Ditemani Sepri, Suci siap mengambil Binar. Sepri membonceng Suci menggunakan motor matic, menelusuri jalan aspal yang masih basah.
“Tapi Mas, sepertinya kalau kita hanya berdua, bakalan tetap enggak bisa ambil Binar. Soalnya suami saya dan orang tuanya tipikal ngeyel, Mas!” ucap Suci sembari memegangi infus yang ia pangku.
Suci memang dipaksa memakai infus oleh Ratna, agar luka-lukanya lebih cepat sembuh. Terlebih bergerak berlebihan termasuk sekadar berucap saja, bibir Suci yang terluka parah langsung berdarah.
Menyimak itu, Sepri yang masih membonceng Suci di pagi yang terbilang dingin akibat sisa hujan semalaman penuh, berkata, “Oke, kita mampir ke balai desa, desa kamu. Namun sebelum itu, aku antar kamu buat beli pakaian ganti. Kamu bahkan enggak pakai kerudung dan luka di wajah kamu yang enggak tertutup begitu juga bisa bikin kamu jadi bahan perhatian. Itu pasti bikin kamu makin enggak nyaman.” Karena Sepri yang melihat Suci saja sudah langsung emosi dan sangat ingin mere*mukkan tulang-tulang Budi. Sepri merasa sangat tak habis pikir kepada seorang suami yang tega melakukan KDRT fatal seperti yang Budi lakukan kepada Suci.
Seperti yang Suci ketahui, Sepri memang pria yang sangat baik. Malahan, Sepri sampai membayar pakaian yang Suci beli di toko pakaian kenalan Sepri. Toko pakaian yang sebenarnya belum beroperasi, tapi karena Sepri menghubungi pemiliknya, pemiliknya secara langsung membuka toko kemudian melayani mereka.
“Mas, ini enggak murah loh!” keluh Suci tetap tidak mau dibayarkan oleh Sepri karena dibantu saja, ia sudah sangat bersyukur.
“Doakan yang terbaik saja buat kita. Buat Mbak Suci, dan juga buat saya. Yang namanya rezeki sudah ada yang mengatur, Mbak. Karena dalam rezeki yang saya dapat juga ada bagian untuk orang lain dan bisa jadi, Mbak termasuk dari bagian itu. Ya sudah, ganti pakaian Mbak, saya tunggu di sini.” Sepri masih menyikapi dengan tegas. Ia sengaja meminta izin pada pemilik toko agar Suci bisa sekalian ganti pakaian di kamar mandi yang ada di toko tersebut.
Suci menghela napas dalam, kemudian mengucapkan terima kasih karena hanya itu yang bisa ia lakukan. Di saat seperti sekarang, uluran tangan dan segala pertolongan tak ubahnya nyawa tambahan untuknya yang sempat nyaris memilih mati sebagai akhir dari apa yang ia alami. Karena andai ia tidak ingat Binar, bisa jadi, ia memang sudah tidak ada di dunia ini.
Sementara itu, di rumahnya, Budi sekeluarga bangun kesiangan.
“Mas, maaf banget, ... aku kesiangan,” ucap Nurma sambil memasang wajah menyesal sekaligus bersedih. Ia buru-buru mencoba pergi, tapi dengan sigap, Budi yang tidur di tengah karena mereka memang tidak hanya berdua lantaran Binar turut di sana, segera mendekap pinggangnya.
Budi sengaja merebahkan kepalanya di pangkuan Nurma dan langsung disambut dengan senyum bahagia yang benar-benar lepas oleh Nurma. Mereka bahkan lupa, jika kebahagiaan mereka, mereka bangun di atas luka sekaligus penderitaan Suci.
“Sudah biarin saja. Kita di kamar saja, mumpung Binar masih tidur,” bisik Budi benar-benar manja.
“Tapi anak-anak harus sekolah, Mas!” bisik Nurma tak kalah manja sambil membelai wajah sekaligus bibir Budi menggunakan kedua tangannya.
“Pasti ibu sudah urus. Mereka kan cucu kesayangan ibu sama bapak. Lagian kunci kamar Suci juga sudah aku kasih ke ibu, kalau ada apa-apa, Suci pasti sudah bantu!” yakin Budi dan langsung disambut senyum girang oleh istri mudanya.
“Jadi ingat pas masa-masa SMA! Kita juga pernah gini, kan?!” ucap Nurma mencoba mengulik masa lalu karena pada kenyataannya, selain teman dekat semasa SMA, mereka memang pernah menjalin hubungan spesial bahkan intens. Ibaratnya, mereka merupakan mantan terindah di masa putih abu-abu yang penuh cerita.
Baru juga membalas ucapan Nurma dengan senyum ceria, teriakan ibu Syamsiah dari luar dan benar-benar heboh, sudah langsung mengganggu keromantisan yang baru saja Budi dan Nurma bangun. Terlebih, ibu Syamsiah sampai menggedor pintu kamar mereka penuh kehebohan.
“Bud, Suci kabur, Bud. Suci minggat dan beneran enggak ada di rumah!” teriak ibu Syamsiah dari luar sana.
Detik itu juga, Budi langsung buru-buru meraih pakaiannya yang terserak di lantai lantaran kini, Budi hanya memakai sarung yang juga pria itu gunakan untuk selimut.
“Mas, ... gimana, dong? Kok Suci bisa kabur? Kalau dia nekat lapor polisi, gimana? Apalagi lukanya terbilang parah banget!” lirih Nurma langsung heboh, tapi kali ini, Budi hanya menatapnya sekilas. Pria itu sampai lari dan terlihat sangat panik.
