Bab 17

Hati Janne ingin meluakkan sebait kata-kata

melinting selembar rumput kertas di atara jempol dan jari telunjuknya, dia melihat dirinya pada masa yang berbeda, tengah duduk santai di sebuah teras, gaun yang cantik, rambut bergelombang, duduk diam menikmati cahaya pagi itu. Ada seseseorang yang memanggil tapi Janne tidak dapat mendengar jelas, lelaki yang baru terbangun dari tidurnya, menghampiri Janne seraya mengecup kening wanita yang memiliki warna rambut kemerahan.

Lalu tiba-tiba seakan dirinya terlempar masuk ke dimensi lainnya, Janne merasakan seakan melintasi lorong waktu yang sangat cepat, di lain waktu dia melihat gadis yang mirip dengannya itu tertunduk pada sebuah lukisan yang terjatuh disebuah rumah.

Airnya matanya bergoyang dengan irama terkantuk-kantuk, sembari membereskan beberap barang yang pecah.

Dan disini, Janne kembali terlempar cepat, dia berada di atas sebuah batu kasur pipih di bawah cahaya bola pijar Janne berbaring tengkurap.

Dengan kedua tangan menompang pipi,

sinar lampu menghangatkan punggungnya yang telanjang dan kemerahan. Dia merasakan sakit yang teramat sakit dibagian sensitifnya, beberapa saat darah segar mengalir dari kedua pahanya, Janne tersentak kaget, lalu itu membutnya tersadar dia baru saja bangun dari pingsannya.

"Janne..." Reeve yang telah siaga berada di samping Janne.

Janne tampak bingung dan terdiam, dia masih menelaah arti dari mimpinya, dia bergegas bangun dan melihat keluar jendela kamarnya, dia tampaknya cukup lama pingsan, hingga waktu malam tiba Janne terus berasa bahwa apa yang dia alami adalah bukan mimpi.

"Hei...ada apa?" tanya Reeve yang penasaran menarik tangan Janne, mendekapnya dalam sebuah pelukan.

Janne terus diam, matanya berkaca-kaca, sakit yang terjadi di dimensi lain itu terasa pada tubuhnya yang sekarang, Janne seakan berhubungan dengan apa yang sedang terjadi di dunia ini, namun kesadarannya akan realitas sangat disaring oleh kenangan, memori yang ada dalam otak kecilnya, pola kebiasaan pikiran adalah proyeksi tentang masa depan. Dan ketika malam jika benar-benar tertidur, alur cerita itu berlanjut dalam bentuk mimpi malam.

Hal yang Janne sadari ini seakan dejavu akan kehidupan lampau si Elena, namun dia belum berani menyimpulkan secara detail itu hanya hasil overthingkingnya yang memang kadang datang tiba-tiba.

"Aku mau pindah ke castile" ucap Janne yang terus di dekap hangat oleh Reeve.

"Benarkah?" tanya Reeve memastikan.

Janne terus menatap Reeve perlahan memejamkan matanya mengisyaratkan bahwa dia benar mengucapkannya. Reeve sangat senang, dia terus memeluk tubuh Janne, jendela kaca yang terbuka itu menarik perhatian Janne, dia tiba-tiba dapat melihat seorang lelaki yang berdiri di tempat biasanya Reeve memperhatikan dirinya.

"Ada seseorang di sana" ujar Janne yang berlari kearah Jendela.

Menyadari bahwa Janne melihatnya William segera bersembunyi, wangi tubuhnya tidak dapat dicium oleh Reeve atau siapa pun, berkat beberapa ramuan yang William racik sendiri. Namun tercium bau pinus yang sangat menyengat, yang terkadang membuatnya insecure.

"Siapa? Aku tidak mencium siapa-siapa" sahut Reeve yang kemudian menutup jendela kamar Janne dan gordennya.

"Tidurlah, aku akan menjaga mu" Reeve yang menuntun Janne untuk lanjut tidur.

"Tidur bersama ku" Janne yang menarik tangan Reeve hingga membuat Reeve jatuh tepat diatas tubuh Janne.

Kedua mata mereka saling bertatapan, angin laut menyap dibalik celah lubang fentilasi kamar Janne, untuk mengurangi rasa cangung Janne menarik kerah baju Reeve, membuat bibir mereka saling bertemu, ada rasa tang membuat Reeve terus memerah, wajahnya bahkan kupingnya, rasa panas yang membuatnya ingin memiliki Janne seutuhnya, Reeve terus mencium mesra Janne, gadis itu begitu menikmati apa yang Reeve lakukan.

Tok...tok...tok

seseorang mengetuk pintu kamar Janne yang membuat Reeve tersadar dan menghentikan aksinya, bahkan kedua insan itu malu-malu untuk saling menatap, wajah mereka merah padam, detak jantung Janne terus berpacu kencang.

"Si...siapa?" tanya Janne merapikan tatanan rambutnya agar tidak mencurigakan.

"Sayang kau sudah bangun, ini ayah" ujar ayah yang membawa senampan susu hangat dan beberapa roti bakar, karena Janne belakangan tidak mengikuti makan malam, ayahnya sangat khawatir.

"I...iya ayah" Janne yang gugup membuka pintu.

"Kau kenapa? Kau tidak sakitkan Janne?" tanya ayah yang penasaran, bahkan sempt-semptnya ayah Janne menilik melihat kamar Janne yang dimana Reeve tangah pura-pura tertidur di sofa yang ada di kamar Janne.

"Tidak ayah, aku hanya terbangun" jawab Janne yang terus menghalangi ayahnya agar tidak masuk sepenuhnya kedalam kamarnya.

"Baiklah, ayah bawakan makan malam, susu hangat, dimakan, ayah tidak mau kau terlihat kurus" ucap ayah yang menyerahkan senampan makan malam yang dibuatnya khusus puterinya.

"Terumakasih ayah" Janne cepat-cepat menutup pintu kamarnya, menaruh nampan di meja yang ada di kamarnya.

Memperhatikan Reeve yang pura-pura tertidur, menutup wajahnya dengan buku yang sudah ada di sofa sebelumnya, Janne perlahan berjalan mendekati, membuka penutup wajah dari buku itu, diam dan terus memperhatikan Reeve, lelaki yang mengerakan hatinya terlihat sangat tampan.

Perlahan Janne mengelus pipi dingin wajah Reeve, Dia kemudian mendaratkan kecupan hangat d bibir pucat Reeve. "Cup" Reeve membuka matanya, mendapati Janne yang begitu gugup, detak jantungnya terdengar kencang sekali, Reeve merangkul penuh pinggang Janne, mencium seluruh bibir Janne, hingga merebahkan Janne di atas kasur.

"Huh....selamat malam" bisik Reeve yang terus menahan dirinya.

Hal itu membuat Janne tersenyum, melihat tingkah pria yang dicintainya begitu manis, Janne berpikir mungkin hubungan mereka mustahil, tapi dia masih ingin bersama Reeve, walau Reeve bukanlah manusia, Janne mulai merasakan cintanya.

William yang tadinya bersembunyi di balik pohon pinus yang besar itu kini beranjak, dia terus berpikir apa yang akan terjadi jika Janne benar-benar menikah dengan Reeve, William yang diam-diam tertarik tidak ingin Janne mengalami apa yang dulu dia alami dengan pasangannya.

Belum lagi William tidak tahu apa yang Hans rencanakan, Hans sepertinya sangat inginkan Janne dari awal, bukan kutab xaffo yang menjadi incaran awalnya.

Di lain tempat jauh dari rumah Wems, Hans yang bertelanjang dada itu berendam dalam sebuah bak, air berwarna merah dengan beberapa helai bungai mawar, dia menekan sebuah luka yang terdapat pada dadanya, luka tang membekas itu membuatnya terus mengingat bahwa luka itu disebabkan oleh seorang wanita yang dia tidak ingat siapa.

Bayangan wanita itu seakan sangat akrab dengan Hans, wanita yang sempat dia cintai, wanita yang pertama membuat Hans ingin hidup sebagai manusia normal, tapi bayangan wanita itu yang menikamnya dengan sebuah belati hingga dia mendapati luka di dadanya.

Hans terus merasakan dendam yang tidak pernah berakhir, setengah vampire yang dicap pada dirinya malah membuatnya semakin menjadi, bahkan dia rela melakukan semua hal agar dia bertemu kembali dengan wanita itu, wanita yang terlahir kembali menjadi Janne.

Terpopuler

Comments

☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔

☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔

jadi sebenarnya siapa jodoh nya Jane ...dan Jane reinkarnasi pasangan Hans ... William atau reeve ...duh penasaran banget

2023-08-27

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!