Siang itu, saat matahari terik. Panasnya bagai menyengat dan membakar kulit. Hari itu entah dari mana asal usul pikiran jahat itu datang menghampiri Aerin. Aerin ingin sekali menghampiri Alice dan melenyapkannya. Sehingga tak perlu takut sewaktu-waktu Andrew berpaling darinya dan lebih memilih Alice karena mulai mencintainya.
"Ingin sekali rasanya hendak melenyapkannya! Aku sudah muak dengannya! Aku takut suatu saat nanti, Andrew akan berpaling dariku dan mulai mencintainya." gumam Aerin .
"Aku sangat mencintai Andrew. Sangat-sangat mencintainya. Tak ada satu orang pun yang berhak mencintai da memiliki Andrew selain aku!" teriak Aerin di kamar.
Aerin pun bergegas mengambil tas dan mulai pergi. Aerin pergi ke rumah sakit tempat alice di rawat. Sesampainya di sana, ia memperhatikan suasana di rumah sakit. Saat itu suasana rumah sakit tampak sepi. Ia pun bergegas pergi ke ruang ganti para perawat. Aerin pun menyamar sebagai perawat yang mukanya di tutupi masker.
Aerin pun berjalan menghampiri kamar inap Alice. Di sana terlihat tengah terbaring Alice dengan kepala di perban. Di sana ia berjalan secara perlahan sambil berkata.
"Sebenarnya aku tuh kasihan sama kamu. Aku cuma mengambil, apa yang seharusnya ku miliki."
"Sekarang, saatnya kamu pergi ke syurga bersama malaikat," ujar Aerin.
Aerin pun mulai memotong selang oksigen yang ada di mulut Alice. Saat itu juga, roh alice terlihat dan mulai redup. Ye joon pun berkata.
"Mungkin, saatnya kamu memilih untuk bertahan hidup atau pasrah dengan maut menjemputmu,"
Alice tampak bingung. Sedangkan nafasnya sudah ngos-ngosan hampir ia kehilangan nafas. Tubuhnya sudah berkelojotan, nafas hampir habis. Saat itu juga Ye joon menyuruhnya untuk balik ke tubuhnya dan bersiaplah untuk memulai hidup yang baru tanpa Andrew lagi.
"Saat nya kamu kembali ke tubuhmu." ujar Ye joon.
Saat itu Ye joon menggunakan kekuatannya untuk menyentuh tombol bel darurat. Dan tombol bel darurat itu berbunyi. Aerin pun bergegas pergi meninggalkan Alice yang skarat.
Para dokter dan perawat pun mulai berdatangan. Mereka mukai sibuk untuk menyelamatkan Alice. Roh Alice pun masuk kembali ke tubuhnya. Setelah satu jam akhirnya keadaan Alice mulai stabil. Alice selamat dari skarat yang bisa merenggut nyawanya.
Di layar monitor, terlihat denyut jantung yang semula hilang, kini telah kembali normal. Keadaan Alice berangsur membaik, hanya saja ia belum sadar.
Sedangkan di kejauhan, Aerin tampak sudah berganti pakaian dan berpura-pura baru datang. Ia berjalan menuju ruangan Alice. Saat itu Alice sudah berada di ruangan ICU. Nampak sekali raut wajah Aerin terlihat sangat bahagia. Ia berpapasan dengan perawat dan menanyakan keadaan Alice.
"Sus, bagaimana keadaan Alice?" tanya Aerin.
"Baru saja saya akan menghubungi kerabat pasien mengenai keadaannya. Apa kamu sudah tahu apa yang terjadi mengenai pasien?" tanya perawat semakin curiga pada Aerin.
"Emm..Ehh..nggak kok sus. Maksud saya apakah Alice ada kemajuan untuk siuman?" tanya Aerin mulai menutupi kesalahannya.
"apakah kamu bisa menghubungi keluarga pasien?" pinta perawat itu.
"Memangnya kenapa Sus?"
Perawat itupun menceritakan apa yang terjadi dengan keadaan Alice.
" Begini, mba Aerin. Tadi ada yang sengaja memotong selang oksigen pasien hingga pasien mengalami drop dan hampir nyawanya tidak tertolong. Untung saja seseorang menyalakan bel darurat di ruangan pasien. " jelas perawat.
