Bab 9

Keesokan paginya, langit kelihatan cerah tidak mendung seperti kemarin. Tidak nampak arak-arakan awan di langit. Matahari merangkak perlahan mengantarkan pagi. Sinarnya hangatkan tubuh yang masih berselimut dingin. Air laut yang sedang surut menampakan bebatuan karang, burung camar terbang rendah langgamkan kedamaian. Berkejaran dari satu baruan karang ke batu lainnya. Pejantan mencumbu betinanya dengan mesra. Terdengar celotehan manja dari paruhnya.

Suasana tampak damai dari rumah keluarga Wems, ibu yang membuat sarapan, ayah yang sedang menonton berita ditemani segelas kopi panas, Helen dan Janne yang tengah sibuk bersiap dengan aktivitasnya.

Seputar Info kembali hadir di pagi hari ini, bersama saya, Robert Down, yang akan memberikan berita-berita terbaru dan teraktual.

Pemirsa, kembali memakan korban, serangan hewan buas yang tidak beraturan kembali terjadi, kali ini yang menjadi korban adalah sepasang kekasih yang baru pulang dari sebuah party. Sepasang kekasih yang diketahui bernama Deborah dan Felix yang masih berstatus mahasiswa dan siswi universitas kota Frujkan, tewas dengan mengenaskan luka robekan dibagian leher mejadi penyebab kematian.

Keterlibatan hewan buas yang belum bisa di identifikasi hewan macam apa yang menyerang kedua sejoli ini, dalam kasus pembunuhan sebelumnya, Jaguar sangatlah mungkin dapat melakukannya, namun polisi menyatakan Jaguar bahkan tidak pernah terihat oleh masyarakat sekitar. Adapun motif lain yang sebenarnya pelaku adalah manusia. Dari rekaman CCTV mereka sempat berpapasan dengan beberapa gengster kota tapi setelahnya rekaman itu menghilang.

Polisi masih menyelidiki motif dari anggota gengster yang ada dikota, beberapa anggota telah diamankan, para terduga pelaku telah ditangkap dua jam sesudah vidio CCTV tersebar, kini mereka berada di kepolisian kota Frujkan.

Mendengar berita dari televisi, Janne menghampiri ayahnya yang duduk di ruang tengah, kabar yang membuat Janne tidak percaya teman, sahabatnya tewas dengan cara mengenaskan, padahal sebelumnya mereka berencana pergi ke bukit pinus untuk bermalam disebuah hotel castile, tapi Deborah dan Felix meninggal terlebih dahulu.

Ayah dan ibu Janne serta Helen mengenal baik Deborah dan Felix, mereka selalu bersama ketika liburan akhir tahun. Tertunduk lemas, Janne tidak bisa berkata-kata, kakinya gemetaran, dia bahkan tidak bisa berjalan dengan benar.

"Janne" peluk Helen yang menguatkan sang adik.

Tangisnya pecah, suara merintih kesakitan yang Janne rasakan dapat dirasakan oleh keluarganya, mereka bersama sedari mereka duduk di taman kanak-kanak.

Mereka bergegas menuju rumah duka, walau Janne sendiri memutuskan untuk tidak datang, dia tidak kuat harus melepskan kedua sahabatnya itu, Janne terus diam dalam kamarnya, dia menutup badannya dengan selimut.

"Kau yakin tidak mau ikut Janne?". Tanya ibunya yang telah berpakaian rapi berwarna hitam.

"Titip salam ku kepada paman Breat" sahut Janne dari dalam selimut.

"Baiklah" lalu ibu beranjak dari kamar putrinya, menutup pelan pintu kamar yang berwarna putih.

Kehilangan orang terkasih, tidak pernah mudah dan sulit dijelaskan. Perasaan kehilangan dan berduka bisa bertahan cukup lama meski seseorang bisa menjalani kegiatan sehari-harinya dengan baik. Janne terus menangis dalam selimutnya. Diseberang kamarnya yang terdapat pohon hyperion yang menjulang tinggi, tempat dimana Reeve dengan santai mengawasi Janne.

Reeve juga melihat berita pagi ini, seperti biasa sarapan yang disajikan paman Jesper lengkap dengan jus darah, bersantai saat sarapan dengan menonton televisi. Mendengar berita itu Jasper dan Reeve mengetahui bahwa itu adalah ulah dari pasukan Hans yang bernama secret human.

Bahkan Reeve juga mengenal Deborah dan Felix secara tidak langsung, karena kesibukannya mengawasi Janne kecil, Reeve tahu siapa saja teman bahkan pria yang mendekati Janne.

Reeve yang memperhatikan dari atas pohon, ayah dan ibu serta Helen telah memasuki mobil untuk melayat kerumah duka, sedangkan Janne tinggal dirumah. Reeve kemudian menghampiri Janne, menyelinap masuk melalui jendela kamar Janne yang berada di lantai dua.

"Terus menangis tidak akan mengembalikan teman mu" Reeve yang telah tiba dikamar Janne.

Mendengar suara Reeve, Janne kaget dan membuka selimut yang menutupi badan hingga kepalanya.

"Apa yang kau lakukan disini?". Tanya Janne yang heran bagaimana Reeve masuk kedalam kamarnya.

"Mereka diserang pasukan vampire yang bernama secret human, polisi akan kesulitan menemukan pembunuhnya" jelas Reeve yang melihat-lihat isi kamar Janne.

"Apa ini sama halnya dengan yang terjadi pada Bianca" ujar Janne yang masih penasaran.

Lelaki bertubuh jangkung itu hanya mengangguk, mengiyakan apa yang dikatakan oleh Janne, dirinya masih sibuk melihat-lihat foto masa kecil Janne, yang terpampang di sebuah fram kecil di dinding kamar bercat putih.

"Lalu kau? Kau akan jadikan aku mangsa mu berikutnya?" tanya Janne dengan nada kesal dan sinis.

Reeve berbalik dan menatap kepada Janne, dia terlihat marah dan muak dengan hal berbau vampire. Kini dia benar-benar kesal, Janne menganggap semua yang terjadi karena manusia vampire termasuk Reeve, Janne kesal karena dia tidak bersama dengan sahabatnya saat kejadian hari itu.

"Aku mungkin akan menangsa mu suatu saat, tapi sayangnya aku mendekatimu bukan untuk itu" Reeve yang terus menatap Janne dengan penuh perasaan.

"Lalu apa?"

"Aku ingin kau mau menikah dengan ku" ujar Reeve yang begitu mendadak sehingga Janne tercengang dengan perkataan Reeve.

Tiba dirumah Duka, keluarga Wems langsung menghampiri keluarga Breat, ayah Deborah dan keluarga Felix, saling berpelukan dan saling menguatkan kepada kedua keluarga almarhum. Sama halnya terjadi pada pemakan Bianca, William datang dengan membawa serangkai bunga lili putih yang menjadi ciri dari secret human.

Helen tengah bersiap, mengambil sesuatu dari dalam tasnya, dia yakin pasti vampire muda itu akan datang sepeti pda pemakan Bianca. Semua tamu yang hadir duduk dengan tenang dan silih berganti memberikan kata-kata belasungkawa.

William datang sendirian, turun dari sebuah mobil sedan tua dari brand ternama berwarna hitam metalic, turun tepat didepan rumah duka dimana jasad Deborah dan Felix akan disemayamkan. Masih mengenakan tuxedo yang sama, kali ini william datang mengenakan kacamata hitam sebagai aksesorisnya.

William terus berjalan menuju peti mati berwarna putih, dia memberikan penghormatan terakhir dan memberikan bunga lili, Helen terus mengawasi gerak gerik William, walau tahu Helen pasti akan menahannya, tapi William seakan tidak peduli. Sesaat William melihat kesekitar untuk melihat keberadaan Janne, gadis yang membuatnya tertarik.

William berpikir jika Helen ada pastinya Janne juga ikut serta, namun hari ini sepertinya Janne melewatkan pemakaman. William pun bergegas pergi, namun tangannya di tarik oleh Helen untuk ketepi. Helen mengancam William dengan pisau perak berukuran kecil yang dia simpan dalam tasnya.

"Aku tahu kalian yang melakukannya" ujar Helen yang menahan Dada William dengan sebelah tangannya menggenggam Belati perak.

"Walaupun kita mengetahuinya, kita tidak berbuat banyak, aku hanya memastikan mereka tidak berubah" William dengan santai menjelaskan kedatangannya.

Helen yang kemudian melepskan sandraannya kepada William, dia tahu sebenarnya apa yang terjadi tapi tidak akan ada yang percaya jika dia mengatakannya kepada polisi.

"Berhati-hatilah, aku tidak pernah tahu siapa korban selanjutnya, aku selalu melakukan tugasku diluar organisasi" ujar William yang kemudian berlalu sambail membenarkan stelan tuxedo hitamnya.

Terpopuler

Comments

Er

Er

Sedih si kehilangan sahabat

2023-08-12

0

anak milenium

anak milenium

Presesesif

2023-08-10

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!