Angin membuat Janne merasa lepas, rasa yang membuatnya sesak sedikit melonggar, selayaknya manusia biasa, kadang Janne suka mengkhayal akan hidup yang tenang dan segalanya berjalan lancar. Namun sayangnya, tidak semua hal bisa sesuai dengan yang di inginkan. Entah itu di tempat kerja, kampus, atau lingkungan pertemanan, akan ada aja hal yang berjalan tidak sesuai rencana dan membuat merasa tertekan.
Mungkin memberikan reward kepada diri sendiri ketika berhasil melakukan sesuatu, sekecil apapun. Supaya itu bisa memicu rasa senang dan tidak kalah oleh besarnya tekanan yang dirasakan. Sebelumnya pikiran Janne bingung kenapa Deborah dan Felix ingin sekali mengajaknya kesini, ternyata bukan karena tempatnya saja yang cantik tapi juga karena hening, damai dan hanya ada deburan ombak hal yang paling Janne suka.
Tidak dapat menahan air matanya, Janne menangis histeris di tengah suara ombak yang beriringan, sahabatnya sangat menyayanginya, bahkan tempat ini akan menjadi tempat favorit Janne jika dia hendak berlibur.
Helen membiarkan sang adik menangis dan meringkuk di lantai balkon, Helen yakin Janne jauh lebih kuat dari yang dibayangkannya. Memikirkan banyak hal bukan karena itu terjadi sungguhan, tapi karena itu hanya terjadi di dalam pikiran Janne. Helen berharap itu tidak menjebaknya. Janne yang hidup di masa sekarang dan hal yang perlu difokuskan agar tidak membuang-buang waktu yaitu mulai memikirkan masa depan.
Terik siang yang berkabut berganti sejuknya malam hari, matahari juga terbenam, manusia larut dalam sunyinya malam, Janne menghela napas yang dalam, dia terbangun dari tidurnya, dilihatnya Helen tertidur lelap, dia berjalan perlahan mengambil air yang ada disisi kanan ranjang.
Dibalik pintu kamarnya, Janne melihat cahaya terang seperti blue fire, sepintas melewati depan kamar, dia perlahan berjalan menuju pintu, membukanya sedikit agar dia bisa mengintip.
Seorang lelaki tinggi dua meter lebih itu tengah berkeliling dengan membawa lambu obor yang berwarna kebiruan, dia berpapasan dengan Reeve dan berbincang serius.
"Saya sudah mengatar dan memastikan dia tidak kenapa-kenapa" ujar Jesper lelaki tinggi yang dilihat Janne.
Reeve menahan Jesper agar tidak bicara, dia tahu Janne melihat dibalik pintu kamarnya, Jesper pun menoleh kebelakang dan mendapati Janne tengah mengintip di balik pintu. Janne merasa terkejut, dia segera menutup pintu dan menjadi gugup, dia bahkan belum mendengar Reeve dan Jesper membicarakan apa, tapi seperti ketahuan rasanya.
"Baiklah, terimakasih paman" Reeve yang menepuk lengan Jesper.
Dia kemudian berjalan santai menuju kamar Janne, mengetuk pelan pintu yang berukuran besar itu.
Tok tok!!!
"Siapa?" tanya Janne dari balik pintu.
"Reeve, aku tau kau disana" Janne pun membukakan pintu sedikit dan hanya menyisakan setengah wajahnya.
"Ada kabar duka" ujar Reeve yang mengenakan stelan piyama.
"Duka? Maksud mu?" Janne yang membuka lebar pintu kamarnya.
Reeve pun menjelaskan bahwa ayahnya Janne mengelami kecelaan ketika pulang mengantar mereka, bak disambar petir hati Janne hancur mendengar sang ayah kecelakaan, kakinya lemas dia terduduk didepan Reeve, lelaki berambut blonde itu juga menjaskan bahwa ayahnya tidak mengalami luka serius dan kini tengah di rawat intesif.
"Aku segera pulang" ujar Janne yang tidak bisa menahan tangisnya.
Mendengar suara Janne menangis Helen terbangun dan menghampiri adiknya.
"Ada apa?" tanya Helen yang mengenakan hoodie kuning.
"Ayah mengalami kecelakaan ka" jelas Janne.
"Apa" Helen tersentak kaget.
Tanpa basa-basi mereka bergegas pergi kerumah sakit, karena ini baru jam 01.00 dinihari, Reeve berniat mengantarkan mereka, Jesper pun siap mereka mengendarai sebuah mobil clasic yang dimiliki keluarga Ethan Duke.
Di perjalanan Janne selalu menyalahkan dirinya, bahkan dengan apa yang meninpa terhadap teman-temannya juga.
"Apa ini karena aku?" Janne yang sangat merasa bersalah dengan apa yang terjadi pada ayahnya.
"Tentu saja bukan Janne" Helen yang memberikan pelukan.
"Kau bisa melindungi keluarga dan orang tercintamu dengan satu syarat" tiba-tiba Reeve yang berada duduk di depan mereka berbicara.
Mobil clasic bertipe limosin.
"Tidak" sentak Helen yang masih tidak bisa menerima perjodohan yang tertulis di kitab xaffo.
Janne heran apa yang sebenarnya mereka bicarakan, apa yang dimaksud tuan pucat dan Helen kenapa mengatakan "tidak" menjadi sebuh pertanyaan yang menganjal dihatinya.
"Apa yang kalian sembunyikan" ujar Janne yang tiba-tiba menjauh dari pelukan Helen.
"Kau adalah calon istri ku, dalam sebuah kitab kau ditakdirkan menjadi isteri ku."
Janne semakin bingung, dia hanya menatap Helen dan Reeve.
"Jadi Janne, kenapa aku selalu menjaga mu, karena darah mu adalah kunci dari sebuah kitab yang ditulis kakek mu dan kakeknya Reeve" jelas Helen.
"Jadi kalian sudah saling kenal? Lalu vampire lainnya mengincar ku karena kitab itu? Termasuk kau tuan pucat?" Janne mencoba menahan amarahnya, dia tahu sekarang bukan waktunya dia marah.
"Secara tidak langsung Janne, aku tidak yakin apa setelah kau menikah dengan Reeve semua akan baik-baik saja atau bagaimana aku tidak tahu dan aku takut untuk membayangkan" Helen yang sabar mengelus kepala Janne, berusaha menjelaskan agar Janne tidak salah paham.
"Nama ku Reeve Ethan Duke ke-4, aku pewaris satu-satunya keluarga Duke yang tersisa, semua keluarga ku dibantai oleh Hans, dia adalah manusia setegah vampire yang sangat terobsesi dengan keabadian, semua tertulis di kitab xaffo" Reeve juga menjelaskan tentang dirinya.
"Aku mendekati mu bukan karena aku ingin mengisap darah mu, tapi karena kau adalah calon pengantin ku, menjaga mu adalah keinginan ku, bahkan aku ingin kisah pertemuan kita lebih romantis, tapi ternyata begitu banyak halangan" Reeve terus bercerita dengan menatap Janne.
"Tapi....setelah menikah ketika kau memilihny Janne, kau akan sama seperti Hans, menjadi manusia setengah vampire yang haus akan darah" ujar Helen yang dengan raut wajah sedih.
"Apa seburuk itu menjadi manusia setengah vampire?" tanya Janne penasaran.
"Aku dan paman Jesper sudah lama tidak meminum darah manusia, tapi bukan berarti tidak meminum darah." Jelas Reeve.
"Apa dengan menikah dengan mu, Hans atau apalah itu tidak akan mengganggu keluarga ku?" tanya Janne kembali.
"Aku tidak yakin, tapi dengan kau bersama ku, kita bisa mengalahkannya bersama-sama" Reeve yang meraih tangan Janne.
"Apa boleh aku memikirkannya?" pinta Janne.
"Baiklah, aku akan menunggu mu".
Mobil berwarna hitam itu terus melaju di tengah hutan belantara yang sepi dan hening, Hans dan pasukannya tidak bisa memasuki gunung pinus, entah karena kutukan atau apa, hanya gunung pinus tempat teraman untuk Janne dan keluarganya.
Jesper juga menyetir mobil dengan cepat, dia hanya khawatir akan pasukan Hans yang akan datang, setidaknya, didalam mobil mini lomosin itu telah di modifikasi dengan berbagai macam senjata perak yang sangat di takuti vampire.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
terima saja reve biar kalian bisa mengalahkan Hans
2023-08-16
0