Hati Aerin di landa kegelisahan. Ia takut akan kejahatannya terbongkar. Jantungnya berdegup dengan kencang. Serasa ingin copot, hingga membuatnya sedikit gugup. Perawat itu pun mulai bertanya kepadanya, mengenai dirinya yang mulai bengong sendiri.
"Mba Aerin..mba!"
" Eh, iya Sus. Saya akan sampaikan pada kekuarganya. Terima kasih atas informasinya." ucap Aerin.
Perawat itu pun mulai pergi meninggalkan Aerin sendiri. Lalu Aerin pun mulai mengambil handphone nya dan mulai menghubungi Ayah Alice.
Drrtt..drrtt..drrtt
ponsel milik Ayah Alice mulai bergetar. Ia mengambil ponsel itu dan melihat siapa yang telah menelponya. Dan ternyata itu dari nomor ponsel milik Aerin, sahabat baik Alice.
Ia pun mengangkat telpon itu.
"Halo..ada apa Aerin?" tanya Ayah Alice.
"Om, Aerin baru saja sampai di rumah sakit untuk menjenguk Alice. Tadi Aerin tidak sengaja berpapasan dengan perawat dan dia meminta Om, untuk datang ke rumah sakit. Sepertinya ada berita penting yang ingin di sampaikan," jelas Aerin.
"Oh ya, ya sudah. Om akan datang ke sana." ujar Ayah Alice.
Alice Yunchi adalah anak dari konglomerat. Ayahnya bernama Alex Yunchi. Dan Ibunya bernama Kim dai nih. Ia anak dari hasil perkawinan antara China dan korea. Ayahnya berasal dari china sedangkan Ibunya berasal dari korea, tepatnya di korea selatan.
Pantas saja Aerin dan Andrew mendekatinya. Rupanya mereka berdua menginginkan cafetaria dan ingin menguasainya. Maka dari itulah mereka berdua merencanakan sebuah perencanaan pembunuhan, yang tertuju kepada Alice Yunchi.
Licik! Memang mereka berdua licik. Merek berdua pandai bermain peran dan berakting. Di saat rencana pertama gagal. Mereka berdua pun merencanakan ingin memotong selang oksigen milik Alice, agar Alice cepat tiada di muka bumi ini. Dan mereka bisa. Menguasai Cafetaria seutuhnya.
Untung ada pria bernama Ye joon, seorang malaikat yang ingin melindugi Alice. Ia seorang malaikat pelindung bagi Alice. Beberapa menit kemudian datanglah, Ayah Alice. Ayah Alice menghampiri Aerin yang tengah duduk di kursi tunggu di dekat ruang ICU.
"Bagaimana keadaannya, Aerin?" tanya Ayahnya Alice.
"Emm..Mulai stabil, Om. Tetapi Alice masih belum sadar." sahut Aerin.
Lalu Ayah Alice pun berjalan menuju ruangan Dokter yang kemarin memanggilnya. Sesampainya di sana, Ayah Alice pun mengetuk pintu ruang Dokter. Kebetulan Dokter itu bernama Felix.
"Tok..tok..tok"
"Ya, silahkan masuk," sahut Dokter Felix.
Ayah Alice pun menghampiri dokter itu dan mulai bertanya, mengenai ia di panggil ke sini.
"Maaf, Dok. Ada masalah apa, ya. Kok saya di suruh menghadap Dokter?"
"Silahkan duduk dulu, Pak. Begini Pak, saya ingin memberitahukan bahwa adanya tindak perencanaan pembunuhan terhadap anak Bapak Alice Yunchi." jelas Dokter.
"Ba..bagaimana itu bisa terjadi? Terus, bagaimana keadaannya?" tanya Ayah Alice dengan penuh kekhawatiran.
"Ya...seperti ada, yang sengaja memotong selang oksigennya, Pak. Terus mari ikut saya ke ruangan CCTV." kata Dokter Felix.
Ayah Alice pun mulai berjalan menuju ruangan CCTV. Sesampainya di sana mereka ingin melihat rekaman CCTV sebelum Alice skarat.
Layar monitor komputer pun di nyalakan. Dan mulai memeriksa rekaman CCTV sebelum Alice di ketahui lagi skarat. Ternyata ada 1 wanita, yang sengaja menyamar sebagai perawat dan ingin menghabisinya. wajahnya di tutupi oleh masker atau penutup hidung dan mulut, yang biasa di pakai oleh pihak petugas kesehatan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments