Hans memang banyak memiliki pasukan vampire yang dia ciptakan, ada satu prajurit vampire yang telah lama bersama ikut Hans, tapi dia sungguh berbeda dengan Hans. Pemikiran, perencanaan bahkan prinsif yang sangat amat bertolak belakang dengan Hans.
William knut, lelaki yang sebelum menjadi vampire itu berusia sama seperti Jenna, dia merukan seorang jenius di akhir tahun pertengahan, hingga sekarang dia lebih suka menyendiri di lab istana Hans.
Entah hari itu William begitu tertarik akan darah manusia yang dia temui pertama kali di sebuah kebaktian. Sekitar dua tahun yang lalu, yang meninggal merupakan teman Helen, Bianca. Dia tewas mengenaskan, urat leher yang terputus akibat gigitan hewan buas, itu yang terindentifikasi oleh polisi setempat.
Itu memang ulah dari pasukan Hans yang memang sibuk mencari darah manusia, sebagai rasa belasungkawa, William selalu hadir di pemakaman dan memastikan agar korban pasukan Hans tidak berubah menjadi vampire. Bisa dibilang William adalah anggota sensusnya para vampire yang dibuat oleh anggota pasukan Hans yang baru.
Mengenakan tuxedo hitam, lengkap dengan kacamata hitam, William menjadi pusat perhatian karena kulit putih pucatnya, Helen mencium aroma yang sangat tidak biasa, bahkan dia belum pernah melihat William sebelumnya.
Wiliam bahkan membawakan bunga Lily putih untuk mendiang Bianca, di sana juga pertama kali Wiliam bertemu dengan Janne. Gadis berambut pirang itu tengah berdiri ditepi peti mayat Bianca yang dihias dengan beberapa bunga Lily.
Perhatian Wiliam teralihkan karena hembusan angin yang menyeringai dibalik rambut panjang Janne, membawakan aroma wangi yang begitu segar, wanginya seperi bunga yang baru bermekaran. Pandangan William terus menatap kearah gadis yang mengenakan dress hitam dengan rambut terurai.
William bahkan membuka kacamatanya, bola matanya berubah kekuningan, William juga seakan merasa bahwa Janne adalah mangsa yang cantik, manusia pertama yang membuat William penasaran.
Namun Helen yang curiga dari awal kepada William,
dia menarik William agar keluar dari barisan pelayat, Helen menekan dada pria berambut pendek itu dengan sikunya.
"Siapa kau? Kau bukan salah satu teman Bianca?"
William yang tertunduk kemudian mengangkat kepalanya dengan tatapan tajam. Sentak Helen terkejut melihat William, dia memiliki aroma yang sama dengan vampire yang membunuh Bianca, walau hanya samar tapi Helen mengetahui bahwa vampire yang ada di depannya adalah bagian dari komplotan vampire yang suka memburu manusia.
"Aku hanya datang untuk mengucapkan belasungkawa" ujar William terus melihat Helen dengan tatapan tajam.
Janne yang selesai memberikan penghirmatan terakhir untuk mendiang Bianca, melihat sekitaran untuk mencari kakaknya Helen, dia tidak dapat menemukannya, sampai dia berjalan menuju lorong tempat keluarga beristirahat.
Suara sepatu Janne yang memiliki hak tidak terlalu tinggi, mengalihkan perhatian Helen, dap dap dap, suaranya terus terdengar mendekat, dengan secept kilat pula, William bergegas pergi meninggalkan Helen.
Syuuuuttt!!!!
Helen yang kaget tidak bisa melampaui kecepatan seorang vampire dan membiarkannya lolos untuk kali ini.
"Ka, sedang apa disini?" tanya Janne yang tiba tepat di depan Helen.
"Aku hanya merasa pusing" ujarnya mengalihkan perhatian.
"Sebaiknya kita cepat kembali" Janne yang menggandeng tangan Helen dan mengajaknya beranjak dari pemakaman Bianca.
Sejak hari itu, William terus memikirkan gadis dengan wangi bunga, memang tidak se intens Reeve yang mengawasi Janne tapi William sering mendekati, entah bertemu di supermarket atau diperpustakaan. Itu dia lakukan sebagai bahan penelitiannya, apa yang membut Janne begitu memikat untuk bangsa vampire.
