“CUKUP!” teriak ibu Manis. Efek rumahnya jauh dari tetangga dan kanan kiri merupakan sawah, sekeras apa pun ia berteriak, memang tak akan menarik perhatian kecuali ada yang kebetulan melihat kemudian memastikan.
“Ibu enggak usah ikut campur, ini urusan kami! Ibu tidak tahu kan, apa yang sudah Suci lakukan?!” kesal Budi marah-marah sambil menunjuk-nunjuk wajah ibu Manis.
“Apa yang Suci lakukan, sesuai dengan apa yang kamu lakukan!” kesal ibu Manis balik menunjuk-nunjuk wajah Budi, terlebih tadi ia lihat sendiri, Budi tak hanya menam*par, tapi juga menempe*leng Suci tiga kali. Ia tak terima hingga bersuara saja sampai berteriak di depan wajah Budi. Namun ia juga tak menyangka sekelas Budi berani menempel*ngnya.
“Mas! Aku doakan, tanganmu makin jauh dari rezeki karena kamu berani melukai ibuku!” kesal Suci yang kemudian melempar sejauh mungkin kunci motor Budi ke tengah sawah berair penuh lumpur di hadapannya.
Detik itu juga Budi langsung melongo.
“Ambil semuanya, ambil! Aku beneran enggak takut miski*n hanya karena kamu zali*mi! Aku percaya, Allah enggak tidur apalagi aku bukan pemalas yang hanya menuntut hanya untuk bisa punya semuanya! Lihat saja, rezekiku pasti lebih melimpah dari sebelumnya. Lihat saja, Allah bakalan angkat derajatku sekeluarga setelah apa yang kamu lakukan ke kami. Ingat, doa orang terzal*imi selalu dijabah!” kesal Suci. Ia sudah tak lagi minat mengambil perhiasan Binar. Ia memilih memboyong sang ibu pergi dari sana, masuk ke rumah. Karena seperti yang ia katakan, ia sungguh tidak takut mis*kin hanya karena kezali*man Budi sekeluarga. Toh selama ini juga, asal ia masih bekerja, ia sungguh masih memiliki rezeki. Karena yang namanya rezeki memang harus dicari, bukan hanya didoakan tanpa tindakan. Apalagi kepercayaan bahwa memiliki anak lelaki akan diberi rezeki berlimpah tanpa harus bekerja.
Sekitar tiga menit kemudian, Suci sudah memasukkan motor dan lampu teras rumah juga sudah langsung dimatikan tak lama pintu rumah ibu Manis ditutup rapat.
“Sssstttt! Ke mana, lagi tuh kunci motor! Heran, si Suci yang awalnya lemah lembut, penurut, kok bisa langsung brin*gas engggak tahu aturan gitu?!” kesal Budi yang memutuskan untuk menuntun motornya lantaran ia tak mungkin mencarinya ke tengah sawah berair sekaligus berlumpur, terlebih waktu sudah sangat malam.
Budi tidak tahu, jika diamnya Suci selama ini juga menjadi alasan Suci menjadi meledak-ledak. Karena luka dan kekecewaan yang selama ini Suci tahan, memang baru wanita itu luapkan sekarang. Terlebih yang Suci rasakan bukan hanya hina*an dari keluarga suami, tetapi juga pengkhianatan orang terdekat bahkan keza*liman yang harus Binar alami. Jangan salah, walau seorang wanita kerap dianggap lemah, mereka benar-benar akan sangat kuat terlebih jika sudah disakiti.
***
Keesokan harinya, Suci kepergok babak belur oleh Sepri. Sepri memaksa Suci untuk cerita, hingga hari itu juga, Sepri meminta bantuan mas Aidan—saudaranya yang seorang pengacara untuk mengurus kasus Suci.
“Mas Aidan itu pengacara yang anaknya pak Kalandra, anggota DPRD kira, kan, Mas? Yang kemarin sama mbak Arimbi?” ucap Suci ragu.
“Iya, itu. Hari ini juga biar diurus sama mas Aidan. Biar Budi sekeluarga kapok. Sekalian sama Nurma-Nurmanya. Mas Aidan bilang, meski sudah ada kesepakatan sama aparat desa, kejadian kemarin malam bisa jadi bukti tambahan!” balas Sepri.
Beberapa mereka yang ada di sana dan menyaksikan wajah Suci yang makin babak-belur, merasa miris pada apa yang menimpa Suci. Terlebih, efek KDRT lanjutan yang Suci dapatkan, membuat luka di wajah Suci yang harusnya membaik, justru jadi tidak lebih baik.
Dalam hatinya Suci menimang-nimang, ... menjebloskan Budi sekeluarga ke penjara, ... benarkah itu keputusan yang terbaik? Bagaimana dengan Binar? Binar pasti sedih jika sampai tahu. Belum lagi, ulah Budi apa pun itu, benar-benar akan berdampak kepada Binar.
“Enggak usah ragu, Mbak!” yakin Sepri tak semeledak-ledak sebelumnya.
“Saya khawatir ke Binar, Mas. Biar bagaimanapun, Binar dekat dan ... seolah punya hubungan batin. Papahnya sakit saja, ... Binar ikut sakit. Namun ini, ... kalau papahnya sampai dipenjara—” Suci merasa serba salah.
Menjadi seorang istri sekaligus seorang ibu memang tidak mudah. Istri dan seorang ibu dituntut serba bisa, sempurna. Lebih berat lagi, meski sudah berjuang sendiri dan sebisa mungkin melakukan yang terbaik, semua itu sungguh tidak terlihat hanya karena secuil kekurangannya.
“Sampai saat ini keinginan saya masih sama. Ibaratnya, ini cita-cita. Saya ingin yang terbaik untuk Binar, bahkan meski kini saya benar-benar terancam menjadi orang tua tunggal,” ucap Suci sambil tetap menunduk dalam.
“Mbak, Budi itu bukan anak kecil lagi. Dia juga waras dan enggak seharusnya membenarkan semua yang dia lakukan termasuk memuku*li Mbak dan ibu Mbak. Pikir ke depannya, ... Bagaimana kalau Binar juga sampai dipu*kuli? Ini enggak menutup kemungkinan akan terjadi cepat atau lambat. Karena orang yang sudah pernah KDRT pasti akan terbiasa menyelesaikan masalahnya dengan KDRT. Ibaratnya mereka sudah latah, penyakit, dan wajib dibuat jera dengan tindakan nyata.” Setelah berucap tegas demikian, Sepri juga berkata, “Anggap saja ini ibarat sarana agar Budi sekeluarga menjadi lebih baik lagi. Lebih baik dicegah dari sekarang daripada kita sampai harus mengobati Binar karena jadi korban bapaknya juga!”
Malamnya, Budi sekeluarga yang sedang makan enak setelah menjual sebagian perhiasan Binar, sementara Nurma juga dapat cincin emas dari Budi, mendapat tamu. Seseorang masih kerap mengetuk pintu sambil melayangkan salam, selamat malam.
“Siapa, sih, itu?” tanya ibu Syamsiah sambil menarik paha dari ayam bekakak di meja dan jumlahnya masih ada tiga ekor.
Tidak ada yang merespons lantaran semuanya termasuk Nurma dan Budi yang duduk bersebelahan, tengah fokus melahap lahap makanan di piring masing-masing. Termasuk juga Al dan El, yang sampai kena semprot sang nenek untuk segera melihat siapa yang datang.
“Ih, si Nini jadi galak banget!” protes El si bungsu yang usianya sudah memasuki usia tujuh tahun.
“Emang si Nini, mulutnya rombeng. Berisik banget, heran!” kecam Al, si sulung yang berusia delapan tahun lebih karena Nurma memang sempat kebobolan ketika hamil keduanya. Namun karena anak pertama bahkan kedua masih laki-laki, posisi Nurma di sana benar-benar aman.
Al dan El kompak melangkah ke depan sambil melahap paha ayam bakar. Keduanya yang hobi makan hingga tubuh mereka kelewat subur, terpaksa melakukannya. Namun ketika mereka mendapati yang datang justru bapak-bapak berseragam polisi, mereka langsung girang.
“Ni, ada polisi! Yang datang ke rumah kita polisi, Ni! Ada banyak! Widih, ada mobil polisi yang kolbak. Mau numpak(naik) ah!” heboh El yang memang tak kalah cerewet dari sang nenek. Mungkin efek ketika hamil El, sang mamah diam-diam menahan kesal berlebihan. Jadi, meski sudah berulang kali “amit-amit” El tetap mirip.
“Polisi ...?” lirih ibu Syamsiah menirukan kabar dari El. Ia sudah langsung kebingungan yang mana ia juga jadi kehilangan selera makannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
Kamiem sag
ternyata anak-aaknya Norma juga aebodoh induknya
2025-01-28
0
Nartadi Yana
dasar anak bodoh ada polisi.malah kegirangan mau nangkap bapak tiri lho.tu tukang zina perhiasan anaknya dirampas cuma buat ngasih makan para pemalas
2024-11-08
1
Ida Ulfiana
biar kapok tu kluarga budi
2024-05-16
0