Kehamilan Nurma membuat Suci merasa sangat hancur. Suci bahkan refleks menitikkan air mata. “Sesakit ini ya Allah. Sudah berulang kali, dan hamba sungguh pasrah. Iya, hamba pasrah,” batin Suci.
Pintu kamar Suci berangsur dibuka dari dalam dengan pelan. Binar yang sudah rapi dan siap pergi, keluar dari sana. Binar tampak baik-baik saja, tapi Nurma yang mendapati itu sengaja buru-buru memeluk Budi. Detik itu juga Binar murka. Tubuh Binar seperti dididihkan dan bocah itu tidak bisa untuk tidak berteriak.
“BUDE, JANGAN PELUK-PELUK PAPAH AKU! BUDE JANGAN AMBIL PAPAH AKU. BUDE JANGAN REBUT PAPAH DARI MAMAH KARENA PAPAH HANYA PUNYA MAMAH! BUDE PERGIIIII. POKOKNYA BUDE PERGI!” Binar histeris mengamuk ke Nurma.
Dengan cekatan tubuh Nurma dipanjat oleh Binar. Tak beda seperti ketika di rumah sakit, Binar benar-benar tidak bisa dikendalikan. Binar menja*mbak, mencakar-cakar wajah Nurma, dan terakhir menggi*git leher Nurma hingga berdarah. Binar tidak bisa dihentikan oleh siapa pun. Baik itu oleh Suci yang jadi tak kalah histeris sambil berlinang air mata, juga Budi yang sudah langsung sibuk berusaha melakukan bujuk rayu.
Jangan tanyakan bagaimana keadaan Nurma. Sempat kesakitan, wanita itu juga memilih memeluk Budi setelah gagal menyingkirkan Binar dari punggungnya. Hanya saja, Budi lebih memilih mengamankan Binar.
“Ya ampun si Binar lama-lama malah mirip bocah stre*s! Keras*ukan set*an kamu?!” mak*i ibu Syamsiah dan langsung berhenti karena Budi membentaknya.
“Cukup! Mamah sudah janji, kan, akan jaga perasaan Binar?!” Budi memilih mendekap Binar dan menjauh dari Nurma.
“Puas kamu Mas?” tegas Suci benar-benar kecewa. Kedua matanya yang terus berlinang air mata, menatap Budi sangat kecewa. Ia sengaja mengambil Binar secara paksa dari Budi. “MAU PUNYA BERAPA ANAK, JIKA YANG SUDAH ADA SAJA, SENGAJA KALIAN RUS*AK?!” tegas Suci lirih karena sangat geram.
“Lagian iya, si Nurma. Punya anak kayak ternak. Ternak saja sering gagal, eh kok ini lancar banget. Enggak tahu apa, ekonomi sedang sulit!” ucap ibu Syamsiah.
Suci yang tak mau anaknya mendengar ocehan tidak jelas dari sang nenek, sengaja membawanya masuk ke dalam kamar. “Kita langsung berangkat kerja, yah. Sayang ikut Mamah. Nanti Sayang sekolah. Oke? Jadi, mulai hari ini, Binar harus rajin belajar. Biar Binar jadi orang pintar!”
“Biar cepat kerja dan dapat banyak uang, yah, Mah? Biar kita cepat beli rumah dan pergi dari sini?” sergah Binar bersemangat.
Namun yang ada, balasan cepat tanggap Binar membuat hati Suci terenyuh. Suci jadi sibuk menitikkan air mata, tapi Binar segera menghapusnya.
“Mamah jangan nangis lagi. Biar aku yang balas mereka semua!” yakin Binar terus menggunakan jemari tangannya untuk menyeka setiap air mata sang mamah. “Mulai sekarang, aku bakalan nurut ke Mamah. Aku akan rajin belajar. Aku bakalan jadi anak yang pintar. Nanti kalau aku sudah besar, biar aku yang kerja terus Mamah istirahat. Nanti aku bakalan dapat uang yang banyak biar Mamah bisa belanja-belanja. Biar Mamah bisa dandan cantik mirip yang di tivi-tivi!”
Suci yang tersedu-sedu hanya mengangguk-angguk sambil sesekali berterima kasih. Ia makin mengeratkan dekapannya pada Binar yang sampai detik ini ia gendong. Sementara di belakang mereka, Budi hanya bengong sambil menunduk. Seolah pria itu menyesali keadaan.
“Ayo kita berangkat. Nanti mampir ke rumah Nini ambil tas kamu buat sekolah, ya!” Suci sudah langsung siap-siap dan sengaja menjaga jarak, membatasi interaksi Binar dan Budi. Terlebih kehamilan Nurma membuat Suci yakin, Budi tak mungkin menceraikan Nurma.
Kehamilan Nurma kali ini benar-benar tidak disambut baik oleh orang tua Budi mengingat ekonomi mereka sedang sangat sulit.