“Nur, kamu juga cepat bangun. Masak apa gimana. Sudah siang anak-anak juga belum bangun padahal mereka harus sekolah!” semprot ibu Syamsiah pada sang menantu yang malah ia pergoki masih menggulung tubuh dengan selimut, dan suasana kamarnya pun masih sangat berantakan. “Jam segini masih jadi guling! Tetangga sudah makan sampai lima kali, dapur kita masih sepi!”
“Loh, kok aku juga kena semprot?” kesal Nurma dalam hatinya, tapi ia berusaha menyikapinya dengan bersabar sekaligus elegan. “Maaf Bu, maaf. Tapi dari tadi Mas Budi memang enggak mau ditinggal!”
“Allaaaah!” sinis ibu Syamsiah karena pada kenyataannya, kekesalannya kepada Suci juga berdampak kepada Nurma si menantu kesayangan yang sampai ia jadikan sebagai pelampia*san.
Budi baru saja sampai jalan depan rumahnya, tapi ia melihat beberapa motor melaju mendekat ke arahnya. Dari semua wajah di sana, Budi paham wajah Sepri dan ia ketahu sebagai anak dokter sekaligus pemilik klinik Suci bekerja.
Sepri dan rombongan yang dibawa, memasuki pelataran depan rumah orang tua Budi, walau Budi masih kebingungan berdiri di pinggir jalan.
Sepri sungguh memboyong aparat desa setempat meski pak Lurah yang belum datang ke kantor, berdalih akan segera menyusul.
“Kamu boleh saja menikah lagi, tapi tolong, kelakuanmu jangan bikin aku yang sesama laki-laki, malu!” Sepri sudah langsung menghampiri Budi sambil menunjuk-nunjuk wajah pria itu menggunakan telunjuk tangan kanannya.
Sikap Sepri yang sangat emosional membuat Budi yakin, apa yang ia lakukan sudah disebar luaskan oleh Suci.
“Apa maksud Anda bilang begitu? Anda tidak tahu apa yang terjadi, jadi Anda jangan main hakim sendiri!” balas Budi sengaja membela diri.
Sepri tersenyum geli sambil menatap tak percaya lawan bicaranya. Jarak mereka sudah tak kurang dari satu meter. “Yang main hakim sendiri itu kamu, Blog! Namun kalau kamu mau aku main hakim sendiri, oke!” tegas Sepri makin emosional dan detik itu juga langsung melayangkan tin*ju ke wajah Budi.
Tin*ju yang Sepri lakukan sudah langsung membuat Budi sempoyongan. Bahkan, Budi yang terpeleset sudah langsung masuk ke selokan. Suci yang menyaksikan itu, buru-buru menerobos masuk pintu yang kebetulan tidak ditutup.
Yang Suci cari tentu Binar. Ia langsung masuk ke kamar Nurma yang lagi-lagi juga tidak ditutup. Malahan, ia memergoki Nurma baru bersiap bangun. Adegan yang Suci lakukan mirip adegan penculikan. Suci yang sebenarnya tidak memiliki banyak tenaga akibat KDRT yang ia alami, susah payah memboyong Binar.
Nurma yang belum memakai pakaian sehelai pun, sudah sibuk teriak, mengabarkan ulah Suci yang ia teriaki “maling”. Bahkan karena teriakan Nurma juga, ibu Syamsiah dan sang suami ikut sibuk berteriak. Ketiganya berbondong-bondong lari keluar rumah hingga mendapati keramaian yang mereka ciptakan. Karena setelah aparat desa berdatangan, tetangga yang awalnya tidak tahu menahu juga jadi berdatangan.
“Kok rame gini, ini ada apa?” refleks ibu Syamsiah, walau sebenarnya, ia sudah menduga mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Ia yakin, semuanya masih berkaitan dengan KDRT kepada Suci, juga kaburnya Suci yang sebenarnya tengah menjadi bahan kehebohan di sana.
Terjadi perdebatan sengit antara Sepri dan Budi karena keduanya sama-sama emosional. Sepri tetap tidak mengizinkan Budi keluar dari selokan meski Budi sudah penuh lumpur berwarna hitam pekat dan baunya sangat tidak sedap. Nurma dan orang tua Budi heboh berusaha menolong. Hingga aparat desa sekaligus tetangga juga segera menjadi penengah.
Lain dengan Suci yang tetap mengemban dan perlahan mengeluarkan motor matic miliknya dari rumah orang tua Budi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
Kamiem sag
emosi thor emoi aku bacanya pengen gebuk Syamsiah paok pukimak pengen jambak rambut Norma dan dupak apemnya pengen mekudahi Budi dan menerjang dagunya menggunakan tumit kaki kiriku biar melesak itu mukanya😡😡
2025-01-28
0
Ida Ulfiana
ni crita suci bikin aku ikut emosi bngt pengen jd bagian sepri yg ninju budi gregat bngt
2024-05-16
0
❤️⃟Wᵃf🤎⃟ꪶꫝ🍾⃝ͩDᷞᴇͧᴡᷡɪͣ𝐀⃝🥀ᴳ᯳
soookoooorrrrrr... mampus makan ruh got selokan biar kenyang ya Budinudin. 😏😏😋/Pooh-pooh//Pooh-pooh//Pooh-pooh/
2024-04-27
0