Bab 17 Kematian Minah

Suasana duka menyelimuti keluarga besar Maryati. Di mana Minah telah meninggal dunia setelah kedatangan Maryati sore hari itu. Ini sungguh sangat kebetulan sekali karena sakit nya Minah yang sangat tiba-tiba mengundang banyak pertanyaan dan desas-desus tetangga. Orang beranggapan sakitnya Minah karena ulah seseorang yang sakit hati hingga seperti di santet atau dengan cara ilmu Hitam. Dan Maryati maupun Prapto lah yang kini tertuduh atas kematian Minah.

Dugaan kuat karena mereka berdua sempat melakukan perjalanan ke luar kota. Sungguh sangat jarang sekali mereka lakukan karena perekonomian mereka beberapa tahun ini morat-marit. Di saat itulah Minah tiba-tiba mengalami sakit parah dan bahkan seluruh tubuh nya sulit digerakkan. Bicaranya pun sulit dimengerti oleh seseorang. Bahkan Minah sering berteriak histeris seperti ketakutan melihat sesuatu.

Hari duka itu tidak menyurutkan Prapto berjualan mie ayam dan bakso di pasar pagi itu. Karena sejak tadi malam pasangan suami istri itu sudah mempersiapkan dagangannya. Jika hari ini tidak berjualan mereka tidak akan mendapatkan pemasukan. Namun demikian, menjelang siang hari dagangan bakso dan mie ayam mereka telah habis ludes. Sehingga setelah dari pasar, Prapto dan Maryati ke rumah duka. Beruntung jenazah Minah belum diberangkatkan ke tempat pemakaman umum setempat. Rencananya jenazah Minah akan dikebumikan sekitar pukul dua sing, sembari menunggu bapak Minah yang kebetulan bekerja di luar kota menjadi kontraktor.

Sakitnya Minah bukan tidak diketahui oleh bapak nya. Bapaknya Minah sendiri telah berikhtiar pada orang pintar. Di mana orang pintar tersebut mengatakan bahwa Minah telah menjadi korban tumbal pesugihan oleh seseorang. Seseorang itu bisa dipastikan masih family nya.

Desas-desus para takziah mulai terlihat ketika Prapto dan Maryati telah datang ke rumah orang tua Minah. Pasangan suami istri tersebut duduk di kursi plastik depan. Dengan berpakaian hitam keduanya diam seribu bahasa. Mereka terlihat tidak peduli dengan tatapan orang-orang terhadap diri mereka. Sebelum datang ke rumah orang tua Minah, Prapto telah berpesan pada Maryati supaya bersikap santai dan senatural mungkin. Jangan sampai orang-orang menaruh kecurigaan terhadap mereka berdua.

Jauh dari tempat duduk Maryati serta Prapto, ada ibu Minah yang dikelilingi keluarga-keluarga mereka. Termasuk ibu Maryati serta adik Maryati pun berusaha menghibur ibu Salamah karena sedang kehilangan putri nya yang meninggal dunia. Maryati sengaja tidak bergabung dengan keluarga-keluarganya yang lain dikarenakan selama ini mereka seperti menyisihkan Maryati karena kemiskinannya. Maryati lebih memilih sendiri dan mengikuti apa kata suaminya.

"Lihat saja, Maryati sekarang! Sombongnya minta ampun, tidak mau kemari bu," ucap adik kandung Maryati.

Ibu Maryati mendengus kesal karena anak perempuannya sudah berubah. Bu Salamah lah yang paling paham kenapa Maryati tidak ingin bergabung dengan keluarga nya yang lain. Selama ini Maryati serta Prapto sudah sering direndahkan dan dihina habis-habisan ketika acara keluarga besar seperti arisan.

"Tidak apa-apa. Kemarin sore Maryati sudah lebih dulu kemari menengok Minah sebelum Minah benar-benar meninggal dunia. Mungkin saja ajal Minah sudah tenang setelah bertemu dengan Maryati dan meminta maaf dengan dirinya," Bu Salamah menceritakan kejadian sebelum Minah meninggal dunia.

Bu Maryati beserta adik kandung nya hanya tersenyum sinis. Mereka berdua tetap tidak suka dengan Maryati. Apalagi sikapnya sekarang sudah seperti orang kaya yang sombong dan tidak mau menyapa.

"Baru juga jualan bakso dan mie ayam sebentar saja sudah sombong nya selangit. Kita lihat saja, apakah Prapto bisa membelikan rumah mewah, mobil serta perhiasan yang banyak untuk Maryati," sahut adik Maryati.

Adik Maryati ini bernama Siska di mana dia sudah menikah dengan seorang pria bangsawan dan pejabat negara. Sehingga kehidupan Siska terlihat glamour dan mewah. Bu Salamah hanya bisa diam dan menarik napasnya dalam-dalam. Dia sendiri yang paling paham apa yang sudah dialami Maryati.

"Kasihan Maryati. Seharusnya kalian membantu dia. Tidak hanya menghina dan menjelekkan Maryati serta Prapto. Sekarang mereka sudah bangkit. Aku rasa sebentar lagi mereka akan sukses," ucap bu Salamah.