“Kalaupun kamu sudah jadi manajer, kan biaya hidup anak kamu saja enggak sedikit, Nur. Apa kabar kalau punya anak lagi? Beban hidup barulah!”
“Kok aku terus sih yang disalahin, Bu? Yang bikin anak kan bukan cuma aku. Yang ha*milin aku, mas Budi!” tegas Nurma. Tak mau terus-menerus disalahkan, Nurma justru sengaja menyalahkan Suci. “Kalau mau salah menyalahkan, salahkan saja Suci. Andai dia bisa memua*kan suaminya—”
“Kamu saja yang kegate*lan. Kalian sama saja. Kenapa masih aku juga yang disalahkan? Kecuali kalau aku yang minta apalagi memaksa. Kecuali kalau di sini aku cuma numpang hidup. Mohon maaf ini, cukup harta dan ilmu saja yang mis*kin, jangan sampai pola pikir kalian!” Kesal Suci sambil membekap erat kedua telinga Binar.
“Sudah, cukup!” tegas Budi yang menyusul Suci.
“Ya sudah, ... ya sudah, cukup. Toh sekarang Nurma sudah kerja, jadi manager di pabrik bulu mata palsu dan gajinya enggak sedikit. Wajib pinter bagi-bagi duit saja. Ya sudah, Nur, ya sudah. Tapi nanti kalau kamu gajian, biar Ibu saja yang pegang, ya. Biar kamu fokus kerja sama fokus ke kehamilan kamu. Nyonya manager kan wajib tetap sehat dan jangan sampai dipecat!” ucap ibu Syamsiah yang detik itu juga langsung minta maaf kepada Nurma. Tak tanggung-tanggung, demi meyakinkan Nurma, ia sengaja memeluknya penuh sayang. Ia elus sekaligus belai kepala Nurma yang sangat acak-acakan karena amu*kkan Binar.
Detik itu juga, meski merasa takut kebohongan pekerjaannya terbongkar, Nurma merasa sangat bahagia. Lain dengan Suci yang memilih pergi sambil tetap mengemban sekaligus membekap telinga Binar.
Selain menjadi air mata pernikahan bagi Suci, kehamilan Nurma juga membuat Budi tidak jadi menceraikan Nurma. Dan Suci tidak memiliki pilihan lain selain menerima nasibnya dimadu, asal Budi maupun Nurma menjaga sikap demi Binar.
“Mau tidak mau kamu harus menerima semua ini, Ci. Bayangkan kalau kamu yang ada di posisi Nurma,” ucap Budi, lirih. Sengaja menjaganya dari Binar yang masih ada dalam dekapan Suci.
“Mohon maaf ya, Mas. Jangan pernah menyamakan aku dengan orang lain apalagi menyamakan aku dengan Nurma karena kami jelas berbeda!” tegas Suci dan detik itu juga sudah langsung membuat Budi diam.
“Satu hal yang harus Mas ingat. Jaga sikap kalian apalagi jika di depan Binar. Jangan sampai kejadian seperti tadi kembali terjadi. Belum lagi kalau Binar sampai dengar dari tetangga. Karena perzi*naan Mas dengan Nurma termasuk juga pernikahan Mas, ini beneran sudah jadi ai*b untuk Binar! Dan aku enggak akan pernah bisa memaafkan Mas, sampai kapan pun!”
“Ya kamu harus sadar diri, Ci!”
“Sadar diri apa lagi? Memangnya kamu sehebat apa, Mas?!” kesal Suci walau ia masih bertutur lirih.
Detik itu juga Binar buru-buru menyingkirkan tangan Suci dari telinganya lantaran lagi-lagi, ia memergoki sang mamah menangis.
“Papah, kalau Papah masih dekat-dekat Bude Nurma, berarti Papah jahat!” kesal Binar. “Dan kalau Papah jahat, aku benci Papah!”
Bukan hanya Suci yang merasa bahwa apa yang tengah Binar lakukan tak ubahnya pemberontakan. Sebab Budi yang mendapatkannya pun menyadarinya. Itu merupakan wujud dari pemberontakan Binar yang selama ini tidak tahu apa-apa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
Kamiem sag
tutup saja telinga Binarmu itu Suci paok biar dia gak dengar keburukan buapaknya biar penderitaanmu juga makin puanjaaangg
aku tak selera dgn sifat sikap dan orinsip hidupmu yg selalu menjaga nama baik pasangan di telinga anaknya
tapi iyalah Suci mungkin cintamu pd Budi seluas lautan sedalam samudra selebat hutan belantara dan sulit baginu melupakan gaya Budi bercinta dgnmu dan Murma sekaligus!! ish jijik aku! najis tralala
selamat menikmati derita panjangmu Suci
2025-01-28
0
Salwa Antya
wah luar biasa nurma
2024-04-29
0
Sartini Cilacap
Wah nurma hamil semoga anaknya perempuan biar bisa merasakan penderitaan Suci
2023-09-06
1