Di tengah kekhawatirannya kepada Budi, ibu Syamsiah memergoki Suci yang sudah menuntun motor matic putihnya keluar sambil membonceng Binar.
“Heh, maling, heh! Maling kamu maling!” ibu Syamsiah heboh sendiri, tak terima motor matic putih itu dibawa keluar dari rumahnya oleh Suci.
“Pak, ambil, Pak! Jangan boleh dibawa, Pak!” kesal ibu Syamsiah lantaran pak Munasir selaku sang suami, malah hanya kebingungan maju mundur antara menolong Budi atau malah menahan Suci. Ia sampai menepuk-nepuk.punggung sang suami sekuat tenaga menggunakan kedua tangannya, sebelum akhirnya ia justru mendorongnya sekuat tenaga, hingga yang ada, pak Munasir sempoyongan dan berakhir duduk di halaman rumah berupa tanah basah.
“Kamu yah, Ci! Maling kamu! Aku laporin kamu ke polisi!” kesal ibu Syamsiah sambil menyingsing lengan dasternya hingga siku.
“Heh maklampiiiiirrr!” kesal Sepri lantang lantaran gaya ibu Syamsiah mirip sumo yang siap mengh*ajar lawan. Sepri buru-buru lari menyusul ibu Syamsiah. Karena meski kaki kanannya hanya berupa kaki palsu, Sang Pemilik Kehidupan menganugerahi kesempurnaan dalam setiap gerak bahkan kemampuan kinerja kakinya, layaknya manusia normal pada kebanyakan.
Nurma sudah langsung menatap ngeri pemandangan Sepri menyusul ibu Syamsiah. Masih pagi tapi suasana di sana mirip pasar bahkan acara pelelangan yang sedang ramai-ramainya. “Itu motor kan memang motor Suci!” batin Nurma, tapi ia tidak berani berkomentar lantaran jika sedang marah, kata-kata yang keluar dari bibir ibu Syamsiah lebih tajam dari pedang perang.
Sepri sengaja menarik daster bagian punggung ibu Syamsiah. Ia melakukannya sekuat tenaga lantaran ibu Syamsiah terus memberontak. Hingga yang ada, daster tersebut sobek bagian kedua pundaknya.
“Heh, heh! Sobek, ini sobek!” histeris ibu Syamsiah.
“Nanti aku ganti yang lebih bagus! Yang lebih berkualitas!” balas Sepri buru-buru mengambil alih motornya dari Suci. Ia yang menuntun termasuk membiarkan Binar tetap membonceng dipegangi Suci. Karena sekadar melangkah saja, sebenarnya Suci sudah sangat sempoyongan. Bayangkan saja, luka-luka Suci separah itu.
“S-sombong banget, kamu yah!” kesal ibu Syamsiah sambil memegangi sobekan dasternya.
“Mendingan Ibu enggak usah banyak omong deh. Lihat Suci, mana rasa tanggung jawab Ibu? Maklampir saja masih sayang cucu, ser*endah itu hidup Ibu yang sekadar peduli ke cucu saja enggak bisa?” Sepri marah-marah sambil menatap marah ibu Syamsiah. Ia tak lagi melangkah dan sengaja berhenti.
“LAMBEMUUU kalau ngomong!” teriak ibu Syamsiah dengan suara cemprengnya.
“Ayo kita buktikan. Ayo kita sidang!” Sepri tak kalah meledak-ledak, hingga Suci sengaja membekap kedua telinga Binar.
“Heh Budi yang jauh dari kata budi! Gayamu punya dua istri, satu istri saja enggak becus kasih makan!” Sepri masih teriak-teriak. Di pinggir selokan sana, seolah akan selalu bersama dalam suka dan duka, Nurma yang dengan gaya lemah lembut cenderung kemayunya, justru terpeleset dan menimpa Budi ketika berusaha menolongnya.
“Ya ampun Ayank! Kamu jadi ikut ko*tor kan!” cemas Budi sengaja pamer kemesraan kepada Suci. Ia sengaja berucap lantang agar Suci yang kiranya berjarak sekitar tujuh meter darinya, bisa mendengar dengan jelas.
“Enggak apa-apa, Mas. Yang namanya istri kan harus berbakti ke suami!” lembut Nurma berusaha beranjak dengan hati-hati. Hanya saja, selokan di sana yang penuh lumpur sementara ia juga memakai sandal jepit, memuatnya kesulitan melakukannya.
“Si Nurma lagi ... wanita enggak punya harga diri, suami adiknya saja diembat. Sudah ditolong kok nggebu*g?! Lupa kamu siapa yang kasih kamu makan? Suci kerja siang malam. Beres di klinik, langsung anyam rambut atau bulu mata palsu. Emang secocok itu kalian. Pasangan belis(dem*it, se*tan)!” kesal Sepri sangat mirip ibu Septi mamahnya ketika marah.
Pejabat desa termasuk Suci sampai menenangkan Sepri.
“Mas sabar, Mas. Lagian, beneran percuma ngomong sama mereka. Logikanya, kalau mereka waras, beruang kali kepergok zi*na dan ditegur warga, harusnya mereka malu, kan? Sudah enggak apa-apa, aku ikhlas. Yang penting Binar sudah sama aku. Aku percaya, Allah enggak tidur!” yakin Suci yang kemudian mengelap bibirnya. Efek ia bicara, dari bibirnya jadi keluar darah.
“Aku tahu rasanya dipandang sebelah mata hanya karena aku enggak sempurna. Lah ini, Binar yang lahir sempurna, hanya karena Binar perempuan, dia dianggap pembawa si*al. Beruntung, aku dikelilingi orang-orang yang beneran tulus sekaligus dukung aku. Lah, Binar ... orang-orang yang harusnya kasih dia kasih sayang sekaligus perlindungan malah pek*ok! Binar hanya akan dianggap kalau Suci kasih duit ke Budi sekeluarga!” kesal Sepri dalam hatinya.
“Heh kamu, kamu pikir kamu siapa? Lihat, saya punya mobil. Budi yang kamu hi*na sopir travel yang sekali narik hasilnya jutaan!” kesal ibu Syamsiah.
Sepri segera melongok mobil putih di sebelahnya. “Mobil kayak gini biasanya saya pakai buat angkut suket. Buat angkut-angkut pakan ternak pokoknya!” Sadar ibu Syamsiah akan kembali menyomb*ongkan diri, Sepri sengaja berkata, “Sudah, Bu. Sudah. Enggak usah pamer. Kalau Ibu penasaran siapa saya, pergi ke klinik Mbak Suci kerja. Saya anak pemiliknya. Sudah, Ibu mampir sekalian wisata ke sana. Dilihat saja, saya punya apa saja. Mohon maaf banget, saya enggak mau dicap sombong!”
“Hah? Dia anaknya yang punya klinik tempat Suci kerja, kok hitam dekil gitu? Kausnya juga bolong, sobek gitu. Kalau jadi ka*cung, aku percaya. Lah, ini, ngaku anak pemilik. Ngigo pasti nih orang!” batin ibu Syamsiah sengaja menertawakan Sepri.
Beberapa saat kemudian, sidang langsung digelar di halaman depan rumah orang tua Budi. Disaksikan aparat desa bahkan pak kades yang akhirnya datang, lengkap dengan beberapa tetangga, Budi sekeluarga bahkan Nurma terbukti bersalah. Bukan hanya masalah KDRT yang Suci dapatkan, tetapi juga mengenai pernikahan Nurma dan Budi yang dilakukan tanpa sepengetahuan apalagi izin Suci.
“Kalian harus menikah lagi karena sampai sekarang, hasil hubungan kalian tetap zi*na. Enggak orang tua, enggak anak, sama goblo9-nya. Pek*ok semuanya. Ngakunya paling pinter tapi gitu saja, enggak tahu. Atau sebenarnya memang tahu, tapi sengaja buat tabungan ke neraka?!” kecam Sepri.
“Eh, kamu bu*ntung! Jaga ucapanmu! Iya, kami akan menikah. Kami bahkan akan menggelar pesta mewah dan kalian semua wajib datang. Saya secara sadar mengundang kalian!” kesal Budi yang sampai detik ini masih penuh lumpur selokan. Hanya mata dan giginya saja yang kelihatan.
“Sebelum menggelar resepsi, alangkah baiknya Mas ‘beresin’ saya dulu biar pernikahan kalian benar-benar berkah!” ucap Suci dengan suara yang masih sangat lirih.
Semua yang di sana membenarkan permohonan Suci, tapi tidak dengan Budi yang menjadi diam.
“Kamu beneran enggak kasihan ke Binar, Ci. Minta cerai?” ucap Budi lirih dan sengaja menyindir Suci.
Detik itu juga semuanya kecuali orang tua Budi dan Nurma, menyalahkan Budi. Sebab bagi mereka, yang salah tetap Budi.
Suci memang berhasil mendapatkan Binar sang putri, dan Budi dipaksa menandatangani surat perjanjian agar tidak seenaknya melukai Suci lagi. Namun, Suci tidak yakin, apakah Binar akan baik-baik saja jika harus jauh apalagi tak lagi diurus Budi? Karena setelah apa yang terjadi, Suci yakin Budi sekeluarga akan makin membenci Binar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
Kamiem sag
anak seperti Binar itu termasuk anak pukimak babiat sombong kali hatus selalu deket Budi bejat jebat
2025-01-28
0
Akbar Razaq
jadi gak jadi cere nih si suci?
2024-06-25
0
Ida Ulfiana
kasian binar tp semoga binar bisa tanpa bapaaknya
2024-05-16
0