Menjelang malam di area sekitar apartemen, lampu-lampu toko dan restoran mulai dinyalakan. Para pekerja yang baru pulang ramai-ramai mampir ke kedai untuk minum. Kalau di kota, papan reklame akan meriah menerangi jalanan. Tapi area ini lebih ke komplek perumahan. Toko paling besar adalah supermarket itu pun jam sembilan malam tutup.
Shuji mandi, mengenakan pakaian rapi dan hangat. Syal hijau bergaris di lilit longgar di sekitar lehernya. Dari dalam laci yang terbuka, tergeletak syal merah dengan motif sama—yang tanpa sadar dibeli saat memikirkan Jingga. Tentu saja, belum tentu perempuan itu akan menerima, tapi Shuji tidak putus semangat dan membawanya serta untuk rencana malam ini.
Laki-laki itu berjalan semangat menuju halte ketika waktunya sudah dekat dan berhenti menunggu bus tiba.
Ketika Jingga turun, angin dingin bertiup, membuatnya merekatkan jaket windbreaker yang dia pakai. Saat itu, matanya menangkap sosok familiar.
“Shuji?”
Shuji berdiri tegak di halte, setengah wajahnya tertutup syal tapi matanya memancarkan senyum. “Okaeri?”
“Kau ngapain disini?” Malam begitu dingin tapi suasana hangat menyelimuti keduanya; Jingga merasa sedikit geli dan segera menundukkan pandangannya.
Shuji mengunci sosok Jingga yang bergerak ke arahnya, berbisik dalam hati kenapa perempuan di depannya begitu manis. Pipinya merah, pasti dingin. “Aku disini menunggumu.”
“Ah..?” Jingga mengerjapkan matanya. “Kau bisa tunggu di rumah, kan sudah punya nomorku?” mereka bisa janjian dan tidak perlu menunggu di luar begini sampai kedinginan.
Shuji tidak membalas
Jingga berhenti di samping Shuji dan melirik heran. "Kenapa diam?"
Yang di tanya menarik senyum—meski tidak terlihat. Shuji mengulurkan syal merah yang terlupakan dan memakaikannya pada Jingga. Dengan terkejut, Jingga menahan kakinya yang hendak mundur.
Diantara keduanya terdapat jarak selengan, tapi Jingga seakan bisa merasakan wajah Shuji berada tepat di depannya.
"Aku bisa pakai sendiri...," bisik Jingga pelan yang tak di gubris. Laki-laki di depannya malah memasangkan syal dengan kalemnya.
Jingga merasa waktu berputar begitu lama sampai dia mendengar suara rendah dari dekat.
“Sudah selesai."
"Kau punya kebiasaan buruk, tahu tidak?" Jingga berjalan bersisian dengan Shuji. Suara-suara pelanggan dari kedai minum yang mereka lewati terdengar sama-samar.
Mendengar kritikan tak terduga itu, Shuji langsung awas. "A-apanya?"
Mungkin hanya perasaannya, Jingga merasa dia bisa mendengar dengan jelas detak jantungnya sejak Shuji memakaikannya syal. Wangi deterjennya sama dengan punyaku, Jingga menikmati dalam hati. "Kenapa kau kaget? Memangnya kau tidak sadar?"
"Umm." jeda. "Coba kau beritahu aku."
"Lupakan." Jingga menarik senyum di akhir kalimatnya. Shuji orangnya tidak bisa di beritahu. Kalau Jingga menolak, Shuji akan terus melakukannya. Seperti mengetes batas terendah yang Jingga bisa terima kemudian barulah berhenti. Tapi bagaimana Jingga mengatakan hal yang seperti ini?
“Kau ingin makan dimana? Aku beritahu, aku orangnya tidak asik—mungkin aku tidak bisa ikut makan denganmu...” Jingga mengubah topik.
“Kenapa? Bukankah kau mengundangku untuk makan malam? Kau harusnya ikut makan.” Shuji mengerutkan keningnya. “Kau bilang kau tidak punya pacar.” Shuji menekankan. Dia berpikir sejenak lalu menambahkan. “Kau bukannya ingin minta aku jadi pacarmu?” Dia kira makan malam mereka kali ini adalah kencan, memangnya bukan?
Shuji langsung BT.
Jingga kadang tidak bisa berkata-kata setiap mendengar Shuji bicara terus terang dengan muka lempeng.