Begitu baiknya bu Salamah, dia tidak ada rasa kecurigaan pun terhadap Maryati serta Prapto. Padahal putrinya sendiri telah dijadikan tumbal pesugihan oleh pasangan suami istri yang baru merintis usahanya di bidang kuliner.

"Ada ibu dan adikmu Siska di sana tuh. Kamu tidak ke sana menyapanya, Mar?" bisik Prapto sembari menggeser tempat duduknya sedikit mendekati Maryati. Maryati tetap fokus pada pandangan nya ke depan. Dia tidak ingin melihat ke arah bu Salamah yang diampit oleh ibu serta adik kandung nya Siska.

"Tidak usah, mas! Dalam keadaan berduka seperti ini, aku tidak ingin memancing keributan dengan mereka. Apalagi desas-desus orang mengira dan menuduh kita kalau dalam kematian Minah adalah kita," kata Maryati berbisik pelan. Prapto melebar bola matanya. Dia tidak mengira kalau orang-orang lebih cerdas menuduh hal itu pada dirinya dan Maryati.

"Kenapa mereka bisa berpikir kalau kematian Minah adalah karena kita?" sahut Prapto sambil melihat sekeliling nya. Di mana orang-orang masih terlihat berbisik-bisik dan memandangi dirinya dan Maryati.

"Itu karena Minah sering kali menghina kita. Terus saat Minah sakit dengan tiba-tiba kita sedang di luar kota itu. Jadi orang-orang langsung berpikir demikian," jelas Maryati. Prapto menarik napas nya dalam-dalam. Jadi itulah sebabnya tatapan orang-orang seperti membenci dirinya.

"Bu Salamah saja sudah menuduh ku seperti itu kemarin sore saat Minah belum tewas karena dicabut nyawanya," sambung Maryati. Prapto terlihat gusar. Namun kenyataan nya memang benar kalau kematian Minah lantaran ulah dirinya dan Maryati melalui dukun yang menghubungkan dirinya dengan pesugihan yang kini telah dimiliki nya.

"Bapak Minah yang baru saja datang itu, juga sudah pergi ke orang pintar. Kata orang pintar kematian Minah karena tumbal pesugihan. Jelas ini sudah membuat jantungku mau copot, mas! Kenapa orang-orang bisa tepat menuduh kita? Aku jadi takut mas," ucap Maryati pelan. Prapto mengusap pundak Maryati supaya tenang.

"Tenang lah! Mereka hanya menduga-duga saja. Yang penting kita berusaha tenang dan jangan kepancing emosi. Pura-pura saja tidak tahu. Toh mereka tidak bisa membuktikan kalau kita adalah dalang dibalik kematian Minah," ucap Prapto.

"Iya, mas! Kamu benar!" sahut Maryati akhirnya.

Dalam diam Maryati begitu sedih. Dia sudah kehilangan adik kandung nya yang masih gadis. Di mana adik kandung nya telah dijadikan tumbal pesugihan oleh Duan. Sekarang ini Minah saudara sepupu nya pun mati karena telah ia jadikan tumbal pesugihan kandang bubrah. Semakin besar rasa bersalah pada diri Maryati. Apalagi ibu dan adiknya Siska seperti tetap membenci dirinya. Bersyukur kalau ibu dan adiknya Siska tidak berpikir kalau dirinya Maryati telah memiliki pesugihan.

Saat waktu menunjukkan pukul dua siang di mana prosesi acara keberangkatan jenazah segera dikebumikan semua telah berlangsung khidmat, kini iring-iringan pengantar jenazah Minah telah mengusung keranda jenazah yang didalamnya ada jenazah Minah. Suara teriakan histeris karena Minah segera dikebumikan terdengar begitu memilukan. Apalagi bapak kandung Minah seperti tidak ikhlas akan kematian Minah yang terbilang tidak wajar. Hal itu memancing kerusuhan di mana ada beberapa orang berteriak menyebut Prapto dan Maryati adalah penyebabnya. Beruntung ketua Rt di sana langsung menyuruh Prapto dan Maryati segera pulang dari rumah duka tersebut. Semua karena tuduhan warga tanpa ada bukti.

"Ya ampun mas, belum juga kaya kita sudah mendapatkan masalah seperti ini," keluh Maryati saat dirinya sudah berada di dalam rumah tinggalnya.

"Sabar, Mar! Oh iya Mar! Bagaimana kalau kita lebih baik pindah dari kampung ini saja Mar. Kita mulai dagang bakso dan mie ayam di kota. Aku rasa kita akan menjadi orang kaya. Apalagi kita sudah dibantu oleh yang pesugihan kita," usul Prapto. Maryati mulai berpikir. Sepertinya ide suaminya itu bisa dia terima. Hidup di kota akan lebih maju dan anak-anak nya akan lebih mendapatkan sekolah yang lebih baik daripada di kampung nya.

"Baiklah, mas! Aku mau pindah ke kota mas," sahut Maryati akhirnya.

Prapto dan Maryati sudah bertekad bulat untuk merubah nasib mereka. Dengan tetap berjualan bakso mie ayam, mereka berdua ingin menjadi orang kaya yang dihormati serta disegani. Walaupun usaha dagangnya ada sesuatu yang membantu untuk pelarisan nya. Mereka telah sepakat dan terikat kontrak perjanjian dengan iblis kandang bubrah.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!