Keesokan paginya, Nurma sengaja kembali rajin bangun lebih awal. Namun saat melewati pintu kamar Suci yang masih sepi, ia meliriknya dengan lirikan sirik khas orang dengki.
“Bisa-bisanya mereka rujuk! Apa sih yang mas Budi lihat dari Suci? Wajah dan tubuhnya saja sudah ru*sak. Apa karena Suci perawat dan punya gaji tetap, terus Suci juga disayangi orang-orang karena rajin bantu mereka? Lah, sekarang saja orang rumah sudah percaya kalau aku manager dan gajiku bisa tembus 10 juta, dua kali lipat lebih besar dari gaji Suci!” batin Nurma berkeluh kesah. Ia sengaja melempar sandalnya ke pintu kamar. Tak hanya satu, tapi dua-duanya. Namun demi menghilangkan jejak ulah bar-barnya, Nurma buru-buru memungut sandalnya. Meski karena itu juga, ia berakhir tersungkur di depan pintu kamar Suci. Kepalanya sampai menghant*am pintu kamar Suci hingga menimbulkan keributan cukup berarti, selain efek rasa sakit dari hanta*aman itu sendiri.
“Sepagi ini sudah KDRT diri sendiri!” kesal Nurma yang lagi-lagi hanya berani mengeluh dalam hati. “Duh, ini yang di perut, aman, kan?” batinnya lagi yang kemudian mengelus perutnya.
Beberapa saat kemudian, Nurma sengaja mengerjakan pekerjaan IRT sendiri sebelum pergi kerja. Karena meski awalnya Nurma hanya pura-pura kerja, terdiam di depan alfa membuat wanita itu menemukan pekerjaan dadakan setelah Ojan memberinya uang parkir. Iya, Nurma berniat bekerja sebagai tukang parkir di depan alfa dekat pasar. Namun selain akan tetap mengaku sebagai manajer bergaji fantastis, kala kerja nanti, Nurma akan menutupi wajahnya agar ia tidak bisa dikenali.
“Tapi lihat saja nanti, bagaimana tanggapan mereka. Andai kehamilanku bikin mereka makin sayang, ya sudah aku balik lagi jadi pengangguran sukses yang enggak usah capek-capek kerja,” pikir Nurma.
Kali ini, Suci sengaja hanya mengurus Binar. Ia juga sengaja siap-siap kerja, sebelum menyempatkan diri untuk menyapu lantai.
Ibu Syamsiah yang keluar dari kamar lebih dulu dari Suci, melirik sinis punggung Suci. Sampai detik ini, Suci masih memakai cadar, selain Suci yang tak biasanya sangat wangi. “Nak, ya. Sudah numpang tapi cuma modal nyapu!” kecamnya sambil bersedekap. Ia melakukannya tepat di depan pintu kamar Suci. Tak menyangka, kali ini ia mendapat perlawanan dari Budi.
“Ibu sudah enggak usah ribut-ribut ke Suci lagi. Binar masih sakit! Dampaknya benar-benar ke Binar!” ucap Budi yang walau lirih, tapi sangat menusuk.
Ibu Syamsiah masih bengong tak percaya menatap sang putra.
“Ibu juga enggak usah ribut membahas aku dan Binar. Jangan lupa, selama ini walau sedikit aku selalu dapat rezeki buat bantu-batu keluarga ini. Termasuk usaha travel papahnya Binar juga lancar. Sementara alasan mas Bandi meninggal, mas Bandi kan suaminya Nurma, kenapa Ibu enggak minta pertanggung jawaban atau setidaknya menyalahkan Nurma? Lagi pula, sebelum melahirkan Al, Nurma juga keguguran. Bisa jadi, anak pertama Nurma juga bukan laki-laki.” Kali ini Suci juga sengaja berbicara, meski ia tak sampai meledak-ledak. “Terlepas dari kepercayaan Ibi dan keluarga ini mengenai anak pertama yang lebih baik laki-laki, tolong ditelaah lagi. Jangan sampai yang sudah ada malah menjadi korban. Kecuali kalau selama ini aku hanya menumpang hidup di sini. Aku kerja loh, Bu. Dan sebagai orang yang paham dunia medis, penentu jenis kelamin anak bukan dari pihak perempuan tapi suami. Aku enggak akan bosen-bosen mengatakan ini karena sebagai seorang perawat dan juga korban mitos atau itu kepercayaan ibu sekeluarga aku merasa terzalimi.”
“Tolong berpikir lebih realistis lagi. Malu sama orang yang jauh lebih terpelajar. Boleh kita mis*kin, boleh kita berpendidikan, tapi bukan berarti kita malah makin enggak maju. Banyak kan orang enggak berpendidikan bahkan orang yang awalnya misk*in, jadi kaya raya?” Lanjut Suci. “Modalnya cuma satu, jangan jadi pemalas. Karena rezeki harus dicari dengan bekerja keras. Bukan malah hanya modal mitos sama pekerjaan, tapi kalian masih doyan duit orang yang kalian hin*a. Logikanya, yang bekerja keras saja masih saja gagal. Apalagi yang hanya malas-malasan tapi ngarep hidup enak! Mimpi!”
“Mulai detik ini juga, stop memperkarakan jenis kela*min anak. Yang namanya anak rezeki, enggak ada yang membawa si*al. Di luar sana banyak yang susah payah hanya untuk memiliki anak!” Suci menggeleng tak habis pikir.