“…Bukan.” Jingga berkata pelan. “Aku kan sudah bilang waktu di bus—kau tidak mendengarkan?”
Shuji melayangkan tatapannya ke sembarang arah.
Tidak, dia tidak ingat apa-apa selain kalimat bahwa Jingga tidak punya pacar.
Melihat respon itu, Jingga tidak menunggu. “Kita tidak cocok—”
“Stop!!” Shuji mengangkat tangannya ke depan muka perempuan di sampingnya begitu mendengar kalimat sial itu sebagai pembuka.
“Kita… cari tempat dulu.” Kenapa perempuan ini begitu buru-buru?? Tidak melihat tempat dan keadaan langsung bilang mereka tidak cocok! Apalagi di luar begitu dingin, Shuji tidak ingin Jingga sakit. Tapi kalau di ajak ke kamar apartemennya—Shuji ragu Jingga akan bersedia.
Keduanya pun setuju untuk duduk di salah satu kafe; Shuji memesan amerikano sedang Jingga memesan cappuccino. Suasana kafe malam itu masih sedikit ramai tapi minuman hangat yang tersaji di depan keduanya tidak di sentuh sama sekali.
"Kau mau pesan yang lain?" tanya Shuji melirik kopi di depan Jingga. Dia tidak memilih restoran karena dari kata-kata Jingga sebelumnya, mereka sudah masuk ke obrolan inti. Mana bisa dia menikmati makan malam dengan pembicaraan seperti ini.
"Ini sudah cukup."
Bagaimana mungkin cukup? Pulang kerja pasti lapar dan haus, kan? Tapi Shuji tidak bisa menawarkan di saat begini. “Aku akui aku tidak fokus waktu di bus.” Shuji memulai. “Aku masih mengantuk.” Lanjutnya beralasan.
“Hm.”
"Aku memang.. suka padamu. Aku hanya menyesal tidak mengatakannya di saat yang pas." Shuji berdehem. “Jelaskan padaku.” tambahnya. "Kenapa belum apa-apa kau sudah bilang... bahwa kita apalah." tidak cocok? Kutukan macam apa itu.
“…Kau tahu jelas bahwa kita berbeda.” Kata Jingga memulai. Shuji tidak menyela, dia menahan diri demi mendengarkan sampai akhir. “Aku seorang muslim, dan aku beragama Islam.”
“…Islam.” Shuji mengerutkan kening dan mencatat dalam hati. Sepertinya dia pernah dengar istilah ini… bukankah ini organisasi mencurigakan tingkat dunia itu?
Shuji menfokuskan kembali pikirannya saat Jingga melanjutkan.
“Banyak orang disini yang tidak mengenal apa itu Islam, dan aku kira kau juga tidak mengetahuinya. Aku akan berusaha menjelaskannya dengan singkat.”
“Kau tidak perlu menjelaskan dengan singkat.” Shuji berkata. Justru semakin detail semakin bagus. Lagi, kalau cepat-cepat, mereka akan segera bubar, kembali ke apartemen masing-masing. Semakin lama, semakin dia bisa menghabiskan waktu berdua.
“….yang jelas, ada banyak Islam yang tersebar di seluruh dunia. Hidupku tidak ada bedanya dengan orang lain. Bangun, bekerja, tidur, dan mengulang esok harinya. Hanya saja ada hal yang wajib untuk di kerjakan; salah satunya adalah sembahyang.
“Ada banyak jenis sembahyang, dan ada banyak hal yang harus dihindari. Banyak orang yang menilai bahwa aturan ini terlalu mengekang—aku ingin memberitahumu bahwa aku menjalankan semua ini dengan senang hati. Seperti orang tua yang melarang anaknya ini dan itu, semua di lakukan karena orang itu menyayangi anaknya.”
Jingga berusaha menjelaskan semudah mungkin tanpa keluar konteks.
“Satu yang paling utama adalah, sebagai seorang muslim, aku tidak bisa bersama selain dengan yang muslim.” Jingga mendadak putus asa. Dia tidak tahu apa Shuji mengerti, pun dia merasa kecewa pada dirinya sendiri. “Dari sini, aku minta maaf, karena aku tidak bisa membalas perasaanmu. Dan apa pun yang kau harapkan di masa depan, aku tidak bisa jadi orangnya.”
Jingga membuka syal yang Shuji pakaian, berniat untuk menyudahi obrolan penuh depresi ini.
