Ditempat yang gelap, ruangan besar seperti aula terdpat yang berukiran emas, hanya sedikit cahaya matahari yang dapat masuk, Hans yang duduk dengan tenang dan memejamkan matanya, tiba-tiba dia terbangun, mata tajam penuh dengan dendam, dia dapat merasakan, apa tang terjadi pada pasukannya yang tewas.
Lelaki yang berambut gondrong itu, menyeringai dengan tatapan aneh, dia memang terus mengikuti Helen, mencari tahu dimana kitap Xaffo di sembunyikan, selama kitab itu tidak berada bersamanya menculik Janne pun hanya akan sia-sia.
Kembali dimasa sekarang, Janne yang sibuk merapikan kamarnya yang penuh dengan beberap buku gambar, ditumpukan buku-buku dia sempat melukis sebuah buku bergambarkan wajah kelelawar hitam ditengahnya.
"Kapan aku menggambar ini?". Seingatnya dia tidak pernah menggambar tentang buku atau apapun itu.
Tapi seakan penasaran Janne mengelus gambar lukisan yang dibuatnya, seakan dia memasuki alam bawah sadarnya yang menarik jiwanya kedalam sebuah memori dari gambar tersebut.
Bagaikan potongan atau cuplikan film yang cepat dan silih berganti, Janne melihat peperangan yang terjadi antara manusia dan vampire, beberapa orang tengah menunggangi kudanya dan bersiap menumpas para vampire yang menjadi musuh manusia saat abad pertengahan, tentang seorang lelaki yang sangat mirip dengan ayahnya namun dia berada disebuah lab yang penuh dengan berbagai tumbuhan dan hewan yang telah di awetkan dalam mug kaca dengan penutup.
"Janne" teriak Helen yang melihat Janne tengah duduk mematung, matanya hanya menatap kosong dalam sebuah gambar yang dilukis Janne sendiri.
Mendengar suara sang kakak, Janne seakan tersadar dan jiwanya seakan tertarik dan memori yang dia lihat menghilang dari pandangannya.
"Huh" Janne yang tersentak, seakan kehabisan nafas. Tanganya masih gemetaran, seakan tidak percaya apa yang dia lihat sebelumnya, dia menjatuhkan gambar yang aslinya Janne menggambar kitab xaffo namun dia tidak menyadarinya.
Helen memang sangat peka, sebelum kejadian Helen yang tengah bersantai diruang kekuarga merasakan hawa yang tidak biasa dari atas, ya! dari kamar Janne. Sebagai jaga-jaga Helen juga membawakan kalung yang dibuat oleh almarhum neneknya, dia juga menggenggam sebuah payung hitam, entah untuk apa dia membawanya segala.
Perlahan Helen menaiki anak tangga, menuju lantai dua, mengendap-endap agar tidak membuat suara, Helen merasa lemah karena apa yang dia rasakan adalah energi yang sangat kuat hingga seakan energi itu menyedot energi orang yang berada diaekitarnya.
Kriieett!!!
Helen membuka pintu dan mendapati Janne, Helen mengira Janne membatu karena sesuatu menyambarnya atau apa, tapi karena gambar kitab xaffo, benar saja kekuatan kitab xaffo dapat membuat Janne menggambarnya, tanpa Janne menyadari kitab itu ingin Janne menemukan dan membukanya.
"Kakak" tanpa alasan Janne meneteskan airmata, dia shock dengan apa yang dia lihat.
Helen langsung memeluk Janne, memberikan sentuhan dengan menepuk pundak Janne, Helen sangat mengerti apa yang Janne rasakan, kitab xaffo menuntun Janne, entah apa yang akan terjadi jika Janne berhasil menemukan dan menbuka kitab tersebut.
Sedikit mulai tenang, Helen membuatkan coklat panas kesukaan Janne, dia memberikannya kepada Janne yang terus melamun, dia masih merasa aneh dengan apa yang dia lihat.
"Minumlah" pinta Helen yang memberikan mug bergambarkan kelinci coklat.
"Terimakasih" ucap Janne tang terus terdiam menatap pantai dari teras rumah mereka.
"Yang kau lihat adalah memori dari kitab yang kau gambar" jelas Helen duduk dengan meminum kopi susu hangat.