Di luar sana sudah terang, dan Suci bermaksud membawa Binar kerja. Suci berniat menjalankan saran mas Aidan untuk menyibukkan Binar agar Binar tidak ketergantungan pada Budi.
Namun, ibu Syamsiah yang tak terima diceramahi panjang lebar oleh Suci layaknya tadi, sengaja menjadikan kedatangan Nurma yang membawa nampan berisi sepiring pisang goreng dan tiga gelas kopi hitam.
“Tuh, Ci ... itu yang namanya istri. Pagi-pagi sudah masak, sudah ada sarapan, sama bakal bekal,” ucap ibu Syamsiah. “Oh iya kamu sudah tahu belum kalau sekarang Nurma sudah kerja? Dan kamu tahu apa pekerjaan Nurma? MANAJER DI PABRIK BULU MATA PALSU, DAN GAJINYA SEPULUH JUTA, DAN ITU BELUM SAMA BONUS! NAH, KAMU MAU NGOMONG APA?!”
Detik itu juga Nurma jadi kikuk, merasa menang bak diterbangkan ke awan. Karena secara terang-terangan, ibu Syamsiah memujinya. “Ya sudah Bu, Mas, Pak, ayo kita sarapan. Sebelum berangkat kerja, aku ada pengumuman penting!” ucap Nurma sambil tersenyum ceria.
“Pabrik bulu mata palsunya, yang pemiliknya orang Taiwan, apa yang baru?” ucap Suci sengaja bertanya. “Setahuku, yang baru itu punya keluarga pak Kalandra dan yang urus mas Azzam. Kadang mas Akala juga ikut urus. Dan mereka pun masih punya hubungan baik sama yang Taiwan. Penasaran, masa iya Nurma yang hanya lulus SMA kok bisa jadi manajer,” batin Suci.
“Hah ...?” Nurma yang baru akan meletakan nampan di meja makan langsung bengong. “Ngapain juga Suci tanya-tanya gitu?!” batin Nurma jadi kesal sendiri.
“Kamu ngapain tanya-tanya gitu? Masih pagi ujung-ujungnya ribut. Nanti Binar juga yang kena, kamu lagi yang enggak terima!” kecam Budi.
Suci yang langsung menatap Budi berkata, “Ya ingin tahu saja, Mas. Bisa jadi manajer di pabrik besar kan ibarat prestasi membanggakan.” Suci sengaja berucap lembut.
“Oh jelas. Jelas membanggakan! Belum apa-apa saja, Nurma mau beliin Ibu tivi, kulkas, sama emas, kan, Nur?” sergah ibu Syamsiah sengaja menj*ilat sang menantu yang baginya sedang menguntungkan.
“Alhamdullilah, berarti ada rezeki Ibu di rezekinya Nurma.” Suci bersumpah, dirinya tidak akan memanggil Nurma dengan hormat lagi sejak wanita itu dengan sengaja menika*mnya, menghan*curkan rumah tangganya bahkan Binar.
“Aku harus kasih jawaban aku kerja di mana, biar Suci makin nangis batin karena Ibu pasti akan makin membangga-banggakan aku!” batin Nurma yang kemudian berkata, “Aku kerja di pabrik bulu mata palsu yang lokal, Ci! Alhamdullilah!”
“Beneran lokal? Beneran punya mas Azzam dong! Coba lah nanti aku tanya ke mas Azzam. Takutnya Nurma cuma ngaku-ngaku dan bisa berdampak fatal ke pabriknya mas Azzam,” batin Suci yang sengaja mengucapkan selamat kepada Nurma. “Enggak sembarang orang bisa masuk pabrik sebesar itu karena yang S2 saja belum tentu diterima.”
“Yang namanya rezeki enggak ada yang tahu, Ci. Kamu ya, sirik bilang saja!” ucap ibu Syamsiah.
Terbiasa dilukai membuat Suci benar-benar mati rasa. Ia bahkan tetap bisa tersenyum walau apa yang ibu Syamsiah lakukan sudah langsung membuat hatinya menangis.
Buru-buru Nurma meletakan nampannya di meja kemudian melangkah ceria menghampiri Budi. “Mas, aku punya hadiah buat kamu!” Sambil tersenyum manis, ia mengeluarkan sebuah test pack dari celana piyama pendeknya. “Aku hamil, Mas!”
Akan tetapi, untuk yang kali ini, Suci juga tidak tahu kenapa air matanya jadi sibuk berlinang di tengah dadanya yang bergemuruh dan terasa sangat pegal. “Baru satu minggu menikah sudah hamil? Berarti benar ya kata tetangga, kalau kalian sudah terbiasa berzin*a?” ucap Suci tanpa bisa mengontrol ucapan apalagi emosinya.
Senyum di wajah Nurma langsung menepi. Namun sampai detik ini, ekspresi di wajah Budi termasuk ibu Syamsiah, menjadi sulit diartikan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
Kamiem sag
benar-benar kumpulan orang-orang stres keluarga Budi
2025-01-28
0
Nartadi Yana
keluarga tokxik
2024-11-08
0
Akbar Razaq
si Binar ini yg bikin emaknya sakit hati berkepanjangan.
2024-06-25
0