“Apa kau tidak menyukaiku?” Shuji bertanya pelan.
“Apa?” tangan Jingga bergetar, hampir menubruk cangkir kopi di dekatnya.
“Kau terus bicara dan tidak membiarkan aku mengatakan apa pun, bukankah itu keterlaluan?” Shuji berkata dengan cemberut.
“…” Jingga melirik sembarang arah. Sudah sampai ke topik ini, memang masih ada yang perlu di bicarakan?
Melihat Shuji yang menatapnya penuh tuntutan, Jingga memperbaiki posisi duduknya.
Shuji mengangguk melihatnya dan memulai. “Boleh aku bertanya jujur, dan minta kau untuk menjawabnya jujur juga?”
Jingga sudah menebak pertanyaan Shuji tapi dia tetap mengangguk meski berat.
“Apa… kau punya perasaan suka padaku?”
“….hm.” dengan suara kecil Jingga berdehem.
“Suka yang… lebih dari sekedar teman?”
“….hm.”
“Suka yang—”
“Aku menyukaimu. Iya, dan bukan sebagai teman.” Jawab Jingga, menahan malu merayapi wajahnya.
Mendengar itu mata Shuji langsung berbinar. “Aku mengerti. Kau tidak bisa mengkhianati keyakinanmu.” Dia memulai. “Kau yang sudah belasan tahun bersama keyakinan ini, mustahil untuk membuangnya demi rasa suka yang dangkal itu.” Shuji berkata, berusaha mengesampingkan perasaannya yang kini seperti di tusuk.
Jingga nampak tidak terima. Shuji mengangkat tangannya, minta untuk dirinya menyelesaikan kalimatnya. Shuji tahu, dalam hatinya, rasa suka dirinya dan rasa suka yang Jingga rasakan berbeda.
Jingga menyukai dirinya, tapi hanya sebatas suka. Perasaan rapuh yang bisa berubah kapan saja. Sementara Shuji, dia sudah tidak bisa diselamatkan—dia sudah mencintai Jingga.
“Tapi kenapa kau tidak menarikku bersamamu? Aku tahu, kau tidak ingin memaksaku.” Kata Shuji. “Kau sebenarnya ingin aku mengikutimu, kan? Karena hanya inilah satu-satunya jawaban.” Bukankah cuma jadi penganut satu agama? Apa yang susah?
“…Aku tidak ingin memaksamu. Kau bisa memilih untuk menolak—”
“Kau mungkin tidak sadar, tapi meninggalkanmu adalah hal yang mustahil untuk kulakukan.” Kata Shuji. “Aku tidak pernah percaya Tuhan.” Kata Shuji terus terang. “Tapi aku ingin tahu Tuhan seperti apa yang kau punya, aku ingin mencoba kenal.”
Dengan begini, dia bisa bersama Jingga.
Jingga mendengarkan dan berpikir tidak ada yang salah.
Namun sanubarinya merasakan ketidaknyamanan yang asing. Seperti satu buah puzzle yang terlempar dari posisinya.
“…Kau…”
Keduanya saling bertatapan lama. Namun akhirnya saling menerima.
Jingga dengan keengganannya untuk menolak, Shuji atas keinginannya mengikat Jingga disisinya.
Keduanya memutuskan jalan dengan mengikuti hasrat dalam hati masing-masing.
**
Bagi Shuji, sosok Jingga itu seperti cahaya di tengah kegelapan.
Rasa ingin tahunya berubah dari penasaran kemudian tertarik. Tumbuh dari obsesi, suka, lalu cinta.
Perasaan itu muncul, membuat Shuji bisa hidup di hari esok.
Jingga adalah harapan Shuji. Sejak menyadari perasaannya yang mendalam ini, dia bertekad untuk hidup bersama Jingga.
Dia tidak tahu definisi Tuhan. Tapi kalau Tuhan itu adalah entitas yang memegang nyawa, yang menentukan hidup dan matinya—maka Jingga adalah tuhannya Shuji. Dia akan hidup saat Jingga hidup, mati saat Jingga mati.
Dia berkata mencoba untuk mengenal keyakinan Jingga hanya supaya bisa merantai Jingga bersamanya.
Apa yang salah?
Sementara Jingga, Shuji akan membuat perasaan suka perempuan itu mendalam. Sampai dimana Jingga tak bisa hidup tanpa dirinya.
Dengan begini, tidak ada yang bisa memisahkan mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments