Hari ini adalah membahagiakan bagi kedua orang tua Alice. Karena hari itu Alice sudah di perbolehkan pulang dan keadaannya lumayan membaik, namun masih dalam keadaan sedikit lemas.
"Hari ini kita pulang. Apa kamu senang sayang?" tanya Ibunya kepada Alice.
Alice hanya menganggukan kepalanya saja, tak sedikitpun berbicara. Mungkin dia sedang depresi. Hari itu Ayahnya telah menghubungi Andrew untuk mengabarkan kabar baik ini.
"Halo. Andrew! Alice sekarang sudah boleh pulang. Jika kamu ingin menjenguknya, nanti bertemunya saat Alice sudah di rumah saja." ujar Ayah Alice.
Tak berhenti-hentinya Ibu memeluk Alice. Ibunya tak menyangka Alice secepat ini sadar dari koma. Sementara itu, Andrew mengatakan bahwa Alice telah sadar kepada Aerin. Aerin pun bergegas pergi ke dapur untuk menyuruh pembantunya membelikannya sekeranjang buah beraneka macam. Ia juga telah menyiapkan sebuah racun mematikan untuk di masukkan ke dalam buah-buahan itu.
"Bi, belikan aku sekeranjang buah-buahan! nih uangnya." perintah Aerin sambil menyerahkan sejumlah uang kepada Bibi.
"Siap, Non!" sahut Bibi.
Aerin pun pergi untuk mempersiapkan diri sebelum pergi menjenguk Alice. Setelah Bibi datang dengan sekeranjang buah-buahan, Aerin pun langsung membawanya ke dalam kamar. Hal itu membuat Bibi turut curiga. Namun Aerin berdalih dengan mengatakan ia akan membungkusnya sendiri, beserta ucapan untuk Alice.
"Non! Kok di bawa ke kamar?" tanya Bibi.
"Oh, ini! Aku ingin membungkusnya sendiri, Bi. Sekalian menyelipkan kartu ucapan untuk sahabatku Alice." ucap Aerin.
"Oh, begitu. Ya sudah!" sahut Bibi dengan tidak percaya.
Bibi pun lanjut pergi ke dapur. Saat ingin membuang sampah, bibi melihat botol bertuliskan racun di dalam tempat sampah. Ia sempat menaruh curiga pada Aerin. Namun karena selama ini Aerin orang yang baik, di hilangkan lah pikiran jahat itu.
Sementara itu, Aerin mengambil jarum suntik dan menyuntikkan racun ke dalam tiga buah berbeda. Yang pertama ia, menyuntikkan racun ke dalam buah Apel merah. Kedua menyuntikkan racun ke dalam buah jeruk, dan yang ketiga Aerin menyuntikkan racun ke dalam buah pisang.
"Selamat menikmati buah beracun, Alice sahabatku tersayang.." ucap Aerin dengan mimik muka senang.
Lalu Aerin membungkus buah-buahan itu ke dalam keranjang bingkisan. Tak lupa ia menuliskan sebuah kartu ucapan. Kartu itu bertuliskan.
"Semoga sembuh, sahabatku"
Setelah selesai, ia pun segera berdiri dan mengambil tas yang tergantung di dalam lemari baju nya. Ia pun segera pergi ke luar. Tak lupa ia mengambil kunci mobil yang tergantung di dinding dekat bingkai foto keluarga.
Ia pergi ke rumah Alice dengan mengendarai mobil sendiri. Ia mencoba menelpon Andrew dan mengatakan jangan sampai ada yang mengetahui bahwa mereka berdua memiliki hubungan khusus. Mereka harus bisa jaga jarak di depan Alice dan seluruh keluarganya.
"Hai..sayang. Aku sudah di jalan nih, sebentar lagi juga sampai di sana. Sayang..pokok nya jangan sampai ada yang mengetahui bahwa kita memiliki hubungan khusus. Kita harus bisa jaga jarak di depan Alice dan keluarganya." ucap Aerin.
"Iya, sayangku. Aku ingat kok perjanjian kita. Tapi bagaimana kalau aku merindukan saat-saat bersamamu?" ucap Andrew sambil merayu Aerin.
"Ah..sudah lah. Aku lagi di jalan. Nanti kita sambung lagi." ucap Aerin.
Sementara itu, di atas langit. Maut menantikan hari kematian Alice. Ia menyukai cara Aerin untuk melenyapkan Alice. Karena sudah tertulis di ramalan takdir bahwa Alice seharusnya sudah tiada karena kecelakaan tunggal pada saat itu.
"Bagus! Lanjutkan lah usahamu. Dia memang seharusnya sudah tiada!" ucap Maut.
Tanpa di sadari Maut, malaikat Ye joon mendengar ucapan Maut. Ia pun dan Maut mulai bertengkar.
"Maut, apa yang kamu lakukan?" tanya malaikat Ye joon.
"Kamu membuatnya tiada karena itu! Dia masih muda. Masih banyak yang ingin di lakukan dalam hidupnya!" ucap malaikat Ye joon mulai menentang Maut.
"Kamu yang seharusnya bertugas untuk menjemput roh Alice. Bukan aku!" sahut Maut.
"Tidak! Aku tidak bisa melakukan itu!" balas Ye joon.
"Kenapa? Karena kamu mencintainya? malaikat tidak boleh mencintai manusia." ucap Maut dengan sangat marah.
Lalu Maut menyerang Ye joon, sehingga Ye joon terjatuh.
"Jika kamu mencintai manusia dan cintamu itu bertepuk sebelah tangan. Maka satu persatu sayap putihmu akan terlepas dan hilang. Dan kamu juga akan menghilang tanpa bekas." ucap Maut dengan kesal.
Ye joon sebenarnya mengetahui semua rencana jahat Aerin. Maka dari itu ia mencoba menghampiri Alice di kamarnya. Saat itu tak ada orang di dalam kamarnya, sehingga Ye joon datang dan berubah menjadi manusia. Ia mencoba menceritakan rencana jahat Aerin dan keinginan Maut.
"Alice.." panggil Ye joon dengan datang tiba-tiba.
"Hah...Ye joon!" ucap Alice.
Ye joon duduk di dekat Alice. Alice tampak sedih saat menyaksikan pengakuan Aerin tentang hubungannya dengan Andrew. Alice menyandarkan kepalanya pada pundak Ye joon dan ia pun menangis.
"Aku masih tak menyangka dengan ini semua. Mereka tega menghianatiku dan aku tak menyangka kejadian ini merupakan rencana jahat mereka berdua, hanya karena surat kepemilikan Cafetaria saja." ucap nya sambil menangis.
"Sudahlah! Tak perlu menangis. Aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu." ujar Ye joon.
"Apa itu?" tanya Alice.
"Apa kamu masih ingat dengan sosok hitam saat itu? Itulah Maut. Dialah malaikat maut, yang bertugas mencabut nyawa. Dia memiliki catatan takdir hidupmu, yang tak lain adalah kamu harus tiada saat kecelakaan kemarin. Karena aku menolongmu dan merubah takdir hidupmu, maka dia juga berusaha untuk mendapatkan nyawamu. Yang seharusnya sudah tiada. Ia mulai menghasut Aerin untuk memberikanmu 3 buah beracun." ucap Ye joon dengan jujur.
"Apa? Seharusnya aku tiada? Dan mengapa kamu menolongku? Kenapa tak kamu biarkan saja, aku mati dalam keadaan seperti itu." sahut Alice dengan sangat marah.
"Sekarang, apa yang harus aku lakukan saat Aerin datang ke sini dan memberiku buah beracun itu?" tanya Alice pada Ye joon.
"Tenanglah Alice! Tenang..aku akan membantumu." sahut Ye joon sambil menegang kedua pipi Alice dan menatap dua bola mata Alice yang indah itu.
"Bagaimana caranya?" tanya Alice kembali.
"Begini...jika dia menyuruhmu untuk memakan buah yang sudah di pilihnya untukmu. Maka saat kamu memakannya, aku akan mencoba menghilangkan semua racun yang ada di buah itu." kata Ye joon.
Tak lama kemudian datanglah mobil dan mulai membunyikan belnya.
Tiin..tiin
Alice pun berjalan dan mulai menegok di jendela kamarnya. Terlihat Alice sudah datang dengan membawa bingkisan buah untuknya. Ia pun segera berjalan menghampiri tempat tidur. Ia mulai berbaring di tempat pembaringan. Ia berpura-pura dalam keadaan tidak merespon apapun. Dia harus berpura-pura diam tanpa kata.
Aerin memencet bel rumah Alice. Tampak Ibunya Alice yangmembukakan pintu untuknya.
"Eh...ada Aerin!" sapa Ibunya Alice.
"Iya, Tante. Katanya Andrew, Alice nya sudah boleh pulang, ya Tante?" tanya Aerin.
"Iya, mari masuk!" Ibu Alice mempersilahkan Aerin masuk.
"Alice nya ada di kamar tuh," ucap Ibu Alice.
Aerin pun mulai berjalan menaiki anak tangga, menuju kamar Alice di lantai atas.
"Tok..tok..tok. Alice..ini aku Aerin datang menjengukmu." ucap Aerin.
Aerin pun masuk ke dalam kamar Alice. Aerin melihat Alice masih dalam keadaan syok. Ia tak merespon apapun. Ia hanya berdiam saja seperti patung. Lalu Aerin pun mulai menaruh bingkisan buah itu di atas meja dekat lampu tidur milik Alice.
"Alice..ini ku bawakan buah-buahan untukmu. Katanya buah-buahan bagus untuk kesehatan. Aku kupaskan ya.." ucap Aerin.
Lalu Aerin pun mulai mengambil pisau dan mulai mengupaskan buah untuk Alice. Setelah buah sudah terkupas dan terbelah, Aerin menaruh nya di atas piring kecil bekas kue brownis di atas meja itu. Dan tampak Aerin ingin menyuapi Alice buah beracun itu.
"Sudah terkupas. Sini aku suapin ya..buah ini enak lo. Dan bagus untuk kesehatanmu!" ucap Aerin.
Saat hendak menyuapi Alice buah beracun itu. Karena tidak bisa menghilangkan racun itu dengan kekuatannya. Tiba-tiba, Ye joon menghadirkan kecoa di dekat tangan Aerin dengan kekuatannya. Sontak Aerin pun berteriak sambil melompat-lompat karena takut. Dan piring berisikan buah-buahan beracun itu jatuh ke lantai, berserakan di lantai. Hingga tak bisa di makan lagi.
"A...a...kecoa...!" teriak Aerin sambil melompat-lompat.
"Hus...hus! pergi sana! Dasar kecoa," kata Aerin.
Braakkk
Piring berisi buah-buahan beracun itu terjatuh ke lantai dan mukai berhamburan di atas lantai.
Ia pun terkejut.
"A..aa. Sial! gara-gara kecoa nih! gagal usahaku deh!" keluh Aerin.
Kali ini, ia gagal lagi untuk melenyapkan Alice. Hal itu terpantau oleh Maut. Maut pun juga ikut marah besar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments