Merasa aneh karena Janne tidak kunjung kembali dia menghampiri ke ruang bawah tanah, Janne terus mencari keberadaan Reeve, lelaki yang dia panggil tuan pucat membuatnya merasa senang.
“Janne, kau sedang apa?” tanya Helen yang membuka pintu gudang.
“Aku tidak menemukannya” sahut Janne beralasan.
“Cepatlah naik” ujar Helen.
Vampire adalah makhluk kesepian, yang kadang membut para wanita penasaran, tidak teman untuk berbagi perasaan, memilih menyendiri jauh dari keramaian. Walau tampilannya menawan dan elegan dengan aura bangsawan menghisap darah memang menjadi pekerjaan yang orang banyak ketahui.
Banyak wanita mengidolakan karena ingin di sentuh oleh vampire yang mereka anggap hot dan sensual sexy secara natural, bahkan mereka sengaja menyemprot parfum dibagian leher, karena sentuhan di area itu menjadi hal favorit wanita.
Janne juga mempelajari bahwa seorang Vampire adalah sosok yang romantis, karena itu banyak wanita yang merelakanbdirinya untuk menjadi santapan si vampire.
Janne yang keluar dari gudang dengan membawa alat-alat yang akan mereka pakai untuk berkemah, namun Helen kemudian mencium aroma yang tidak biasa dari tubuh Janne.
“Janne apa yang terjadi?” tanya Helen yang mengendus area tubuh Janne.
“Apa? Tidak ada apa-apa” ujar Janne yang kembali ke kamarnya.
Helen mengetahui Janne menyembunyikan sesuatu darinya, tidak ad yang bisa lewat dari pandangan Helen, aroma yang dilihatnya seperti aurora berwarna biru pucat, yang mengelilingi tubuh Janne.
Aroma yang sama ketika dia bertemu dengan Reeve tiga tahun lalu, dimana Janne yang akan berulang tahun ke tujuh belas tahun, bulan Desember minggu pertama, salju yang datang tiba-tiba membuat kota Frujkan mendadak tertutup putih salju yang tebal.
Keluarga Weems tengah menyiapkan kejutan untuk Janne, di tengah hujan salju yang datang, Helen tengah menunggu pesanan kue yang akan dibuat perayaan bersama keluarganya.
Tidak ada yang lepas dari pandangan Helen, di luar jendela toko kue, Helen dapat melihat seorang pria berwajah pucat yang berdiri di ranting pohon yang besar, entah apa yang di lakukan dan di lihat, bahkan Helen langsung mengetahui bahwa pria itu bukanlah manusia, aroma badannya yang memancarkan aura vampire, dengan bias warna biru pucat.
Tidak lama lelaki itu kembali pergi dengan melompati dahan satu dengan satunya lagi dan kemudian hilang di balik salju yang turun.
Dari sana Helen kembali ke rumah tua milik neneknya, dia mencari sesuatu sebuah petunjuk dengan apa yang dia liat kemarin, rumah yang letaknya jauh dan berada di tebih sebuah pantai, Helen masuk perlahan karena bangunan sudah lama di tinggali, banyak bangunan yang terbuat dari kayu yang mulai lapuk dimakan usia.
Dia beranjak menuju kamar sang nenek, mencari beberapa buku dan album foto yang batang kali dia bisa mengerti apa yang sebenarnya dia lihat.
Namun di balik bangunan tua ada beberapa pasang mata yang membawasinya.
Sosok yang hanya terlihat matanya saja, entah apa yang mengawasinya Helen telah bersiap belati yang dia tempa sendiri dari perak.
Setelah mendapatkan apa yang dia inginkan, Helen bergegas untuk pulang, namun sayang makhluk yang ternyata seorang vampire muda.
Dia bersikap untuk bisa mencengkram Helen sebagai santapnnya yang haus akan darah, dengan mengenakan ransel, Helen mengambil acang-ancang untuk menyerang vampire yang sangat haus darah.
Vampire memang dikenal dengan kecepatannya, namun itu tidak masalah buat Helen, vampire pria itu terus berlari mengelilingi Helen, membuatnya bingung harus berlari kearah mana.
