Mata saling beradu tatap, deraian angin mengebas rambut panjang Janne, Reeve begitu terpesona akan kecantikan Janne, seakan bunga yang baru mekar, wangi tubuhnya seakan menyeruak. Reeve berusaha menahan apa yang dia rasa, dia tidak menunjukan sifat aslinya, tidak bisa meperlihatkan bahwa dia juga vampire pada umumnya yang terkadang haus akan darah manusia.
"Aku sangat penasaran, kau tidak seperti dalam cerita film yang aku tonton" ujar Janne yang terus memperhatikan Reeve.
Berawal dari rasa penasarannya, bahkan dia meriset beberapa dari buku bacaan yang dia temukan diperpustakaan. Bagaimana vampire hidup di era moderen seperti sekarang atau bagaimana dia bisa keluar pada siang hari, padahal yang paling ditakuti vampire adalah sinar matahari, dia memberanikan diri memegang kulit putih pucat Reeve, entah tabur surya atau apapun itu yang mereka kenakan, tidak membuat kulit mereka terbakar.
"Memang kau tidak belajar di sekolah, tentang geografis kota ini?". Tanya balik Reeve.
"Belajar dan aku tahu musim panas di sini tidak ada bedanya dengan musim dingin, lalu apakah kau tidak bisa meninggalkan kota frujk?".
"Mungkin saja..." jawab Reeve yang sebenarnya tidak pernah pergi kemana-mana. Yang dia lakukan sejak dulu adalah bersembunyi sampai nanti kekuatannya kembali pulih.
"Aku berencana akan pergi dari kota ini, aku akan pergi kesekolah seni jauh dari sini, aku hanya penasaran apa kau akan terus mengikuti ku? Apa kau terus mengawasi ku jika aku tidak berada dikota ini?". Ungkap Janne yang merasa nyaman dan aman jika Reeve mengawasinya.
Reeve yang tidak tahu harus menjawab apa dan bagaimana, dia saja tidak pernah bepergian semenjak orangtuanya meninggal. Semua dilakukan oleh paman Jasper, guru, dokter, koki dan orangtua bagi Reeve, mungkin jika dia harus pergi, dia tidak akan mungkin meninggalkan Jasper seorang diri.
Perbincangan singkat itu usai begitu saja, Janne memutuskan kembali kerumah, dia tidak mengaharapkan apa yang sebenarnya juga tidak pasti, bahkan hubungan Janne dan Reeve adalah hal semu, Janne yang menyukainya hanya karena Reeve selalu mengawasi dan menjaganya, tapi mungkin Janne adalah mangsa yang pas untuk santapan buat Reeve.
Langkahnya terlihat tidak pasti, Janne terus berjalan menuju rumahnya, tampak dari dalam rumah, Helen mengawasi sang adik dari jendela kaca rumah mereka, Helen hanya mengkhawatirkan Janne, walau dia tahu Reeve adalah vampire yang baik tapi tetap saja dia harus waspada.
Helen sebenarnya sudah beberapa kali bertemu dengan Reeve, Jesper adalah temannya sedari kecil, kala itu satu minggu selepas musim dingin, Helen yang juga bekerja di sebuah pusat penelitian museum kota Frujkan.
Seperti biasa Helen tengah sibuk membersihkan dan merapikan data barang baru untuk museum, Jasper selalu datang di malam minggu ke dua, berbadan tinggi, lengkap dengan stelan tuxedo dan topi, tidak lupa dia selalu membawa pipet rokok kemana-mana.
"Sepertinya banyak barang bagus" ujar Jesper yang datang membuka topi trilby hitam dengan garis abu.
"Paman, sepertinya hampir setahun kau baru kembali" sahut Helen yang kemudian menyudahi pekerjaannya untuk sesaat.
Ruangan yang diperuntukan menerima tamu dengan jendela kaca besar itu terletak diselatan kota Frujkan, dataran tinggi yang indah dapat terlihat jelas dari dalam jendela, Jesper tengah duduk sambil menanti suguhan dari Helen. Dibalik pemandangan bukit dapat terlihat jelas hutan kabut yang menjadi tempat tinggal dirinya dan Reeve.
"Maaf menunggu lama" Helen yang menyuguhkan secangkir kopi americano tanpa gula.
"Terimakasih Helen, sebenarnya aku kesini..." belum juga seesai berbicara, Helen seolah memotong pembicaraan, keluar dari topik.