Dan yang membuat William heran adalah Hans, dia adalah vampire terkuat, bisa saja dengan mudah dia mendapatkan darah Janne tapi kenapa dia malah membuat pasukan vampire. Jikalau hanya Helen si gulam itu tentunya Hans juga dengan mudah menyingkirkannya, tapi apa yang membuat Hans menahan itu semua. William sangat penasaran dan terus mencari tahu apa yang sebenarnya Hans inginkan dari Janne, atau Hans menunggu waktu yang tepat agar bisa mengambil darah Janne.
"Paman, memangya kapan aku bisa menikahi gadis itu?" tanya Reeve yang duduk didepan sebuah jendela kaca yang besar, teptnya di ruang keluaraga dari resort castile miliknya.
"Jika saatnya tiba saya akan memberitahu tuan, masalahnya bagaimana meyakinkan nona Janne agar mau menikah dengan tuan" celetuk Jasper yang memasang wajah ragu.
Mendengar perkataan Jasper, raut wajah Reeve berubah kesal. Kalau di pikir Reeve yang telah lama mengawasi Janne kemudia dia berharap bisa menjadi pasangan Janne, membuktikan bahwa dia telah jatuh cinta kepada Janne.
Walau enggan mengakui Reeve tentunya ingin hubungan mereka berjalan senatural mungkin, tanpa Janne tahu tentang ramalan yang di tulis kakeknya, darah atau perjodohan yang telah diatur ratusan tahun lalu.
Harapan menyambut pagi di tepian cakrawala dengan senyum hangat yang berkilauan, rumah Janne yang memang sebelah timurnya menghadap ke laut, begitu indah di kala pagi atau pun ketika matahari terbenam. Pagi ini seperti biasa orangtua mereka sibuk dengan bertenak dan bertani, Helen yang merupakan anak tertua membantu membuat sarapan bersama Janne.
Namun hari ini orangtua mereka akan pergi keluar kota, mengantar beberapa hewan ternak yang sudah dipesan. Janne yang hobi menggambar akan pergi ke bukit, beberapa kegiatan yang akan di lakukannya di akhir pekan musim panas ini.
Bukit yang tidak jauh dari rumah mereka, bukit yang menjadi tempat favorit Janne untuk menenangkan pikirannya, deru angin menunjukkan seberapa dekat ke tepi, membisikan rahasia dalam bahasanya sendiri tanpa di mengerti orang lain, ia mengumpulkan dan mengingat semua suara, kemudian mengirim angin berbicara dan menceritakan melalui dedaunan dan ladang.
Rambut panjang Janne berterbangan mengikuti angin yang berhembus, dia terus duduk dengan menggambar sebuah tebing tinggi dengan garus cakrawala yang indah, seperti harapan di ufuk senja. Dalam gambarnya juga terdapat potret seorang lelaki yang hanya di gambarkan dengan bayangan hitam berdiri di tepi tebing.
Tepat seperti gambarnya, Reeve juga mengamati Janne dari atas pohon besar, tentunya Janne hanya diam pura-pura tidak mengetahui itu. Kemudian Janne membuka lembaran baru dari buku gambarnya, menempatkan pensil di depan wajahnya dan menutup sebelah matanya, lalu dia membalikan badannya dan tepat sasaran, dia melihat Reeve berada di atas dahan pohon besar yang ada tepat dibelakangnya.
Reeve hanya bisa terdiam, dia tercengang apa yang di lakukan Janne, entah berapa lama sebenarnya Janne mengetahui jika Reeve sering memperhatikannya. Dengan senyum lebar Janne melambaikan tangannya ke arah Reeve. Wajah Reeve terlihat memerah merona, dia pun tidak malu-malu untuk menghampiri Janne.
"Sudah sejak kapan kau mengetahuinya?" Tanya Reeve yang menghampiri Janne dengan sekali lompatan.
"Sejak aku usia 10tahun, kau selalu berdiri di belakang ku" jawab Janne dengan senyum sumringah, di tambah lesung pipi tambah membuat Janne cantik.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
Usof D lufy
Lanjut
2023-09-02
0
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
asek akhirnya ketauan juga
2023-08-14
0
Ipau Hitam
William bukan pangeran ya thorp
2023-08-09
0