"Memori? Kitab? Aku tidak pernah menggambarnya" Janne yang masih merasa aneh, bagaimana dia tidak mengetahui apa yang dia gambar sebelumnya.
"Karena kitab itu yang menuntun mu, kitab yang meminta ditemukan" jawab Helen menyeringai lucu. Sungguh sangat aneh, bagaimana Janne akan dengan apa yang dia ucapkan.
"Kenapa aku? Apa harus aku?". Tanya Janne lagi.
"Karena kau yang dipilih Janne, kau istrimewa Janne" Helen yang mengelus rambut panjang Janne.
"Kakak, aku belum cerita kepadamu".
"Cerita apa?". Tanya Helen yang sangat perhatian terhadap Janne.
"Beberapa waktu lalu aku bertemu dengan orang yang selalu mengawasiku, dia seorang vampire" cerita Janne yang sebenarnya Helen juga mengetahui sosok vampire yang selalu memperhatikan Janne dari jauh.
"Lalu? Kau jatuh cinta padanya?" ucap ketus Helen.
Sikap ketus Helen bukan tanpa alasan, dengan Janne bertemu dengan Reeve berarti mereka harus bersiap tentang pernikahan yang sudah tertulis dikitab xaffo.
"Aku tidak yakin, tapi aku sangat nyaman berada didekatnya, walau aku tahu dia seorang vampire, tapi apa aku akan baik-baik saja" cerita Janne mengingatkannya kembali akan kisah cinta Helen yang tiba-tiba kandas hanya karena Helen adalah seorang gulam. Selama Janne bercerita Helen terus mengingat kisahnya yang singkat, suara Janne seakan mengecil dan tiba-tiba hening.
Helen sangat mengerti bahwa Janne hanya merasa takut jika nantinya dia hanya berakhir dengan santapan, Helen yang kala itu berusia dua puluhan tengah di mabuk asmara dengan lelaki yang tulus mencintainya, tapi setelah tahu Helen adalah gulam dia pergi begitu saja, sehingga Helen tidak tertarik akan percintaan.
"Kakak..." Janne yang membuyarkan lamunan Helen.
"Hah!" Helen yang tersadar tersenyum kepada Janne.
"Apa yang kakak pikirkan?". Tanya Janne yang memang penasaran.
"Tidak ada Janne, apa kau sudah tahu nama si vampire itu?". Tanya kembali Helen.
"Aku tidak tahu namanya, aku hanya memanggilnya tuan pucat, tapi kakak tahu dia sangat tampan" Janne yang tersenyum menceritakan pertemuan singkatnya dengan Reeve.
"Apa dia setampan itu sehingga kau sering menggambarnya?" Helen yang menimpali hingga membuat wajah Janne memerah.
Tentu saja siapa yang tidak tertarik, lelaki tinggi dengan rambut kecoklat terang, rambut potongan pendek yang sudah sangat mengikuti zaman, ditambah bola matanya berwarna eyesgrey dikala siang hari. Membuat siapa saja akan tertarik dengan Reeve.
"Aku tidak menyadari kakak mengetahui sosok pria yang aku gambar" ujarnya yang merasa tidak pernah bercerita tentang apa yang dia gambar kepada Helen, namun Helen mengetahui siapa yang digambar Janne.
"Kalau kau tidak suka, tidak mungkin semua gambarmu ada sosok pria kesepian" sahut Janne yang masuk kedalam rumah untuk menaruh mug berisi ampas kopi.
Janne masih penasaran dengan apa yang terjadi, pandangannya terus melihat kepantai yang langitnya berubah senja, dihiasi warna orange yang melukis indah.
Apa si tuan pucat tahu tentang kitab yang ku gambar? Bagaimana aku bisa bertemu dengannya? Bagaimana aku memanggilnya?
Batin Janne yang penuh dengan tanda tanya.
Di lain tempat, Deborah dan Felix sepasang kekasih yang baru saja pulang hangout, ditengah perjalan mereka dihadang beberapa orang yang menjadi anggota secret human, organisasi atau lebih tepatnya nama prajurit asushan Hans.
Masih dengan keadaan mabuk berat keduanya yang berjalan dengan sempoyongan, menabrak segerombolan secret human.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments