Dari kejauhan tempat di atas pohon yang sangat tinggi, Reeve yang sudah bebas kembali mengawasi Janne yang masih bayi, dia sedikit tidak percaya bahwa dirinya akan di jodohkan dengan seorang anak kecil.
Disebelahnya Jasper yang selalu setia menemani hanya melirik heran kepada majikannya.
"Kenapa paman melihat ku seperti itu?" tanya Reeve yang terlihat tidak memperhatikan Jasper.
"Apa perlu ku bangunkan tuan 20 tahun lagi?" celoteh Jasper yang sangat paham kalau Reeve begitu tidak semangat dengan ramalan di buku.
Menuliskan bahwa Reeve akan menikah dengan wanita yang cantik, sedangkan Janne yang di katakan dalam buku masih berusia beberapa jam dari Janne di lahirkan.
Merasa jodoh yang akan dinikahinya masih kecil, Reeve lebih memilih tinggal di castile ditemani Jasper dan beberapa buku peninggalan keluarganya.
Musim berganti, tahun demi tahun berlalu, di sudut ruang yang terlihat sepi, terdapat sebuah foto keluarga Weems. Billy, Camilla, Helen dan Janne yang masih berusia satu tahun dalam foto tersebut.
Billya yang membuka latihan berkuda sering sekali di bantu Helen untuk merawat kuda-kuda keluarga Weems, Camilla yang aktif sebagai petani dan pemasok sayuran untuk supermarket di kota mereka dan Janne yang kini tepat berusia 20tahun.
Besok malam adalah ulang tahun gadis berambut coklat keemasan, mata biru bagaikan cristal yang membeku, Janne tumbuh menjadi gadis yang cantik dan populer di kampusnya.
Janne yang memiliki tinggi 165cm itu tumbuh menjadi gadia yang periang, penyayang, tapi tidak pernah sedikit pun dia terlihat tertarik pda lelaki manapun.
Helen bekerja sebagai guru konseling di sebuah sekolah tinggi di kota Frujkan dan seorang peneliti di sebuah museum, sepulang bekerja di selalu menyempatkan dirinya mendengar cerita adiknya, walau Helen bukan anak kandung keluarga Weems, tapi Helen sangat di sayang oleh Ayah dan ibu Janne.
"Ini, surat yang kesekian kali dari Ferdo" ujar Helen memberikan surat dengan amplop pink.
Ferdo Rocky adalah teman kerja sekaligus sahabat Helen yang naksir berat dengan Janne, tapi sekuat apapun Ferdo mencoba, Janne tidak pernah mau membuka atau membala surat itu dan akhirnya si Helen yang akan mengembalikan surat tersebut dengan keadaan terpaksa.
"Kakak kembalikan saja" ujar Janne yang mengerjakan tugas kuliahny di sebuah laptop.
"Kau tahu Janne, Ferdo itu sangat baik, mungkin karena aku sahabatnya, aku yakini dia adalah orang baik untuk mu" bujuk Helen yang menyilangkan kedua tangannya.
"Terimakasih Helen ku sayang, tapi aku menyukai orang lain" baru kali ini Janne mau menceritakan orang yang dia suka.
"Siapa? Apa aku mengenalnya?" ujar Halen yang begitu penasaran.
"Aku juga belum yakin, tapi" Janne yang tiba-tiba menghentikan kalimatnya.
"Tapi apa? Coba ceritakan?" pinta kakaknya itu.
"Tapi tunggu kak Helen menikah" ucap Janne dengan penuh tawa di wajahnya.
"Aah, kau meledek ku! Siapa yang mau menikah dengan aku?" Helen yang merebahkan dirinya di kasur Janne.
"Pasti ada, suatu saat dia akan datang" ucapan Janne yang seperti bisa meramalkan sesuatu.
"Ayolah cepat katakan" ujar Helen terus memaksa.
"Tidak, tidak sekarang" Janne yang tersenyum berlari keluar kamar dan menuju ruang makan.
Ibu dan ayahnya telah menunggu mereka untuk makan malam bersama, seperti keluarga pad umumnya, mereka sangat akrab satu dengan lainnya.
Reeve yang masih suka tidur lama di peti matinya, tidak akan pernah bosan dia berada di dalam sana, peti mati yang sudah di modifikasi dalamnya membuatnya sangat tenang ketika dia memutar musik yang bahkan sedang trend di saat itu.
Tok tok
Jasper mengetuk peti mati yuan Reeve.
