleret penuh misteri dan magis.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!