"Aku mengerti, aku paham sekali paman, purnama merah akan segera datang" ujar Helen yang raut wajahnya menjadi cemas.
"Kita harus segera bergegas, Janne harus diselamatkan" Jasper yang menggengam tangan Helen.
"Aku tidak bisa melalukannya, aku hanya ingin dia bahagia paman". Dengan mata yang berkaca-kaca, Helen seakan mengisyaratkan bahwa dia tidak menyetujui perjodohan yang telah di tuliskan.
"Reeve juga tidak bisa bertahan hanya dengan menikah dengan Janne" Jasper yang kemudian menjelaskan.
Ditulis dalam kitab xaffo bahwa hanya wanita dari keluarga Wems dengan tanda lahir yang akan menjadi istri dari Ethan duke ke-4. Mereka di jodohkan agar nantinya penerus Ethan duke tetap berlangsung dan berjaya. Adapun sebagai tambahan, Reeve harus meminum darah Janne agar dia mengkekalkan kekuatannya.
Purnama merah yang menjadi pertanda dimana pernikahan mereka harus berlangsung, dalam siklus kalender akan datang sekitar dua bulan lagi. Reeve yang bisa saja menculik Janne tapi dia tidak menginginkan itu, hubungan selayaknya manusia yang Reeve harapkan.
"Mungkin saja Janne telah mengetahui tuan muda Reeve, tapi tentunya itu akan rumit dijelaskan jika mereka sengaja dijodohkan". Ujar Helen.
Gadis berkulit ekstetik itu juga bingung bagaimana menjelaskan tentang perjodohan yang sebenarnya dia saja tidak terlibat didalamnya, keluarga Wems juga tidak ada yang tahu tentang kitap Xaffo atau apapun itu.
"Reeve masih mencoba agar bisa memulai suatu hubungan, karena baru pertama kalinya dia melakukan hal itu". Paman Jesper tersenyum teringat akan tingkah lucu Reeve yang sengaja berpakain rapi atau menata rambutnya, padahal dia hanya melihat Janne dari kejauhan.
Vampire yang dikenal cuek dan dingin, dibalik itu semua ada sisi manis yang membuat orang lain bisa merasakan energi positif dari dirinya.
"Lalu apa kitab itu akan aman???" Lanjut Jasper.
"Iya tidak ada yang mengetahui dimana benda itu" ujar Helen yang mengenakan kacamata bacanya.
Kitab Xaffo memang banyak menyimpan rahasia vampire tapi kitab itu hanya bisa dibuka oleh tetesan darah Janne. Jesper yang menyerahkan kepada Helen, mungkin dengan begitu Hans tidak akan datang kepada mereka untuk kitab itu.
Dibalik percakapan mereka, seekor kelelawar kecil bergelantungan, dia merupakan anak buah Hans, sejak lama dia mengawasi Helen. Namun bukan Jesper namanya jika tidak bisa mengetahui hal aneh, Helen saja tidak bisa mencium bau vampire jika dia berubah menjadi hewan.
Matanya melirik kebelakang badan mereka yang tengah berbincang, dengan menyeringai santai Jasper kemudian membakar tembakau yang ada di pipet rokoknya. Sembari dia mengambil sebuah pistol guardian 32, dengan sebuah peluru yang dibuat oleh Jesper dari perak.
Merasa terancam kelelawar kecil itu hendak beranjak dari temptnyq bergantung, namun sudah keburu di tembak Jasper. Dor...suara lengkingan pistol menggema dalam ruangan besar tersebut. Helen yang melihat menutup kedua telinganya dengan tangannya. Bagaikan potongan adengan dalam film, peluru perak itu menembus badan kelelawar yang terbang berusaha kabur. Lalu perlahan berubah menjadi sosok lelaki vampire yang kemudian terjatuh.
Bukk !! Badannya perlahan seperti terlahap api yang akan menyirnakan hidupnya, wajah pucat dengan tangan yang seakan meraih tempat keluar jendela yang terbuka, siiaaatt, Jesper dengan kecepatannya menginjak tangan si prajurit vampire yang berakhir dengan abu putih yang tertumpuk tepat dibawah kaki Jesper.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
Mimi Sukran
msh banyak kata yang ketinggalan huruf KA semoga KK LBH semangta
2023-08-09
0
Herlina Gt
penasaran seru ka semangt
2023-08-09
0