Tidak berapa lama Reeve mengaktifkan kaca transparan yang terdapat di pintu peti matinya.
Jasper hanya menunjukkan sebuah daging wagyu yang masih segar, beserta darah babi yang dia taruh dalam botol wine. Karena lagi progam diet, Reeve hanya boleh mengonsumsi darah seminggu sekali. Melihat apa yang Jasper bawa matanya melotot segera membuka pintu peti matinya.
Di letakannya di ata meja makan yang sangat panjang, penerangan malam di castille hanya mengenakan lilin yang di letakan di meja makan. Walau sedikit sensitif dengan terang tapi dia harus mengikuti perubahan zaman.
Bahkan sekarang castille dibuka untuk umum, dan menyisakan ruang atas, lantai teratas castille sebagai tempat tinggal majikannya Reeve, lantai selebihnya dan ruangan lainnya dia peruntukan sebagai hotel, hanya Jasper yang bekerja di hotel yang di beri nama Frujvill.
Bagi yang pencinta horor hotel yang merupakan castille keluarga Duke memang cocok untuk berlibur dengan nuansa misterius, pengunjungnya di akhir minggu bahkan sangat banyak walau hanya ada beberapa pegawai tapi tetap mereka kewalahan.
Reeve kadang hanya melihat dari kaca jendela castille yang berukuran besar, dia tidak berani bertemu manusia, dia bahkan lebih nyaman mendengar suara musik dari dalam petinya.
"Ibu besok lusa aku akan ada tugas di gunung pinus, bersama Deborah dan felix, boleh aku menginap?" Janne yang meminta ijin kepada orang tuanya.
"Kemana?"
Helen yang kaget melirik Janne.
"Gunung pinus."
Matanya yang menunjukkan kesal karena pastinya orang tua atau Helen tidak akan menyetujui.
"Aku boleh ikut?" tanya Helen.
"Kalau kau ikut, aku boleh pergi?" tanya kembali Janne yang sumringah.
"Tentu" sahut ayahnya.
Janne terihat senang, akhirnya dia bisa juga pergi untuk meneliti sesuatu, hal yang dia pikirkan dengan matang-matang. Di haru bisa membuat Helen tidak curiga karena sikapnya tiba-tiba ceria.
Besoknya Janne dan Helen menyiapkan beberapa barang yang akan di bawanya ke gunung pinus, beberapa alat buat menepis salju yang tebal juga telah mereka persiapkan. Ketika Janne masuk ke gudang ayahnya, dia melihat sebuah kotak berdebu yang desainnya sangat antik.
Janne tidak pernah melihat kota tersebut sebelumnya, disudut gudang perkakas Janne penasaran dengan kotak yang didepannya terdapat sebuah pecahan besi yang memang sengaja di pasang.
Karena letak kotak di sudut bawah tangga rumah mereka, sulit Janne meraihnya, akses untuk mengambilnya juga hanya buat ruas tangan Janne. Dia terus menggapai benda itu, namun serpihan besi yang mengeras itu membuat jarinya tertusuk dan darahnya menetes di atas kotak.
"Aw" Janne yang meraikan kembali tangannya keluar dari bawah celah tangga itu.
Darah Janne tertinggal di atas kotak dan karena hal itu sebuah cahaya seperti kunang-kunang keluar dari kotak itu, darahnya yang wangi bahkan tercium oleh Reeve.
Reeve melesat bagaikan roket yang melaju, dia segera menghampiri rumah Janne, yang jaraknya dari castille sekitar tiga jam perjalanan darat, wangi darah Janne yang seakan melekat di hidung Reeve, Jasper yang terkejut hanya mengikuti di belakang apa yang majikannya lakukan.
Merasa gagal meraihnya, Janne menyerah dan berusaha kembali saja ke atas, beberapa perkakas juga sudah dia dapatkan. Janne yang merasa dia melihat sesuatu sedang mengawasinya, dia perlahan melangkah maju, dimana tepat di depannya Reeve tengah memperhatikannya.
"Tuan pucat sedang apa disini?" ujar Janne yang melirik keatas.
Reeve yang memiliki tubuh jangkung ini kemudian membuka matanya dan melihat wajah manis Janne dengan mata yang bersinar terang dalam kegelapan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
Zoro Piece
Next thor keren
2023-09-04
190
okke
mau visual dong
2023-08-09
90
Er
Percakapannya Kurg bnyak
2023-08-08
10