Helen yang cekatan menarik belatinya, dia maju dengan langkah kaki yang tegap, dengan yakin dia menarik belati dan menghujamkan belati kearah depannya. Berharap itu dapat melukai si vampire.
Krak!
Helen melukai tangan si vampire darah mengucur di tangannya, darah hitam yang kental, si vampire itu menghentikan langkahnya, dia meras panas dan kesakitan.
“Ark” teriak si vampire yang sepertinya warga kota Frujkan.
Ternyata Helen berhasil membuat si vampire mundur bersembunyi, kesempatan itu dipakai Helen untuk kabur, namun sebelum dia pergi, Helen menyiapkan sebuah jerigen minyak untuk membakar rumah tersebut, yang dia yakini akan menjadi sebuah tempat persinggahan.
Walau banyak kenangan dengan rumah itu, Helen harus bisa melakukannya, diambilnya batang korek yang terbuat dari kayu.
Jress! Suara korek kayu yang di nyalakan Helen, penuh keyakinan Helen melempar bayang korek tersebut di area yang dia basahi dengan minyak dan buaar api menyala dengan cepat, bangunan yang terbuat dari kayu dan semi permanen itu cepat terbakar, melahap rumah dan vampire muda yang berteriak kepanasan di dalam rumah tersebut.
Helen yang melihat kemudian beranjak pergi meninggalkan vampire yang terus berteriak kepanasan, rumah yang akan selalu ada dalam ingatannya.
Arom yang dia dapati pada Janne adalah aroma vampire namun berbeda dengan vampire yang dia temukan dirumah lamanya.
Lelaki itu (Reeve) tentunya yang menghampiri Janne. Ungkap batin Helen.
Sementara dia akan berjaga-jaga agar Janne selamat, entah apa yang akan terjadi kedepannya, dia tidak ingin adiknya terlibat dengan vampire mana pun.
Denting piano mengalun lembut, Reeve memainkan piano yang telah berusia ratusan tahun, di temani segelas wine yang terbuat dari darah babi, Reeve begitu menikmati kesendiriannya, kesepian, sunyi yang membuatnya tenang.
Entah apa yang terlintas dari benak Reeve, dia seakan melihat bayangan dari Janne, yang datang kepadanya, mengenakan dress zaman pertengahan, dress panjang putih dengan other biru, tubuh tinggi dan langsing, Janne terlihat cantik dengan rambut yang curly, manusia yang pertama membuat Reeve merasakan debaran.
Bayangan Janne terus menari berdansa dengan lantunan dentingan piano yang di mainkannya, Reeve kemudian menghentikan permainan pianonya, membuat bayangan Janne menghilang.
Tidak bisa berdiam diri, Reeve pergi keluar untuk menemui Janne, tepat pukul tengah malam, Janne tertidur pulas, ayah dan ibu juga, hanya Helen yang terus terjaga, dia bahkan memberi pernak pernik di depan pintu dengan hiasan yang dia buat dari benang rajut yang dalamnya terdapat lempengan perak yang sengaja dia simpan.
Ada beberapa vampire yang tengah mengawasi rumah merek, bukan hanya Reeve tapi ada beberapa vampire baru yang sangat haus darah.
Di balik hutan yang gelap di dekat rumah Janne, beberapa vampire silih berganti melompat dari pohon satu ke pohon lainnya, karena tidak dapat mendekat dengan rumah Janne, yang telah di pasang beberapa perangkap untuk menangkap mereka, Helen tidak dapat memejamkan matanya.
Seperti yang di tulis sang nenek dalam bukunya, Janne merupakan anak perempuan yang akan menanggung beban yang berat, darahnya menjadi rebutan untuk menghidupkan atau membuat kekuatan seorang vampire bertambah sampai sepuluh kali lipat.
Satu tetesnya membuat satu kota bisa menciumnya, cara untuk menyelamatkannya adalah dengan menikahkannya dengan seorang pangeran vampire yang memang sudah ditakdirkan untuknya.
Dalam darah saling bercampur, cinta yang murni akan membuat yang jahat sirna, dengan apapun pengorbanan itu harus, karena pada hakikatnya manusia tidak di takdir bersama vampire.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
Rossi Putih
Aku sih mash mencerna
2023-08-09
77
anak milenium
Lanjut ka penasaran
2023-08-08
57